Roh Butuh Nutrisi
dan Gizi yang Cukup
Kita
manusia, secara umum mempunyai 2 komponen unsur penyusun yaitu jasmani atau
yang Nampak dan rohani yang tak Nampak.
Jika
membahas tentang kebutuhan jasmani tubuh kita, kita perlu asupan makanan dan
gizi untuk menumbuh kembangkan jasmani kita agar berkembang dengan baik, yaitu
dengan mengkonsumsi roti, telur madu , nasi dan sebagainya. Asupan yang kita makan pun harus sesuaidengan
apa yang di harapkan tubuh kita, (yang bergizi) dengan sendirinya, dengan
mekanisme yang luar biasa hebat nanti makanan itu akan di proses dengan luar
biasa oleh alat pencernaan kita. Dan jika, di dalam makan misalkan ada taburan
racun, tubuh kita pun secara otomatis bisa memilah dan memilih untuk pemenuhan
kebutuhan jasmani kita. Masyaallah.
Lalu
bagimana pemenuhan kebutuhan rohani kita? Tentunya dengan ibadah , Alhamdulillah
saya sebagai orang islam saya memenuhi kebutuhan rohani saya dengan sholat,
zakat, puasa dan in sha allah haji. Juga
selalu mendawamkan diri untuk membaca alqur’an karim. Selain itu untuk kebutuhan rohani yang
bersifat dalam konteks cendekiawan saya memilih buku. Iya buku, karena apa?
Buku itu menurut saya lebih efektif dan bisa menggerakkan di bandingkan dengan
mendapatkannya dari mimbar, diskusi, radio, dan televise. Bukanya yang selain
buku itu tidak bagus, hanya saja saya lebih sepakat bahwa dengan membaca teks
dan buku otak kita seperti alat
pencernaan kita yang luar biasa tadi. Dengan otomatis bekerja memenuhi
kebutuhan rohani kita dan menyuplainya ke semua saraf otak bahkan bisa
memunculkan saraf, atau sambungan baru di otak kita. Membuat kita seperti
tergertak untuk segera bergerak. Dan jika di dalam teks terselip “racun”, maka
otak kita secara selektif memisahkan racun itu. Itulah mungkin keistimewaan
buku di banding radio, tv, email ataupun sosmed. Buku sangat beragam jenisnya,
semua buku adalah baik tapi mungkin buku yang baik adalah buku yang bisa
benar-benar membawa perubahan terutama perubahan pada pembacanya. Teks dan buku
mengajak pembacanya merenug dan memikirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat
, paragraph demi paragraph dan buku demi buku, demikian kiranya. Mereka para
pembaca akan memikirkan kritis dan mencoba menghimpun makna dari apa yang di
bacanya, dari sini otak mulai di rangsang untuk bekerja dan anlitis kritis
mulai terjadi ketika pembaca akhirnya bisa menyimpulkan dari buku yang di
bacanya. Ada yang namanya AKG atau Angka Kecukupan Gizi ini di gunakan untuk
istilah jasmani, pemenuhan kebutuhan tubuh kita, nah mungkin seharusnya juga
ada AKG Buku, jadi menurut saya buku pun mempunyai bobot atau Gizi yang
terkandung dalam sebuah buku iu seharusnya sesuai dengan logika dan diksi yang
baik dan menarik.
Tentunya buku yang bergizi itu
bukanlah buku yang berdasarkan temanya, ataupun ketebalanya seperti saya
uraikan di awal buku yang bergizi adalah buku yang bisa menggertak kita untuk
segera bergerak atau berubah. Berubah menjadi baik, dari baik ke paling baik,
dan dari paling baik ke yang terbaik. Mengutip firman hikmah, hari ini harus
lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini.