Jumat, 01 Januari 2016

Budaya Malam Tahun Baru



Dinamika Budaya Malam Tahun Baru
Oleh: Ab. Mufid
Pergantian tahun, seperti menjadi suatu moment yang begitu di nanti-nanti bagi mungkin semua orang. Menjadi waktu yang di tunggu-tunggu sebagian besar orang untuk melakukan sesuatu yang dinilainya memang hanya bisa dilakukan kala itu. Seperti tahun 2015 ke 2016 saat ini. Hampir semua warga didesa saya, bahkan mungkin semua orang di dunia, pada sibuk dengan acara mereka masing-masing, yang ternyata juga telah di siapkan jauh tempo hari sebelum malam pergantian tahun. Kira-kira 9 dari 10 orang melakukan hal atau agenda yang telah di buatnya dengan agenda-agenda untuk melakukan hal yang senang-senang. Layaknya sedang menjadi tuan rumah suatu pesta yang jarang datang. Semua sarat akan hal yang menghibur, menyenangkan, bersorak sorai bersama.
Iya gegap gempita bergema dari penjuru kota sampai di pelosok-pelosok desa.
Ada yang sekedar ngumpul di perempatan jalan poros desa sambil nyanyi-nyanyi, ada yang sekedar duduk-duduk ngopi di warung angkringan. Ada yang berpesta pora dengan menenggak minuman yang kurang sesuai tempatnya (miras), bahkan judi pun jadi pilihan. Ada juga beberpa orang yang begitu terlihat apatis, acuh tak acuh terhadap malam pergantian tahun ini. Mereka menganggap tak ada bedanya malam pergantian tahun dengan malam-malam lainnya. Mereka hanya mempunyai motif untuk terus bekerja seperti biasanya demi kelangsungan hidup mereka.   Namun ada  kelompok minoritas yag memilih untuk ziarah dan nglungsungi di dalam leng nya yang dalam dan sunyi, merenungi tingkah laku, tindak tanduknya selama satu tahun yang akan berlalu itu. Karena juga kebetulan,  malam pergantian tahun kali ini tepat pada malam jum’at kliwon.
Saya disini mencoba, mengajak kita semua. Saya terkhususnya, untuk mengartikan makna dari pergantian tahun yang datang tiap tahun ini. Hal apa yang kiranya pantas kita lakukan, paling tidak, tidak merugikan dan mendzolimi diri kia masing-masing. Memang tahun baru adalah tahun yang baru datang, baru terlahir kembali, yang menandakan bertambahnya kesempatan kita untuk berbuat baik, semacam injuri time dari Gusti agar kita semakin tahu mana yang abadi dan yang fana, agar kita semakin getol menyiapkan bekal kita untuk hidup kekal sesudah mati.
 Bersyukur itu pasti, namun evaluasi lebih-lebih kontemplasi terhadap apapun itu dalam hidup kita dari tahun ketahun apakah pernah kita lakukan? Apakah pernah kita menimbang-nimbang merenungkannya? Ingatkah? Atau lupakah kita terhadap dalil yang mengatakan bahwa
“Hari ini harus baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”
kira-kira masuk di bagian yang manakah kita? Jika hanya mengisi setiap tahun yang terus berganti ini dengan hal-hal yang sebenarnya mungkin kurang bermanfaat, kiranya insha Allah ada hal yang lebih indah, lebih baik untuk kita lakukan.
Bukankah hakikatnya, bergantinya tahun itu juga menandakan semakin tua umur kita, semakin terus berkurangnya jatah umur kita yang telah di berikan sama Gusti?
Marilah kita bertafakkur, hidup hanya sekali. Dan tak ada yang abadi dalam hidup ini keculai yang telah di haturkan oleh agama kita masing-masing, kepercayaan yang kita anut masing-masing. Bisa dipastikan mayoritas orang akan bangu kesiangan ketika adzan shubuh bergema, karena malam hari harus begadang, bernyanyi, bersorak sorai. Itu mungkin hanya gambaran kecil dampak dari apa yang telah kita lakukan? Apakah kita tak merugi jika hanya terus-terus seperti ini?
‘Toto Tentrem Kerto Raharjo’ itu penting, namun yang lebih penting lagi adalah ‘Warobbun Ghofur’.
Menciptakan, menata semuanya agar terciptanya masyarakat yang tentram dan aman, atau dalam istilah reformasi ini di sebut dengan masyarakat madani. Labih-lebih ‘Toto Tentrem Kerto Raharjo’ yang kita lakukan itu sesuai dengan apa yang telah diperintahkanNya, mendapat ampunanNya, berkahNya dan yang jelas rasa tentram yang kita buat itu di Ridhoi Allah SWT. Perlu di ingat, hampir semua kegiatan yang kita lakukan saat malam tahun baru itu juga ‘Toto Tentrem Kerto Raharjo’ dari ngopi, minum, bahkan Judi sekalipun, itu semua memberikan rasa tentram di setiap orang yang ikut didalamnya, semuanya juga tertata dengan apa yang telah di tentukan dalam aturan yang mereka buat sendiri, namun nampaknya kok nggak/kurang ‘Warobbun Ghofur’.
Jika kita kembalikan lagi pada sebuah dalil diatas, “Apakah tahun ini kita lebih baik dari tahun yang lalu, dan apakan tahun yang akan datang akan lebih baik dari tahun yang sekarang ini?”
Dan jika memang begitu, kita sebenarnya bisa merasakan atau memaknai malam tahun baru setiap harinya. Dengan dalih, bahwa semakin bertambanhya waktu, maka jatah umur kita semakin berkurang yang berarti dateline kematian kita juga semakin dekat. Dengan demikian, Setiap malam kita akan merasakan ‘tahun baru’. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar