Kau Boleh Keliru, Tapi Jangan Salah
Malam itu Kimpluk ingin bertemu dengan
teman-temannya, karena sudah lama tak bertemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk
berkumpul di kampus, di parkiran pinggir mesjid dengan bias temeram pelita yang
tak begitu terang. Dan kebetulan kala itu, memang tidak hanya sekedar bersilaturrohmi,
namun ada agenda lain yang ingin di bicarakan. Ada beberapa temannya yang mengusulkan
untuk membuat nama kumpulan atau semacam organisasi yang anggotanya hanya
beberapa gelintir orang lulusan dari sebuah SMA Negeri itu. Kimpluk menyambut dengan antusias ajakan
temannya itu, yang sebelumnya ia komunikasikan dalam group Faceebook dan BBM.
Dan berkumpulah mereka di malam yang sedikit mendung, hanya sedikit gemintang
yang mau nampang. Dan benar, dari 9 atau 10 jumlah teman/anggota group BBMnya yang bisa hadir hanya 4
orang. Namun hal itu lantas tak menyurutkan semangat dan kerinduan mereka untuk
berjumpa, bersua bersama. Kimpluk kali ini datang lebih terlambat, bukan
berarti biasanya ia on time. Namun
terlambatnya kali ini lebih lama, hampir satu jam. Kalau biasanya ia terlambat
paling lama setengah jam atau 45 menit. Pokoknya selalu terlambat. Ia datang
saat ketiga temannya sudah berkumpul, yang sudah datang sejak tadi.
Dan mereka pun saling melempar salam,
menanyakan kabar, perkuliahan, sesekali menyinggung perkawinan yanh kadan bikin
mabuk kepayang dan tentu tak lupa membahas rencana untuk membuat organisasi
kumpulan mereka ini. Singkat cerita, diskusi telah di mulai.
___
“Biar Resmi perkumpulan kita, gak grudak-gruduk”, ucap salah satu teman
Kimpluk di tengah-tengah pembahasan pembentukan organsisasi. Dan dengan cepat
si Kimpluk menyambar ucapan temannya itu. “Grudak
Gruduk gimana maksudnya?”. Memang dasar
si Kimpluk ini begitu doyan dengan sebuah diskusi atau rapat. “Iya kita ini kan
sudah lama kumpul, kurang lebih 3 setengah tahun nan, dan jika kita briefing di sekolah-sekolah selalu saja
tak bisa berjalan dengan lancar, pasti tergendala dengan masalah administrasi,
yaitu proposal”. Sahut temannya. Agenda rutin perkumpulan mereka ini adalah
melakukan briefing di sekolah SMA nya dulu.
Tak mau lama-lama, Kimpluk kembali
menyambungnya, “Iya juga sih”. Ia mengangguk, “Tapi kan kemarin kita di beri
keringanan, karena pihak sekolah mengetahui kita ini bukan terikat atau pun terwadahi
semacam organisasi, tak lebih hanya sebuah kumpulan, paguyuban, atau geng
barangkali. Makanya cukup hanya dengan membuat surat yang kita buat sendiri,
tanpa logo ataupun nama organisasi, dan itu juga sah-sah saja secara
administrasi bukan?”. Kalimat si Kimpluk ini sontak membuat teman-temannya
sedikit tak suka. Dan benar saja, temannya tadi menyambungnya: “Justru karena
itu Pluk, agar kita bisa mudah melakukan briefing
kita bentuk organisasi”.
“Nah, bukannya kemarin-kemarin kita juga sudah
briefing, dan berjalan dengan
lancar-lancar saja walau tanpa proposal, atau tendensi apapun. Selain nama Geng kita ini?”
“Ya, gak bisa Pluk. Kamu ini gimana? Yang
namanya kegiatan apapun itu harus ada proposalnya, biar jelas. Kita Ini siapa
dari mana, mau apa?”. Kali ini temannya yang berjilbab itu mulai kesal.
Sementara dua teman lainnya hanya diam. Memang teman-teman Kimpluk banyak yang memilih
untuk tutup mulut daripada harus meladeni orang yang asal njeplak, yang malah terkesan ‘mematikan’ ide atau gagasan temannya.
Sekaligus pertanyaan yang mbulet dan
sebenarnya juga tak perlu di ucapkan sekaligus kadang melontarkan
argumen-argumen atau anekdot yang membuat teman-temannya pesimis plus sinis. Teman-temanya seketika itu kadang mau tak mau
harus menjelma sosok seorang ibu yang lagi ngemong
anaknya. Karena jika melawan, si Kimpluk ini bisa jadi akan nangis,
bergelesotan di tanah dan berguling-guling. Ia akan merengek, persis anak kecil
yang sedang mewek. Kimpluk nampaknya tak tahu diri, ia terus saja mengejar tiap
pernyataan atau ide-ide untuk memulai pembentukan organisasinya.
“Sek to,
bentar. Fungsi kita untuk membuat organisasi apa sih, selain melancarkan
administrasi dan memperjelas status kita?”. Kali ini nadanya mengandung
kecongkak an. Teman-temannya mengernyitkan alis mereka, dan tak menjawab. Si
kimpluk menambahi lagi; “Lantas, apa nantinya yang akan kita perbuat (Visi
Misi) setelah organisasi yang hanya ada beberapa gelintir orang ini benar-benar terbentuk? Bukankah briefing tahun lalu kita sudah membicarakan
hal ini? Dan kalau gak salah, bukannya kita sudah membentuk nama sebuah organisasi
kita ini dan menerangkannya pada adik-adik kelas?”. Kali ini teman-temannya
mulai tak tahan, dan mengalihkan pandang dari Kimpluk. Mengetahui itu, Kimpluk
bukannya mengakhiri pertanyaannya yang
terkesan menghakimi itu. Ia melanjutkan lagi; “Bagaimana kita nanti akan
membangun rumah yang megah, kalau penghuninya tidak ada, yang satu persatu
pergi angkat kaki begitu saja?” Nadanya semakin tinggi. “Apa nggak malu-maluin tuh? Sudah woro-woro kesana sini, kesemua
warga hendak membangun rumah, bahkan meminta bantuan dan do’a restu untuk mendirikannya, namun tiba-tiba setelah rumah jadi kita tinggal begitu saja?”.
teman-temannya masih terdiam.
Angin malam yang berhembus di sela-sela
pepohonan, menyibak rerimbunan ranting dan dahan. Sehingga daun-daun nya
menggerisik, dan beberapa daun yang sudah nampak menguning berjatuhan ke tanah.
“Kalau dalam teori sebuah organisasi itu Pluk,
dua orang sudah cukup. Sudah bisa dikatakan organisasi”. Sambar seorang teman
lainnya. “Jadi, gak masalah kita rintis dulu beberapa orang yang ada ini, gak
ada salahnya kan?”.
“Betul, aku setuju”. Sambung teman yang
berjilbab “Itu lebih baik kan, daripada tidak sama sekali?”. Kimpluk terdiam.
Ia melayangkan pandang ke langit yang semakin hitam.
“Iya Pluk, bukannya Organisasi yang baik itu
berangkat dari sedikit orang, dan kemudian menjadi banyak? Dari 5 menjadi 10,
20, 50, bahkan seratus. Bukan sebaliknya? Kan begitu?”. Temannya yang berambut
panjang berponi kini ikut angkat bicara.
Si Kimpluk ini seakan terkesan tak menyetujui
rencana pembentukan organisasi. Lain dengan teman-temannya yang begitu antusias
dan penuh rasa optimistis melihat prospek kedapan yang akan lebih baik jika
organisasi mereka terbentuk. Sedangkan Kimpluk cenderung payah, ia pesimis dan
sekaligus mempunyai pemikiran yang 180 derajat berlawanan dengan teman-temnnya.
Ia bukannya ikut melihat prospek kedepannya, bukan malah mencari solusi atau
menawarkan gagasan, ia lebih suka menengok jauh kedalam, mengorek-orek kemungkinan-kemungkinan
buruk yang bukan tidak mungkin bakal terjadi. Dan jika mendapatkan beberapa
kemungkinan buruk yang berpeluang muncul, ia tak juga mau berhenti. Terus saja
ia menelusuri ruang yang nun jauh untuk mencari-cari kemungkinan terburuk yang
lebih mengerikan, ia hanya akan berhenti ketika ia mendapati temannya terdiam,
dan teman-temannya yang diam itu ia anggap sedang berfikir. Ya, ya. Kimpluk
senang kalau ia melihat orang lain terjebak bersama dan memikirkan sesuatu yang
tak terlalu perlu sebenanya untuk di pikirkan. Terlalu jauh, terlalu berlebihan,
dan kadang juga sia-sia.
___
Di saat
tertentu, manusia juga perlu untuk melakukan hal yang selama ini nampaknya
sia-sia, membuang-buang waktu dan tak
berarti. Apakah hal yang kamu lakukan baik atau tidak, keren apa tidak, manfaat
atau tidak sama sekali, pada akhirnya yang memiliki arti bukanlah sesuatu yang
bisa dilihat, tetapi yang berdesir di hatimu, yang bisa di rasakan hatimu.
Karena semua tindakan yang kelihatannya sia-sia dan membuang waktu, tidak
selamanya berakhir demikian. Begitulah, jika memang seseorang ingin mencari
nilai-nilai.
___
Hal seperti ini pernah suatu kali terjadi di
rapat atau diskusi tahun-tahun lalu. Dan itu mempengaruhi beberapa pemikiran temannya
yang tanpa gak langsung ikut tertular akan sifat Kimpluk ini. Alhasil beberapa
di antara mereka pun ada yang minder, pesimis, bahkan merenung. Jadi,
seringkali rapat yang mereka langsungkan dengan maksud bisa menemui titik
terang, malah harus berakhir tanpa dapat apa-apa, kecuali permasalahan yang
semakin panjang dan semakin berbelit-belit.
Namun teman-temannya kali ini tak begitu
terpengaruh akan lontaran dari analisis ‘Bento’ si Kimpluk. Benar, mereka
memanag terdiam, tapi diam mereka kali ini bukanlah merenung. Mereka diam
karena menunggu tanggapan si Kimpluk.
Entahlah, Si Kimpluk mungkin memang seorang
pesimistis akut.
___
Kimpluk masih terdiam. Sementara Teman-temannya
dengan sabar menunggu tanggapan darinya--Ia tak juga menjawab. Kemudian ia
keluarkan Handphone dari tasnya. Ia
pura-pura mencari alasan untuk menutupi kebingungnya, untuk menyangkal.
Barangkali Ia tak menemukan sesuatu kemungkinan
buruk lagi ‘didalam sana’. Atau bisa saja ia enggan untuk mengorek-orek
lebih kedalam lagi. Jam di HP nya menunjukkan pukul 21.13 WIB. Semakin larut.
Ia memasukkan kembali HP nya, dan mencoba coba
menyambung lagi. Apa ia mendapatkan sesutau kemungkinan lagi?
“Tapi kan. . . “ Kalimatnya terputus, tak
dilanjutkan.
“Tapi apa Pluk?”, Tanggap Serentak
teman-temannya.
Ia hanya tersenyum, dan tak mau melanjutkan.
Karena menyadari jam sudah larut malam. Dan ia tahu ketiga teman perempuannya
itu diberlakukan jam malam di kost.
“Nggak papa kok”. Kini senyumnya makin lebar
dan terlihat dipaksakan.
“Lhoh jangan gitu dong. Kita ini kan rapat,
ungkapkan saja! Tapi apa? Mumpung masih semua disini”. Lanjut teman berjilbab.
Seperti ada yang di sembunyikan, Kimpluk tak
mau membuat teman-temannya terkunci di luar gerbang kosnya. Atau memang kali
ini ia sudah mati kutu?
“Nggak, aku setuju kok”.
“Terus tadi kok bilang; Tapi. Tapi kenapa?”.
Lanjut teman berjilbab. Dan kedua teman yang lain sudah berulang ulang melihat jam di HP mereka masing-masing.
Khawatir jika nanti gerbang kos di kunci barangkali, belum lagi lembur tugas-tugas
dari dosen. Si Kimpluk menyadari itu, dan agar tak membuat diskusi semakin
panjang ia menjawab, “Tapi, anu. . . Cara untuk mengumpulkan teman yang lain
gimana? Yang datang ya ini-ini aja, pun beberapa rapat harus di tunda, di ganti
hari lain karena tak ada yang datang sama sekali?”.
Dengan cepat dan seperti sudah di siapkan
sebelumnya, salah satu temannya mengelurakn secarik kertas dari sakunya lantas menerangkan
dengan singkat. Suatu cara yang sudah pernah di pakai sebelumnya waktu briefing tahun lalu dan terbukti tak
berhasil. Dan si Kimpluk hanya mangguk mengiyakannya sembari tersenyum tipis.
Kini giginya yang putih nampak bersinar, rapi berjajar.
Dan rapatpun berkahir. Teman-temannya hendak
pulang, namun belum sampai mereka berdiri, teman berjilbab tadi membuka tasnya
dan mengelurkan sebuah bungkusan, “Ya Allah rek, Lupa aku. Nih, aku bawa jajan.
Lumayan”.
Kedua teman yang lain tersenyum, dan seakan
lupa pada jam malam dan tugas-tugas dari dosennya. Begitupun Kimpluk. Mereka
pun menyantap makanan ringan itu dengan cepat bersama-sama.
“Eh, aku tak hubungin temen kamarku dulu”.
Ucap sirambut panjang sambil memasukkan makanan ke mulutnya. Kimpluk nampak
lahap juga ikut makan jajanan pedas itu. “Hubungin buat apa?”. Kan bentar lagi
juga pulang”. Tanya Si teman berjilbab. “Ya nanti kalau terlanjur di kunci, kan
bisa brabe? Jadi ku hubungi temanku,
jika aku sampai di kost ternyata sudah di kunci aku tinggal menghubunginya
untuk membukakannya”. Ia tertawa lirih dan terus mengunyah makanan. Si Kimpluk,
yang menjadi satu-satunya lelaki di
antara teman-temannya, dengan gaya sedikit angkuh, berkata; “Tenang lah rek,
nanti tak anterin!”. Teman-temannya hanya tersenyum dan terus saja makan. Dan
ia kemudian mengeluarkan sebatang rokok lantas menyulutnya. Ia hisap
dalam-dalam kemudian menghembuskannya ke udara. Asap bergulung-gulung keluar
dari mulutnya. Kemudian nyeletuk. “Rek, maaf ya. kalau selama ini gaya bicaraku
kayak gitu, tak usah ku jelasin tahu sendiri lah. Kalian muak pasti. Sebenarnya
aku pengin rek, diam tak begitu banyak bicara, ingin kayak kalian, bicara
sewajarnya. Atau tanya juga yang sewajarnya. Ingin puasa ngomong”. Tiba-tiba
salah satu teman berhenti mengunyah, dengan makanan yang masih belum di telan
ia berkata:
“Ya sudah to, kalau kamu ingin berpuasa
ngomong. Gak usah di lanjutin omongannya. Gitu aja kok repot-repot? Beres kan?”
Kalimat itu di ucapkan seperti benar-benar dari dalam hati, layaknya kalimat yang
memang sudah lama sekali meronta-ronta ingin keluar dari rongga dada. Mungkin
mereka sudah begitu muak dan enyah mendengar bualan Kimpluk yang teramat
banyak, teramat membosankan. Saking risihnya untuk mendengar, Omongannya sesekali di penggal oleh teman-temannya dengan ucapan: “Ngomong apa sih?”. Tentu di ucapkan dengan hati-hati , agar
Kimpluk tak mewek. Atau dengan memolesnya sedikit lebih halus, memotong
perkataannya dengan kata: “Aku gak paham
omonganmu, terlalu tinggi Pluk. Otakku tak sampai untuk memikirkannya”.
Ucapan yang sama saja sebenarnya, sama-sama muak mendengar ocehannya. Itu juga
terlihat dari air muka mereka yang tak bisa di sembunyikan lagi aslinya.
__
Mendengar tanggapan itu, si Kimpluk hanya diam
dan mengangguk-ngangguk. Ia lagi-lagi memaksa untuk mengiyakannya. Ia hisap
lagi rokoknya. Kemudian tak lama setelah makanan habis, mereka pulang ke kost
mereka masing-masing dan berjabat tangan seperti biasa. Si perempuan jilbab
pulang ke selatan, yang duanya lagi bareng ke arah utara karena kost mereka
satu arah dan si Kimpluk pulang ke kostnya ke arah barat dari tempat mereka
rapat tadi. Dan mereka sepakat untuk membahas lebih lanjut lagi pembentukan
nama oraganisasi 3 minggu lagi.
___
Setelah sampai kost, Kimpluk langsung duduk di
depan meja laptop milik temannya, ia meminjamnya kemudian menyalakannya lantas,
menulis. Memang si Kimpuk ini, adalah anak yang lumayan suka menulis, yang suka
membuat semacam dokumen dari peristiwa-peristiwa yang ia alami, dan terlebih peristiwa
yang ia anggap masih mengganjal, peristiwa yang belum usai. Minimal ia menulis
di status akun sosmednya. Kadang juga di lembaran kertas, juga dinding toilet
tak luput menjadi sasaran untuk media coretan-coretannya. Walau tulisannya
acak-acak kan, tak nyambung dari kalimat satu ke kalimat lainnya, dan ada juga
tulisannya yang tak bisa dibaca. Karena selain ia tak banyak memiliki
perbendaharaan kata yang baik, ia juga tak mahir menulis dengan huruf yang bagus
nan manis layaknya seorang sekretaris. Tapi, ia selalu mencoba menulis, menulis
dan terus menulis. Ya, biarin ajalah. Asal ia senang, nggak mewek. Dan berikut tulisan dari si Kimpluk yang ia tulis
malam itu:
***
Apakah salah jika
orang berbicara? Apakah keliru? Kalau salah, itu wajar mungkin, karena bagaimanapun
manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Namun, kalau keliru jangan lah.
Seperti apa yang di ucapkan dalam tetralogi Buru buah tangan Pramoedya Ananta
Toer, mengatakan; “Kau boleh saja salah, namun
jangan sampai keliru”. Kalau salah itu, kau sudah memikirkan segalanya
dengan matang dalam pikiran, dan kemudian tidak sesuai dalam perkataan atau
pelaksanaan. Sedangkan keliru itu sejak dari pikiran sudah salah, apalagi dalam
perkataan atau tindakan. Dan aku ini adalah seorang terpelajar, “seorang
terpelajar harus bisa berlaku adil, bahkan sejak dalam pikiran”.
Diriku saja yang
terkadang kurasai terlalu terburu-buru dalam berbicara, tak mau di dahului, tak
mau di kalahkan. Tak terlepas dalam perkataan dan terutama kurasakan ketika
bersama teman-temanku. Sampai sekarang, aku tak mengetahui pasti. Tak terlalu
memahami yang seperti ini benar atau tidak? atau paling tidak jika boleh di
masukkan dalam spektrum salah dan keliru, ia masuk mana? Karena di satu sisi
aku memikirkan tentang perkataan dan perbuatanku sebelum bertindak. Namun di
sisi lain, kadang ya tadi, seperti sudah ku sampaikan bahwa aku terlalu
terburu-buru. Lagi-lagi selalu ingin unggul. Sungguh Egois.
Pernah suatu kali aku merenungkan sifatku ini.
Ah, mungkin aku ini tak cocok jika bekerja dalam tim, dan sekaligus sangat bisa
cocok asal aku tidak di suruh-suruh, (anggota) lebih-lebih tidak terikat. Namun
bagaimana bisa aku tak di suruh dan tak di ikat jika aku meleburkan diri dalam
sebuah tim. Enyahlah. Sebut saja: intinya aku tak mau di ikat, karena jika aku
terikat aku merasakan ada yang di rampas dari diriku.
Aku sempat ingin merubah kebiasaan cara
ngomongku ini. Namun setelah aku pertimbangkan, aku tidak mau merubahnya.
Karena jika aku merubahnya, itu artinya aku bukan menjadi ‘diriku’ sendiri. Di
sisi lain, jika teman-temanku tidak benar-benar sabar menghadapiku, mungkin aku
sudah di jauhi bahkan bukan tidak mungkin aku akan di hajar karena yang ku
sebut ‘diriku’ ini. Atau semua ini memang sudah menjadi sifat umum kebanyakan
manusia, terutama kawula muda. Kalau meminjam lirik lagu Oma Irama; darah muda
darah yang berapi-api, yang maunya menang sendiri walau salah tak peduli. Yang
selalu merasa gagah tak pernah mau mengalah”. Ah- serba salah kadang.
Tak bisa ku pungkiri, walau bagaimanapun aku
sangat menikmati fase, atau aku lebih suka menyebutnya proses yang harus ku
lalui ini. Aku sangat nyaman. Merasa menemukan diriku. Dan yang terpenting, aku
bisa merasakan Merdeka. Dan keadaan seperti ini sempat membuatku berfikir agar ‘berlari’
untuk menulis. Bagaimanapun, dengan menulis aku bisa berbicara sepuas-puasnya,
bisa melawan dengan jantan, bisa memborbardir habis-habisan tanpa aling-aling
apapun. Dengan menulis, aku bisa bercerita sampai mulutku berbusa-busa,
menumpahkan segala gelisah dan resah tanpa berkeluh kesah dengan mereka,
sekalipun bisa menangis hingga air mataku habis. Tak terkecuali aku bisa
merasakan multipleorgasm. Aku bisa
mendesah, tanpa harus mendedah yang membuatku bergairah. Untuk yang terakhir
ini, aku kurang bisa mengerti. Tak cukup pandai untuk menerangkan secara
sistematis. Namun itulah yang ku peroleh ketika memasuki; tema, judul, alur
maju atau mundur maupun maju-mundur, kemudian klimaks dan itulah multipleorgasm. Menulis itu bagaikan
bergubungan intim, dan menyelesikan tulisan itu adalah orgasm.
Mungkin itu, saat ini yang kurasakan! Tak
peduli, setelah menulis nanti ada yang baca apa tidak? paling tidak aku
benar-benar bisa merasa merdeka. Ya, ya, Merdeka yang sesungguhnya kurasakan
tumbuh disini. Merdeka yang kurasai kadang terlalu cepat tumbuh, terlalu cepat
lahir dengan kata lain Merdeka yang instant, Merdeka yang Ejakulasi, Merdeka
yang Mbrojol prematur.
Disana, Lihatlah! Jemari yang berdansa tanpa
jeda di atas kertas dengan sebuah tinta. Atau jemari yang menari-nari diatas
keybord laptop pinjaman dari temanku ini. Tak peduli meski tulisannya nantinya
hanya akan menambah panjang daftar kata-kata yang kadaluarsa yang di lempar di
tong sampah sebelah meja, kemudian di bakar dalam tungku perapian para
penyamun. Tak peduli!
Dunia yang sudah kelebihan kata-kata. Setiap
kata bisa di ubah artinya, setiap arti bisa diganti maknanya. Dan setiap makna
selalu saja di perkosa. Peduli Setan!
***
Begitulah tulis, Kimpluk. Namun kadang, si Kimpluk
ini merasakan gelisah. Seperti kata Ayu Utami memang, bahwa menulis adalah
pekerjaan gelisah. Ia tak bisa menyangkal rasa itu. Karena jika ia memutuskan
untuk benar-benar ‘berlari’ menulis, tak mau mengutarakan semua unek-unek atau permasalahnnya
kepada teman-temanya ia merasakan ‘Kesepian’, di sisi lain ia juga seperti
mengingkari teori yang mengatakan bahwa
:manusia adalah makhluk sosial.
Ia kadang
merasa sangat bersalah kepada teman-temanya. Si Kimpluk kali ini
benar-benar pusing tujuh keliling. Dan anehnya, ia hanya ingat hal-hal semacam
itu ketika ia sedang menulis unek-uneknya, perlawanannya, atau mencurahkan isi
hatinya. Oh, bahkan ia tak bisa menuai orgasm, seperti yang ia terangkan di
atas. Perasaannya seketika mendung berkabung, dan tubuhnya seketika lemas,
semacam melankolis.
Selesai mengetik dua kata terakhir di
tulisannya, ia terhuyung dan menghempaskan tubuh resamnya di atas kasur. Ia
ingin tidur. Paling tidak, dengan tidur mungkin bisa mengurangi rasa pening, pikirnya. Posisinya tidur
tertelungkup, karena tak punya daya untuk membalikkan tubuhnya.
Belum
lagi ia benar-benar terlelap, ia
teringat satu kalimat dari Goenawan Mohammad yang pernah ia baca dari Caping, tiba-tiba muncul begitu saja di
otaknya; “Definisi Kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab
sosial”. Kini ia menggapai bantal yang tergelatak di sampingnya dan
menutupkannya di atas kepala sembari menekannya erat-erat dengan kedua
tangannya. Dan mendungpun mencair, Rinai
hujan tengah malam mengguyur bumi.
Malang, 20 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar