TERTIUP
Berjalan perlahan sangat pelan. . .
Hingga petang menjelang kabut kota mesra menyambut
sang petang. . .
Selaksa rentetan doa, ku tabur di anganku. . .
Pada sang sepi, pada resah hati. . .
Seperti berai
melalui jemari dan jatuh di pangkuan
nyonya pertiwi. . .
Mimpi adalah tempatku yang nyata,. . .
Kenyataan adalah mimpiku, bak mati sebelum hidup. . .
Teduh tatapanmu yang kau semaikan di antara senyum yang
tersungging dari bibir manismu. . .
Membangunkanku dari mimpi panjang, meniupkan jiwa
dan rasa ke sanubari yang mati suri. . .
Gema suaramu sungguh telah meniupkan ruh ke rasaku
yang tak terasa. . .
Semua yang awalnya hanya menguap hambar, kini
menjadi nanar yang terpancar. . .
Ingin ku genggam dan tak kan ku relakan terlepas
terhempas,. . .
Walaupun akhirnya hanya jadi bias, nahas. . .
emak. . . oh
emak. . . oh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar