Sabtu, 21 Desember 2019

Bukan Rinai Hujan



Bukan Rinai Hujan
Malam itu Kimpluk ingin bertemu dengan teman-temannya, karena sudah lama tak bertemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk berkumpul di kampus, di pinggir mesjid dengan bias temeram pelita yang tak begitu terang. Dan kebetulan kala itu, memang tidak hanya sekedar bersilaturohmi, namun ada agenda lain yang ingin di bicarakan. Ada beberapa temannya yang mengusulkan untuk membuat nama kumpulan atau semacam organisasi yang anggotanya hanya beberapa gelintir orang lulusan dari sebuah SMA Negeri  itu. Kimpluk menyambut dengan antusias ajakan temannya itu, yang sebelumnya ia komunikasikan dalam group Faceebook dan BBM. Dan berkumpulah mereka di malam yang sedikit mendung hanya sedikit gemintang yang mau nampang. Dan benar, dari 9 atau 10 jumlah teman/anggota group BBMnya yang datang hanya 4 orang. Namun hal itu lantas tak menyurutkan semangat dan kerinduan mereka untuk berjumpa.
Dan mereka pun saling melempar salam, menanyakan kabar dan tentu tak lupa membahas rencana untuk membuat organisasi kumpulan mereka ini. Singkat cerita, diskusi telah di mulai.
___
“Biar Resmi, gak grudak-gruduk”, ucap salah
satu teman Kimpluk di tengah-tengah pembahasan pembentukan organsisasi. Dan dengan cepat si Kimpluk menyambar ucapan temannya itu. “Grudak Gruduk gimana maksudnya?”.  Memang dasar si Kimpluk ini begitu doyan dengan sebuah diskusi atau rapat. “Iya kita ini kan sudah lama kumpul, kurang lebih 3 setengah tahun an, dan jika kita briefing di sekolah-sekolah selalu saja tak bisa berjalan dengan lancar, pasti tergendala dengan masalah administrasi, yaitu proposal”. Sahut temannya. Agenda rutin perkumpulan mereka ini adalah melakukan briefing di sekolah SMA nya dulu.  
Tak mau lama-lama, Kimpluk kembali menyambungnya, “Iya juga sih”. Ia mengangguk, “Tapi kan kemarin kita di beri keringanan, karena pihak sekolah mengatahui kita ini bukan terikat atau pun semacam organisasi, tak lebih hanya sebuah kumpulan, paguyuban, atau geng barangkali. Makanya cukup hanya dengan membuat surat yang kita buat sendiri, tanpa logo ataupun nama organisasi”. Kalimat si Kimpluk ini sontak membuat teman-temannya sedikit tak suka. Dan benar saja, temannya tadi menyambungnya: “Justru karena itu Pluk, agar kita bisa mudah melakukan briefing kita bentuk organisasi”.
“Nah, bukannya kemarin-kemarin kita juga sudah briefing, dan berjalan dengan lancar-lancar saja walau tanpa proposal, atau tendensi apapun. Selain nama Geng kita ini?”
“Ya, gak bisa Pluk. Kamu ini gimana? Yang namanya kegiatan apapun itu harus ada proposalnya, biar jelas. Kita Ini siapa dari mana, mau apa?”. Kali ini temannya yang berjilbab itu mulai kesal. Sementara dua teman lainnya hanya diam. Memang teman-teman Kimpluk banyak yang memilih untuk tutup mulut daripada harus meladeni orang yang asal njeplak, yang malah terkesan ‘mematikan’ ide atau gagasan temannya. Sekaligus pertanyaan yang mbulet dan sebenarnya juga tak perlu di ucapkan sekaligus kadang melontarkan argumen-argumen atau anekdot yang membuat teman-temannya pesimis plus sinis.  Teman-temanya seketika itu kadang mau tak mau harus menjelma sosok seorang ibu yang lagi ngemong anaknya. Karena jika melawan, si Kimpluk ini bisa jadi akan nangis, bergelesotan di tanah dan berguling-guling. Ia akan merengek, persisi anak kecil yang sedang mewek. Kimpluk nampaknya tak tahu diri, ia terus saja mengejar tiap pernyataan atau ide-ide untuk memulai pembentukan organisasinya.
Sek to, bentar. Fungsi kita untuk membuat organisasi apa sih, selain melancarkan administrasi dan memperjelas status kita?”. Kali ini nadanya mengandung kecongkak an. Teman-temannya mengernyitkan alis mereka, dan tak menjawab. Si kimpluk menambahi lagi; “Lantas, apa nantinya yang akan kita perbuat (Visi Misi) setelah organisasi yang hanya ada beberapa gelintir orang ini  benar-benar terbentuk? Bukankah briefing tahun lalu kita sudah membicarakan hal ini? Dan kalau gak salah, bukannya  kita sudah membentuk nama sebuah organisasi kita ini dan menerangkannya pada adik-adik kelas?”. Kali ini teman-temannya mulai tak tahan, dan mengalihkan pandang dari Kimpluk. Mengetahui itu, Kimpluk bukannya mengakhiri pertanyaannya yang  terkesan menghakimi. Ia melanjutkan lagi; “Bagaimana kita nanti akan membangun rumah yang megah, kalau penghuninya tidak ada, yang satu persatu pergi angkat kaki begitu saja?” Nadanya semakin tinggi. “Apa nggak malu-maluin tuh? Sudah woro-woro kesana sini kesemua warga hendak membangun rumah, bahkan meminta bantuan  dan do’a restu untuk mendirikannya, namun  tiba-tiba setelah rumah  jadi kita tinggal begitu saja?”. teman-temannya masih terdiam.
Angin malam yang berhembus di sela-sela pepohonan, menyibak rerimbunan ranting dan dahan. Sehingga daun-daun nya menggerisik, dan beberapa daun yang sudah nampak menguning berjatuhan ke tanah.
“Kalau dalam teori sebuah organisasi itu Pluk, dua orang sudah cukup. Sudah bisa dikatakan organisasi”. Sambar seorang teman lainnya. “Jadi, gak masalah kita rintis dulu beberapa orang yang ada ini, gak ada salahnya kan?”.
“Betul, aku setuju”. Sambung teman yang berjilbab “Itu lebih baik kan, daripada tidak sama sekali?”. Kimpluk terdiam. Ia melayangkan pandang ke langit yang semakin hitam.
“Iya Pluk, bukannya Organisasi yang baik itu berangkat dari sedikit orang, dan kemudian menjadi banyak? Dari 5 menjadi 10, 20, 50, bahkan seratus. Bukan sebaliknya? Kan begitu?”. Temannya yang berambut panjang berponi kini ikut angkat bicara.
Kimpluk masih terdiam. Sementara Teman-temanya menunggu tanggapan darinya. Ia tak juga menjawab. Kemudian ia keluarkan Handphone dari tasnya. Ia pura-pura mencari alasan untuk menutupi kebingungnya untuk menyangkal. Jam di HP nya menunjukkan pukul 21.13 WIB.
Ia memasukkan kembali HP nya, dan mencoba coba menyambung lagi
“Tapi kan. . . “ Kalimatnya terputus, tak dilanjutkan.
“Tapi apa Pluk?”, Tanggap Serentak teman-temannya.
Ia hanya tersenyum, dan tak mau melanjutkan. Karena menyadari jam sudah larut malam. Dan ia tahu ketiga teman perempuannya itu diberlakukan jam malam di kost.
“Nggak papa kok”. Kini senyumnya makin lebar dan terlihat dipaksakan.
“Lhoh jangan gitu dong. Kita ini kan rapat, ungkapkan saja! Tapi apa? Mumpung masih semua disini”. Lanjut teman berjilbab.
Seperti ada yang di sembunyikan, Kimpluk tak mau membuat teman-temannya terkunci di luar gerbang kosnya. Atau memang kali ini ia sudah mati kutu? Tidak, ia masih menjawab rupanya; “Nggak, aku setuju kok”.
“Terus tadi kok bilang; Tapi. Tapi kenapa?”. Lanjut teman berjilbab. Dan kedua teman yang lain sudah berulang ulang  melihat jam di HP mereka masing-masing. Khawatir jika nanti gerbang kos di kunci barangkali, belum lagi lembur tugas dari dosen. Si Kimpluk menyadari itu, dan agar tak membuat diskusi semakin panjang ia menjawab mencoba-coba, “Tapi, anu. Cara untuk mengumpulkan teman yang lain gimana?”.
Dengan cepat dan seperti sudah di sipakan sebelumnya, salah satu temannya mengelurakn secarik kertas dari sakunya lantas menerangkan dengan singkat. Suatu cara yang sudah pernah di pakai sebelumnya waktu briefing tahun lalu dan terbukti tak berhasil.     Dan si Kimpluk hanya mangguk mengiyakannya sembari tersenyum tipis.
Dan rapatpun berkahir. Teman-temannya hendak pulang, namun belum sampai mereka berdiri, teman berjilbab tadi membuka tasnya dan mengelurkan sebuah bungkusan, “Ya Allah rek, Lupa aku. Nih, aku bawa jajan dan minuman. Lumayan”.
Kedua teman yang lain tersenyum, dan seakan lupa akan jam malam dan tugas-tugas dari dosennya. Begitupun Kimpluk. Mereke pun menyantap makanan ringan itu dengan cepat bersama-sama.
“Eh, aku tak hubungin temen kamarku dulu”. Ucap sirambut panjang sambil memasukkan makanan ke mulutnya. Kimpluk nampak lahap juga ikut makan jajanan pedas itu. “Hubungin buat apa?”. Kan bentar lagi juga pulang”. Tanya Si teman berjilbab. “Ya, nanti kalau terlanjur di kuncikan bisa brabe? Jadi ku hubungi temanku, jika aku sampai di kost ternyata sudah di kunci aku tinggal menghubunginya untuk membukakannya”. Ia tertawa lirih dan terus mengunyah makanan. Si Kimpluk, yang menjadi satu-satunya lelaki  di antara teman-temannya, dengan gaya sedikit angkuh, berkata; “Tenang lah rek, nanti tak anterin!”. Teman-temannya hanya tersenyum dan terus saja makan. Dan ia kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Ia hisap dalam-dalam kemudian menghembuskannya ke udara. Nampak asap bergulung-gulung keluar dari mulutnya. Kemudian nyeletuk. “Rek, maaf ya. kalau selama ini gaya bicaraku kayak gitu, tak usah ku jelasin tahu sendiri kan. Kalian muak pasti. Sebenarnya aku pengin rek, diam tak begitu banyak bicara, ingin kayak kalian, bicara sewajarnya. Atau tanya juga yang sewajarnya. Ingin puasa ngomong”. Tiba-tiba salah satu teman berhenti mengunyah, kemudian menelannya dan berkata:
“Ya sudah to, kalau kamu ingin berpuasa ngomong. Gak usah di lanjutin omongannya. Gitu aja kok repot-repot? Beres kan?” Kalimat itu di ucapkan seperti benar-benar dari dalam hati, layaknya kalimat yang memang sudah lama sekali meronta-ronta ingin keluar dari rongga dada. Mungkin mereka sudah begitu muak dan enyah mendengar bualan Kimpluk yang teramat banyak, teramat membosankan. Saking, risihnya untuk mendengar, Omongannya  sesekali di penggal oleh teman-temannya  dengan ucapan: “Ngomong apa sih?”. Tentu di ucapkan dengan hati-hati , agar Kimpluk tak mewek. Atau dengan memolesnya sedikit lebih halus, memotong perkataannya dengan kata: “Aku gak paham omonganmu, terlalu tinggi Pluk. Otakku tak sampai untuk memikirkannya”. Ucapan yang sama saja sebenarnya, sama-sama muak mendengar ocehannya. Itu juga terlihat dari air muka mereka yang tak bisa di sembunyikan lagi aslinya.
__
Mendengar tanggapan itu, si Kimpluk hanya diam dan mengangguk-ngangguk. Ia lagi-lagi memaksa untuk mengiyakannya. Ia hisap lagi rokonya. Kemudian tak lama setelah makanan habis, mereka pulang ke kost mereka masing-masing. Si jilbab pulang ke selatan, yang duanya lagi bareng ke arah utara karena kost mereka satu arah dan si Kimpluk pulang ke kostnya ke arah barat dari tempat mereka rapat tadi. Dan mereka sepakat untuk membahas lebih lanjt lagi pembentukan nama oraganisasi minggu depan.
___
Setelah sampai kost, Kimpluk langsung duduk di depan meja laptop milik temannya, ia meminjamnya kemudian menyalakannya lantas, menulis. Memang si Kimpuk ini, adalah anak yang lumayan suka menulis, yang suka membuat semacam dokumen dari peristiwa-peristiwa yang ia alami, dan terlebih peristiwa yang ia anggap masih mengganjal, peristiwa yang belum usai. Walau tulisannya acak-acak kan, tak nyambung dari kalimat satu ke kalimat lainnya, dan ada juga tulisannya yang tak bisa dibaca. Karena selain ia tak banyak memiliki perbendaharaan kata yang baik, ia juga tak mahir menulis dengan huruf yang bagus nan manis layaknya seorang sekretaris. Tapi, ia selalu mencoaba menulis, menulis dan menulis. Ya, biarin ajalah. Asal ia senang, nggak mewek. Dan  berikut tulisan dari si Kimpluk:
***
Apakah salah jika orang berbicara? Apakah keliru? Kalau salah, itu wajar mungkin, karena bagaimanapun manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun, kalau keliru jangan lah. Seperti apa yang di ucapkan dalam tetralogi Buru buah tangan Pramoedya Ananta Toer, mengatakan; “Kau boleh saja keliru, namun  jangan sampai salah”. Kalau keliru itu, kau sudah memikirkan segalanya dengan matang dalam pikiran, dan kemudian tidak sesuai dalam perkataan atau pelaksanaan. Sedangkan salah itu sejak dari pikiran sudah salah, apalagi dalam perkataan atau tindakan. Dan aku ini adalah seorang terpelajar, “seorang terpelajar harus bisa berlaku adil, bahkan sejak dalam pikiran”.
Diriku saja yang terkadang kurasai terlalu terburu-buru dalam berbicara, tak mau didahului, tak mau dikalahkan. Tak terlepas dalam perkataan dan terutama kurasakan ketika bersama teman-temanku. Sampai sekarang, aku tak mengetahui pasti. Tak terlalu memahami yang seperti ini benar atau tidak? atau paling tidak jika boleh dimasukkan dalam spektrum salah dan keliru, ia masuk mana? Karena di satu sisi aku memikirkan tentang perkataan dan perbuatanku sebelum bertindak. Namun di sisi lain, kadang ya tadi, seperti sudah ku sampaikan bahwa aku terlalu terburu-buru. Lagi-lagi selalu ingin unggul. Sungguh Egois.
Pernah suatu kali aku merenungkan sifatku ini. Ah, mungkin aku ini tak cocok jika bekerja dalam tim, dan sekaligus sangat bisa cocok asal aku tidak di suruh-suruh, (anggota) lebih-lebih tidak terikat. Namun bagaimana bisa aku tak di suruh tak di ikat jika aku meleburkan diri dalam sebuah tim. Enyahlah. Sebut saja: intinya aku tak mau di ikat, karena jika aku terikat aku merasakan ada yang di rampas dari diriku. Aku sempat ingin merubah kebiasaan cara ngomongku ini. Namun setelah aku pertimbangkan, aku tidak mau merubahnya. Karena jika aku merubahnya, itu malah aku bukan menjadi ‘diriku’ sendiri. Di sisi lain, jika teman-temanku tidak benar-benar sabar menghadapiku, mungkin aku sudah di jauhi bahkan bukan tidak mungkin aku akan di hajar karena yang ku sebut ‘diriku’ ini. Atau semua ini memang sudah menjadi sifat umum kebanyakan manusia, terutama kawula muda. Kalau meminjam lirik lagu Oma Irama; darah muda darah yang berapi-api, yang maunya menang sendiri walau salah tak peduli. Yang selalu merasa gagah tak mau mengalah”. Ah- serba salah kadang.
Tak bisa ku pungkiri, walau bagaimanapun aku sangat menikmati fase, atau aku lebih suka menyebutnya proses yang harus ku lalui ini. Aku sangat nyaman. Merasa menemukan diriku. Dan yang terpenting, aku bisa merasakan Merdeka. Dan keadaan seperti ini sempat membuatku berfikir agar ‘berlari’ untuk menulis. Bagaimanapun, dengan menulis aku bisa berbicara sepuas-puasnya, bisa melawan dengan jantan, bisa memborbardir habis-habisan tanpa aling-aling apapun. Dengan menulis, aku bisa bercerita sampai mulutku berbusa-busa, menumpahkan segala gelisah dan resah tanpa berkeluh kesah dengan mereka, sekalipun bisa menangis hingga air mataku habis. Tak terkecuali aku bisa merasakan multipleorgasm. Aku bisa mendesah, tanpa harus mendedah yang membuatku bergairah. Ah-yang terakhir ini, aku kurang bisa mengerti. Tak cukup pandai untuk menerangkan secara sistematis. Namun itulah yang ku peroleh ketika memasuki; tema, judul, alur maju atau mundur maupun maju-mundur, kemudian klimaks dan itulah multipleorgasm. Menulis itu bagaikan bergubungan intim, dan menyelesikan tulisan itu adalah orgasm.
Mungkin itu, saat ini yang kurasakan! Tak peduli, setelah menulis nanti ada yang baca apa tidak? paling tidak aku benar-benar bisa merasa merdeka. Ya, ya, Merdeka yang sesungguhnya kurasakan tumbuh disini. Merdeka yang kurasai kadang terlalu cepat tumbuh, terlalu cepat lahir dengan kata lain Merdeka yang instant, Merdeka yang Ejakulasi, Merdeka yang Mbrojol prematur.
Disana, Lihatlah! Jemari yang berdansa tanpa jeda di atas kertas dengan sebuah tinta. Atau jemari yang menari-nari diatas keybord laptop pinjaman dari temanku ini. Tak peduli meski tulisannya nantinya hanya akan menambah panjang daftar kata-kata yang kadaluarsa yang di lempar di tong sampah sebelah meja, kemudian di bakar dalam tungku perapian para penyamun.  Tak peduli!
Dunia yang sudah kelebihan kata-kata. Setiap kata bisa di ubah artinya, setiap arti bisa diganti maknanya. Dan setiap makna selalu saja di perkosa. Peduli Setan!
***
Begitulah tulis, Kimpluk. Namun kadang, si Kimpluk ini merasakan gelisah. Seperti kata Ayu Utami memang, bahwa menulis adalah pekerjaan gelisah. Ia tak bisa menyangkal rasa itu. Karena jika ia memutuskan untuk benar-benar ‘berlari’ menulis, tak mau mengutarakan semua unek-unek atau permasalahnnya kepada teman-temanya ia merasakan ‘Kesepian’, di sisi lain ia juga seperti mengingkari  teori yang mengatakan bahwa :manusia adalah makhluk sosial.
Ia kadang  merasa sangat bersalah kepada teman-temanya. Si Kimpluk kali ini benar-benar pusing tujuh keliling. Dan anehnya, ia hanya ingat hal-hal semacam itu ketika ia sedang menulis unek-uneknya, perlawanannya, atau mencurahkan isi hatinya. Oh, bahkan ia tak bisa menuai orgasm, seperti yang ia terangkan di atas. Perasaannya seketika mendung berkabung, dan tubuhnya seketika lemas, semacam melankolis.
Selesai mengetik dua kata terakhir di tulisannya, ia terhuyung dan menghempaskan tubuh resamnya di atas kasur. Ia ingin tidur. Paling tidak, dengan tidur mungkin bisa mengurangi  rasa pening, pikirnya. Posisinya tidur tertelungkup, karena tak punya daya untuk membalikkan tubuhnya.
 Belum lagi ia benar-benar terlelap,  ia teringat satu kalimat dari Goenawan Mohammad yang pernah ia baca dari Caping, tiba-tiba muncul begitu saja di otaknya; “Definisi Kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial”. Kini ia menggapai bantal yang tergelatak di sampingnya dan menutupkannya di atas kepala sembari menekannya erat-erat dengan kedua tangannya.  Dan mendungpun mencair, Rinai hujan mengguyur bumi.

1 komentar: