KULIAH ??? SELAMA SEMESTER 1 SAMPAI 5 DAPAT APA???
Perkara kuliah? Untuk mahasiswa yang sekarang
sedang mengenyam dunia perkuliahan dibangku kuliah yang lagi duduk di semester
3,4, 5 ataupun yang baru memasuki dunia perkuliahan (maba) atapun yang sudah
sampai beberapa semester tapi belum lulus-lulus juga. Pernahkah anda memikirkan apa
yang anda dapat dengan pasti selama anda menikmati pendidikan di perguruan
tinggi? Jikabelum pernahmerenungkan maka renungkanlah! Kenapa anda kok sampai saat ini belum merenungkannya? dan jika sudah, lantas renungkan. Seperti halnya saya, tidak terlepas akan pertanyaan yang simple tapi amat menggelitik di tempurungku ini. Apa yang kudapatkan di bangku kuliah selama semester 1 sampai semester 5 ini? Sudah menghabiskan uang kuliah yang tidak sedikit, mulai dari uang yang harus kita bayar per semesternya, masih lagi uang makan, kost, tugas-tugas bahkan pacaran(terkhusus yang pacaran). Kira-kira berapa dalam tangan kita merogoh gocek orang tua kita perharinya untuk itu semua? berapa rupiah perminggu, bulan bahkan tahun? Ah, teramat benyak mungkin.
Tadi pagi, saya tak sengaja diskusi dengan teman
kontrak’an saya yang kebetulan juga kuliah dikampus yang sama juga dengan saya,
hanya saja ia ngembil jurusan pendidikan keolahragaan dan sedang menempuh
semester 5.
“sodara?” (nama Panggilan saya, /aku juga kurang paham
kenapa aku dipanggil dengan sebutan itu ) dengan segera ia masuk kekamarku.
“Iya mas? Ada apa?” jawabku dengan santai.
“Selama sampean kuliah sampai semester ini”, ia segera duduk didepanku untuk
siap-siap saling Tanya jawab, “sampean dapat ilmu apa mas, sesuatu ilmu yang
pasti sampean kuasai ilmu apa? “
Sejenak dahiku mengkerut, “Hemmm., , , apa ya
mas? wah teramat susah ini pertanyaannya”
Dengan sedikit senyum, ia menambahkan “Soalnya, sampai detik
ini aku bingung e sodara”
“Ndoh, bingung kenapa mas?” sahutku.
“Iya itu, tadi selam 5 semester berjalan ini aku merasa
tidak mendapatkan suatu yang berarti, terutama tentang perkuliahan yang
disampaikan dosen”, ia melanjutkan
dengan semakin banyak pertanyaan, “apa saya yang kurang paham, atau dosennya
yang salah atau pembelajarannya yang kurang benar?”
“Nah, itu mas. Tak jarang aku berpikiran seperti sampean
ini”, sedikit senyum kulanjutkan, “memang sih mas, saya akui kalau materi yang
kukuasai tentang perkuliahan sangatlah sedikit, katakanlah dari 5 buku yang
kupelajari mungkin hanya seperempatnya yang kukuasai, atau mungkin seperlapan
bahkan lebih sedikit dari itu”
“Lha iya mas, gimana ya?” jawabnya dengan raut muka yang
tambah resah.
“Hemm, , , sampean sudah pernah konsep belajar di perkuliahan
seperti ini belum mas”? celetukku.
“Gimana mas? Sahutnya dengan segera ingin tahu.
“Bahwa semua pembelajaran, yang ada di kampus ataupun
perguruan tinggi itu tidak memprioritaskan untuk memberi skala yang besar
terhadap proses pen-transferar-an antara dosen dan mahasiswa”.
“Gimana itu mas?”, lanjutnya dengan antusias.
“Jadi gini mas, analogi sederhana. Ini gelas (sambil
tanganku memegang gelas), nah ini ada air (kupegang juga air didalam botol),
gelas sebagai mahasiswa sedangkan air adalah si Dosen”, jawabku dengan
pelan-pelan, ”nah, kita selama ini mungkin selalu mau atau mungkin merasakan
dan mengakui dikatakan gelas yang menunggu air untuk mengisi ruang kosong gelas
kita tadi. . .”
“Oh, , berarti anu .
. .” dia memotong , dengan sedikit kecewa
karena aku segera memotong omongannya kembali.
“Kita itu, bukan lagi gelas kosong mas, tapi kita adalah selep yang dikasih sedikit bahan mentah
untuk kita giling menjadi apa ”. Ku
meneruskan, “jadi kita tidak menerima butiran-butiran air tadi sampai memenuhi
gelas kita mas, tapi kita mengembangkan, mengolah apa yang sebenarnya bisa kita
olah secara professional”
“Oh, , ,iya-iya. Saya setuju mas. Jadi kita juga tidak cukup
jika hanya duduk dikelas dan mendengarakan dosen ngoceh.” Air mukanya, mulai tenang.”kita juga harus banyak belajar
dan mengembangkan semuanya diluar
sana”.
“Kira-kira seperti itu”, dan aku ternsenyum kecil, lalu
menutup pembicaraan. “Aduh, luwe aku mas. Tak makan dulu ya”. Segera aku
beranjak dari tempat duduk untuk mengambil piring dan sendok makan di dapur.
“Oke-oke sodara. Makasih ya” Sahutnya.
“Oke, sama-sama mas”.
“Oke, sama-sama mas”.
Jadi, yang
pasti kita yang kuliah akan mendapatkan apa yang tidak didapatkan sama anak
yang ndak kuliah. Begitu juga, kita mungkin juga belum pasti bisa mendapatkan apa
yang didapatkan sama anak yang tidak kuliah. Terkait tadi dapat apa? Itu jawabannya
adalah bukan atau tidak menjawab itu sendiri, dan terdapat pada diri kita
masing-masing.
By : Ab. Mufid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar