Tuhan Maha Tahu, Semua, Yang Kadang Tidak untuk di
Ketahui
Oleh:
Ab. Mufid
![]() | |
| Dok. Pribadi |
“Makrifat adalah suatu anugerah yang luar
biasa yang dianugerahkanNya kepadamu (hamba). Sedangkan amalmu adalah tak lain
persembahan untukNya. Jelas tidak mungkin persembahanmu sebanding dengan
AnugerahNya”. Itulah petikan kata-kata mutiara dari Ibnu Ato’ilah yang ditulis
dalam kitab Al-Hikam.
Yang perlu digaris bawahi dalam vak ini, yang
menurut penulis adalah masalah keikhlasan dan kepasrahan kita serta anjuran
untuk terus dan teruslah berjuang hingga akhir, tanpa kau menuntut hasil akhir.
Disamping itu, kadang jika mau duduk terpekur lama, bermujahhadah dan
berkhalwat, mengolah hati. Pasti malu? Kok
iso?
Lha wong kita
belum minta saja itu sudah dikasih, bahkan diberikan lebih. Namun kita dengan
segala sifat kemanusiaan kita terutama tamak dan rakus, rasa kurang yang terus
menerus membuat kita kufur akan nikmat. Njaluk
terus?!
Kemudian dengan ke-tidak seberapaan amal
yang
kita persembahkan padaNya, sudah berani menuntut hal yang lebih. (Toh belum
tentu juga jika amal kita itu benar, sesuai dengan apa yang telah digariskan,
lebih-lebih diterima). Iya, merasa kurang dan serba kurang. ‘Ingat, kita belum
minta, itu sudah dikasih!’ Dia maha tahu apa yang kita ketahui, semua apa yang
tidak diketahui bahkan sampai hal yang tak pernah diketahui oleh siapapun saja
itu. Memang didalam kitab (Al-qur’an) disebutkan anjuran atau perintah untuk
meminta, dengan meminta maka akan ditambah. Di lanjutkan, dan jika kufur
terhadap nikmat, bahwa sesungguhnya adzabNya sangat pedih.
Kurang baik apa Tuhan kepada kita? Apa sesungguhnya makna
dari arti ayat diatas, tentang anjuran untuk ‘meminta’ kepadaNya?
Apakah anjuran untuk meminta harta dunia
dengan segala kegemerlapannya? Wanita kah? Atau pangkat semata? Jika memang
demikian, apakah itu bukan Nafsu? Yang menawarkan dengan segala kenyamanan
serta sarat akan kepuasan yang tak kunjung puas. Saya tak tahu akan hal itu,
namun saya mencoba mengartikan ini (kalimat meminta) adalah perintah untuk
meminta ampunan, meminta kepandaian/hikmah untuk terus bersyukur. Seperti kata
Ibnu ato’ilah “Jika kamu mensyukuri nikmat, maka kamu telah mengikatnya...”. Meminta
ampunan dari Tuhan sang Maha Pengampun
yang telah dengan Maha Nerimak’ke (Meminjam
kalimat Gus Mus) mau mencukupi semua kebutuhan makhluknya dan tetap sabar
dengan ‘As-Sobur-Nya’ terhadap persembahan kita (hamba) yang tidak sebanding
sama sekali dengan semua karuniaNya yang teramat banyak.
Saya jadi teringat kalimat dari Emha,
“Bahwa setiap malam, Tuhan selalu datang ke Bumi dengan
membawa 2 keranjang. 1 keranjang berisi rezeki, 1 keranjang lagi berisi
ampunan. Keranjang yang berisi rezeki selalu habis, namun keranjang satunya
masih teramat banyak”. Ini merupakan kalimat yang idiomatik. Jua perlu
pemahaman yang mungkin agak mendalam. Kemudian dalam kesempatan lain, pria yang
lebih karib di sapa Cak Nun ini menambahkan.
“Jika kita memohon ampunan, memperbanyak hidup kita
dengan mengucap astagfirulloh hal adziim
serta penuh rasa syukur, maka Tuhan dengan segala ke-Maha-anNya akan memberikan
semua apa yang kita pinta, kita inginkan, lebih-lebih Tuhan akan memberikan
semua apa yang kita butuhkan”. Walau dalam doa kita tak pernah bergumam atau
berucap untuk memuja pujikan doa kita kehadiratNya. Karena Ia adalah maha Tahu,
yang juga Maha ‘tidak relevan’. Mari Bersyukur, kita awalai dengan kata, Alhamdulillahirobbil aalamiin.
Malang, 2 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar