Purba Sangka, Tak
Nyata
Oleh: Ab. Mufid
“Sesuatu
yang menutupi kita padaNya adalah bukan harta benda dan perhiasan dunia,
melainkan sangkaan-sangkaan kita terhadap adanya yang lain selain yang memang
Ada”. (Ibnu Ato’ilah). Bukti itu nyata, beberapa waktu lalu tepatya hari jum’at
tanggal 27 November 2015 aku kehilangan laptop dan HP. Nah, in sha Allah aku
sendiri yang manusia tetap menjadi manusia yang manusiawi, pasti tetap ada rasa
kehilangan/tak rela, maupun ‘mangkel’
walaupun sebenarnya saya tidak pernah memiliki hak kepemilikan, seperti saya
sebut beberapa waktu lalu di coret-coret an saya yang ketlingsut. Rasa itu tetap ada, namun in sha Allah relatif kecil.
Hanya yang ku khawatirkan kala itu adalah jika aku mengadukannya pada orang
tua, kemungkinan besar, prasangka saya mengatakan orang tua akan marah, mungkin
juga besar.
Setelah
banyak menimbang, kemudian juga mengumpulkan nyali berjam-jam bahkan sampai
berhari-hari, akhirnya saya putuskan untuk ngomong kepada orang tua. Ku kabari
mereka lewat media sosial, denga perlahan dan sangat Humanis ku buka keran
pembicaraan, lalu perlahan, perlahan sampai ke klimaksnya. “Mak/Bapak Laptop
dan HP saya hilang, digondol maling”. Begitulah kalimatku untuk meng-klimkas-ka
pembicaraan yang mengalir kian deras. Sembari menunggu respons atau jawabn dari
orang tua, aku setengah memejamkan mata karena menyiapkan telinga dan hati jika
mungkinsaja aku akan dimarahi. Setelah beberapa detik aku dengar kata-kata
lirih yang kudengar sayup-sayup dari Hp yang ku genggam, yang ku tempelkan di
dekat telinga.
Sungguh
maha Besar Allah. Semua purba sangka ku tadi hanyalah belenggu/penutup antara
saya dan yang ‘Ada’. Ketika aku ngomong bahwa “Mak/Bapak, Laptop dan HP ku di gondol orang”. Mereka menjawab dengan
sedikit rentetan kata-kata “Iyo wes, Gak
Popo, nek nduwe tuku maneh”. Iya,
itulah kalimat yang keluar dari bibir orang tuaku. Bukan bentakan, gertakan
atau bentuk kalimat murka yang di ucapkan nya.
Nampak
begitu tulus dan ‘lilo’ (Ridho), dan
kalimat tersebut membuatku seakan-akan tertampar ke dalam lautan madu yang
dimana dalam lautan itu, telah menunggu banyak permaisuri Ilahi yang lansung
melempariku dengan ribuan, bahkan jutaan senyum manis yang tersungging dari
mukanya yang terselip rapi di antara bibir nya yang merah merekah. Dan kemudian
mengajak ku bergumul mesra, berenang kian kemari bersama mereka. Iya, karena
alhamdulillah, setelah beberpa hari kejadian itu, aku dibelikan lagi Laptop
yang baru. Tuhan Maha Sutradara terbaik sepanjang Tak terhingga.
Jika
kita tilik lagi, sebenarnya bukan harta benda yang membuat kita terhijab,
melainkan sangkaan-sangkaan kita kepada adanya yang lain selain yang Maha Ada.
Berbaik
sangkalah kepada Tuhan. Jika kamu baik, maka Tuhan Juga akan memberikan yang
baik. Karena itu juga merupakan hal yang
utama dan paling utama. Khusnudzon.
Mem-primerkan yang primer.
asikkkk
BalasHapusHahaha, , , ,
Hapusayo, 'Guneman' di taman kunang2. sama-sama kita di mabuk angin malam.