Kamis, 17 September 2015

PENGAJAR YANG KURANG DI AJAR

photo by: Ali, "Panti SALMAN"


Pengajar Yang Kurang (Minta)  Di Ajar

Lagi-lagi? Merasa sedang terkurung, tersesat didalm kampung sendiri. Sedang di bodohi sama perguruan tinggi ini, atu mungkin lebih tepatnya sama orang-orang dan minoritas oknum didalamnya.  terutama Dosen,
iya meski bukan semuanya sih, sebagian kecil aja seperti kataku tadi. Selama semester 5 ini, dan saya sudah dapat 6 pertemuan dalam perkuliahan, saya merasa sebagian dosen yang mengajar mata kuliah tertentu tidak mampu/kurang layak jika disebut sebagai dosen, atau bahsa ku “gak pantes blas diarani dosen”. Perihal apa? iya, jadi begini masak ada, katakanlah seperti demikian. Sudah jelas-jelas ada mata kuliah yang diberikan dan ini membahas tentang  “Organisasi dan Manajemen koperasi” tapi, sampai pertemuan yang ke-6 ini masih saja membahas tentang definisi dan undang-undang,? Kenapa coba dosen ini? Ndak ada materi khusus yang diberikannya, paling tidak materi yang ada sinkronasinya lah dengan mata kuliah tersebut. Lagi-lagi kita dibodohkan/diperbudak dengan iming-iming nilai. Ah, Taik. Lagi-lagi nilai menjadi primadona sekaligus momok yang menakutkan buat mahasiswa. “Silahkan Tanya, nanti yang Tanya sebutkan nama ya”? kata dosen. Seolah-olah kata itu keluar dari dasar langit yang paling atas, bergema begitu keras dan mencuat membelah lagitan lalu menyihir mahasiswa untukk segera bertanya. Ya, tentu para mahasiswa takut dan segera mengangkat tangannya dan untuk bertanya, bahkan sangking takutnya diantara mereka bertanya sampai terkentut-kentut. Namun pertanyaannya itu bukan untuk benar-benar bertanya, melainkan sekilas demi primadona tadi. Bahkan tak jarang ia sendiri tak paham akan pertanyaan yang ditanyakannya itu pantas disebut sebagai pertanyaan atau tidak,  Asalkan dia membuka mulutnya nilaipun jatuh terurai untuknya. Mungkin itu yang ada didalam tempurungnya. Apa ini yang disebut mahasiswa kuliah?
Fajar, salah satu temanku mengatakan. Dosen kita sebenarnya tidak bodoh, mungkin kita nya yang terlalu pintar.  Hahaha, , , Aku sontak terbahak dengan celetuk nya ini. Kita pintar menghujat dan sehingga dosen terlalu bodoh untuk mengindar dari hujatan pintar kita.  Hemmm, , , tapi tetep saja semua menggejolak ra karu-karuan. Apa saya harus menganut metode anak pondok’an? Yang sami’na wa ato’na. Jika dengar, ya langsung amalkan. Jika disuruh ya laksanakan. Tapi, kita dituntut oleh zaman kawan? Kemerdekaan itu diawalai dari kebebasan lidah, tentu kebebasan yang tak keblabasan.  Terlalu banyak kaum munafik disana yang terbang bergelantungan di kaki merpati untuk mengelilingi dunia, dan sesekali mereka terjun bebas ke dasar jurang dan menunggu bunyi dentumnya dalam pangkuan nyonya pertiwi ini. Tak terlepas jua akulah yang munafik, aku tidak tahu pasti apa yang sedang kupikirkan sekarang kenapa saya sampai ngomong seperti ini?   Aku jadi teringat kata-kata dari Soe Hok Gie, pria keturunan cina yang mati muda ini pernah bilang bahwa “Dosen bukanlah dewa yang selalu benar, dan murid bukanlah kerbau yang selalu menuggu perintah”. Ya tuhan, ampunilah dosa hamba , dosa teman-teman hamba, dan dosa dosen-dosen “kurang ajar” hamba ya Tuhan. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar