Sabtu, 26 Desember 2015

Purba Sangka, Tak Nyata



Purba Sangka, Tak Nyata
Oleh: Ab. Mufid
“Sesuatu yang menutupi kita padaNya adalah bukan harta benda dan perhiasan dunia, melainkan sangkaan-sangkaan kita terhadap adanya yang lain selain yang memang Ada”. (Ibnu Ato’ilah). Bukti itu nyata, beberapa waktu lalu tepatya hari jum’at tanggal 27 November 2015 aku kehilangan laptop dan HP. Nah, in sha Allah aku sendiri yang manusia tetap menjadi manusia yang manusiawi, pasti tetap ada rasa kehilangan/tak rela, maupun ‘mangkel’
walaupun sebenarnya saya tidak pernah memiliki hak kepemilikan, seperti saya sebut beberapa waktu lalu di coret-coret an saya yang ketlingsut. Rasa itu tetap ada, namun in sha Allah relatif kecil. Hanya yang ku khawatirkan kala itu adalah jika aku mengadukannya pada orang tua, kemungkinan besar, prasangka saya mengatakan orang tua akan marah, mungkin juga besar.
Setelah banyak menimbang, kemudian juga mengumpulkan nyali berjam-jam bahkan sampai berhari-hari, akhirnya saya putuskan untuk ngomong kepada orang tua. Ku kabari mereka lewat media sosial, denga perlahan dan sangat Humanis ku buka keran pembicaraan, lalu perlahan, perlahan sampai ke klimaksnya. “Mak/Bapak Laptop dan HP saya hilang, digondol maling”. Begitulah kalimatku untuk meng-klimkas-ka pembicaraan yang mengalir kian deras. Sembari menunggu respons atau jawabn dari orang tua, aku setengah memejamkan mata karena menyiapkan telinga dan hati jika mungkinsaja aku akan dimarahi. Setelah beberapa detik aku dengar kata-kata lirih yang kudengar sayup-sayup dari Hp yang ku genggam, yang ku tempelkan di dekat telinga.
Sungguh maha Besar Allah. Semua purba sangka ku tadi hanyalah belenggu/penutup antara saya dan yang ‘Ada’. Ketika aku ngomong bahwa “Mak/Bapak, Laptop dan HP ku di gondol orang”. Mereka menjawab dengan sedikit rentetan kata-kata “Iyo wes, Gak Popo, nek nduwe tuku maneh”. Iya, itulah kalimat yang keluar dari bibir orang tuaku. Bukan bentakan, gertakan atau bentuk kalimat murka yang di ucapkan nya.
Nampak begitu tulus dan ‘lilo’ (Ridho), dan kalimat tersebut membuatku seakan-akan tertampar ke dalam lautan madu yang dimana dalam lautan itu, telah menunggu banyak permaisuri Ilahi yang lansung melempariku dengan ribuan, bahkan jutaan senyum manis yang tersungging dari mukanya yang terselip rapi di antara bibir nya yang merah merekah. Dan kemudian mengajak ku bergumul mesra, berenang kian kemari bersama mereka. Iya, karena alhamdulillah, setelah beberpa hari kejadian itu, aku dibelikan lagi Laptop yang baru. Tuhan Maha Sutradara terbaik sepanjang Tak terhingga.
Jika kita tilik lagi, sebenarnya bukan harta benda yang membuat kita terhijab, melainkan sangkaan-sangkaan kita kepada adanya yang lain selain yang Maha Ada.
Berbaik sangkalah kepada Tuhan. Jika kamu baik, maka Tuhan Juga akan memberikan yang baik.  Karena itu juga merupakan hal yang utama dan paling utama. Khusnudzon. Mem-primerkan yang primer.

2 komentar: