Jumat, 29 Januari 2016

Dansa Sang Pohon



Dansa Sang Pohon
Oleh: Ab. Mufid

Dok. Pribadi
Hampir tiga tahun aku menjelma, menjadi orang Malang, kota yang di kenal dengan hawa dinginnya ini. Namun tetap saja tak bisa kusembunyikan rasa dingin yang menyekap tubuh ringkihku seusai hujan mengguyur bumi. Dari ujung jari jempol kakiku, telinga, hingga sekujur badan dan jemari yang menari kedinginan diatas keyboard komputerku serasa mengkerut, meringkuk, menahan dingin yang menusuk. Sesekali gigi ini saling berdecak bertatapan satu sama lain hingga kadang kala menimbulkan bunyi  khas orang yang sedang kedinginan. Tepat didepan pintu perpustakaan masjid kampusku aku duduk bersila, berusaha ku luapkan ke-dinginan-ku ini yang mungkin bisa sedikit terhangatkan dengan percakapan yang kucoba buat sendiri, yang kucoba dengarkan sendiri, yang ku isyaratkan melalui jemariku yang menulis menari. Sembari juga nanti pukul 15.45 aku ada jam kuliah. Aku mencoba mendengarkan keheningan yang seakan-akan sedang riuh berdiskusi barangkali, antara suara gemercik sisa air hujan yang masih saja terjun secara perlahan dari talang-talang masjid kampusku.
            Lama, ku coba mulai megeja kata-kata
atau mendengarkan diskusi alam ini, namun tak dapat kudengar percakapan lirih mereka. Hanya ada ketentraman dan senyum-senyum pohon yang begitu riang karena baru saja ia disirami dengan air hujan yang makin membuatnya menjadi tumbuh dan berkembang yang jua semakin teduh. Di jalan dekat masjid yang dipenuhi dengan kubangan bekas guyuran  hujan, terlihat beberapa mahasiswa yang berlarian dari masjid maupun kost menuju kelasnya, barangkali tadi ia berteduh sejenak menunggu hujan reda. Tergopoh-gopoh melihat jam yang melingkar ditangannya yang semakin memacunya untuk cepat ke kelas. Layaknya seorang jenderal, gedung-gedung kampus yang begitu mentereng menjelma, seakan-akan memberi komando aba-aba kepada para mahasiswa untuk gegas berlari. Pun tak hanya mahasiswa, ternyata nampak pula beberapa orang atau mungkin dosen yang juga terlihat telat masuk kelas. Padahal jika dihitung menitnya, lama telat jam kuliah dari yang seharusnya dimulai kurang lebih 1 jam an. Sebelumnya,  di jalan kecil yang kiri kanannya terdapat bunga dan taman di seberang jalan agak jauh, terlihat  juga mahasiswa maupun dosen yang dengan bagaimanapun caranya ia harus tetap tepat waktu. Bahkan ada beberapa diantara  mereka (Dosen &Mahasiswa) yang rela berlarian tunggang langgang demi menjumpai waktu yang sesaat, yang abadi tak pernah kembali itu.
            Mungkin saja, jika melihat kedalam kantor/ruang dosen maupun kost-kost an mahasiswa banyak pula kiranya yang lebih memilih duduk santai di kursi empuk, dengan secangkir kopi atau teh di diatas meja kerjanya. Atau melihat mahasiswa yang meringkuk kedinginan tertidur di atas busa tipis dalam kamarnya. 
Angin berhembus mengiringi derap langkah mereka, diatas jalan ber-paving.
Bersama itu, tiba-tiba aku terhenyak, karena mendengar suara yang bergema begitu pelan, perlahan merambat mendekati telingaku. Amat pelan, nyaris tak terdengar. Ku coba njegideg sejenak, benar-benar ingin, mendengar, menangkap, dan mencari tahu, kira-kira dari mana datangnya gema suara itu? Yang memang sejak tadi ingin kutemui.
Sambil tercengang, diam sabar menunggu sumber bunyi itu, kusandarkan pula punggungku di tembok yang ternyata tak luput jua, menjadi dingin beku seperti mencengkram erat tubuhku dari belakang. Mungkin sejenak ia juga ingin menepis rasa dinginnya dengan mendekap erat punggungku. Pintu masjid yang meledak-ledak terdorong angin, menimbulkan bunyi karena berbenturan dengan dinding dekat shof masjid yang seakan-akan sedang berkelakar meledek-ku. Ah, tak kuhiraukan itu.
“Hemmm. . . riuh apa ya, tadi?”. Gumamku, yang masih bersandar, bersila. Ku fokuskan lagi untuk mencari suara itu. Ku pasang telinga jiwaku dengan amat seksama. Dentum tetesan sisa air hujan yang jatuh dari ranting dan daun-daun pohon yang makin memenuhi kubangan jalanan seperti ingin membantu memperkuat konsentrasiku agar semakin fokus. Dengan bunyi kecibaknya yang begitu khas dan monoton, lama-lama aku pun terhanyut. Ku biarkan saja diri ini tenggelam, tak kulawan, semakin lama mataku sedikit demi sedikit terpejam. Kini aku merasa telah dibawanya menuju alam yang tak pernah kutahu sebelumnya.
Selagi sempat ku terpejam, ku melirik kiri kananku, mengamati keadaan pelataran dan sekitar masjid,  tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku yang duduk sendirian di dekat depan pintu perpustakaan masjid itu. Ya. Hanya ada suara Alam dan aku, serta beberapa pasang sepatu milik sebagian mahasiswa yang mungkin juga sedang berteduh di aula masjid yang megah itu, yang terlihat berantakan di pelataran tangga pintu masuk masjid. Tiba-tiba, kuping hati ini mulai mendengar lagi suara itu. Ku cermatkan lagi, lagi dan lagi. Semakin dekat, dan semakin jelas. Masih tak ku tahu, dimana asal sumber dentuman suara itu? Semacam suara kucing yang mengeram atau entahlah.
Lebih ku lebarkan lagi telinga batinku, untuk kesekian kali.
 Aku tergeragap. Karena Ternyata suara itu adalah celetuk dari sebuah pohon di dekat masjid sebelah barat yang disampaikan oleh angin hingga menyentuh, merambat menembus ketelinga jiwaku. Akhirnya, alam yang sedang berdiskusi tadi pun ternyata jua mengetahui kecamuk dan gumam batinku yang sedang kutuliskan ini. Dan akhirnya ia merasa terganggu atau mungkin sekedar menggodaku?
Aku sadari, memang aku terlalu keras barangkali untuk mengasah kepekaanku pada bisik alam yang lirih gemercik mengusik, namun aku yakin Alam sangatlah lembut dan kasih untuk mendengar bahkan membaca rintih hati yang begitu ringkih nan tertatih-tatih. Ah, entahlah.
“He, Le. Kira-kira bagaimana menurutmu tentang apa yang kamu gumamkan sendiri dalam hati tadi?”. Ya.  kira-kira begitulah sayup-sayup suara yang pertama kali kutangkap dari sang pohon yang sudah agak tua dan lumutan ini dengan raut yang dingin. Tepat, ternyata benar-benar, ia bisa membaca hatiku.
Sejenak, Aku tergidik.
“Hah? Apa? Bagaimana apanya?”. Jawabku dengan sebuah pertanyaan yang seakan-akan tak percaya, sebuah pohon sedang menanyaiku.
“Hahaha”. Kelakar sang Pohon. “Tenang le, aku Cuma bertanya. Ayo gimana?”
Dengan perasaan yang tak karuan, aku berusaha menanggapi pertanyaan sang Pohon. “Iya itu, lumrah wit (jawa). Atau mungkin baik. Kebanyakan Mahasiswa dan Dosen lebih menunggu Hujan reda, daripada harus berlari, memakai payung apalagi hujan-hujanan untuk melakukan perkuliahan”.
“Lhoh-lhoh”. Sahut pohon. “Lumrah kepiye? Wong telat kok lumrah?”. Lanjutnya sembari me-riuhkan gelak tawanya.  
Aku pun terdiam terpaku mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan itu. Semakin klenga-klengo waktu aku melihat sang pohon dengan gelagatnya yang khas ketika, angin mengahampiri lalu mengajaknya berdansa. Seperti sedang mengibaskan rambut panjangnya tatkala kekasihnya datang.
Sempatku hanyut  melihat pohon yang begitu elok berdansa, dengan irama melodi asmara, bernada tra-la-la-la. Sampai aku lupa akan pertanyaan barusan dari sang pohon.
“Heh, Le!? Malah Nglamun!” Tukas pohon membuyarkan kelarutanku. Kemudian ia lanjutkan. “Lha, gak dijawab?”. Kali ini, agak serius.
Aku terjingkrak, kaget. Sembari berucap,  “Iya wit, apa ya yang jadi pertanyaan nya tadi?”
“Owalah le, kamu kok malah mempertanyakan yang seharusnya bukan jadi pertanyaan”. Sahut sang pohon. “Ayo? Kepiye?”. Kejarnya menyudutkanku untuk segera menjawab.
Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang menjadikan pertanyaan sang pohon beberapa menit lalu itu. Maklum, suka me-lupa. Bukan lupa asli. Tapi memilih dan mungkin sementara terpaksa untuk lupa. Dan Tak lama kemudian aku pun teringat. Sambil ku pejamkan mata erat-erat, dan bertanya-tanya sendiri dalam hati, “Macam pohon apa ini?”
Semakin ku pejamkan lagi mata ini rapat-rapat, ku coba lantunkan beberapa rentet kata. “Oh, iya ya wit, jadi gini”. Jawabku kepada sang pohon yang nampak begitu sabarnya melihat dan menunggu jawaban dari sifat kedunguan manusiawiku itu. Sesekali ia seolah-olah tersenyum tipis melihat air mukaku yang tak meyakinkan akan jawaban yang akan kuberikan.
“Iya, mahasiswa dan dosen telat ke kelas kuliah itu lumrah. Bahkan baik. Mungkin saja ia berpendat dari pada telat 2 jam lebih baik telat 1 jam. Atau mungkin malah begini, lebih baik telat daripada tidak datang/masuk sama sekali”. Jawabku, nuruti teng pecotot e lambeku.
Sang pohon hanya mesem mendengar celotehku.
Kemudian seperti ia sedang menepuk-nepuk pundakku, dan berkata, “Adapun ukurannya le, kita harus tahu dan bisa membedakan mana yang koridor akhirat, mana yang koridor dunia. Kalau kamu menganggap telat dalam perkuliahan itu adalah hal yang lumrah, bahkan menganggap baik, itu perlu dipertanyakan lagi. Dimana kamu menaruh duniamu? Kamu tahu?. Tanggap sang pohon. Kemudian melanjtukan. “Kuliah itu kita sedang memberi asupan untuk rohani kita, dalam arti rohani disini adalah kepentingan untuk akhirat. Terlebih untuk kepentinganmu sendiri demi yang ‘punya Akhirat’. Seperti halnya kamu makan, jika jam makanmu telat, di undur beberapa jam kemudian atau langsung maupun tak langsung porsi makanmu juga dikurangi daripada biasanya, kira-kira bagaimana reaksi tubuh, reaksi ragamu? Begitu juga dengan rohani kita. Mungkin ia merota-ronta kelaparan. Hanya saja kita terlalu Angkuh dan enyah untuk mendengar bisik lirih-nya”.
Sang pohon terlihat begitu antusias berbicara, seperti hendak menatarku. Bak seorang Khotib yang sedang berceramah, tak mau di sela maupun di potong. Sedangkan aku menjadi jama’ah yang duduk terkantuk-kantuk.
Dan terus saja melanjutkan. “Takutnya juga nanti kamu, akan menganggap telat dalam ibadahpun tidak apa-apa. Beh, kalau sudah begitu apa bedanya kamu dengan orang yang di luar sana? Apa bedanya kamu dengan saya? Katanya kamu makhluk yang paling sempurna? Bahkan tidak menutup kemungkinan, kamu kalah baik dengan mereka yang bertani di jalanan.
Tetap harus jaga, harus kamu ketahui, kamu pelajari lebih-lebih kamu amalkan. Mana yang primer, mana yang sekunder? Mana yang akhirati, mana yang duiawi. Jika Tuhan menganugerahi, usahakan  kamu sebisa mungkin untuk men-dunia-akhirat-kan serta meng-tauhid-kan kehidupan  ini. Primerkan yang primer. Iya untung saja, Tuhan tak lupa, apalagi telat memberi oksigen padamu, yang setiap detik, setiap waktu kau hirup itu. Bayangkan jika Tuhan telat, katakanlah satu menit saja Dia telat mendetakkan jantungmu? Apa jadinya?”.
Jawab sang pohon, dengan panjang dan bijaknya. Suara yang seolah-olah keluar dari rongga dada seorang tokoh agama. Dan jujur saja, aku benar-benar mengantuk mendengar beberan ceramah dari sang pohon yang luar biasa, tak alang kepalang itu. Kemudian aku meniatkan diri untuk bertanya balik, karena selain ngantuk aku jua tidak paham dengan rentetan kata-kata sang pohon yang dipenuhi idio-idiom itu. Namun belum sempat ku berucap, kudapati sang pohon sudah tidak lagi menatapku, tak menghiraukan ku.
Ternyata ia kembali asik berdansa dengan angin yang mendekap, menusuk-nusuk tulang sumsumku.
Sedangkan sisa air hujan dari talang masjid terus berjatuhan, ia seperti tenggelam dalam ocehan sang pohon tadi, rumput-rumput yang tak tahu malu, yang tumbuh liar di pelataran masjid itu jua ikut manggut-manggut. Seolah olah tadi ia juga mendengarkan dan memahami petuah dari sang pohon.
Ku hela kan nafas panjang, sembari duduk perlahan menegakkan sandaran punggungku,  ku gesekkan kedua telapak tanganku satu sama lain dan  kulipat kedua kaki di depan dadaku. Paling tidak bisa mengurangi kepucatan tubuh ini. Aku masih ingin mencari lagi, mengajak sang pohon kembali menepuk-nepuk pundakku. Paling tidak aku bisa balik tanya, tentang penjelasannya yang begitu panjang.
 Dan dengan tiba-tiba, aku merasakan getar di dadaku sebelah kiri, hingga membuat mataku yang tadinya kupejamkan rapat-rapat, kini seperti dicongkel dengan cara kasar untuk terbelalak. Sontak terkoyak sulaman perbincanganku dengan sang pohon. Dan mata ini pun, seketika itu pula terbuka lebar sambil tangan kananku mencoba menenangkan getaran yang makin lama makin mengguncang itu.
Ku raba-raba dada kiriku, yang didepannya terbungkus baju bersaku-ku itu. Getaran itu terus semakin kencang mengguncang sesekali terdengar sayup-sayup nada lagu china yang bergaung mengiringi.
Ternyata, Oh ternyata.
Getaran itu rupanya berdecak dari HP-ku luaran china yang bergetar karena alarm yang ku setel sebelumnya, yang menunjukkan pukul 3 sore. Dimana waktu adzan ashar dikumandangkan. Akupun lekas mematikan alarmku, tetap masih dengan rasa tak percaya akan ocehan sang pohon yang baru saja ku alami, perlahan ku tanggalkan ranselku di pundak, dengan keadaan setengah sadar kemudian kuseret langkah menuju tempat wudlu. Berupaya serta merta memenuhi panggilan dari pengeras suara masjid yang melantun merdu itu.

Malang, 27 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar