Minggu, 17 Januari 2016

Pen-Teror yang di-Teror



Pen-Teror yang di-Teror
Oleh: Ab. Mufid

Teror Bom, kembali melanda di negeri ini. Beberapa spekulasi saya berkata-kata tentang apa yang melatar belakangi kejadian ini. Sebab teror bom ini juga terjadi tak jauh dari setelah di resmikannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) pada tanggal 31 Desember tahun 2015 kemarin. Sementara, terbukti waktu itu salah satu pelaku terbukti, ia tidak hanya mengebom tapi tepatnya ia meledakkan diri. Iya ia melakukan bom bunuh diri, di salah satu pusat keramaian di ibu kota. Di pusat perbelanjaan dan mall sarinah di persimpangan jalan MH Thamrin. Kejadian itu sempat membuat gempar warga indonesia, Jakarta khususnya. Bahkan dengan seiring pesatnya perkembangan teknologi dalam hitungan menit berita ini terdengar hingga manca negara. Sampai beberapa nitizen luar negeri mengucapkan bela sungkawa pada jatuhnya korban dalam peristiwa teror bom sarinah ini. Tulisan #Prayforjakarta terlihat dengan cepat menyebar luas di sosial media. Nampaknya istilah-istilah yang diawali dengan pagar/hastage (#) menjadi sebuah
trend dalam semua peristiwa, katanya merupakan bentuk peduli, simpati terhadap kejadian itu. Kemudian juga tanpa mengetahui informasi yang benar, tanpa mengerti berita yang telah tervalidasi dari sumber yang terpercaya mereka (nitizen) memberikan pengumuman lewat media sosial, yang intinya mengatakan. Bahwa jangan sampai teman-teman atau warga yang lain datang untuk sementara waktu di tempat-tempat perbelanjaan, di pusat-pusat keramaian. Ia mengatakan bahwa disana telah dipasang ranjau-ranjau bom dari para teroris.
Tentu, perbuatan atau tindakan semacam himbauan ini adalah atas niat yang baik. Ia khawatir, ia tak mau ada teman atau orang yang dicintainya menjadi korban selanjutnya. Iya , bisa juga tindakan semacam ini dikatakan bentuk rasa sayang, rasa peduli tadi. Itu baik (mungkin). Namun apakah tindakan seperti itu berakibat baik bagi warga setempat? Hingga dengan mendengar kabar himbaun dari sumber yang tidak jelas tadi, mereka terpaksa menghentikan aktifitasnya, mereka vakum, mereka ketakutan.
Kemudian saya sebagai orang yang menempuh ilmu ekonomi mengatakan bahwa dampak dari ke vakum an warga nanti adalah terjadinya stagnasi, atau bahkan pelemahan ekonomi. Terbukti juga, beberapa saat kejadian itu, para investor asing sempat takut dan mengakibatkan menurunnya perekonomian kita. Dan rupiah sempat melemah terhadap dollar amerika. Yang jika berkepanjangan maka juga akan memicu makin tingginya inflasi. Dan apakah nitizen yang mencoba memberikan himbaun tadi tidak masuk dalam kategori teroris juga? Itu Saya kembalikan pada teman-teman sekalian.
Banyak pendapat, argumen dari para aparatur negara terkait kejadian yang menggemparkan ini. Ada yang semata-mata langsung melihat dan menyalahkan si pelaku teror tanpa ia melihat ‘kedalam’ dulu. Ada yang mengatakan bahwa ini salah satu ulah dari anggota aliran islam radikal. Dan ada pula, Bapak Presiden mengatakan bahwa ini baik-baik saja, semuanya akan teratasi dengan dalih bahwa ia telah menurunkan beberapa personel yang mumpuni dibidangnya untuk turun ke lapangan, melakukan olah TKP. Dan Bapak Menteri Polhukam mengatakan, kita, Indonesia sedang lengah. (orang ini mungkin jujur, karena ia yang mengurusi bagian keamanan tapi dengan sendirinya ia mengatakan bahwa keamanan Indoenesia sedang lengah tertatih-taih kala itu). Sebab, mall sarinah ini jaraknya tidak jauh dari Istana Presiden, dari kantor Kementerian Polhukam. Mungkin saya agak sependapat dengan Bapak Menteri ini, bahwa kita sedang lengah. Kita seperti tertampar. Lha wong gimana tidak lengah? Masak tempat yang berdekatan dengan istana Presiden, dekat dengan Kantor keamanan sendiri yang sarat akan penjagaan yang ketat dari tentara-tentara maupun petugas yang sedia kala kokang senjata telah termasuki oleh teroris dengan mudahnya? Kita logika saja?
 Kira-kira bagaimana keamanan NKRI ini yang jauh dari ring kantor Kenegaraan? Bagaimana keamanan Warga Indonesia yang berada ditapal batas sana? 
Namun, perlu kita ketahui bersama. Ada semacam kegiatan/aktivita warga Indonesia yang sangat menarik. sekitar seminggu setelah kejadian bom ini, warga Indonesia yang notabene tangguh dan sangat bersahabat bahkan sangat akrab dengan semua jenis penderitaan, mentransformasikan kejadian yang merenggut nyawa ini menjadi sebuah nama jenis makanan dan festival. Tepatnya, di salah satu SD Muhammaddiyah di Surabaya mengadakan festival bertajuk 'Rujak Bom'. Di sini di pemrkan, dijajakan berbagai jenis macam olahan rujak yang menggunakan nama seputar Bom. Seperti Rujak Rajau, Rujak Bom, bahkan Rujak ISIS. Sungguh saya bangga lahir di negeri yang penuh gugusan pulau ini. Dengan beribu-ribu adat, bahasa dan budayanya. 
Karena, semua yang terlihat baik-baik saja, dibaliknya pasti ada buruknya, dan yang selama ini terlihat Buruk-buruk ternyata banyak baiknya.  
Sekarang Mari kita renungkan bersama! (Jika Ber-kenan)
Kalau belum bisa menjernihkan kembali air yang telah keruh, janganlah tambah semakin memperkeruhnya. Cobalah mencari atau mungkin membuat sumber air yang baru, yang bisa menjernihkan, yang menyegarkan.

Kita mungkin perlu menyusuri kembali antara hulu dan hilir, antara hilir dan hulu.
Bojonegoro, 16 Januari 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar