Meski di Paksa,
Kadang Terasa Juga Nikmatnya
![]() |
| Dok. Pribadi |
Sekarang tanggal 17 September 2016,
kira-kira 2 hari lagi tepat satu bulan aku tinggal di Malang untuk awal
semester 7 ini. Namun apa yang ku lakukan di sini? Selain hanya 2 hari dalam
seminggu harus ke kampus untuk kuliah, yaitu senin dan kamis. Kelonggaran
jadwal kuliah karena SKS yang di bebankan memang tinggal itu. Selain hari Senin
dan Kamis, ku isi dengan makan, tidur, bermalas-malasan sambil menonton movie
yang sebenarnya sudah bosan juga aku melihatnya. Dari film-film dokumenter
tentang periode alam; dari periode Ordorician, Devonian sampai periode di mana
dinosaurus yang konon katanya hidup berlarian di savana lepas, hingga periode
Cretosious Tertiary (KT) yang menyebabkan dinosaurus punah dan sampai akhirnya
generasi kita ini, yang lebih parah akibatnya karena akan menghancurkan,
merogoh sukma bumi dari dalam di banding periode-periode sebelumnya yang hanya
sekedar memoles wajah bumi. Juga menonton
peristiwa 98; araka-arakan mahasiswa, buruh, penganggur menjadi massa
melengserkan Soeharto, romantic, film aksi yang sesekali ada
adegan-adegan yang senonoh sekaligus mengasyikkan juga sebenarnya, hingga film cartoon spongebob dengan craby patty Mr. Crab.
Oh ya, juga tak lupa membeli buku, membacanya, dan
lagi membacanya kendati tak seberapa
bisa memahaminya, dan buku yang ku beli bukanlah buku penunjang skripsi. Ini lebih
ke sastra, atau buku komik-komik Kho Ping Ho, atau cerita Wirosableng. Kemudian tak jarang beberapa buku harus
terkapar di rak buku dalam kamarku karena belum tuntas, sudah terasa begitu
berat aku melanjutkannya. Iya, kadang juga menonton TV di siang hari. Namun sekarang
sudah tak sebegitu nikmat saat pertama
kalinya, ketika salah satu teman kontrakanku membawanya dari rumah.
__
Mengulang lagi memutar film-film itu menjadi
pilihanku. Untuk memberi alasan agar aku bekerja, atau lebih tepatnya agar aku
tak terlalu menganggur. Sungguh hina, maafkanlah alasan ku yang begitu terkutuk
ini. Begitu tak produktif. Aku yakin hampir semua orang tak menyukai
kegiatannku yang terkesan tak bisa menghargai waktu yang sesaat namun abadi
ini. Bahkan sapi di ladang yang sedang memamah rumput dengan malaspun, amat
malas melihat kebiasaanku, di awal semseter 7 ini.
Bukannya aku tidak menyadari, aku menyadari kalau
kegiatankun ini sangat tak layak untuk di bilang manusia yang siap untuk
membentang sayap mengahadapi badai yang lebat nan kejam. Namun, aku hanya sebatas
menyadari. Aku tak tahu, belum mampu untuk menggantinya dengan aktifitas yang
lebih pantas. Di pagi hari aku terbangun, kadang jam setengah 3 atau jam 3 yang
kemudian dengan memaksa diriku untuk segera melempar selimut dan kemudian ke
kamar mandi, mengambil air wudlu dan kemudian sholat barangkalai hanya dua
rokaat tanpa do’a atau perasaan yang sangat berdosa apalagi menangis seperti
cerita-cerita para orang alim yang ku dengar sejauh ini.
Hanya berlangsung 10 menit an, tak lebih. Kemudian
aku duduk di depan laptop, dan mengambil sepotong buku kemudian membelainya,
sembari melawan ngantuk yang teramat menggairahkan menyerang, menggoda untuk
kembali tergeletak di atas busa tipisku. Hanya kadang-kadang, yang sering
adalah tertidur hingga alarm yang ku setel di HP mati, menyerah karena Lowbat. Adzan pun berkumandang, dengan cepat pula ku basuh lagi
muka yang mulai nampak sayu lagi dengan
air yang membeku, kemudian menyeret langkah menyusuri jalan kecil di depan
kontrakan dan sampai di musholla.
Benar sekali apa yang di katakan ustadz-ustadz yang
berceramah di sana-sini, mereka yang bangun kemudian mau berjama’ah untuk
shubuh di majid sangatlah sedikit dan dapat di pastikan 9 dari 10 orang yang
shubuh rata-rata umurnya bisa ku taksir sekitar 60 an ke atas. Rambut yang
beruban yang tak tertata rapi di pinggir telinga mereka atau di balik kopyah
itu mungkin sudah putih semua atau bisa saja botak? Langkah mereka begitu
pelan, tergop0h-gopoh dan terkesan di paksakan. Beberapa di antara mereka sudah
tak bisa berjalan dengan (maaf) ; wajar. Benar-benar mereka seperti susah payah
memaksa tubuh mereka yang renta dengan tulang yang mungkin juga ngilu di
sekujur tubuh, membawa diri mereka memenuhi panggilan yang konon panggilan
terindah itu. Tentu, maksudku menceritakan ini bukan karena sombong, aku
sendiri tak jarang bahkan sering tertidur pulas di atas kasur ketika adzan
shubuh berkumandang, bahkan berkali-kali aku tak mendengar adzan shubuh yang di
lantunkan orang yang rata-rata sudah tua
itu. Hanya saja kali ini aku mendapat kekuatan dari sang Pencipta (tentunya). Iya,
sebut sombong saja. Itu sebutan yang lebih
pantas nampaknya. Terserahlah!? Karena aku akan mengusung kata-kata khas orang
alim lagi setelah ini.
Aku jadi teringat ceramah Dari Ustad Arifin Ilham yang
ku dengar dari handphone-ku: “Jika
mereka mengetahui apa yang mereka peroleh dalam sholat shubuh berjama’ah di
mesjid, maka mereka akan mendatanginya, walau dengan merangkak”. Dan juga
hadist yang di sampaikan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ; “Dua rakaat sebelum
shubuh, itu lebih baik daripada dunia seisinya”. Dan belum lagi, pernah juga
aku mengikuti pengajian, jika ada seseorang yang sholat shubuh berjamaa’ah
kemudian berdzikir hingga terbitnya matahari ia tak beranjak dari tempatnya,
dan dilanjut dengan dua rokaat dhuha, maka itu ganjaranya sama dengan umroh dan haji secara sempurna”. Mungkin itu alasan mereka
yang tua-tua dengan segenap jiwa dan raga mendatangi mesjid. Atau mereka tidak
tahu itu, karena dengan dalih bahwa tua itu biasanya orang mulai sadar akan siapa
dirinya, mulai ‘enggan’ dengan dunia. Iya, hanya sebagian. Entah itu kecil atau
besar. Yang jelas Ia mulai terus menerus memikirkan bekalnya untuk di akhirat
kelak. Aku tak tahu pastinya, dan mungkin aku juga tak pantas
mempertanyakannya. Aku ulangi, aku ketika itu bisa shubuh di mesjid tak lain
karena Tuhan. Bukan karena diriku sendiri. Dan ku akui, bukan kemauanku
sendiri, tapi aku terpaksa. Bagaimanapun terpaksa itu perlu. Namun tak melulu
harus memaksa, karena suatu yang di paksa lama-lama akan menjadi terbiasa, dan
terus akan menjadi kebiaasaan, kebiasaan yang luar bisa. Akhirnya bisa
menjalankan kebiasaan yang luar biasa. Ah, masak? Masak sesuatu kebiasaan yang
sudah biasa di biasakan menjadi hal yang luar biasa? Bukannya hal yang luar
biasa itu adalah hal yang jarang dibiasakan? Tuh
kan, aku nyombong lagi;tapi maaf, aku
akan masih meneruskan kesombonganku.
Sampai, orang Yahudi membuat tolok ukur kebangkitan
umat islam. Yakni mengukurnya dengan : “Jika jama’ah sholat shubuh sudah sebanyak
jama’ah sholat jum’at, itulah badai kebangkitan umat islam”. Memang waktu
shubuh, adalah waktu yang sangat enak, sangat nyaman untuk tidur kemudian
berjalan-jalan atau mungkin terbang dalam mimpi-mimpi yang panjang.
Aku terus mengulang-ulang kegiatanku sehari-hari
yang sangat tak produktif ini. Aku kadang merasa menjelma bukan diriku. Atau memang
seperti ini lah diriku? Ada semacam obat bius atau semacam obat penenang yang
masuk ke otak ku, dan butuh mesiu untuk melawan itu. Agar meledak tentu.
Haruki murakami pun pernah memaksa dirinya ketika ia
berlari maraton untuk menempuh jarak 100 km dalam satu hari. Kala itu ia
mengisahkan; Ia merasa kakinya tak lagi bisa mengayunkan langkah, otot-ototnya
hampir putus, baut-baut mulai kendor mau lepas. Namun keinginan, atau lebih
tepatnya kebutuhan dirinya yang begitu besar membuat semua organ tubuhnya bisa
di ajak bekerja sama. Karena pikiran itu di pengaruhi gerak tubuh, atau gerak
tubuh yang di pengaruhi pikiran atau memang dua-duanya satu kesatuan yang tak bisa
di pisahkan satu sama lain? Namun semakin ia memaksa untuk melangkah,
seakan-akan tubuhnya menjerit, marah-marah, memaki-makinya dan jika orang-orang
mendengar mungkin kaki dan otot-otot itu sudah tak ingin berlari lagi. Ia pun
kemudian merayu kaki dan tubuhnya untuk bisa di ajak kerja sama, ia merayu-rayu
nya. Ia membujuknya agar tubuhnya mau terus untuk bergerak. Persis Georges Danton atau Robespierre yang
terus menerus coba membujuk peserta sidang Revolusi Perancis yang mendidih itu.
Itu pun tak berhasil juga rupanya. Karena ia juga tahu, bahwa Danton dan
Robespieree berakhir dengan kepala di penggal.
Sampai akhirnya ia menemukan kalimat yang muncul
saat ia tertatih-tatih terus melangkahkan kakinya yang mau copot itu. Ia bilang;
“Aku bukan manusia. Aku hanyalah sebuah mesin,
aku tak perlu merasakn apapun. Maju terus saja”. kalimat itu ia ucapkan
dengan mantap di dalam otaknya yang kemudian menancap ke hatinya barangkali,
yang sewaktu-waktu ia dengan lihai seperti dokter spesialis bedah langsung bisa
mencabutnya dan lalu mengalir, meyebar keseluruh tubuh termasuk kaki yang
akhirnya ia bisa berlari juga hingga pita finish.
Jujur, aku tak terlalu paham apa yang coba ingin di
sampaikan oleh novelis asal jepang ini dalam bukunya What I Talk, When I Talk About, Running. Untuk ukuran Bocah yang
seumur jagung seperti aku ini, tak bisa muluk-muluk mencoba memahami
lebih-lebih menerangkan kalimat itu, meski dengan memeras otak hingga mengkerut.
Masih sangat terlalu tolol diriku. Tak cukup terampil untuk mengolah kata-kata.
Yang terjadi hanyalah Chaos nantinya.
Namun walau bagaimanapun aku mencoba memahami
sebisaku. Tentu dengan versi pemahaman ku sendiri. Jika Salah? Itu kemungkinan
yang besar terjadi. Tapi jika betul? Itu tak lain kebetulan semata. Yang tentu
milik Tuhan. (Haha. . . omongaku dari
tadi terkesan sok agamis ya? bawa-bawa hadist, petitah ustadz, bahkan sering
kali meminjam nama Tuhan)
Maksudnya; kadang seseorang harus benar-benar
memahami bahwa ia ‘tidak ada’. Ia ‘ada’ karena di adakan oleh Sang Maha Ada. Dari
tiada akan kembali ke tiada. Karena hawa nafsu dan iming-iming gemerlap dunia
membuat manusia lupa akan kehambaannya. Lakukanlah untuk sesuatu yang membuatmu
hidup, membuatmu benar-benar ada dari ketiadaanmu sebelum mati nantinya. Ia seperti
mesin yang mati-matian mengolah sesuatu demi produk yang ia inginkan. Yang nantinya
jika rusak, tinggal lempar ke bengkel. Jika tak bisa di perbaiki, tinggal kilo
kan saja di tukang rongsok. Ini memang terkesan metafisis dan acak-acak an. Memang
begitu barangkali, atau aku yang tak paham? Iya, aku nampakya yang tak paham. Kadang
terkesan juga egois, karena aku juga menafsirkan kalimat itu adalah kalimat
yang egois, sekaligus konsisten. Egoisnya ia tidak mempedulikan apapun saat
ingin menyelesaikan maratonnya, bahkan dirinya sendiri memang sudah di tiadakan
oleh hadirnya; eksistensi ‘aku’. Konsistennya; sebelum ia berlari di maraton Amerika
ini, ia jauh-jauh datang dari Jepang dan datang tak lain hanya untuk berlari,
bukan jalan apalagi berhenti. Jadi jika ia berhenti atau sekedar berjalan, ia
telah mengingkari janji yang telah di buatnya sendiri. Jika ia telah
mengingkari satu janji, itu berarti ia akan dengan sangat mudah mengingkari
janji-janji lainnya yang lebih banyak lagi, yang lebih besar lagi. Kemudian
bagaimana nanti dengan janji kepada orang lain, jika janji terhadap dirinya
sendiri di remehkan? Dan menang dalam
maraton adalah tak lain hanya bonus, ada yang lebih penting dari itu. Walaupun ia
nampaknya juga mendapat angka besar dalam maraton. Ia tak mempedulikan itu. Ia saat itu hanya memikirkan, lari, lari dan
terus lari untuk menyelesaikan maraton dengan waktu yang telah di tergetkannya
sendiri. Ia baru mendapati jarak maraton yang kala itu masih 20 KM, di ubahnya
dengan memandang dunia hanyalah sejauh 3 meter ke depan. Apalagi hanya rute
larinya? Mungkin hanya beberapa cm saja.
Kalau aku boleh mengatakannya; ia tak butuh lagi
surga. Ia adalah orang yang terus berjuang hingga akhir, tanpa menuntut hasil
akhir. Meski, mungkin anda juga menganngap ia adalah orang yang terkesan; suka mati-matian mengejar
sesuatu yang tak bisa di bawa mati. Memang nampaknya remeh temeh sih, kata-kata
yang basi. Namun begitulah cara untuk terus hidup sebagai manusia. Ah Salah. Sebagai
mesin maksudnya.
Ada baiknya, jika aku menerapkan cara pandang
seperti itu. Namun tidak melulu seperti itu. Hanya di saat-saat yang
benar-benar di butuhkan, yang benar-benar ketika hidup ini mulai hambar.
Aku harus menjadi mesin! Ah, Tidak.
Menjadi Manusia mesin. Bukan juga!
Manusia yang seperti mesin. Ya, itu maksudnya!
Menjadi Manusia mesin. Bukan juga!
Manusia yang seperti mesin. Ya, itu maksudnya!
Tentu untuk saat yang seperti ini, saat aku harus
berkejar-kejaran dengan dosen pembimbing dan harus lebih banyak menghabiskan
waktu di perpustakaan yang sepi sekaligus membuatku ngantuk dan para pustakawan yang berwajah dingin legam itu.
Atau, aku harus seperti peserta sidang Revolusi
Perancis yang berkecamuk dahsyat itu? Yang mendidih karena marah dan tampaknya
sudah menyerah untuk mengeluh itu?
Ah, tidak. itu berlebihan.
Aku cukup tak terima dengan diriku yang tak bisa menjadi diriku sendiri. Itu saja! cukup!
Ah, tidak. itu berlebihan.
Aku cukup tak terima dengan diriku yang tak bisa menjadi diriku sendiri. Itu saja! cukup!
Malang,
17 September 2016
Ab. Mufid

Tidak ada komentar:
Posting Komentar