Dansa
Sang Pohon
Oleh: Ab. Mufid
![]() |
| Dok. Pribadi |
Hampir tiga tahun aku menjelma, menjadi orang
Malang, kota yang di kenal dengan hawa dinginnya ini. Namun tetap saja tak bisa
kusembunyikan rasa dingin yang menyekap tubuh ringkihku seusai hujan mengguyur
bumi. Dari ujung jari jempol kakiku, telinga, hingga sekujur badan dan jemari
yang menari kedinginan diatas keyboard
komputerku serasa mengkerut, meringkuk, menahan dingin yang menusuk. Sesekali
gigi ini saling berdecak bertatapan satu sama lain hingga kadang kala menimbulkan
bunyi khas orang yang sedang kedinginan.
Tepat didepan pintu perpustakaan masjid kampusku aku duduk bersila, berusaha ku
luapkan ke-dinginan-ku ini yang mungkin bisa sedikit terhangatkan dengan
percakapan yang kucoba buat sendiri, yang kucoba dengarkan sendiri, yang ku
isyaratkan melalui jemariku yang menulis menari. Sembari juga nanti pukul 15.45
aku ada jam kuliah. Aku mencoba mendengarkan keheningan yang seakan-akan sedang
riuh berdiskusi barangkali, antara suara gemercik sisa air hujan yang masih saja
terjun secara perlahan dari talang-talang
masjid kampusku.
Lama, ku
coba mulai megeja kata-kata
