Sia-sia-kan
Karam,
tenggelamkan lah aku pada palung lautan yang terdalam
Yang
tak tahu bahwa aku sendiri dalam
Jadi
kanlah aku anjing mati yang terseret arus sungai yang anyir itu
Hingga
aku sendiri tak tahu amisnya
air sungai itu
Jadikanlah aku genangan air
hujan atau debu tebal yang memenuhi jalanan dan trotoar
Hingga aku tak tahu akulah
yang di pinggiran jalan itu
Jadikanlah aku
lembaran-lembaran kertas yang selalu di campakkan,
semua Pemuda yang selalu
huru hara
Yang enggan berfikir kalau ia
bisa berfikir
yang semakin acuh pada
peradaban, yang semakin keruh dan rusuh
Jadikanlah aku tulisan yang
di gunakan untuk lap atau bungkus gorengan
Agar aku segera di buang dan
hilang di tempat sampah atau comberan
Jadikanlah aku berak atau
muntahan orang-orang yang sakit itu
Hingga aku tak harus tahu,
apa yang mereka pikirkan
Aku
terharu melihat mereka selalu di nina-bobo-kan
Tak
terbangun meski mendengar tangisan zaman
yang meraung-raung sepanjang siang dan malam
Biarkan aku tak tahu semua
Biarkan aku larut dan
melebur bersama yang sia-sia
Betapa kini aku menjadi
pecandu ke Maha-Segala-gala-Mu
Cabut
aku!
Pejamkan
aku!
Tikam
dan renggutlah jiwaku!
Malang, 11 November 2016
Oleh: Abdul Mufid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar