Dansa
Sang Pohon
Oleh: Ab. Mufid
![]() |
| Dok. Pribadi |
Hampir tiga tahun aku menjelma, menjadi orang
Malang, kota yang di kenal dengan hawa dinginnya ini. Namun tetap saja tak bisa
kusembunyikan rasa dingin yang menyekap tubuh ringkihku seusai hujan mengguyur
bumi. Dari ujung jari jempol kakiku, telinga, hingga sekujur badan dan jemari
yang menari kedinginan diatas keyboard
komputerku serasa mengkerut, meringkuk, menahan dingin yang menusuk. Sesekali
gigi ini saling berdecak bertatapan satu sama lain hingga kadang kala menimbulkan
bunyi khas orang yang sedang kedinginan.
Tepat didepan pintu perpustakaan masjid kampusku aku duduk bersila, berusaha ku
luapkan ke-dinginan-ku ini yang mungkin bisa sedikit terhangatkan dengan
percakapan yang kucoba buat sendiri, yang kucoba dengarkan sendiri, yang ku
isyaratkan melalui jemariku yang menulis menari. Sembari juga nanti pukul 15.45
aku ada jam kuliah. Aku mencoba mendengarkan keheningan yang seakan-akan sedang
riuh berdiskusi barangkali, antara suara gemercik sisa air hujan yang masih saja
terjun secara perlahan dari talang-talang
masjid kampusku.
Lama, ku
coba mulai megeja kata-kata
atau mendengarkan diskusi alam ini, namun tak dapat
kudengar percakapan lirih mereka. Hanya ada ketentraman dan senyum-senyum pohon
yang begitu riang karena baru saja ia disirami dengan air hujan yang makin
membuatnya menjadi tumbuh dan berkembang yang jua semakin teduh. Di jalan dekat
masjid yang dipenuhi dengan kubangan bekas guyuran hujan, terlihat beberapa mahasiswa yang
berlarian dari masjid maupun kost menuju kelasnya, barangkali tadi ia berteduh
sejenak menunggu hujan reda. Tergopoh-gopoh melihat jam yang melingkar
ditangannya yang semakin memacunya untuk cepat ke kelas. Layaknya seorang
jenderal, gedung-gedung kampus yang begitu mentereng menjelma, seakan-akan memberi
komando aba-aba kepada para mahasiswa untuk gegas berlari. Pun tak hanya
mahasiswa, ternyata nampak pula beberapa orang atau mungkin dosen yang juga
terlihat telat masuk kelas. Padahal jika dihitung menitnya, lama telat jam
kuliah dari yang seharusnya dimulai kurang lebih 1 jam an. Sebelumnya, di jalan kecil yang kiri kanannya terdapat
bunga dan taman di seberang jalan agak jauh, terlihat juga mahasiswa maupun dosen yang dengan
bagaimanapun caranya ia harus tetap tepat waktu. Bahkan ada beberapa diantara mereka (Dosen &Mahasiswa) yang rela
berlarian tunggang langgang demi menjumpai waktu yang sesaat, yang abadi tak
pernah kembali itu.
Mungkin
saja, jika melihat kedalam kantor/ruang dosen maupun kost-kost an mahasiswa
banyak pula kiranya yang lebih memilih duduk santai di kursi empuk, dengan
secangkir kopi atau teh di diatas meja kerjanya. Atau melihat mahasiswa yang
meringkuk kedinginan tertidur di atas busa tipis dalam kamarnya.
Angin berhembus mengiringi derap langkah mereka, diatas
jalan ber-paving.
Bersama itu, tiba-tiba aku terhenyak, karena
mendengar suara yang bergema begitu pelan, perlahan merambat mendekati
telingaku. Amat pelan, nyaris tak terdengar. Ku coba njegideg sejenak, benar-benar ingin, mendengar, menangkap, dan mencari
tahu, kira-kira dari mana datangnya gema suara itu? Yang memang sejak tadi
ingin kutemui.
Sambil tercengang, diam sabar menunggu sumber
bunyi itu, kusandarkan pula punggungku di tembok yang ternyata tak luput jua,
menjadi dingin beku seperti mencengkram erat tubuhku dari belakang. Mungkin
sejenak ia juga ingin menepis rasa dinginnya dengan mendekap erat punggungku.
Pintu masjid yang meledak-ledak terdorong angin, menimbulkan bunyi karena
berbenturan dengan dinding dekat shof masjid yang seakan-akan sedang berkelakar
meledek-ku. Ah, tak kuhiraukan itu.
“Hemmm. . . riuh apa ya, tadi?”. Gumamku, yang masih
bersandar, bersila. Ku fokuskan lagi untuk mencari suara itu. Ku pasang telinga
jiwaku dengan amat seksama. Dentum tetesan sisa air hujan yang jatuh dari
ranting dan daun-daun pohon yang makin memenuhi kubangan jalanan seperti ingin
membantu memperkuat konsentrasiku agar semakin fokus. Dengan bunyi kecibaknya
yang begitu khas dan monoton, lama-lama aku pun terhanyut. Ku biarkan saja diri
ini tenggelam, tak kulawan, semakin lama mataku sedikit demi sedikit terpejam.
Kini aku merasa telah dibawanya menuju alam yang tak pernah kutahu sebelumnya.
Selagi sempat ku terpejam, ku melirik kiri kananku,
mengamati keadaan pelataran dan sekitar masjid, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku yang
duduk sendirian di dekat depan pintu perpustakaan masjid itu. Ya. Hanya ada
suara Alam dan aku, serta beberapa pasang sepatu milik sebagian mahasiswa yang
mungkin juga sedang berteduh di aula masjid yang megah itu, yang terlihat
berantakan di pelataran tangga pintu masuk masjid. Tiba-tiba, kuping hati ini
mulai mendengar lagi suara itu. Ku cermatkan lagi, lagi dan lagi. Semakin
dekat, dan semakin jelas. Masih tak ku tahu, dimana asal sumber dentuman suara
itu? Semacam suara kucing yang mengeram atau entahlah.
Lebih ku lebarkan lagi telinga batinku, untuk kesekian
kali.
Aku tergeragap.
Karena Ternyata suara itu adalah celetuk dari sebuah pohon di dekat masjid
sebelah barat yang disampaikan oleh angin hingga menyentuh, merambat menembus
ketelinga jiwaku. Akhirnya, alam yang sedang berdiskusi tadi pun ternyata jua
mengetahui kecamuk dan gumam batinku yang sedang kutuliskan ini. Dan akhirnya
ia merasa terganggu atau mungkin sekedar menggodaku?
Aku sadari, memang aku terlalu keras barangkali untuk
mengasah kepekaanku pada bisik alam yang lirih gemercik mengusik, namun aku
yakin Alam sangatlah lembut dan kasih untuk mendengar bahkan membaca rintih
hati yang begitu ringkih nan tertatih-tatih. Ah, entahlah.
“He, Le. Kira-kira bagaimana menurutmu tentang apa yang
kamu gumamkan sendiri dalam hati tadi?”. Ya. kira-kira begitulah sayup-sayup suara yang
pertama kali kutangkap dari sang pohon yang sudah agak tua dan lumutan ini
dengan raut yang dingin. Tepat, ternyata benar-benar, ia bisa membaca hatiku.
Sejenak, Aku tergidik.
“Hah? Apa? Bagaimana apanya?”. Jawabku dengan sebuah
pertanyaan yang seakan-akan tak percaya, sebuah pohon sedang menanyaiku.
“Hahaha”. Kelakar sang Pohon. “Tenang le, aku Cuma
bertanya. Ayo gimana?”
Dengan perasaan yang tak karuan, aku berusaha menanggapi
pertanyaan sang Pohon. “Iya itu, lumrah wit
(jawa). Atau mungkin baik. Kebanyakan Mahasiswa dan Dosen lebih menunggu Hujan
reda, daripada harus berlari, memakai payung apalagi hujan-hujanan untuk
melakukan perkuliahan”.
“Lhoh-lhoh”. Sahut pohon. “Lumrah kepiye? Wong telat kok
lumrah?”. Lanjutnya sembari me-riuhkan gelak tawanya.
Aku pun terdiam terpaku mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan
itu. Semakin klenga-klengo waktu aku
melihat sang pohon dengan gelagatnya yang khas ketika, angin mengahampiri lalu mengajaknya
berdansa. Seperti sedang mengibaskan rambut panjangnya tatkala kekasihnya
datang.
Sempatku hanyut
melihat pohon yang begitu elok berdansa, dengan irama melodi asmara,
bernada tra-la-la-la. Sampai aku lupa akan pertanyaan barusan dari sang pohon.
“Heh, Le!? Malah Nglamun!”
Tukas pohon membuyarkan kelarutanku. Kemudian ia lanjutkan. “Lha, gak dijawab?”.
Kali ini, agak serius.
Aku terjingkrak, kaget. Sembari berucap, “Iya wit,
apa ya yang jadi pertanyaan nya tadi?”
“Owalah le, kamu kok malah mempertanyakan yang seharusnya
bukan jadi pertanyaan”. Sahut sang pohon. “Ayo? Kepiye?”. Kejarnya menyudutkanku untuk segera menjawab.
Aku mencoba mengingat-ngingat apa yang menjadikan
pertanyaan sang pohon beberapa menit lalu itu. Maklum, suka me-lupa. Bukan lupa
asli. Tapi memilih dan mungkin sementara terpaksa untuk lupa. Dan Tak lama
kemudian aku pun teringat. Sambil ku pejamkan mata erat-erat, dan
bertanya-tanya sendiri dalam hati, “Macam pohon apa ini?”
Semakin ku pejamkan lagi mata ini rapat-rapat, ku coba
lantunkan beberapa rentet kata. “Oh, iya ya wit,
jadi gini”. Jawabku kepada sang pohon yang nampak begitu sabarnya melihat dan
menunggu jawaban dari sifat kedunguan manusiawiku itu. Sesekali ia seolah-olah
tersenyum tipis melihat air mukaku yang tak meyakinkan akan jawaban yang akan
kuberikan.
“Iya, mahasiswa dan dosen telat ke kelas kuliah itu
lumrah. Bahkan baik. Mungkin saja ia berpendat dari pada telat 2 jam lebih baik
telat 1 jam. Atau mungkin malah begini, lebih baik telat daripada tidak
datang/masuk sama sekali”. Jawabku, nuruti teng
pecotot e lambeku.
Sang pohon hanya mesem
mendengar celotehku.
Kemudian seperti ia sedang menepuk-nepuk pundakku, dan berkata,
“Adapun ukurannya le, kita harus tahu dan bisa membedakan mana yang koridor
akhirat, mana yang koridor dunia. Kalau kamu menganggap telat dalam perkuliahan
itu adalah hal yang lumrah, bahkan menganggap baik, itu perlu dipertanyakan
lagi. Dimana kamu menaruh duniamu? Kamu tahu?. Tanggap sang pohon. Kemudian melanjtukan.
“Kuliah itu kita sedang memberi asupan untuk rohani kita, dalam arti rohani
disini adalah kepentingan untuk akhirat. Terlebih untuk kepentinganmu sendiri
demi yang ‘punya Akhirat’. Seperti halnya kamu makan, jika jam makanmu telat, di
undur beberapa jam kemudian atau langsung maupun tak langsung porsi makanmu
juga dikurangi daripada biasanya, kira-kira bagaimana reaksi tubuh, reaksi
ragamu? Begitu juga dengan rohani kita. Mungkin ia merota-ronta kelaparan.
Hanya saja kita terlalu Angkuh dan enyah untuk mendengar bisik lirih-nya”.
Sang pohon terlihat begitu antusias berbicara, seperti
hendak menatarku. Bak seorang Khotib yang sedang berceramah, tak mau di sela
maupun di potong. Sedangkan aku menjadi jama’ah yang duduk terkantuk-kantuk.
Dan terus saja melanjutkan. “Takutnya juga nanti kamu,
akan menganggap telat dalam ibadahpun tidak apa-apa. Beh, kalau sudah begitu
apa bedanya kamu dengan orang yang di luar sana? Apa bedanya kamu dengan saya?
Katanya kamu makhluk yang paling sempurna? Bahkan tidak menutup kemungkinan,
kamu kalah baik dengan mereka yang bertani di jalanan.
Tetap harus jaga, harus kamu ketahui, kamu pelajari
lebih-lebih kamu amalkan. Mana yang primer, mana yang sekunder? Mana yang
akhirati, mana yang duiawi. Jika Tuhan menganugerahi, usahakan kamu sebisa mungkin untuk men-dunia-akhirat-kan
serta meng-tauhid-kan kehidupan ini.
Primerkan yang primer. Iya untung saja, Tuhan tak lupa, apalagi telat memberi
oksigen padamu, yang setiap detik, setiap waktu kau hirup itu. Bayangkan jika
Tuhan telat, katakanlah satu menit saja Dia telat mendetakkan jantungmu? Apa
jadinya?”.
Jawab sang pohon, dengan panjang dan bijaknya. Suara yang
seolah-olah keluar dari rongga dada seorang tokoh agama. Dan jujur saja, aku benar-benar
mengantuk mendengar beberan ceramah dari sang pohon yang luar biasa, tak alang
kepalang itu. Kemudian aku meniatkan diri untuk bertanya balik, karena selain
ngantuk aku jua tidak paham dengan rentetan kata-kata sang pohon yang dipenuhi
idio-idiom itu. Namun belum sempat ku berucap, kudapati sang pohon sudah tidak
lagi menatapku, tak menghiraukan ku.
Ternyata ia kembali asik berdansa dengan angin yang
mendekap, menusuk-nusuk tulang sumsumku.
Sedangkan sisa air hujan dari talang masjid
terus berjatuhan, ia seperti tenggelam dalam ocehan sang pohon tadi, rumput-rumput
yang tak tahu malu, yang tumbuh liar di pelataran masjid itu jua ikut
manggut-manggut. Seolah olah tadi ia juga mendengarkan dan memahami petuah dari
sang pohon.
Ku hela kan nafas panjang, sembari duduk perlahan
menegakkan sandaran punggungku, ku gesekkan
kedua telapak tanganku satu sama lain dan
kulipat kedua kaki di depan dadaku. Paling tidak bisa mengurangi
kepucatan tubuh ini. Aku masih ingin mencari lagi, mengajak sang pohon kembali
menepuk-nepuk pundakku. Paling tidak aku bisa balik tanya, tentang
penjelasannya yang begitu panjang.
Dan dengan
tiba-tiba, aku merasakan getar di dadaku sebelah kiri, hingga membuat mataku
yang tadinya kupejamkan rapat-rapat, kini seperti dicongkel dengan cara kasar
untuk terbelalak. Sontak terkoyak sulaman perbincanganku dengan sang pohon. Dan
mata ini pun, seketika itu pula terbuka lebar sambil tangan kananku mencoba
menenangkan getaran yang makin lama makin mengguncang itu.
Ku raba-raba dada kiriku, yang didepannya terbungkus baju
bersaku-ku itu. Getaran itu terus semakin kencang mengguncang sesekali
terdengar sayup-sayup nada lagu china yang bergaung mengiringi.
Ternyata, Oh ternyata.
Getaran itu rupanya berdecak dari HP-ku luaran china yang
bergetar karena alarm yang ku setel sebelumnya, yang menunjukkan pukul 3 sore.
Dimana waktu adzan ashar dikumandangkan. Akupun lekas mematikan alarmku, tetap
masih dengan rasa tak percaya akan ocehan sang pohon yang baru saja ku alami,
perlahan ku tanggalkan ranselku di pundak, dengan keadaan setengah sadar
kemudian kuseret langkah menuju tempat wudlu. Berupaya serta merta memenuhi
panggilan dari pengeras suara masjid yang melantun merdu itu.
Malang, 27 Januari 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar