Jumat, 30 Maret 2018

Sempak Tak Bertuan



Hampir 7 jam aku berkeliling di pasar buku. Waktu itu matahari mulai mengepakkan sinarnya semakin tinggi. Pasar buku yang saya tempuh jaraknya tidak jauh dari kontrakan. Cukup saya tempuh dengan jalan kaki hanya sekitar 4 atau 5 menit an. Sebelum berangkat tadi, saya bangun pagi. Lalu naik ke atas kontrakan, tempat jemuran. Saya hanya memastikan, beberapa potong pakaian yang sudah saya jemur 3 hari lalu itu tidak hilang, atau jatuh di depan rumah tetangga karena ditiup angin. Yah. Sehari sebelumnya, celana dalamku jatuh tepat di depan rumah ibu kontrakan, yang rumahnya pas belakang kontrakanku. Ah betapa malu dan bingungnya saya.

 Begini ceritanya:

Jadi saat itu langit
sangat cerah, tak ku temui setitik atau gumpalan awan yang sedang nampang. Haru membiru, seketika langit menjelama lautan tenang yang begitu luas, tak beriak, tak bergelombang, . Hanya saja beberapa asap kendaraan yang berjejalan siang itu mengudara, membumbung semakin tinggi seperti mau membakar langit.  Entahlah, kota yang selalu memberi iming-iming dan kesan dingin pada tiap pengunjungnya ini sudah kehilanan brand dingin-nya, malang sebagai kota dingin, sepertinya tak berlaku lagi.
                                --- 

Kabar bahwa BBM naik itu tak terlalu berdampak pada tiap pengendara, pemotor dan pemobil, dst., dst. Namun ada saja yang mengeluh,  setidaknya saya temui 4 orang yan tak sengaja waktu itu kuajak bicara. Pertama supir angkot yang biasanya nge-time di depan kampus: “Duh mas, BBM munggah maneh”, ucap supir angkot berambut gondrong dan bertato suatu ketika. Kedua, Iyad. Ia adalah anak kelas 3 MTs yang sudah 3 tahun tingal di kota ini, ia mengaku lahir di Kalimantan, “Panas ya mas tambahan”, keluhnya. Anak yang hampir tiap hari kudapati di pasar buku ini selalu naik sepeda angin dari Dinoyo ke pasar buku utuk membeli majalah otomotif. Entah sudah berapa lusin majalah yang dikoleksinya. Yang ketiga, adalah pe-becak yang tiap siang seusai dhuhur selalu kudapati tertidur diatas becaknya, di bawah bohon mangga yang tak terlalu besar dengan tubuh meringkuk dan caping selalu ditutupkan pada wajahnya yang keriput itu. “Beh Beh Beh,,, padang mbulan kok mbendino”. (Beh Beh Beh,,, Terang bulan kok setiap hari), artinya; ia menganggap siang bolong dengan matahari yang begitu terik itu seperti terang bulan di malam purnama. Sudah biasa, orang jawa selalu menciptakan anekdotnya sendiri.  Dan yang terakhir adalah saya.
Dan sampai saat ini belum kutemukan barang satu orang yang mnegeluhkan kenaikan BBM. Atau mungkin saya saja yang belum menemuinya, hanya beberapa mahasiswa yang beberapa hari lalu saya temui melakkan demo kenaikan BBM. Kalau nggak salah di Jawa Barat. Lupa di kota mana, itupun saya tahu dari berita di pesbuk.
Akhirnya sore, seusai ashar saya berjalan pulang. Saya menyusuri jalan beraspal legam itu. Uh rasanya, wajah seperti terbakar terkena panas matahari yang terpantul dari aspal itu. Saya juga agak heran, biasanya seusai ashar, warna cahaya matahari mulai jingga kemerah-merahan, tapi kali ini tidak. Matahari sore itu saya rasakan sama seperti matahari di siang hari. Topi yang kukenakan, seperti weci yang baru diangkat dari penggorengan. Ku percepat langkah kaki. Lalu lintas masih juga ramai. Aku mampir toko depan kontrakan untuk membeli sebotol teh dingin. Sambil terus berjalan ke kontrakan, ku usapkan-usapkan botol teh yang dingin itu pada wajah dan leherku. Sengaja tak kuminum seketika itu juga. Karena . . .? Ah lain kali aja kuceritakan. Kenapa aku tidak meminum atau memakan atau apapun yang kubeli di tempat warung atau took itu menjual? Ya lain kali.
 Tak lama kemudian, aku sampai di kontrakan. Langsung ku lempar ransel dan ku buka baju yang ternyata sudah basah kuyup. Tidak ada AC. Kipas ada, tapi rusak. Aku langsung naik ke atas. Ke jemuran. Jemuran yang tak terlalu luas itu, cukup sebagai pengganti kipas yang belum lama rusak itu. Aku duduk ngisis di depan pintu menuju ke atas jemuran. Entah bagaimana? Yang jelas sirkulasi udara di daerah khusus itu (depan pintu)  angin seperti tak ada habis-habisnya, selalu berhembus, berlarian memberikan kesejukan. Kalau kata Emak, angin seperti ini adalah angin yang Semribit/ Semilir.
Aahhh--- Segar. Apa seperti ini angin surga? Setidaknya sedikit-sedikit ini paling yang dibilang surga dunia. Ku buka tutup botol teh yang sudah tak sabar ingin ku minum, dan teh botol habis dalam sekali tenggak. Kerongkongan lega, seperti berlubang seketika hingga seperti ada angin yang keluar masuk, sejuuuukk . angin terus berhembus, semribit menyeka tubuhku, tiba-tiba saya dengar suara riuh rendah di bawah sana. Saya coba dengarkan percakapan dari suara yang terdengar seperti suara ibu-ibu itu. Masih tak terlalu jelas. Aku bangkit berdiri, ku lihat dari atas jemuran, ternyata benar, ada 3 ibu-ibu yang sedang serius berbicara sesuatu, entah apa yang sedang mereka bicarakan.  Ibu-ibu itu berbicara dengan melihat ke suatu arah, dan salah satu dari ibu-ibu itu tangannya ada yang menunjuk-nunjuk ke suatu tempat.
 Oh sial. Betapa saya terperanjat, kaget. Ternyata salah satu jemuran milikku jatuh, dan yang jatuh adalah jeroan ku, sempak.  Sempak kesayangan warna biru  itu terkapar di pinggir gang kecil samping rumah ibu kontarakan.
Aku bergegas, menarik kepalaku yang merunduk, melihat kebawah ibu-ibu itu. Dan tak kusadari kepalaku yang lansung terkena sinar matahari itu otomatis menimbulkan bayangan, sialnya bayangan kepalaku jatuh tepat di depan seorang ibu yang tangannya menunjuk-nunjuk ke arah sempak tadi. Dan ia menyadari keberadaanku. Aku langsung masuk pintu secepat mungkin, tapi suara ibu itu lebih cepat merambat ketelingaku. “Mas?!!” panggilnya lantang. Aku terhenti di depan pintu. Aku hanya diam, pura-pura tak dengar. Tapi ia mengulangi lagi panggilanya “Masss!?” Kali ini suaranya lebih lantang dan diringi dengan sedikit tawa yang amat menjijikkan. Mampus aku! Aku tetap tak menggubrisnya. “Mas, iki sempak e sampeyan a? Jatuh mas?!” Kali ini suara ibu yang berbeda, terdengar suara cekikikan yang makin ramai dan keras. Aku tak berkutik.  Akhirnya aku mendekati pagar jemuran dan melihat ke arah ibu-ibu itu. “Dalem buk?! Ada aapa nggih?” Jawabku dengan tetap pura-pura tidak tahu. “Itu punya sampeyan?” Ucap seorang ibu sambil menunjuk ke arah sempak yang terkapar itu dengan raut wajah jijik. Untuk terakhirnya aku lihat sempak kesayanganku itu dengan tatapan ratapan, mencoba ikhlas melepaskannya. Aku tak mengakuinya. “Mboten e buk”, jawabku dengan sebisa mungkin tetap tenang. Tapi mimik mukaku kemerahan tak karuan. Kurasakan keringat yang sudah mengering tadi, kini tiba-tiba keluar begitu banyak. Mencucur deras. Aku bingung. Aku malu. Ah aku tak tahu.
Akhirnya, dengan berat hati, saya ikhlaskan sempak yang bolong-bolong itu.

Malang, 30 Maret 2018
a.m

1 komentar: