Minggu, 09 Oktober 2016

Sesuatu yang Tumbuh Mesti di Kubur Telebih Dahulu




Dok. Pribadi
Kapitalisme yang di usung oleh Adam Smith benar-benar menjadi zombie hingga saat ini. Ia membayang-bayangi semua lini kehidupan. Bahkan anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar tanpa ia mengenal apa itu kapitalisme, ia telah terjangkit firus zombie kapitalisme. Tak salah juga, karena beberapa guru yang menjadi sumber ilmu primer ketika murid di sekolah, tanpa sadar dan (Tanpa sengaja) menyebar  benih-benih kapitalis di domain
sekolah yang begitu subur. Jika kita urut lebih dalam lagi perihal kapitalisme bukan saja muncul ketika anak-anak di sekolah dasar. Dan mirisnya ia bisa saja mulai tumbuh ketika anak-anak ketika masih dalam lingkungan keluarga, dalam pendidikan informal. Sebagian besar dari orang tua (mungkin) juga tanpa di sadari telah menanamkan jiwa-jiwa kapitalisme pada anak-anaknya. Aku tak tahu persis kapan sebenarnya pendidikan atau cara pola asuh orang tua yang seperti demikian. Bisa jadi sebelum Smith merumuskan apa itu kapitalisme. Nilai-nilai kapitalisme sudah mengakar kuat di seluruh lapisan masyarakat. Bahkan ini juga sudah merambah, mengurat saraf pada dosen-dosen  yang notabene mengajarkan apa itu Kapitalisme kepada mahasiswanya. Iya, bisa jadi.
Hanya saja Smith kala itu menjadi kaum cendekiawan yang mampu merumuskan suatu gagasan merk atau nama. Jika merujuk pada KBBI, kapitalisme adalah ‘sistem dan paham ekonomi yang modalnya bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasaran bebas’. Namun kalau saya boleh mendefinisikan dengan sederhana jadi seperti ini ringkasnya: Paham yang menganut tentang bagaimana semuanya bisa menghasilkan modal/uang yang pada puncaknya untuk memenuhi segala keinginannya dengan cara bebas, dengan segala cara. Dan hal ini akan lebih ekstrem jika kita melihat pemikiran Filsuf dan sekaligus seorang Ekonom yang mengkritik habis-habis an Kapitalisme Smith, siapa lagi kalau bukan Karl Marx. Mendiang pria berjenggot lebat ini menganggap Kapitalisme tak hanya menghalalkan segala cara dalam praktiknya, namun eksploitasi manusia yang terus-menerus yang akhirnya menciptakan kelas-kelas; kelas atas dan bawah, pemilik modal dan Proletariat. Yang hanya akan menciptakan ketergantungan si buruh dengan pemodal. Para buruh akan rela menjual tenaganya, yang sebenarnya ia tak menyukai pekerjaan itu kepada para pemodal, tak lain hanya demi upah. Buruh pun tak bisa mengembangkan dirinya lewat pekerjaan yang ia lakoni. Yang kemudian Marx di temani rekannya F. Engels butuh berpuluh-puluh tahun untuk membuktikan kelemahan Kapitalism ini secara ilmiah, dan akhirnya lahirlah Das Kapital jilid I yang di buat oleh Marx hingga kurang lebih 20 tahun. Beberapa tahun kemudian Marx meninggal dan manuskrip karyanya yang belum selesai di terbitkan oleh Engels yaitu Das Kapital jilid 2 dan 3.
Kalau Smith punya zombie Kapitalisme, barangkali Marx meracik bumbu dan jampi-jampi untuk menciptakan “Hantu-hantu yang berkeliaran. . .” yang akan melawan si Zombie. Ya ;(Komunis) = Sosialis.
---
Sebagian dari kita tentu tidak asing jika mau mengingat-ngingat ketika kecil dulu. Ketika kita mulai di kudang-kudang, mulai di ciluk bha oleh bapak ibu kita. Hingga kita masuk dibangku playgroup.
“Ayo nak sekolah, nanti biar jadi dokter”. Ucapan seperti itu biasa kita dengar, atau bisa saja jadi dokter itu kita ubah menjadi polisi, tentara, bidan, guru atau yang lainnya. Iya, sekolah untuk menjadi “profesional”, orang yang berprofesi. Tentu itu tidak salah, itu benar. Semua orang tua pasti berharap anaknya kelak menjadi orang besar, orang yang sukses. Entah jadi polwan atau dokter, dsb. Dan si anak yang awalnya belum tahu istilah-istilah profesi tadi mulai di kenalkan, dijelaskan oleh guru di playgroup. Dan si anak dari beberapa penjelasan dengan cara ‘analisis’ serta alasan uniknya masing-masing ia memilih salah satu profesi tadi untuk dijadikan pilihan cita-citanya. Taruhlah si anak tadi mendengar yang awalnya belum tahu apa itu dokter, dan kemudian di jelaskan bahwa dokter adalah orang yang mengobati orang sakit, ia lantas memiih menjadi dokter, begitu dengan yang lainnya, jadi polisi ataupun guru.
Di sini saya berusaha untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun, hanya saja saya kurang setuju mengapa beberapa orang tua kita memberikan penjelasan kepada anaknya bahwa sekolah itu bisa membuat orang menjadi seorang ‘profesional’. Bisa jadi itu iming-iming. Namun, jika hal ini di katakan kepada anak-anak balita, anak-anak di mana di umur itu orang menyebutnya dengan golden age. Kalau orang jawa menyebutnya dengan istilah nyantol-nyantol e utek akan tertancap di pikiran bahkan benaknya bahwa sekolah itu untuk menjadikan seseroang menjadi orang yang besar.
Hingga beberapa anak akan tumbuh, dan mudah goyah. Karena menjadi profesi itu betul, adalah salah satu tujuan dari sekolah. Namun yang paling mendasar tujuannya sekoah adalah mencari ilmu, titik.  Dengan demikian anak sudah di beri bekal untuk benar-benar menjalani apapun terutama menjalani kehidupan  ke depan dengan ikhlas. Ia akan tumbuh mengakar kuat tertancap di poros bumi. Nah, terlepas menjadi seorang profesional itu adalah hanya salah satu bonus. Salah satu output nya.
Iya, kalau kita mikirin helm melulu, kita tak akan mendapatkan motor. Kalau kita membeli motor otomatis helmnya kan jadi bonus? Kalau filsafat lama mengatakan, tanamlah padi, maka rumput akan tumbuh dengan sendirinya, jangan kebalik. Dan jika saya boleh menyitir kalimat dari Ibnu Atho’ilah As-Sakandari, Guru dari Alexandria ini pernah berkata dalam kitab Al-Hikam “Kuburlah dirimu jika ingin tumbuh, karena sesuatu yang tumbuh harus di kubur terlebih dahulu”.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang tumbuh dan ‘berakar’. Kini sudah berderet-deret manusia yang tumbuh tanpa ‘akar’.
Malang, 9 Oktober 2016
Ab. Mufid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar