![]() |
| Dok. Gus Luk |
“Lihat Dul, apa kamu nggak merinding lihat vidio ini?”.
Ucapnya sembari melihatkan sebuah vidio di HP nya. Aku diam, Aku masih terlalu
asyik menghitung tetesan air yang bocor itu. Menyadari itu, ia menepuk pundakku
dan berkata lagi: “Lihat! Apa nggak kagum kamu? Apa Nggak bangga dengan kaum
kita yang berarak-arak gagah menuntut penista Al-qur’an?”.
Kali ini aku berusaha menjawab, ku hentikan dulu hitunganku yang baru mencapai
23 tetes air. Namun sebelum menjawab, aku tertawa sebagaimana biasanya. Ku
naikkan satu kakiku di bangku dan ku hisap lagi sigaretku yang hampir habis: “
Biasa aja. Kalau mencoba memberikan semacam apreasi, iya. Aku meng apresinya”.
“Halah, Kamu munafik! Kamu bohong!” Kali ini nadanya agak
tinggi mengandung keraguan terhadap
jawabanku itu.
“Hahahaha”. Aku tertawa lagi.
“Kalau
orang-orang di sana itu, yang bak buih di lautan itu berjalan beriringan dan
berdiri di garda paling depan dengan alasan;
1. Menuntut di revisi-nya UU tentang Tentang agraria yang merugikan Petani
2. Menuntut di sahkannya hukuman mati bagi para koruptor
3. Mengurangi Impor dan perbanyak Ekspor
4. Memberikan subsidi pada penerbit, hingga BUKU-BUKU MURAH
4. Subsidi pemerintah yang besar terhadap kesehatan dan pendidikan
5. Pemeberdayaan UMKM.
Aku kagum, bahkan mungkin ikut turun bro. Dan oh ya, satu lagi: menuntut pencabutan Tap No. XXV/MPRS/1966”. Jawabku santai. Dan ku melanjutkannya:
1. Menuntut di revisi-nya UU tentang Tentang agraria yang merugikan Petani
2. Menuntut di sahkannya hukuman mati bagi para koruptor
3. Mengurangi Impor dan perbanyak Ekspor
4. Memberikan subsidi pada penerbit, hingga BUKU-BUKU MURAH
4. Subsidi pemerintah yang besar terhadap kesehatan dan pendidikan
5. Pemeberdayaan UMKM.
Aku kagum, bahkan mungkin ikut turun bro. Dan oh ya, satu lagi: menuntut pencabutan Tap No. XXV/MPRS/1966”. Jawabku santai. Dan ku melanjutkannya:
“Bukankah desakan dan tuntutan yang seperti demikian
lebih memihak pada rakyat? Apa yang dicita-citakan di sila kelima bisa
(sedikit) menjadi nyata, minimal? Begitu banyak Rakyat, umat muslim yang di
giring dan tak menutup kemungkinan beberapa di antaranya yang di ‘iming-iming’
hanya untuk menuntut Petahana yang ‘Kepleset Cangkeme’ itu. Mubadzir bro. Yah,
kalau aku saran sih, mungkin sebetulnya itu akan lebih baik jika tiap orang di
sana itu, di suruh bawa satu pot tanaman kemudian ia tanam di sepanjang jalan,
itu efeknya lebih (‘makjleb’) barangkali”. Ku lihat ia diam dan dengan muka
yang sedikit di tekuk. Aku terus saja
melanjutkan:
“Dan kamu bertanya, apa akuvbangga, apa aku merinding,
dan apa aku kagum? Maaf, saya sama sekali tidak bangga, kagum apalagi
merinding. Sama sekali tidak!” Pungkasku dengan mantab.
Tanpa mengindahkannya, tak kusadari sigaretku
telah sampai di pangkal gabusnya. Ku sulut lagi sembari ku cecap sisa-sisa kopi
yang sudah dingin dan tak lupa melanjutkan hitunganku yang baru 23 tetes air
bocoran.
Kalau tadi ia menyodorkan aku sebuah vidio,
kali ini ganti aku yang menyodorkan kepadanya sebuah buku yang di tulis Gus Dur
tadi itu. Ia pun menyambarnya. Tanpa berkata, pria yang jidatnya agak
kehitam-hitaman ini kembali masuk kontrakan. Ketika baru beberapa langkah ia
memalingkan tubuhnya, ku tengok, ku gerayangi kepala, punggung dan kakinya yang sedikit terseok-seok dan akhirnya hilang
di balik pintu kamarnya. Aku pun tertawa.
Tiba-tiba ku dengar sayup-sayup suara dari dalam
kamarnya. “Oo, , , Arek Edan”. Dan tawaku makin keras, makin hingar. “hahahahaha.
. . . “
“Brakkk!”
Terdengar Ia membanting pintunya. “Wkwkwkwk”. Tawaku makin menggema dan bingar
saja.
Malang, yang mulai dingin merajang-rajang tulang ; 2 Desember 2016
Oleh: Ab. Mufid
Malang, yang mulai dingin merajang-rajang tulang ; 2 Desember 2016
Oleh: Ab. Mufid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar