Kamis, 17 September 2015

PENGAJAR YANG KURANG DI AJAR

photo by: Ali, "Panti SALMAN"


Pengajar Yang Kurang (Minta)  Di Ajar

Lagi-lagi? Merasa sedang terkurung, tersesat didalm kampung sendiri. Sedang di bodohi sama perguruan tinggi ini, atu mungkin lebih tepatnya sama orang-orang dan minoritas oknum didalamnya.  terutama Dosen,

Selasa, 15 September 2015

TERTIUP , (WUUSSSSHHH)



TERTIUP


Berjalan perlahan sangat pelan. . .
Hingga petang menjelang kabut kota mesra menyambut sang petang. . .
Selaksa rentetan doa, ku tabur di anganku. . .
Pada sang sepi, pada resah hati. . .
Seperti berai

Minggu, 13 September 2015

KULIAH, DAPAT APA???


KULIAH ??? SELAMA SEMESTER 1 SAMPAI 5 DAPAT APA??? 





             
Perkara kuliah? Untuk mahasiswa yang sekarang sedang mengenyam dunia perkuliahan dibangku kuliah yang lagi duduk di semester 3,4, 5 ataupun yang baru memasuki dunia perkuliahan (maba) atapun yang sudah sampai beberapa semester tapi belum lulus-lulus juga. Pernahkah anda memikirkan apa yang anda dapat dengan pasti selama anda menikmati pendidikan di perguruan tinggi? Jikabelum pernah

merenungkan maka renungkanlah! Kenapa anda kok sampai saat ini belum merenungkannya? dan jika sudah, lantas renungkan.  Seperti halnya saya, tidak terlepas akan pertanyaan yang simple tapi amat menggelitik di tempurungku ini. Apa yang kudapatkan di bangku kuliah selama semester 1 sampai semester  5 ini? Sudah menghabiskan uang kuliah yang tidak sedikit, mulai dari uang  yang harus kita bayar per semesternya, masih lagi uang makan, kost, tugas-tugas bahkan pacaran(terkhusus yang pacaran). Kira-kira berapa dalam tangan kita  merogoh gocek orang tua kita perharinya untuk itu semua? berapa rupiah perminggu, bulan bahkan tahun?  Ah, teramat benyak mungkin.
Tadi pagi, saya tak sengaja diskusi dengan teman kontrak’an saya yang kebetulan juga kuliah dikampus yang sama juga dengan saya, hanya saja ia ngembil jurusan pendidikan keolahragaan dan sedang menempuh semester 5.
“sodara?” (nama Panggilan saya, /aku juga kurang paham kenapa aku dipanggil dengan sebutan itu ) dengan segera ia masuk kekamarku.
“Iya mas? Ada apa?” jawabku dengan santai.
“Selama sampean kuliah sampai semester  ini”, ia segera duduk didepanku untuk siap-siap saling Tanya jawab, “sampean dapat ilmu apa mas, sesuatu ilmu yang pasti sampean kuasai ilmu apa? “
Sejenak dahiku mengkerut, “Hemmm., , , apa ya mas? wah teramat susah ini pertanyaannya”
Dengan sedikit senyum, ia menambahkan “Soalnya, sampai detik ini aku bingung e sodara”
“Ndoh, bingung kenapa mas?” sahutku.
“Iya itu, tadi selam 5 semester berjalan ini aku merasa tidak mendapatkan suatu yang berarti, terutama tentang perkuliahan yang disampaikan dosen”, ia  melanjutkan dengan semakin banyak pertanyaan, “apa saya yang kurang paham, atau dosennya yang salah atau pembelajarannya yang kurang benar?”
“Nah, itu mas. Tak jarang aku berpikiran seperti sampean ini”, sedikit senyum kulanjutkan, “memang sih mas, saya akui kalau materi yang kukuasai tentang perkuliahan sangatlah sedikit, katakanlah dari 5 buku yang kupelajari mungkin hanya seperempatnya yang kukuasai, atau mungkin seperlapan bahkan lebih sedikit dari itu”
“Lha iya mas, gimana ya?” jawabnya dengan raut muka yang tambah resah.
“Hemm, , , sampean sudah pernah konsep belajar di perkuliahan seperti ini belum mas”? celetukku.
“Gimana mas? Sahutnya dengan segera ingin tahu.
“Bahwa semua pembelajaran, yang ada di kampus ataupun perguruan tinggi itu tidak memprioritaskan untuk memberi skala yang besar terhadap proses pen-transferar-an antara dosen dan mahasiswa”.
“Gimana itu mas?”, lanjutnya dengan antusias.
“Jadi gini mas, analogi sederhana. Ini gelas (sambil tanganku memegang gelas), nah ini ada air (kupegang juga air didalam botol), gelas sebagai mahasiswa sedangkan air adalah si Dosen”, jawabku dengan pelan-pelan, ”nah, kita selama ini mungkin selalu mau atau mungkin merasakan dan mengakui dikatakan gelas yang menunggu air untuk mengisi ruang kosong gelas kita tadi. . .”
“Oh, ,  berarti anu . . .” dia memotong  , dengan sedikit kecewa karena aku segera memotong omongannya kembali.
“Kita itu, bukan lagi gelas kosong mas, tapi kita adalah selep yang dikasih sedikit bahan mentah untuk kita giling menjadi apa ”. Ku meneruskan, “jadi kita tidak menerima butiran-butiran air tadi sampai memenuhi gelas kita mas, tapi kita mengembangkan, mengolah apa yang sebenarnya bisa kita olah secara professional”
“Oh, , ,iya-iya. Saya setuju mas. Jadi kita juga tidak cukup jika hanya duduk dikelas dan mendengarakan dosen ngoceh.” Air mukanya, mulai tenang.”kita juga harus banyak belajar dan mengembangkan semuanya diluar sana”.
“Kira-kira seperti itu”, dan aku ternsenyum kecil, lalu menutup pembicaraan. “Aduh, luwe aku mas. Tak makan dulu ya”. Segera aku beranjak dari tempat duduk untuk mengambil piring dan sendok makan di dapur.
“Oke-oke sodara. Makasih ya” Sahutnya.
“Oke, sama-sama mas”.
          Jadi, yang pasti kita yang kuliah akan mendapatkan apa yang tidak didapatkan sama anak yang ndak kuliah. Begitu juga, kita mungkin juga belum pasti bisa mendapatkan apa yang didapatkan sama anak yang tidak kuliah. Terkait tadi dapat apa? Itu jawabannya adalah bukan atau tidak menjawab itu sendiri, dan terdapat pada diri kita masing-masing.
By : Ab. Mufid