Pen-Teror yang di-Teror
Oleh: Ab. Mufid
Teror Bom, kembali melanda di negeri ini. Beberapa
spekulasi saya berkata-kata tentang apa yang melatar belakangi kejadian ini.
Sebab teror bom ini juga terjadi tak jauh dari setelah di resmikannya MEA (Masyarakat
Ekonomi Asia) pada tanggal 31 Desember tahun 2015 kemarin. Sementara, terbukti
waktu itu salah satu pelaku terbukti, ia tidak hanya mengebom tapi tepatnya ia meledakkan diri. Iya ia melakukan bom
bunuh diri, di salah satu pusat keramaian di ibu kota. Di pusat perbelanjaan
dan mall sarinah di persimpangan jalan
MH Thamrin. Kejadian itu sempat membuat gempar warga indonesia, Jakarta
khususnya. Bahkan dengan seiring pesatnya perkembangan teknologi dalam hitungan
menit berita ini terdengar hingga manca negara. Sampai beberapa nitizen luar negeri mengucapkan bela
sungkawa pada jatuhnya korban dalam peristiwa teror bom sarinah ini. Tulisan #Prayforjakarta terlihat dengan cepat
menyebar luas di sosial media. Nampaknya istilah-istilah yang diawali dengan
pagar/hastage (#) menjadi sebuah
trend dalam
semua peristiwa, katanya merupakan bentuk peduli, simpati terhadap kejadian
itu. Kemudian juga tanpa mengetahui informasi yang benar, tanpa mengerti berita
yang telah tervalidasi dari sumber yang terpercaya mereka (nitizen) memberikan
pengumuman lewat media sosial, yang intinya mengatakan. Bahwa jangan sampai
teman-teman atau warga yang lain datang untuk sementara waktu di tempat-tempat
perbelanjaan, di pusat-pusat keramaian. Ia mengatakan bahwa disana telah dipasang
ranjau-ranjau bom dari para teroris.
Tentu, perbuatan atau tindakan semacam himbauan
ini adalah atas niat yang baik. Ia khawatir, ia tak mau ada teman atau orang
yang dicintainya menjadi korban selanjutnya. Iya , bisa juga tindakan semacam
ini dikatakan bentuk rasa sayang, rasa peduli tadi. Itu baik (mungkin). Namun
apakah tindakan seperti itu berakibat baik bagi warga setempat? Hingga dengan
mendengar kabar himbaun dari sumber yang tidak jelas tadi, mereka terpaksa
menghentikan aktifitasnya, mereka vakum, mereka ketakutan.
Kemudian saya sebagai orang yang menempuh ilmu
ekonomi mengatakan bahwa dampak dari ke vakum an warga nanti adalah terjadinya
stagnasi, atau bahkan pelemahan ekonomi. Terbukti juga, beberapa saat kejadian
itu, para investor asing sempat takut dan mengakibatkan menurunnya perekonomian
kita. Dan rupiah sempat melemah terhadap dollar amerika. Yang jika
berkepanjangan maka juga akan memicu makin tingginya inflasi. Dan apakah
nitizen yang mencoba memberikan himbaun tadi tidak masuk dalam kategori teroris
juga? Itu Saya kembalikan pada teman-teman sekalian.
Banyak pendapat, argumen dari para aparatur
negara terkait kejadian yang menggemparkan ini. Ada yang semata-mata langsung
melihat dan menyalahkan si pelaku teror tanpa ia melihat ‘kedalam’ dulu. Ada
yang mengatakan bahwa ini salah satu ulah dari anggota aliran islam radikal.
Dan ada pula, Bapak Presiden mengatakan bahwa ini baik-baik saja, semuanya akan
teratasi dengan dalih bahwa ia telah menurunkan beberapa personel yang mumpuni
dibidangnya untuk turun ke lapangan, melakukan olah TKP. Dan Bapak Menteri
Polhukam mengatakan, kita, Indonesia sedang lengah. (orang ini mungkin jujur,
karena ia yang mengurusi bagian keamanan tapi dengan sendirinya ia mengatakan
bahwa keamanan Indoenesia sedang lengah tertatih-taih kala itu). Sebab, mall sarinah ini jaraknya tidak jauh
dari Istana Presiden, dari kantor Kementerian Polhukam. Mungkin saya agak
sependapat dengan Bapak Menteri ini, bahwa kita sedang lengah. Kita seperti
tertampar. Lha wong gimana tidak
lengah? Masak tempat yang berdekatan dengan istana Presiden, dekat dengan
Kantor keamanan sendiri yang sarat akan penjagaan yang ketat dari
tentara-tentara maupun petugas yang sedia kala kokang senjata telah termasuki
oleh teroris dengan mudahnya? Kita logika saja?
Kira-kira
bagaimana keamanan NKRI ini yang jauh dari ring
kantor Kenegaraan? Bagaimana keamanan Warga Indonesia yang berada ditapal batas
sana?
Namun, perlu kita ketahui bersama. Ada semacam kegiatan/aktivita warga Indonesia yang sangat menarik. sekitar seminggu setelah kejadian bom ini, warga Indonesia yang notabene tangguh dan sangat bersahabat bahkan sangat akrab dengan semua jenis penderitaan, mentransformasikan kejadian yang merenggut nyawa ini menjadi sebuah nama jenis makanan dan festival. Tepatnya, di salah satu SD Muhammaddiyah di Surabaya mengadakan festival bertajuk 'Rujak Bom'. Di sini di pemrkan, dijajakan berbagai jenis macam olahan rujak yang menggunakan nama seputar Bom. Seperti Rujak Rajau, Rujak Bom, bahkan Rujak ISIS. Sungguh saya bangga lahir di negeri yang penuh gugusan pulau ini. Dengan beribu-ribu adat, bahasa dan budayanya.
Karena, semua yang terlihat baik-baik saja, dibaliknya pasti ada buruknya, dan yang selama ini terlihat Buruk-buruk ternyata banyak baiknya.
Sekarang Mari kita renungkan bersama! (Jika Ber-kenan)
Sekarang Mari kita renungkan bersama! (Jika Ber-kenan)
Kalau belum bisa menjernihkan kembali air yang telah keruh,
janganlah tambah semakin memperkeruhnya. Cobalah mencari atau mungkin membuat
sumber air yang baru, yang bisa menjernihkan, yang menyegarkan.
Kita mungkin perlu menyusuri kembali antara hulu dan hilir,
antara hilir dan hulu.
Bojonegoro, 16 Januari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar