Sabtu, 03 Desember 2016

Saya Tidak Bangga, Kagum, Apalagi Merinding. Sama Sekali Tidak!


   
Dok. Gus Luk
Di suatu senja yang tak berawan. Rinai hujan datang beriringan. Aku sedang duduk manis  di bangku depan kontrakan, di temani sepotong buku berjudul ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’ . Menikmati secangkir kopi dan menghisap sebatang sigaret dengan penuh ketentraman walau perut belum di isi makanan. Perut yang keroncongan membuatku ingat akan hutang-hutang di warung depan. Ah, Sial! Ku mencoba melupakan itu, karena tak mungkin aku menambah hutangku lagi. Beberapa hari ini sengaja aku tak menampakkan batang hidungku keluar rumah, di depan gang kontrakan. Takut ketemu ibu-ibu yang ramah kalau ada orang yang beli, Namun kejam kalau ada orang yang hutang. Dan ku pilih  mencoba menghitung banyak bocoran air yang jatuh tak jauh dari tempatku duduk karena atap kontrakan yang termakan usia ini, setidaknya dari ia (tetes hujan) aku punya optimisme untuk membayar hutang, aku menjadi semakiin yakin bahwa Tuhan Maha Kaya  dan tentu sejenak untuk melupakan hutang. Dan tiba-tiba seorang teman keluar dari balik pintu kontrakan dan menghampiriku  lalu bertanya:
“Lihat Dul, apa kamu nggak merinding lihat vidio ini?”. Ucapnya sembari melihatkan sebuah vidio di HP nya. Aku diam, Aku masih terlalu asyik menghitung tetesan air yang bocor itu. Menyadari itu, ia menepuk pundakku dan berkata lagi: “Lihat! Apa nggak kagum kamu? Apa Nggak bangga dengan kaum kita yang berarak-arak gagah menuntut penista Al-qur’an?”.
Kali ini aku berusaha menjawab, ku  hentikan dulu hitunganku yang baru mencapai 23 tetes air. Namun sebelum menjawab, aku tertawa sebagaimana biasanya. Ku naikkan satu kakiku di bangku dan ku hisap lagi sigaretku yang hampir habis: “ Biasa aja. Kalau mencoba memberikan semacam apreasi, iya. Aku meng apresinya”.
“Halah, Kamu munafik! Kamu bohong!” Kali ini nadanya agak tinggi  mengandung keraguan terhadap jawabanku itu.
“Hahahaha”. Aku tertawa lagi.
“Kalau orang-orang di sana itu, yang bak buih di lautan itu berjalan beriringan dan berdiri di garda paling depan dengan alasan;
1. Menuntut di revisi-nya UU tentang Tentang agraria yang  merugikan Petani
2. Menuntut di sahkannya hukuman mati bagi para koruptor
3. Mengurangi Impor dan perbanyak Ekspor
4. Memberikan subsidi pada penerbit, hingga BUKU-BUKU MURAH
4. Subsidi pemerintah yang besar terhadap kesehatan dan pendidikan
5. Pemeberdayaan UMKM.
            Aku kagum, bahkan mungkin ikut turun bro. Dan oh ya, satu lagi: menuntut pencabutan Tap No. XXV/MPRS/1966”. Jawabku santai. Dan ku melanjutkannya:
 “Bukankah desakan dan tuntutan yang seperti demikian lebih memihak pada rakyat? Apa yang dicita-citakan di sila kelima bisa (sedikit) menjadi nyata, minimal? Begitu banyak Rakyat, umat muslim yang di giring dan tak menutup kemungkinan beberapa di antaranya yang di ‘iming-iming’ hanya untuk menuntut Petahana yang ‘Kepleset Cangkeme’ itu. Mubadzir bro. Yah, kalau aku saran sih, mungkin sebetulnya itu akan lebih baik jika tiap orang di sana itu, di suruh bawa satu pot tanaman kemudian ia tanam di sepanjang jalan, itu efeknya lebih (‘makjleb’) barangkali”. Ku lihat ia diam dan dengan muka yang sedikit di tekuk.  Aku terus saja melanjutkan:
“Dan kamu bertanya, apa akuvbangga, apa aku merinding, dan apa aku kagum? Maaf, saya sama sekali tidak bangga, kagum apalagi merinding. Sama sekali tidak!” Pungkasku dengan mantab.
Tanpa mengindahkannya, tak kusadari sigaretku telah sampai di pangkal gabusnya. Ku sulut lagi sembari ku cecap sisa-sisa kopi yang sudah dingin dan tak lupa melanjutkan hitunganku yang baru 23 tetes air bocoran.
Kalau tadi ia menyodorkan aku sebuah vidio, kali ini ganti aku yang menyodorkan kepadanya sebuah buku yang di tulis Gus Dur tadi itu. Ia pun menyambarnya. Tanpa berkata, pria yang jidatnya agak kehitam-hitaman ini kembali masuk kontrakan. Ketika baru beberapa langkah ia memalingkan tubuhnya, ku tengok, ku gerayangi kepala, punggung dan kakinya  yang sedikit terseok-seok dan akhirnya hilang di balik pintu kamarnya. Aku pun tertawa.
Tiba-tiba ku dengar sayup-sayup suara dari dalam kamarnya. “Oo, , , Arek Edan”. Dan tawaku makin keras, makin hingar. “hahahahaha. . . . “
 “Brakkk!” Terdengar Ia membanting pintunya. “Wkwkwkwk”. Tawaku makin menggema dan bingar saja.

Malang, yang mulai dingin merajang-rajang tulang ; 2 Desember 2016
Oleh: Ab. Mufid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar