Sabtu, 29 Agustus 2015

Roh, Jiwa, dan Hatipun Butuh Nutrisi dan Gizi yang Cukup


Roh Butuh Nutrisi dan Gizi yang Cukup

Kita manusia, secara umum mempunyai 2 komponen unsur penyusun yaitu jasmani atau yang Nampak dan rohani yang tak Nampak.
Jika membahas tentang kebutuhan jasmani tubuh kita, kita perlu asupan makanan dan gizi untuk menumbuh kembangkan jasmani kita agar berkembang dengan baik, yaitu dengan mengkonsumsi roti, telur madu , nasi dan sebagainya.  Asupan yang kita makan pun harus sesuaidengan apa yang di harapkan tubuh kita, (yang bergizi) dengan sendirinya, dengan mekanisme yang luar biasa hebat nanti makanan itu akan di proses dengan luar biasa oleh alat pencernaan kita. Dan jika, di dalam makan misalkan ada taburan racun, tubuh kita pun secara otomatis bisa memilah dan memilih untuk pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Masyaallah.
Lalu bagimana pemenuhan kebutuhan rohani kita? Tentunya dengan ibadah , Alhamdulillah saya sebagai orang islam saya memenuhi kebutuhan rohani saya dengan sholat, zakat, puasa dan in sha allah haji.  Juga selalu mendawamkan diri untuk membaca alqur’an karim.  Selain itu untuk kebutuhan rohani yang bersifat dalam konteks cendekiawan saya memilih buku. Iya buku, karena apa? Buku itu menurut saya lebih efektif dan bisa menggerakkan di bandingkan dengan mendapatkannya dari mimbar, diskusi, radio, dan televise. Bukanya yang selain buku itu tidak bagus, hanya saja saya lebih sepakat bahwa dengan membaca teks dan buku otak kita seperti  alat pencernaan kita yang luar biasa tadi. Dengan otomatis bekerja memenuhi kebutuhan rohani kita dan menyuplainya ke semua saraf otak bahkan bisa memunculkan saraf, atau sambungan baru di otak kita. Membuat kita seperti tergertak untuk segera bergerak. Dan jika di dalam teks terselip “racun”, maka otak kita secara selektif memisahkan racun itu. Itulah mungkin keistimewaan buku di banding radio, tv, email ataupun sosmed. Buku sangat beragam jenisnya, semua buku adalah baik tapi mungkin buku yang baik adalah buku yang bisa benar-benar membawa perubahan terutama perubahan pada pembacanya. Teks dan buku mengajak pembacanya merenug dan memikirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat , paragraph demi paragraph dan buku demi buku, demikian kiranya. Mereka para pembaca akan memikirkan kritis dan mencoba menghimpun makna dari apa yang di bacanya, dari sini otak mulai di rangsang untuk bekerja dan anlitis kritis mulai terjadi ketika pembaca akhirnya bisa menyimpulkan dari buku yang di bacanya. Ada yang namanya AKG atau Angka Kecukupan Gizi ini di gunakan untuk istilah jasmani, pemenuhan kebutuhan tubuh kita, nah mungkin seharusnya juga ada AKG Buku, jadi menurut saya buku pun mempunyai bobot atau Gizi yang terkandung dalam sebuah buku iu seharusnya sesuai dengan logika dan diksi yang baik dan menarik.
            Tentunya buku yang bergizi itu bukanlah buku yang berdasarkan temanya, ataupun ketebalanya seperti saya uraikan di awal buku yang bergizi adalah buku yang bisa menggertak kita untuk segera bergerak atau berubah. Berubah menjadi baik, dari baik ke paling baik, dan dari paling baik ke yang terbaik. Mengutip firman hikmah, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini.