Dinamika Budaya Malam Tahun Baru
Oleh: Ab. Mufid
Pergantian tahun, seperti menjadi suatu moment yang begitu di nanti-nanti bagi
mungkin semua orang. Menjadi waktu yang di tunggu-tunggu sebagian besar orang
untuk melakukan sesuatu yang dinilainya memang hanya bisa dilakukan kala itu.
Seperti tahun 2015 ke 2016 saat ini. Hampir semua warga didesa saya, bahkan
mungkin semua orang di dunia, pada sibuk dengan acara mereka masing-masing,
yang ternyata juga telah di siapkan jauh tempo hari sebelum malam pergantian
tahun. Kira-kira 9 dari 10 orang melakukan hal atau agenda yang telah di
buatnya dengan agenda-agenda untuk melakukan hal yang senang-senang. Layaknya
sedang menjadi tuan rumah suatu pesta yang jarang datang. Semua sarat akan hal
yang menghibur, menyenangkan, bersorak sorai bersama.
Iya gegap gempita bergema
dari penjuru kota sampai di pelosok-pelosok desa.
Ada yang sekedar ngumpul di perempatan jalan
poros desa sambil nyanyi-nyanyi, ada yang sekedar duduk-duduk ngopi di warung angkringan. Ada yang
berpesta pora dengan menenggak minuman yang kurang sesuai tempatnya (miras),
bahkan judi pun jadi pilihan. Ada juga beberpa orang yang begitu terlihat
apatis, acuh tak acuh terhadap malam pergantian tahun ini. Mereka menganggap
tak ada bedanya malam pergantian tahun dengan malam-malam lainnya. Mereka hanya
mempunyai motif untuk terus bekerja seperti biasanya demi kelangsungan hidup
mereka. Namun ada kelompok minoritas yag memilih untuk ziarah
dan nglungsungi di dalam leng nya yang dalam dan sunyi, merenungi
tingkah laku, tindak tanduknya selama satu tahun yang akan berlalu itu. Karena
juga kebetulan, malam pergantian tahun
kali ini tepat pada malam jum’at kliwon.
Saya disini mencoba, mengajak kita semua.
Saya terkhususnya, untuk mengartikan makna dari pergantian tahun yang datang
tiap tahun ini. Hal apa yang kiranya pantas kita lakukan, paling tidak, tidak
merugikan dan mendzolimi diri kia masing-masing. Memang tahun baru adalah tahun
yang baru datang, baru terlahir kembali, yang menandakan bertambahnya
kesempatan kita untuk berbuat baik, semacam injuri
time dari Gusti agar kita semakin tahu mana yang abadi dan yang fana, agar
kita semakin getol menyiapkan bekal kita untuk hidup kekal sesudah mati.
Bersyukur itu pasti, namun evaluasi
lebih-lebih kontemplasi terhadap apapun itu dalam hidup kita dari tahun ketahun
apakah pernah kita lakukan? Apakah pernah kita menimbang-nimbang
merenungkannya? Ingatkah? Atau lupakah kita terhadap dalil yang mengatakan
bahwa
“Hari ini harus baik dari hari kemarin, dan hari esok
harus lebih baik dari hari ini”
kira-kira masuk di bagian yang manakah kita? Jika hanya mengisi setiap tahun yang terus berganti ini dengan hal-hal yang sebenarnya mungkin kurang bermanfaat, kiranya insha Allah ada hal yang lebih indah, lebih baik untuk kita lakukan.
kira-kira masuk di bagian yang manakah kita? Jika hanya mengisi setiap tahun yang terus berganti ini dengan hal-hal yang sebenarnya mungkin kurang bermanfaat, kiranya insha Allah ada hal yang lebih indah, lebih baik untuk kita lakukan.
Bukankah hakikatnya, bergantinya tahun itu
juga menandakan semakin tua umur kita, semakin terus berkurangnya jatah umur
kita yang telah di berikan sama Gusti?
Marilah kita bertafakkur, hidup hanya sekali.
Dan tak ada yang abadi dalam hidup ini keculai yang telah di haturkan oleh
agama kita masing-masing, kepercayaan yang kita anut masing-masing. Bisa
dipastikan mayoritas orang akan bangu kesiangan ketika adzan shubuh bergema,
karena malam hari harus begadang, bernyanyi, bersorak sorai. Itu mungkin hanya
gambaran kecil dampak dari apa yang telah kita lakukan? Apakah kita tak merugi
jika hanya terus-terus seperti ini?
‘Toto Tentrem Kerto
Raharjo’ itu penting, namun yang
lebih penting lagi adalah ‘Warobbun
Ghofur’.
Menciptakan, menata semuanya agar terciptanya
masyarakat yang tentram dan aman, atau dalam istilah reformasi ini di sebut
dengan masyarakat madani. Labih-lebih ‘Toto
Tentrem Kerto Raharjo’ yang kita lakukan itu sesuai dengan apa yang telah
diperintahkanNya, mendapat ampunanNya, berkahNya dan yang jelas rasa tentram
yang kita buat itu di Ridhoi Allah SWT. Perlu di ingat, hampir semua kegiatan
yang kita lakukan saat malam tahun baru itu juga ‘Toto Tentrem Kerto Raharjo’ dari ngopi, minum, bahkan Judi sekalipun, itu semua memberikan rasa
tentram di setiap orang yang ikut didalamnya, semuanya juga tertata dengan apa
yang telah di tentukan dalam aturan yang mereka buat sendiri, namun nampaknya
kok nggak/kurang ‘Warobbun Ghofur’.
Jika kita kembalikan lagi pada sebuah dalil diatas,
“Apakah tahun ini kita lebih baik dari tahun yang lalu, dan apakan tahun yang
akan datang akan lebih baik dari tahun yang sekarang ini?”
Dan jika memang begitu, kita sebenarnya bisa
merasakan atau memaknai malam tahun baru setiap harinya. Dengan dalih, bahwa
semakin bertambanhya waktu, maka jatah umur kita semakin berkurang yang berarti dateline kematian kita juga semakin
dekat. Dengan demikian, Setiap malam kita akan merasakan ‘tahun baru’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar