| Sumber. Dok. Pribadi |
Banyak manusia yang menjadi lupa. Lupa akan
hakikat dirinya serta dari mana, mau kemana dan untuk apa hidupnya?
Banyak yang mencari-cari siang maupun malam
hari. Terus saja di dedah segala yang membuatnya penasaran; kenapa ia bisa
lupa? Dan jika lupa, bagaimana ia berusaha lagi untuk mengingatnya, dan lalu
apa yang di ingatnya? Sehingga beberapa diantaranya akan mencapai titik
kulminasi
yang tinggi. Namun begitulah kehidupan, tidak sedikit juga yang
akhirnya terlena bahkan ia lupa kalau ia dalam keadaan lupa atau bahkan mungkin
tidak tahu. Yang nampak hanyalah dunia dengan segala iming dan gemerlapnya.
Nafsu selalu menjadi raja dan duduk bertakhta di singgasana hatinya.
Sebenarnya di mana permasalahannya?
Pada awal dulu, sebelum manusia di ciptakan
di dunia ia memang sudah ada, berkumpul bersama dengan Tuhannya, yaitu di alam
ruh. Namun setelah ia ke alam kandungan hingga lahir dan bisa menghirup udara
segar di alam raya ini serta dilengkapi raga, ia menjadi lupa. Lupa akan siapa
dirinya? Dari mana ia, untuk apa ia di cipta dan ia hidup mau kemana? Ia
benar-benar lupa. Padahal di sana ia sudah di janji dan di tanya oleh Tuhan
dalam keadaan berkumpul mesra.
Kalau dalam islam, seringkali kita di suruh
mengingat. Iya mengingat. Dalam kata tersebut, tentu menimbulkan banyak
pertanyaan yang tak akan terselesaikan jika ia masih saja lupa/tidak tahu.
Kalau kita mengingat, tentu kita harus tahu apa yang di ingat bukan? Kalau kita
merindu dengan kekasih kita, dengan kerabat dan sanak saudara kita, otomatis
kita akan mengingat semua peristiwa-peristiwa atau kejadian yang kita lalui
bersamanya, dan tentu otomatis pula otak kita memproyeksikan imajinasi kita
dengan wajah dan segala wadak orang yang kita rindu, yang kita kangeni itu.
Yah, seperti itulah seharusnya kita merindu pada Tuhan. Namun ada hijab yang begitu
tebal dan buram menyelimuti kita untuk mengingat. Sangat sulit. Bahkan benar. Kita
tidak tahu, kita lupa kalau kita sedang lupa.
Lalu Tuhan pun dengan segala ke femininan dan
begejek-kan-nya mengajak kita bersua kembali, bernostalgia layaknya sepasang
kekasih yang sudah renta di ujung senja sana. Yaitu dengan apa? Tak lain dengan
berdzikir. Dzikir sendiri dari bahasa
arab yang artinya adalah ingat. Dalam kitab Al-qur’an juga di terangkan waaqiimussholata lidzikri/ Dan dirikanlah sholat untuk mengingat aku
(Tuhan). Karena dengan sholat kita bisa mengingat-ngingat lagi, merawat
ingatan kita yang makin tumpul dan makin terperosok jauh ke jurang.
Tak hanya itu dalam khasanah kosmologis
islam, juga di ajarkan lantunan-lantunan untuk berdzikir di luar sholat. Ada
tasbih, tahmid, takbir, dan juga kalimat-kalimat thoyyibah lainnya. Dan dalam
islam yang mempunyai strata atau semacam kedudukan tertinggi dalam dzikir
adalah kalimat laa ilaha illallah.
Tiada Tuhan selain Allah. Di samping itu ada juga yang menyebutnya sebagai
dzikir yang paling afdhal.
Dalam kalimat tersebut ada beberapa domain
yang tentu satu spektrum yang bisa di konotasikan dalam berbagai interpretasi
yang sangat luas. Di sini setidaknya ada tiga interpretasi yang saya tahu dan
tidak menutup kemungkinan untuk meng-ekspansi interpretasinya secara
paradigmatis.
Pertama: Tidak ada yang berhak di sembah selain Allah. Dalam
tafsir ini mereka tidak akan menyembah apapun atau mengagugkan apapun kecuali
Allah. Di sini muncul kesadaran bahwa semua pujian, keluahan dan keinginan
layaknya memang di tujukan dan diadukan untuk Allah (Ainul Yaqin)
Kedua: Semua ibadah, pekerjaan atau pekerjaan hal apapun
selalu di orientasikan kepada Allah. Setiap tindak tanduk kesehariannya semua
untuk Allah. Dari hal sepele yang remeh-temeh hingga yang di anggapnya besar
dan penuh resiko selalu ia orientasikan pada Allah. Sungguh sebuah episode yang
membagakan (Ilmul Yaqin)
Ketiga: Tiada yang wujud selain Allah. Yang ketiga ini
benar-benar mungkin tafsir yang sangat indah menurut saya. Mereka bisa melihat
semua yang ada didunia ini tidak ada, walaupun sepintas seperti nampak adanya,
semua itu hanya diadakan belaka. Bahkan ia bisa menyadari ketiadaannya dirinya
sendiri. Semata-mata semua dari, oleh dan untuk Allah. (Haqqul Yaqin). Wallahu a’lamu bish-shawab.
Malang, 28 Nopember 2016
Oleh: Ab. Mufid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar