Bukan Rinai Hujan
Malam itu Kimpluk ingin bertemu dengan
teman-temannya, karena sudah lama tak bertemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk
berkumpul di kampus, di pinggir mesjid dengan bias temeram pelita yang tak
begitu terang. Dan kebetulan kala itu, memang tidak hanya sekedar
bersilaturohmi, namun ada agenda lain yang ingin di bicarakan. Ada beberapa
temannya yang mengusulkan untuk membuat nama kumpulan atau semacam organisasi
yang anggotanya hanya beberapa gelintir orang lulusan dari sebuah SMA Negeri itu. Kimpluk menyambut dengan antusias ajakan
temannya itu, yang sebelumnya ia komunikasikan dalam group Faceebook dan BBM.
Dan berkumpulah mereka di malam yang sedikit mendung hanya sedikit gemintang
yang mau nampang. Dan benar, dari 9 atau 10 jumlah teman/anggota group BBMnya yang datang hanya 4 orang.
Namun hal itu lantas tak menyurutkan semangat dan kerinduan mereka untuk
berjumpa.
Dan mereka pun saling melempar salam,
menanyakan kabar dan tentu tak lupa membahas rencana untuk membuat organisasi
kumpulan mereka ini. Singkat cerita, diskusi telah di mulai.
___
“Biar Resmi, gak grudak-gruduk”, ucap salah
satu teman Kimpluk di tengah-tengah
pembahasan pembentukan organsisasi. Dan dengan cepat si Kimpluk menyambar
ucapan temannya itu. “Grudak Gruduk
gimana maksudnya?”. Memang dasar si Kimpluk
ini begitu doyan dengan sebuah diskusi atau rapat. “Iya kita ini kan sudah lama
kumpul, kurang lebih 3 setengah tahun an, dan jika kita briefing di sekolah-sekolah selalu saja tak bisa berjalan dengan
lancar, pasti tergendala dengan masalah administrasi, yaitu proposal”. Sahut
temannya. Agenda rutin perkumpulan mereka ini adalah melakukan briefing di
sekolah SMA nya dulu.
Tak mau lama-lama, Kimpluk kembali
menyambungnya, “Iya juga sih”. Ia mengangguk, “Tapi kan kemarin kita di beri
keringanan, karena pihak sekolah mengatahui kita ini bukan terikat atau pun
semacam organisasi, tak lebih hanya sebuah kumpulan, paguyuban, atau geng
barangkali. Makanya cukup hanya dengan membuat surat yang kita buat sendiri,
tanpa logo ataupun nama organisasi”. Kalimat si Kimpluk ini sontak membuat teman-temannya
sedikit tak suka. Dan benar saja, temannya tadi menyambungnya: “Justru karena
itu Pluk, agar kita bisa mudah melakukan briefing
kita bentuk organisasi”.
“Nah, bukannya kemarin-kemarin kita juga sudah
briefing, dan berjalan dengan
lancar-lancar saja walau tanpa proposal, atau tendensi apapun. Selain nama Geng kita ini?”
“Ya, gak bisa Pluk. Kamu ini gimana? Yang
namanya kegiatan apapun itu harus ada proposalnya, biar jelas. Kita Ini siapa
dari mana, mau apa?”. Kali ini temannya yang berjilbab itu mulai kesal.
Sementara dua teman lainnya hanya diam. Memang teman-teman Kimpluk banyak yang memilih
untuk tutup mulut daripada harus meladeni orang yang asal njeplak, yang malah terkesan ‘mematikan’ ide atau gagasan temannya.
Sekaligus pertanyaan yang mbulet dan
sebenarnya juga tak perlu di ucapkan sekaligus kadang melontarkan
argumen-argumen atau anekdot yang membuat teman-temannya pesimis plus sinis. Teman-temanya seketika itu kadang mau tak mau
harus menjelma sosok seorang ibu yang lagi ngemong
anaknya. Karena jika melawan, si Kimpluk ini bisa jadi akan nangis,
bergelesotan di tanah dan berguling-guling. Ia akan merengek, persisi anak
kecil yang sedang mewek. Kimpluk nampaknya tak tahu diri, ia terus saja
mengejar tiap pernyataan atau ide-ide untuk memulai pembentukan organisasinya.
“Sek to,
bentar. Fungsi kita untuk membuat organisasi apa sih, selain melancarkan
administrasi dan memperjelas status kita?”. Kali ini nadanya mengandung
kecongkak an. Teman-temannya mengernyitkan alis mereka, dan tak menjawab. Si
kimpluk menambahi lagi; “Lantas, apa nantinya yang akan kita perbuat (Visi
Misi) setelah organisasi yang hanya ada beberapa gelintir orang ini benar-benar terbentuk? Bukankah briefing tahun lalu kita sudah
membicarakan hal ini? Dan kalau gak salah, bukannya kita sudah membentuk nama sebuah organisasi
kita ini dan menerangkannya pada adik-adik kelas?”. Kali ini teman-temannya
mulai tak tahan, dan mengalihkan pandang dari Kimpluk. Mengetahui itu, Kimpluk
bukannya mengakhiri pertanyaannya yang
terkesan menghakimi. Ia melanjutkan lagi; “Bagaimana kita nanti akan
membangun rumah yang megah, kalau penghuninya tidak ada, yang satu persatu pergi
angkat kaki begitu saja?” Nadanya semakin tinggi. “Apa nggak malu-maluin tuh? Sudah woro-woro kesana sini kesemua
warga hendak membangun rumah, bahkan meminta bantuan dan do’a restu untuk mendirikannya, namun tiba-tiba setelah rumah jadi kita tinggal begitu saja?”.
teman-temannya masih terdiam.
Angin malam yang berhembus di sela-sela
pepohonan, menyibak rerimbunan ranting dan dahan. Sehingga daun-daun nya menggerisik,
dan beberapa daun yang sudah nampak menguning berjatuhan ke tanah.
“Kalau dalam teori sebuah organisasi itu Pluk,
dua orang sudah cukup. Sudah bisa dikatakan organisasi”. Sambar seorang teman
lainnya. “Jadi, gak masalah kita rintis dulu beberapa orang yang ada ini, gak
ada salahnya kan?”.
“Betul, aku setuju”. Sambung teman yang
berjilbab “Itu lebih baik kan, daripada tidak sama sekali?”. Kimpluk terdiam.
Ia melayangkan pandang ke langit yang semakin hitam.
“Iya Pluk, bukannya Organisasi yang baik itu
berangkat dari sedikit orang, dan kemudian menjadi banyak? Dari 5 menjadi 10,
20, 50, bahkan seratus. Bukan sebaliknya? Kan begitu?”. Temannya yang berambut
panjang berponi kini ikut angkat bicara.
Kimpluk masih terdiam. Sementara Teman-temanya
menunggu tanggapan darinya. Ia tak juga menjawab. Kemudian ia keluarkan Handphone dari tasnya. Ia pura-pura
mencari alasan untuk menutupi kebingungnya untuk menyangkal. Jam di HP nya
menunjukkan pukul 21.13 WIB.
Ia memasukkan kembali HP nya, dan mencoba coba
menyambung lagi
“Tapi kan. . . “ Kalimatnya terputus, tak
dilanjutkan.
“Tapi apa Pluk?”, Tanggap Serentak
teman-temannya.
Ia hanya tersenyum, dan tak mau melanjutkan.
Karena menyadari jam sudah larut malam. Dan ia tahu ketiga teman perempuannya
itu diberlakukan jam malam di kost.
“Nggak papa kok”. Kini senyumnya makin lebar
dan terlihat dipaksakan.
“Lhoh jangan gitu dong. Kita ini kan rapat,
ungkapkan saja! Tapi apa? Mumpung masih semua disini”. Lanjut teman berjilbab.
Seperti ada yang di sembunyikan, Kimpluk tak
mau membuat teman-temannya terkunci di luar gerbang kosnya. Atau memang kali
ini ia sudah mati kutu? Tidak, ia masih menjawab rupanya; “Nggak, aku setuju
kok”.
“Terus tadi kok bilang; Tapi. Tapi kenapa?”.
Lanjut teman berjilbab. Dan kedua teman yang lain sudah berulang ulang melihat jam di HP mereka masing-masing.
Khawatir jika nanti gerbang kos di kunci barangkali, belum lagi lembur tugas
dari dosen. Si Kimpluk menyadari itu, dan agar tak membuat diskusi semakin
panjang ia menjawab mencoba-coba, “Tapi, anu. Cara untuk mengumpulkan teman
yang lain gimana?”.
Dengan cepat dan seperti sudah di sipakan
sebelumnya, salah satu temannya mengelurakn secarik kertas dari sakunya lantas menerangkan
dengan singkat. Suatu cara yang sudah pernah di pakai sebelumnya waktu briefing tahun lalu dan terbukti tak
berhasil. Dan si Kimpluk hanya mangguk mengiyakannya
sembari tersenyum tipis.
Dan rapatpun berkahir. Teman-temannya hendak
pulang, namun belum sampai mereka berdiri, teman berjilbab tadi membuka tasnya
dan mengelurkan sebuah bungkusan, “Ya Allah rek, Lupa aku. Nih, aku bawa jajan
dan minuman. Lumayan”.
Kedua teman yang lain tersenyum, dan seakan
lupa akan jam malam dan tugas-tugas dari dosennya. Begitupun Kimpluk. Mereke
pun menyantap makanan ringan itu dengan cepat bersama-sama.
“Eh, aku tak hubungin temen kamarku dulu”.
Ucap sirambut panjang sambil memasukkan makanan ke mulutnya. Kimpluk nampak
lahap juga ikut makan jajanan pedas itu. “Hubungin buat apa?”. Kan bentar lagi
juga pulang”. Tanya Si teman berjilbab. “Ya, nanti kalau terlanjur di kuncikan
bisa brabe? Jadi ku hubungi temanku,
jika aku sampai di kost ternyata sudah di kunci aku tinggal menghubunginya
untuk membukakannya”. Ia tertawa lirih dan terus mengunyah makanan. Si Kimpluk,
yang menjadi satu-satunya lelaki di
antara teman-temannya, dengan gaya sedikit angkuh, berkata; “Tenang lah rek,
nanti tak anterin!”. Teman-temannya hanya tersenyum dan terus saja makan. Dan
ia kemudian mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Ia hisap dalam-dalam
kemudian menghembuskannya ke udara. Nampak asap bergulung-gulung keluar dari
mulutnya. Kemudian nyeletuk. “Rek, maaf ya. kalau selama ini gaya bicaraku
kayak gitu, tak usah ku jelasin tahu sendiri kan. Kalian muak pasti. Sebenarnya
aku pengin rek, diam tak begitu banyak bicara, ingin kayak kalian, bicara
sewajarnya. Atau tanya juga yang sewajarnya. Ingin puasa ngomong”. Tiba-tiba
salah satu teman berhenti mengunyah, kemudian menelannya dan berkata:
“Ya sudah to, kalau kamu ingin berpuasa
ngomong. Gak usah di lanjutin omongannya. Gitu aja kok repot-repot? Beres kan?”
Kalimat itu di ucapkan seperti benar-benar dari dalam hati, layaknya kalimat
yang memang sudah lama sekali meronta-ronta ingin keluar dari rongga dada. Mungkin
mereka sudah begitu muak dan enyah mendengar bualan Kimpluk yang teramat
banyak, teramat membosankan. Saking, risihnya untuk mendengar, Omongannya sesekali di penggal oleh teman-temannya dengan ucapan: “Ngomong apa sih?”. Tentu di ucapkan dengan hati-hati , agar
Kimpluk tak mewek. Atau dengan memolesnya sedikit lebih halus, memotong
perkataannya dengan kata: “Aku gak paham
omonganmu, terlalu tinggi Pluk. Otakku tak sampai untuk memikirkannya”.
Ucapan yang sama saja sebenarnya, sama-sama muak mendengar ocehannya. Itu juga
terlihat dari air muka mereka yang tak bisa di sembunyikan lagi aslinya.
__
Mendengar tanggapan itu, si Kimpluk hanya diam
dan mengangguk-ngangguk. Ia lagi-lagi memaksa untuk mengiyakannya. Ia hisap
lagi rokonya. Kemudian tak lama setelah makanan habis, mereka pulang ke kost
mereka masing-masing. Si jilbab pulang ke selatan, yang duanya lagi bareng ke
arah utara karena kost mereka satu arah dan si Kimpluk pulang ke kostnya ke
arah barat dari tempat mereka rapat tadi. Dan mereka sepakat untuk membahas
lebih lanjt lagi pembentukan nama oraganisasi minggu depan.
___
Setelah sampai kost, Kimpluk langsung duduk di
depan meja laptop milik temannya, ia meminjamnya kemudian menyalakannya lantas,
menulis. Memang si Kimpuk ini, adalah anak yang lumayan suka menulis, yang suka
membuat semacam dokumen dari peristiwa-peristiwa yang ia alami, dan terlebih peristiwa
yang ia anggap masih mengganjal, peristiwa yang belum usai. Walau tulisannya
acak-acak kan, tak nyambung dari kalimat satu ke kalimat lainnya, dan ada juga
tulisannya yang tak bisa dibaca. Karena selain ia tak banyak memiliki
perbendaharaan kata yang baik, ia juga tak mahir menulis dengan huruf yang bagus
nan manis layaknya seorang sekretaris. Tapi, ia selalu mencoaba menulis,
menulis dan menulis. Ya, biarin ajalah. Asal ia senang, nggak mewek. Dan berikut tulisan dari si Kimpluk:
***
Apakah salah jika orang
berbicara? Apakah keliru? Kalau salah, itu wajar mungkin, karena bagaimanapun
manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun, kalau keliru jangan lah.
Seperti apa yang di ucapkan dalam tetralogi Buru buah tangan Pramoedya Ananta
Toer, mengatakan; “Kau boleh saja keliru, namun
jangan sampai salah”. Kalau keliru itu, kau sudah memikirkan segalanya
dengan matang dalam pikiran, dan kemudian tidak sesuai dalam perkataan atau
pelaksanaan. Sedangkan salah itu sejak dari pikiran sudah salah, apalagi dalam
perkataan atau tindakan. Dan aku ini adalah seorang terpelajar, “seorang
terpelajar harus bisa berlaku adil, bahkan sejak dalam pikiran”.
Diriku saja yang
terkadang kurasai terlalu terburu-buru dalam berbicara, tak mau didahului, tak
mau dikalahkan. Tak terlepas dalam perkataan dan terutama kurasakan ketika
bersama teman-temanku. Sampai sekarang, aku tak mengetahui pasti. Tak terlalu
memahami yang seperti ini benar atau tidak? atau paling tidak jika boleh dimasukkan dalam spektrum salah dan keliru, ia masuk mana? Karena di satu sisi
aku memikirkan tentang perkataan dan perbuatanku sebelum bertindak. Namun di
sisi lain, kadang ya tadi, seperti sudah ku sampaikan bahwa aku terlalu
terburu-buru. Lagi-lagi selalu ingin unggul. Sungguh Egois.
Pernah suatu kali aku merenungkan sifatku ini.
Ah, mungkin aku ini tak cocok jika bekerja dalam tim, dan sekaligus sangat bisa
cocok asal aku tidak di suruh-suruh, (anggota) lebih-lebih tidak terikat. Namun
bagaimana bisa aku tak di suruh tak di ikat jika aku meleburkan diri dalam
sebuah tim. Enyahlah. Sebut saja: intinya aku tak mau di ikat, karena jika aku
terikat aku merasakan ada yang di rampas dari diriku. Aku sempat ingin merubah
kebiasaan cara ngomongku ini. Namun setelah aku pertimbangkan, aku tidak mau
merubahnya. Karena jika aku merubahnya, itu malah aku bukan menjadi ‘diriku’
sendiri. Di sisi lain, jika teman-temanku tidak benar-benar sabar menghadapiku,
mungkin aku sudah di jauhi bahkan bukan tidak mungkin aku akan di hajar karena
yang ku sebut ‘diriku’ ini. Atau semua ini memang sudah menjadi sifat umum
kebanyakan manusia, terutama kawula muda. Kalau meminjam lirik lagu Oma Irama;
darah muda darah yang berapi-api, yang maunya menang sendiri walau salah tak
peduli. Yang selalu merasa gagah tak mau mengalah”. Ah- serba salah kadang.
Tak bisa ku pungkiri, walau bagaimanapun aku
sangat menikmati fase, atau aku lebih suka menyebutnya proses yang harus ku
lalui ini. Aku sangat nyaman. Merasa menemukan diriku. Dan yang terpenting, aku
bisa merasakan Merdeka. Dan keadaan seperti ini sempat membuatku berfikir agar ‘berlari’
untuk menulis. Bagaimanapun, dengan menulis aku bisa berbicara sepuas-puasnya,
bisa melawan dengan jantan, bisa memborbardir habis-habisan tanpa aling-aling
apapun. Dengan menulis, aku bisa bercerita sampai mulutku berbusa-busa,
menumpahkan segala gelisah dan resah tanpa berkeluh kesah dengan mereka,
sekalipun bisa menangis hingga air mataku habis. Tak terkecuali aku bisa
merasakan multipleorgasm. Aku bisa
mendesah, tanpa harus mendedah yang membuatku bergairah. Ah-yang terakhir ini,
aku kurang bisa mengerti. Tak cukup pandai untuk menerangkan secara sistematis.
Namun itulah yang ku peroleh ketika memasuki; tema, judul, alur maju atau
mundur maupun maju-mundur, kemudian klimaks dan itulah multipleorgasm. Menulis itu bagaikan bergubungan intim, dan
menyelesikan tulisan itu adalah orgasm.
Mungkin itu, saat ini yang kurasakan! Tak
peduli, setelah menulis nanti ada yang baca apa tidak? paling tidak aku
benar-benar bisa merasa merdeka. Ya, ya, Merdeka yang sesungguhnya kurasakan
tumbuh disini. Merdeka yang kurasai kadang terlalu cepat tumbuh, terlalu cepat
lahir dengan kata lain Merdeka yang instant, Merdeka yang Ejakulasi, Merdeka
yang Mbrojol prematur.
Disana, Lihatlah! Jemari yang berdansa tanpa
jeda di atas kertas dengan sebuah tinta. Atau jemari yang menari-nari diatas
keybord laptop pinjaman dari temanku ini. Tak peduli meski tulisannya nantinya
hanya akan menambah panjang daftar kata-kata yang kadaluarsa yang di lempar di
tong sampah sebelah meja, kemudian di bakar dalam tungku perapian para
penyamun. Tak peduli!
Dunia yang sudah kelebihan kata-kata. Setiap
kata bisa di ubah artinya, setiap arti bisa diganti maknanya. Dan setiap makna
selalu saja di perkosa. Peduli Setan!
***
Begitulah tulis, Kimpluk. Namun kadang, si Kimpluk
ini merasakan gelisah. Seperti kata Ayu Utami memang, bahwa menulis adalah pekerjaan
gelisah. Ia tak bisa menyangkal rasa itu. Karena jika ia memutuskan untuk
benar-benar ‘berlari’ menulis, tak mau mengutarakan semua unek-unek atau permasalahnnya
kepada teman-temanya ia merasakan ‘Kesepian’, di sisi lain ia juga seperti
mengingkari teori yang mengatakan bahwa
:manusia adalah makhluk sosial.
Ia kadang
merasa sangat bersalah kepada teman-temanya. Si Kimpluk kali ini
benar-benar pusing tujuh keliling. Dan anehnya, ia hanya ingat hal-hal semacam
itu ketika ia sedang menulis unek-uneknya, perlawanannya, atau mencurahkan isi
hatinya. Oh, bahkan ia tak bisa menuai orgasm, seperti yang ia terangkan di
atas. Perasaannya seketika mendung berkabung, dan tubuhnya seketika lemas,
semacam melankolis.
Selesai mengetik dua kata terakhir di tulisannya,
ia terhuyung dan menghempaskan tubuh resamnya di atas kasur. Ia ingin tidur.
Paling tidak, dengan tidur mungkin bisa mengurangi rasa pening, pikirnya. Posisinya tidur
tertelungkup, karena tak punya daya untuk membalikkan tubuhnya.
Belum
lagi ia benar-benar terlelap, ia
teringat satu kalimat dari Goenawan Mohammad yang pernah ia baca dari Caping, tiba-tiba muncul begitu saja di
otaknya; “Definisi Kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab
sosial”. Kini ia menggapai bantal yang tergelatak di sampingnya dan
menutupkannya di atas kepala sembari menekannya erat-erat dengan kedua
tangannya. Dan mendungpun mencair, Rinai
hujan mengguyur bumi.
mantab, lanjut keun !!!
BalasHapus