Hampir 7 jam aku berkeliling di pasar
buku. Waktu itu matahari mulai mengepakkan sinarnya semakin tinggi. Pasar buku
yang saya tempuh jaraknya tidak jauh dari kontrakan. Cukup saya tempuh dengan
jalan kaki hanya sekitar 4 atau 5 menit an. Sebelum berangkat tadi, saya bangun
pagi. Lalu naik ke atas kontrakan, tempat jemuran. Saya hanya memastikan,
beberapa potong pakaian yang sudah saya jemur 3 hari lalu itu tidak hilang,
atau jatuh di depan rumah tetangga karena ditiup angin. Yah. Sehari sebelumnya,
celana dalamku jatuh tepat di depan rumah ibu kontrakan, yang rumahnya pas
belakang kontrakanku. Ah betapa malu dan bingungnya saya.
Jadi saat itu langit
sangat cerah, tak ku temui setitik atau gumpalan awan yang sedang nampang. Haru membiru, seketika langit menjelama lautan tenang yang begitu luas, tak beriak, tak bergelombang, . Hanya saja beberapa asap kendaraan yang berjejalan siang itu mengudara, membumbung semakin tinggi seperti mau membakar langit. Entahlah, kota yang selalu memberi iming-iming dan kesan dingin pada tiap pengunjungnya ini sudah kehilanan brand dingin-nya, malang sebagai kota dingin, sepertinya tak berlaku lagi.
---
sangat cerah, tak ku temui setitik atau gumpalan awan yang sedang nampang. Haru membiru, seketika langit menjelama lautan tenang yang begitu luas, tak beriak, tak bergelombang, . Hanya saja beberapa asap kendaraan yang berjejalan siang itu mengudara, membumbung semakin tinggi seperti mau membakar langit. Entahlah, kota yang selalu memberi iming-iming dan kesan dingin pada tiap pengunjungnya ini sudah kehilanan brand dingin-nya, malang sebagai kota dingin, sepertinya tak berlaku lagi.
---
Kabar bahwa BBM naik itu tak terlalu
berdampak pada tiap pengendara, pemotor dan pemobil, dst., dst. Namun ada saja
yang mengeluh, setidaknya saya temui 4
orang yan tak sengaja waktu itu kuajak bicara. Pertama supir angkot yang
biasanya nge-time di depan kampus:
“Duh mas, BBM munggah maneh”, ucap supir angkot berambut gondrong dan bertato
suatu ketika. Kedua, Iyad. Ia adalah anak kelas 3 MTs yang sudah 3 tahun tingal
di kota ini, ia mengaku lahir di Kalimantan, “Panas ya mas tambahan”, keluhnya.
Anak yang hampir tiap hari kudapati di pasar buku ini selalu naik sepeda angin
dari Dinoyo ke pasar buku utuk membeli majalah otomotif. Entah sudah berapa
lusin majalah yang dikoleksinya. Yang ketiga, adalah pe-becak yang tiap siang
seusai dhuhur selalu kudapati tertidur diatas becaknya, di bawah bohon mangga
yang tak terlalu besar dengan tubuh meringkuk dan caping selalu ditutupkan pada
wajahnya yang keriput itu. “Beh Beh Beh,,, padang mbulan kok mbendino”. (Beh
Beh Beh,,, Terang bulan kok setiap hari), artinya; ia menganggap siang bolong
dengan matahari yang begitu terik itu seperti terang bulan di malam purnama.
Sudah biasa, orang jawa selalu menciptakan anekdotnya sendiri. Dan yang terakhir adalah saya.
Dan sampai saat ini belum kutemukan
barang satu orang yang mnegeluhkan kenaikan BBM. Atau mungkin saya saja yang
belum menemuinya, hanya beberapa mahasiswa yang beberapa hari lalu saya temui
melakkan demo kenaikan BBM. Kalau nggak
salah di Jawa Barat. Lupa di kota mana, itupun saya tahu dari berita di pesbuk.
Akhirnya sore, seusai ashar saya
berjalan pulang. Saya menyusuri jalan beraspal legam itu. Uh rasanya, wajah seperti
terbakar terkena panas matahari yang terpantul dari aspal itu. Saya juga agak
heran, biasanya seusai ashar, warna cahaya matahari mulai jingga
kemerah-merahan, tapi kali ini tidak. Matahari sore itu saya rasakan sama
seperti matahari di siang hari. Topi yang kukenakan, seperti weci yang baru
diangkat dari penggorengan. Ku percepat langkah kaki. Lalu lintas masih juga
ramai. Aku mampir toko depan kontrakan untuk membeli sebotol teh dingin. Sambil
terus berjalan ke kontrakan, ku usapkan-usapkan botol teh yang dingin itu pada
wajah dan leherku. Sengaja tak kuminum seketika itu juga. Karena . . .? Ah lain
kali aja kuceritakan. Kenapa aku tidak meminum atau memakan atau apapun yang
kubeli di tempat warung atau took itu menjual? Ya lain kali.
Tak lama kemudian, aku sampai di kontrakan.
Langsung ku lempar ransel dan ku buka baju yang ternyata sudah basah kuyup. Tidak
ada AC. Kipas ada, tapi rusak. Aku langsung naik ke atas. Ke jemuran. Jemuran
yang tak terlalu luas itu, cukup sebagai pengganti kipas yang belum lama rusak
itu. Aku duduk ngisis di depan pintu
menuju ke atas jemuran. Entah bagaimana? Yang jelas sirkulasi udara di daerah
khusus itu (depan pintu) angin seperti
tak ada habis-habisnya, selalu berhembus, berlarian memberikan kesejukan. Kalau
kata Emak, angin seperti ini adalah angin yang Semribit/ Semilir.
Aahhh--- Segar. Apa seperti ini angin surga?
Setidaknya sedikit-sedikit ini paling yang dibilang surga dunia. Ku buka tutup
botol teh yang sudah tak sabar ingin ku minum, dan teh botol habis dalam sekali
tenggak. Kerongkongan lega, seperti berlubang seketika hingga seperti ada angin
yang keluar masuk, sejuuuukk . angin terus berhembus, semribit menyeka tubuhku,
tiba-tiba saya dengar suara riuh rendah di bawah sana. Saya coba dengarkan
percakapan dari suara yang terdengar seperti suara ibu-ibu itu. Masih tak
terlalu jelas. Aku bangkit berdiri, ku lihat dari atas jemuran, ternyata benar,
ada 3 ibu-ibu yang sedang serius berbicara sesuatu, entah apa yang sedang
mereka bicarakan. Ibu-ibu itu berbicara
dengan melihat ke suatu arah, dan salah satu dari ibu-ibu itu tangannya ada
yang menunjuk-nunjuk ke suatu tempat.
Oh sial. Betapa saya terperanjat, kaget.
Ternyata salah satu jemuran milikku jatuh, dan yang jatuh adalah jeroan ku, sempak. Sempak kesayangan warna biru itu terkapar di pinggir gang kecil samping
rumah ibu kontarakan.
Aku bergegas, menarik kepalaku yang
merunduk, melihat kebawah ibu-ibu itu. Dan tak kusadari kepalaku yang lansung
terkena sinar matahari itu otomatis menimbulkan bayangan, sialnya bayangan
kepalaku jatuh tepat di depan seorang ibu yang tangannya menunjuk-nunjuk ke
arah sempak tadi. Dan ia menyadari keberadaanku. Aku langsung masuk pintu
secepat mungkin, tapi suara ibu itu lebih cepat merambat ketelingaku. “Mas?!!”
panggilnya lantang. Aku terhenti di depan pintu. Aku hanya diam, pura-pura tak
dengar. Tapi ia mengulangi lagi panggilanya “Masss!?” Kali ini suaranya lebih
lantang dan diringi dengan sedikit tawa yang amat menjijikkan. Mampus aku! Aku
tetap tak menggubrisnya. “Mas, iki sempak e sampeyan a? Jatuh mas?!” Kali ini
suara ibu yang berbeda, terdengar suara cekikikan yang makin ramai dan keras.
Aku tak berkutik. Akhirnya aku mendekati
pagar jemuran dan melihat ke arah ibu-ibu itu. “Dalem buk?! Ada aapa nggih?”
Jawabku dengan tetap pura-pura tidak tahu. “Itu punya sampeyan?” Ucap seorang
ibu sambil menunjuk ke arah sempak yang terkapar itu dengan raut wajah jijik.
Untuk terakhirnya aku lihat sempak kesayanganku itu dengan tatapan ratapan, mencoba
ikhlas melepaskannya. Aku tak mengakuinya. “Mboten e buk”, jawabku dengan
sebisa mungkin tetap tenang. Tapi mimik mukaku kemerahan tak karuan. Kurasakan
keringat yang sudah mengering tadi, kini tiba-tiba keluar begitu banyak. Mencucur
deras. Aku bingung. Aku malu. Ah aku tak tahu.
Akhirnya, dengan berat hati, saya ikhlaskan sempak
yang bolong-bolong itu.
Malang, 30 Maret 2018
a.m
go ahead
BalasHapus