Kapitalisme yang di usung oleh Adam
Smith benar-benar menjadi zombie hingga saat ini. Ia membayang-bayangi semua
lini kehidupan. Bahkan anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar tanpa ia
mengenal apa itu kapitalisme, ia telah memakan dengan lahap kapitalisme. Tak
salah juga, karena beberapa guru yang menjadi sumber ilmu primer ketika murid
di sekolah, tanpa sadar jua telah menanamkan jiwa-jiwa seorang kapitalis.
Jika kita urut lebih dalam lagi perihal kapitalisme bukan saja muncul ketika anak-anak di sekolah dasar. Bahkan ia tumbuh ketika anak-anak masih dalam lingkungan keluarga, dalam pendidikan informal. Sebagian besar dari orang tua (mungkin) juga tanpa ia sadari telah menanamkan kapitalisme pada anak-anaknya. Aku tak tahu persis kapan sebenarnya pendidikan atau cara pola asuh orang tua yang seperti demikian. Bisa jadi sebelum Smith merumuskan apa itu kapitalisme, nilai-nilai kapitalisme sudah mengakar kuat di seluruh lapisan masarakat. Iya, bisa jadi. Hanya saja Smith kala itu menjadi kaum cendekiawan yang mampu merumuskan suatu gagasan merk atau nama. Jika merujuk pada KBBI kapitalisme adalah ‘sistem dan paham ekonomi yang modalnya bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas’. Namun kalau saya boleh mendefinisikan dengan sederhana jadi seperti ini ringkasnya: Paham yang menganut tentang bagaimana semuanya bisa menghasilkan modal/uang yang pada puncaknya untuk memenuhi segala keinginannya dengan cara bebas, segala cara. Dan hal ini akan lebih ekstrem jika kita melihat pemikiran Filsuf dan sekaligus seorang Ekonom yang mengkritik habis-habis an Kapitalisme Smith, siapa lagi kalau bukan Karl Marx. Ia menganggap Kapitalisme tak hanya menghalalkan segala cara dalam praktiknya, namun eksploitasi manusia yang terus-menerus yang akhirnya menciptakan kelas-kelas; kelas atas dan bawah, pemilik modal dan Proletariat. Yang hanya akan menciptakan ketergantungan si buruh dengan pemodal. Para buruh akan rela menjual tenaganya yang sebenarnya ia tak menyukai pekerjaan itu kepda para pemodal, tak lain hanya demi upah. Buruh pun tak bisa mengembangkan dirinya lewat pekerjaan yang ia lakoni. Yang kemudian Marx di temani rekannya F. Engels butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan kelemahan Kapitalism ini secara ilmiah, dan akhirnya munculah Das Kapital jilid I yang di buat oleh Marx hingga kurang lebih 20 tahun. Beberapa tahun kemudian Marx meninggal dan manuskrip karyanya yang belum selesai di terbitkan oleh Engels yaitu Das Kapital jilid 2 dan 3.
Jika kita urut lebih dalam lagi perihal kapitalisme bukan saja muncul ketika anak-anak di sekolah dasar. Bahkan ia tumbuh ketika anak-anak masih dalam lingkungan keluarga, dalam pendidikan informal. Sebagian besar dari orang tua (mungkin) juga tanpa ia sadari telah menanamkan kapitalisme pada anak-anaknya. Aku tak tahu persis kapan sebenarnya pendidikan atau cara pola asuh orang tua yang seperti demikian. Bisa jadi sebelum Smith merumuskan apa itu kapitalisme, nilai-nilai kapitalisme sudah mengakar kuat di seluruh lapisan masarakat. Iya, bisa jadi. Hanya saja Smith kala itu menjadi kaum cendekiawan yang mampu merumuskan suatu gagasan merk atau nama. Jika merujuk pada KBBI kapitalisme adalah ‘sistem dan paham ekonomi yang modalnya bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas’. Namun kalau saya boleh mendefinisikan dengan sederhana jadi seperti ini ringkasnya: Paham yang menganut tentang bagaimana semuanya bisa menghasilkan modal/uang yang pada puncaknya untuk memenuhi segala keinginannya dengan cara bebas, segala cara. Dan hal ini akan lebih ekstrem jika kita melihat pemikiran Filsuf dan sekaligus seorang Ekonom yang mengkritik habis-habis an Kapitalisme Smith, siapa lagi kalau bukan Karl Marx. Ia menganggap Kapitalisme tak hanya menghalalkan segala cara dalam praktiknya, namun eksploitasi manusia yang terus-menerus yang akhirnya menciptakan kelas-kelas; kelas atas dan bawah, pemilik modal dan Proletariat. Yang hanya akan menciptakan ketergantungan si buruh dengan pemodal. Para buruh akan rela menjual tenaganya yang sebenarnya ia tak menyukai pekerjaan itu kepda para pemodal, tak lain hanya demi upah. Buruh pun tak bisa mengembangkan dirinya lewat pekerjaan yang ia lakoni. Yang kemudian Marx di temani rekannya F. Engels butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan kelemahan Kapitalism ini secara ilmiah, dan akhirnya munculah Das Kapital jilid I yang di buat oleh Marx hingga kurang lebih 20 tahun. Beberapa tahun kemudian Marx meninggal dan manuskrip karyanya yang belum selesai di terbitkan oleh Engels yaitu Das Kapital jilid 2 dan 3.
Kalau Smith punya zombie Kapitalisme,
barangkali Marx meracik bumbu dan jampi-jampi untuk menciptakan “Hantu-hantu
yang berkeliaran. . .” yang akan melawan si Zombie. Ya ;(Komunis) = Sosialis.
---
Sebagian dari kita tentu tidak asing jika mau
mengingat-ngingat ketika kecil dulu. Ketika kita mulai di kudang-kudang, mulai
di ciluk bha oleh bapak ibu kita.
Hingga kita masuk dibangku playgroup.
“Ayo nak sekolah, nanti biar jadi dokter”. Ucapan
seperti itu biasa kita dengar, atau bisa saja jadi dokter itu kita ubah menjadi
polisi, tentara, bidan, guru atau yang lainnya. Iya, sekolah untuk menjadi
“profesional”, orang yang berprofesi. Tentu itu tidak salah, itu benar. Semua
orang tua pasti berharap anaknya kelak menjadi orang besar, orang yang sukses.
Entah jadi polwan atau dokter, dsb. Dan si anak yang awalnya belum tahu
istilah-istilah profesi tadi mulai di kenalkan, dijelaskan oleh guru di
playgroup. Dan si anak dari beberapa penjelasan ia memilih salah satu profesi
tadi untuk dijadikan pilhan cita-citanya. Taruhlah si anak tadi mendengar yang
awalnya belum tahu apa itu dokter, dan kemudian di jelaskan bahwa dokter adalah
orang yang mengobati penyakit ia lantas memiih menjadi dokter, begitu dengan
yang lainnya, jadi polisi ataupun guru.
Di sini saya berusaha untuk tidak berburuk
sangka kepada siapapun, hanya saja saya tidak tahu persis mengapa beberapa
orang tua kita memberikan penjelasan kepada anaknya bahwa sekolah itu bisa membuat
orang menjadi seorang ‘profesional’. Bisa jadi itu iming-iming. Namun, jika hal
ini di katakan kepada anak-anak balita, anak-anak di mana di umur itu orang
menyebutnya dengan golden age. Kalau
orang jawa menyebutnya dengan istilah nyantol-nyantol
e utek akan tertancap di pikiran bahkan benaknya bahwa sekolah itu untuk
menjadikan seseroang menjadi orang yang besar.
Hingga beberapa anak akan tumbuh, dan mudah
goyah. Karena menjadi profesi itu betul, adalah salah satu tujuan dari sekolah.
Namun yang paling mendasar tujuannya sekoah adalah mencari ilmu, titik. Dengan demikian anak sudah di beri bekal
untuk benar-benar menjalani apapun terutama menjalani kehidupan ke depan dengan ikhlas. Ia kan tumbuh mengakar
kuat tertancap di poros bumi. Nah, terlepas menjadi seorang profesional itu
adalah hanya salah satu bonus. Salah satu output
nya.
Iya, kalau kita mikirin helm terus kita tak
akan mendapatkan motor. Kalau kita membeli motor otomatis helmnya kan jadi
bonus? Kalau filsafat lama mengatakan, tanamlah padi, maka rumput akan tumbuh
dengan sendirinya, jangan kebalik. Dan jika saya boleh menyitir kalimat dari Ibnu
Atho’ilah As-Sakandari, Guru dari Alexandria ini pernah berkata dalam kitab
Al-Hikam “Kuburlah dirimu jika ingin tumbuh, karena sesuatu yang tumbuh harus
di kubur terlebih dahulu”.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang tumbuh
dan ‘berakar’. Sudah berderet-deret manusia yang tumbuh tanpa ‘akar’.
Malang, 9 Oktober 2016
Ab. Mufid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar