Selasa, 29 Desember 2015

Tuhan Maha Tahu



Tuhan Maha Tahu, Semua, Yang Kadang Tidak untuk di Ketahui
Oleh: Ab. Mufid

Dok. Pribadi
“Makrifat adalah suatu anugerah yang luar biasa yang dianugerahkanNya kepadamu (hamba). Sedangkan amalmu adalah tak lain persembahan untukNya. Jelas tidak mungkin persembahanmu sebanding dengan AnugerahNya”. Itulah petikan kata-kata mutiara dari Ibnu Ato’ilah yang ditulis dalam kitab Al-Hikam.
Yang perlu digaris bawahi dalam vak ini, yang menurut penulis adalah masalah keikhlasan dan kepasrahan kita serta anjuran untuk terus dan teruslah berjuang hingga akhir, tanpa kau menuntut hasil akhir. Disamping itu, kadang jika mau duduk terpekur lama, bermujahhadah dan berkhalwat, mengolah hati. Pasti malu? Kok iso?
 Lha wong kita belum minta saja itu sudah dikasih, bahkan diberikan lebih. Namun kita dengan segala sifat kemanusiaan kita terutama tamak dan rakus, rasa kurang yang terus menerus membuat kita kufur akan nikmat. Njaluk terus?!
Kemudian dengan ke-tidak seberapaan amal
yang kita persembahkan padaNya, sudah berani menuntut hal yang lebih. (Toh belum tentu juga jika amal kita itu benar, sesuai dengan apa yang telah digariskan, lebih-lebih diterima). Iya, merasa kurang dan serba kurang. ‘Ingat, kita belum minta, itu sudah dikasih!’ Dia maha tahu apa yang kita ketahui, semua apa yang tidak diketahui bahkan sampai hal yang tak pernah diketahui oleh siapapun saja itu. Memang didalam kitab (Al-qur’an) disebutkan anjuran atau perintah untuk meminta, dengan meminta maka akan ditambah. Di lanjutkan, dan jika kufur terhadap nikmat, bahwa sesungguhnya adzabNya sangat pedih.
Kurang baik apa Tuhan kepada kita? Apa sesungguhnya makna dari arti ayat diatas, tentang anjuran untuk ‘meminta’ kepadaNya?
Apakah anjuran untuk meminta harta dunia dengan segala kegemerlapannya? Wanita kah? Atau pangkat semata? Jika memang demikian, apakah itu bukan Nafsu? Yang menawarkan dengan segala kenyamanan serta sarat akan kepuasan yang tak kunjung puas. Saya tak tahu akan hal itu, namun saya mencoba mengartikan ini (kalimat meminta) adalah perintah untuk meminta ampunan, meminta kepandaian/hikmah untuk terus bersyukur. Seperti kata Ibnu ato’ilah “Jika kamu mensyukuri nikmat, maka kamu telah mengikatnya...”. Meminta ampunan  dari Tuhan sang Maha Pengampun yang telah dengan Maha Nerimak’ke (Meminjam kalimat Gus Mus) mau mencukupi semua kebutuhan makhluknya dan tetap sabar dengan ‘As-Sobur-Nya’ terhadap persembahan kita (hamba) yang tidak sebanding sama sekali dengan semua karuniaNya yang teramat banyak.
Saya jadi teringat kalimat dari Emha,
“Bahwa setiap malam, Tuhan selalu datang ke Bumi dengan membawa 2 keranjang. 1 keranjang berisi rezeki, 1 keranjang lagi berisi ampunan. Keranjang yang berisi rezeki selalu habis, namun keranjang satunya masih teramat banyak”. Ini merupakan kalimat yang idiomatik. Jua perlu pemahaman yang mungkin agak mendalam. Kemudian dalam kesempatan lain, pria yang lebih karib di sapa Cak Nun ini menambahkan.
“Jika kita memohon ampunan, memperbanyak hidup kita dengan mengucap astagfirulloh hal adziim serta penuh rasa syukur, maka Tuhan dengan segala ke-Maha-anNya akan memberikan semua apa yang kita pinta, kita inginkan, lebih-lebih Tuhan akan memberikan semua apa yang kita butuhkan”. Walau  dalam doa kita tak pernah bergumam atau berucap untuk memuja pujikan doa kita kehadiratNya. Karena Ia adalah maha Tahu, yang juga Maha ‘tidak relevan’. Mari Bersyukur, kita awalai dengan kata, Alhamdulillahirobbil aalamiin.


Malang, 2 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar