Kamis, 10 November 2016

Syair Nyengir



Sia-sia-kan
Karam, tenggelamkan lah aku pada palung lautan yang terdalam
Yang tak tahu bahwa aku sendiri dalam
Jadi kanlah aku anjing mati yang terseret arus  sungai yang anyir itu
Hingga aku sendiri tak tahu amisnya
air sungai itu

Jadikanlah aku genangan air hujan atau debu tebal yang memenuhi jalanan dan trotoar
Hingga aku tak tahu akulah yang di pinggiran jalan itu
Jadikanlah aku lembaran-lembaran kertas yang selalu di campakkan,
semua Pemuda yang selalu huru hara
Yang enggan berfikir kalau ia bisa berfikir
yang semakin acuh pada peradaban, yang semakin keruh dan rusuh
Jadikanlah aku tulisan yang di gunakan untuk lap atau bungkus gorengan
Agar aku segera di buang dan hilang di tempat sampah atau comberan
Jadikanlah aku berak atau muntahan orang-orang yang sakit itu
Hingga aku tak harus tahu, apa yang mereka pikirkan

Aku terharu melihat mereka selalu di nina-bobo-kan
Tak terbangun meski mendengar tangisan zaman
yang  meraung-raung sepanjang siang dan malam

Biarkan aku tak tahu semua
Biarkan aku larut dan melebur bersama yang sia-sia
Betapa kini aku menjadi pecandu ke Maha-Segala-gala-Mu

Cabut aku!
Pejamkan aku!
Tikam dan renggutlah jiwaku!

Malang, 11 November 2016
Oleh: Abdul Mufid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar