Kemana Perginya si Ugi?
![]() |
| Sumber: Doc. Pribadi |
“Berkata, Mengungkapkan, menyindir, mengamati
apapun, atau mengkritik bukan lain ia masuk dalam cakupan Hak. Tak ada yang
berhak untuk melarang siapapun berkata, bahkan jika ia tak mau berkatapun itu
adalah haknya”. Ucap Ugi dengan Mantap kepada teman-temannya.
Iya, mereka semua itu adalah Hak? Entahlah sampai
saat ini, ia belum atau tidak tahu pasti dari mana dan apa itu: Hak? Namun, ia
tahu; “Bahwa Mutiara berharga itu bukan karena manusia menyelam mencarinya;
manusia mencarinya, karena ia sangat berharga”. Kali ini ia meminjam kalimat
seorang sejarawan: Jacsques Barzun. Entah ada hubungannya apa tidak dengan;
Hak? Ah, Lagi-lagi harus kembali pada definisinya sendiri. Tak ada seorangpun
yang mampu untuk melarangnya.
Ada yang bilang: Jangan terlalu banyak memikirkan
Hak,
tapi pikir dan kerjakanlah kewajibanmu, maka otomatis Hak kamu akan kamu
dapat. Atau di balik? (. . .?)
___
Baru
seminggu terakhir ini di setiap kelas mereka di pasang kamera CCTV yang di pasang menempel di plafon bagian depan kelas.
Ini untuk memantau keamanan, karena beberapa bulan yang lalu sering terjadi
pencurian, dari hilangnya taplak meja dosen, spidol, Penghapus sampai Proyektor
dan termasuk barang-barang di lab komputer.
____
Jarak si cowok menunggu dari toilet tidak jauh,
hanya sekitar 20 meter an.
Belum lagi si cewe sampai menghampiri si cowok, si
cowok menyambut nya dengan senyum tipis. Namun, jarak 20 meter an itu seperti
menjadi moment yang tak mau di lewatkan oleh sang cowok.
___
Kamu bisa melakukan hak kamu, tapi nanti kamu
nanti akan mendapatkan kewajibanmu. Sedangkan Gus Dur juga pernah berkata: “Bahwa
orang yang sedikit-dikit menuntut hak itu adalah indikasi orang yang pamrih dan
pelit”.
Dan Hak adalah sesuatu yang langsung di berikan
oleh Tuhan semenjak ia lahir, bahkan sebelum lahir.
___
Pada suatu Senja, ketika Ugi duduk di bangku depan
kelas, dekat parkiran di kampus. Ugi duduk sendirian, seusai jam perkuliahan
rampung, ia menikmati suasana sore di kampus yang semakin syahdu, senyap karena
para mahasiswa satu persatu mengambil motornya untuk kemudian pulang ke
rumahnya, atau barangkali pulang ke kost mereka masing-masing.
Ada yang pulang sendirian; Berjalan atau sekedar
mencari tumpangan untuk pulang daripada harus naik mikrolet. Ada Banyak
mahasiswa yang pulang berboncengan dengan teman satu kostnya. Dan tak sedikit
juga mereka pulang berboncengan dengan teman lawan jenis. Seketika jalanan
macet. Karena ribuan mahasiswa dengan para pekerja yang berlalu lalang, penuh
sesak tumpah di jalan raya yang tak seberapa lebar itu, serta hiasan bunga
trotoar berjajar agak berantakan di sepanjang jalan. Belum lagi di tambah
mahasiswa dari kampus-kampus lain.
___
“Namun kayaknya kalau seperti itu, mereka tidak
teman deh. Pacar barangkali. Atau gebetan mungkin”. Guman Ugi kepada dirinya
sendiri, nyaris tak terdengar.
Iya bisa jadi seperti itu. Dan sah-sah saja, dimana
tempat orang-orang di gembleng agar katanya bisa menjadi Agent Of Change ini, pasutri bisa kuliah, bahkan dalam keadaan
bunting. Iya bisa jadi juga, mereka adalah pasutri. Atau simpanan, tak ada yang
tahu. Toh jika memang iya, tak ada yang melarangnya disana.
___
Selain karena ia tak bisa bawa motor, ia memang
tak suka memakai motor. Ia kerap mengecam orang-orang yang tidak mau
menggunakan kakinya untuk jalan, sebagaimana burung harus terbang dengan
sayapnya. Ia memaki mereka yang berjalan, namun jalannya tak lain seperti
burung yang terbang menggunakan baling-baling bambu milik doraemon. Bahkan ia
pernah mengucapkan: “. . .sampai kapanpun, aku kutuk kaum-kaum Kapitalis itu”.
Tapi kembali, itu (ucapan pedas si Ugi) sangat jarang terjadi. Ia berperawakan
kecil, dekil dan semrawutan. Jarang mandi dan gosok gigi, beberapa sisa makanan
kadang menempel hingga kekuning-kuningan di gigi-ginya yang berantakan itu,
ketika ia bicara atau apalagi ia tertawa. Uh, iblis pun terasa jijik melihatnya.
Makanya, selain tak suka menggunkan motor jika (selama
ia masih bisa berjalan), juga tak ada satu pun teman yang menawarinya atau mau
untuk memboncengkannya pulang. Jangankan memboncengkan, Untuk menyapanya saja,
teman-temanya enggan. Di kelas ia sering duduk di paling belakang, pojok. Dan
kerapkali tidur, dan di suruh dosen untuk keluar. Suka berbicara sendiri, nggak
jelas. Ia mungkin lebih cocok turun kejalan, dan menjadi tukang parkir atau
supeltas. Atau di pasung di dalam ruang bawah tanah yang gelap nan pengap.
Tak jarang pula di caci maki, sering di kucilkan
dan di ejek karena kedunguan dan kedekilan-nya serta keganjilannya itu. Di
saat-saat tertentu, kadang ia menggeram seperti babi hutan yang hendak
mengawini betinanya. Bahkan orang gila
di seberang jalan sana ikut menanyakan:
bagaimana ceritanya anak yang lebih tepat di sebut idiot gitu kok bisa masuk
perguruan tinggi negeri? (mungkin ia anak Bupati, atau anak orang kaya, atau
semacam mafia?). Jadi, akan terasa sayang, jika anak seperti itu tidak di
terima atau di keluarkan atau sampai di DO dari kampus, walaupun kemampuan dan
nilai mata kuliahnya jauh di bawah rata-rata. Dan ini yang menjadikan ia
misterius, aneh, membikin tak percaya dan sekaligus mengundang decak kagum. Di
saat tertentu, Ia tiba-tiba bisa ber-argumen dengan begitu lihai, berdansa
dalam ber-retorika, membantah dan menyanggah semua pernyataan teman-temannya
kalau sedang presentasi di kelas. Namun ini sangat langka, sangat jarang
terjadi. Tak ada satupun temannya yang tahu kapan si Ugi akan menjelma yang seakan-akan
kerasukan hantu Gentayangan itu. Bahkan dirinya sendiri juga tak pernah tahu
kapan akan kerasukan seperti itu.
Mungkin ia benar-benar kerasukan hantu yang di
ceritakan dalam kitabnya kaum komunis. Dalam buku Manifesto Komunis kala itu tahun
1847, F. Engels dan Karl Marx menulis begini: ”Ada hantu berkeliaran di Eropa,
hantu komunisme”. Namun sekarang kayaknya hantu itu sudah mengitari, menjelajah,
menyebar ke seluruh dunia. Termasuk yang merasuki si Ugi ini (barangkali).
___
Karena mereka yang lawan jenis
seketika keluar dari kelasnya, memilih keluar paling belakang dan berjalan
begitu pelan, mengirit langkah mereka. Seperti hendak, tak mau untuk cepat-cepat sampai dimana
motornya di parkir. Dan tak jarang, biasanya sebelum pulang para cewek minta izin
sebentar untuk ke toilet. Ugi yakin, ia
ke toilet bukan untuk pup atau sekedar pipis. Bukannya membuka resleting atau
menyisingkan roknya kemudian jongkok, jika benar ia ingin pipis. Tidak.
Kerapkali para cewek itu yang mulanya masuk toilet dengan wajah yang lusuh
karena harus banyak mengunyah santapan dari dosen, tapi kemudian keluar dengan
wajah yang menawan, seperti biduan yang keluar dari kamar rias dan seperti
hendak tampil di pangung saweran. Apa tadi ia mandi di dalam toilet?
___
Mereka membuka tasnya dan di dalam tas ada kotak
khusus. Bukan, ini bukan kotak pensil, tapi kotak make up. Ketika si cewek berparas di toilet, sang cowok menunggu,
dengan tetap diam berdiri dimana tadi si cewek meminta izin. Sesekali ia
keluarkan Android untuk mengusir kesendiriannya. Setelah 6-9 menit menunggu, si
cewek keluar dengan wajah yang tak lagi lusuh atau resam. Ia berjalan dengan
setengah berlari menghampiri si cowok, dengan menggunakan sepatu high heels. Persis seperti apa yang Ugi
sebut tadi.
___
Ketika melihat cewek setengah berlari dengan
sepatu high heell-nya dan celana
serta bajunya yang khas anak-anak kulihan (Ketat) membuat seperti ada yang
berguncang-guncang, ke atas ke bawah seperti ada gembolan yang hendak jatuh dari
dada si cewe. Iya, ia tersenyum namun mata si cowok tidak melihat mata si cewek,
sebagaimana senyum pada umumnya. Tapi
memelototi dua tonjolan di dada itu. Si cewek tak menghiraukan itu. Ia seperti
tak tahu kalau si cowok sedang memikirkan dada-nya. Atau barangkali, itu yang
menjadi maunya si cewek? Si cewek kini telah berdiri tepat di samping si cowok.
Dan senyum sang cowok semakin lebar. Mereka
kembali berjalan menuju di tempat,
dimana motor si cowok di parkir.
___
Pernah suatu kali si Asno dan si Uci ini pulang
kuliah di waktu matahari mulai tergelincir dan bersarang di tempatnya.
Kebetulan jadwal hari itu full, sangat padat. Seperti mahasiswa yang lainnya, seperti ada
janjian, padahal tidak. Setelah dosen
berdiri dari kursi, lalu berjalan terus melewati pintu dan kemudian di susul
oleh mahasiswa lainnya meninggalkan kelas, mereka tidak/belum ikut keluar.
Mereka sengaja membereskan buku-bukunya dengan lambat, agar bisa pulang paling
akhir. Atau mungkin mereka langsung ingin kerja kelompok. Karena tugas-tugas
dari dosen harus cepat-cepat di kumpukan esok, pagi hari.
Yang jelas, Kini kelas sudah kosong, tinggal si
Asno dan si Uci serta beberapa puluh kursi yang berantakan. Si Asno telah selesai
merapikan buku-bukunya kedalam tas dan berdiri meneteng tas ranselnya dan menghampiri si Uci yang belum selesai berkemas.
Pulpen si Uci jatuh dari meja, dan ia hendak mengambilnya. Namun sebelum ia
mengambilnya si Asno terlebih dahulu dengan sigap menyambar pulpennya, tanpa
kata-kata ia memberikannya kepada si Uci, namun tak memasukkan nya dalam
tasnya. Ia memainkan pulpennya, memutar-mutarkannya di antara jemari lentik berkuku
agak panjang yang di cat merah itu. Tak ada ucapan terimakasih. Si Uci hanya
membalasnya dengan senyum.
___
Memang di saat berdua, mereka jarang sekali
berbicara dengan kata-kata. Mungkin mereka sudah saling mengerti antara satu
dengan yang lain, semacam ada telepati atau ikatan batin barangkali. Dan juga
telah teramat banyak kata-kata yang mereka ketik-kan di android masing-masing,
saling berkirim pesan yang kadang hingga sepertiga malam terakhir baru
menyudahi chating nya. Di samping
itu, si Asno ini pernah mendengarkan meme-meme di internet, dari Iwan Fals:
“Jika kata-kata tak lagi bermakna, lebih baik diam saja!”. Mungkin itu alasan
Asno tak berkata-kata. Dan si Uci sendiri
pernah membaca penggalan puisi dari W.S Rendra: “Perjuangan adalah pelaksanan
kata-kata”. Sangat pas, paham mereka. Asno dan Uci, hanya sesekali menolah
noleh di sekitar kelas, pandanganya tajam, waspada menyapu sekitar kelas,
seperti sedang mencari atau mengawasi, memantau sesuatu. Entahlah, apa yang
mereka pantau, apa yang mereka awasi, apa yang mereka waspadai?
___
Benar saja, kali ini tangan Si Asno yang memulai untuk berbicara, tangan si Asno dengan perlahan
menyentuh pundak si Uci yang masih duduk di kursinya. Si Uci nampak begitu
tenang, dan tak ada tanda-tanda merasa terganggu. Lorong-lorong kelas nampak sepi,
nampak sunyi. Hanya debu, dan beberapa putung rokok yang berhamburan. Deru
mesin motor para mahasiswa terdengar lalu lalang meninggalkan parkiran. Hanya
angin yang menyapu debu-debu, putung rokok serta lembaran makalah presentasi yang
tercecer atau sengaja di buang di depan kelas oleh para mahasiswa.
___
Si angin seperti ingin mengetahui apa yang sedang
mereka bicarakan dengan bahasa yang tanpa kata-kata itu. Walau bagaimana pun,
suasana di kelas pada satu senja yang agak mendung itu seperti telah membawa
mereka berdua ke pinggiran danau toba, atau bisa jadi di pulau samosir-nya yang
indah namun terpencil. Mereka menganggap yang semakin terpencil, semakin sepi
itu akan semakin indah. Angin berhembus, berlari mengitari gedung-gedung kampus
lantai berlantai 7 itu. Hingga terdengar suara menderu, bergemuruh, dan
ranting-ranting pohon menari-nari kian kemari. Si Asno mulai berbicara lagi,
karena melihat si Uci masih diam tak
berbicara sepatahpun. Tangan kanan si Asno bergerak merambat menghampiri
jemari si Uci yang masih memegang
pulpen. Lantai yang mereka tempati ini adalah lantai 3. Dan pulpen kembali
jatuh, namun Asno tak mau mengambilkannya lagi. Ternyata karena si Uci sedang
menyahut kata yang di lontarkan si Asno dengan tangannya itu. Kini tangan
mereka saling menggenggam erat satu sama lain, semakin erat.
Mengetahui, si Uci sudah ikut bicara, si Asno
tersenyum kecil. Tangan kiri si Asno tak mau diam, ia ikut angkat bicara
seperti apa yang dikatakan tangan kanan. Si Uci pun menyambutnya. Si Uci menegakkan
posisi duduknya, dengan sendirinya si Asno pun semakin mendekatkan posisinya di
belakang si Uci. Tangan mereka semakin erat, begitu erat. Dan sandaran kursi
yang setinggi pusar dari si Asno berdiri, membuatnya sedikit tak nyaman. Ia
menjinjit setingi-tingginya. Ia melihat kebawah di mana si Uci duduk. Ia
melihat rambut si Uci yang terurai hitam berkilau, indah jatuh lurus di
punggung dan sebagian lagi rambutnya berjatuhan di bagian depan, didada. Lantas
bagian depan di rapikan sengaja untuk dijadikan poni. Seperti layaknya gaya
rambut cewe sekarang. Si Asno terus melayangkan pandang di rambut si Uci yang
begitu indah, lembut nan wangi. Ia melepaskan jinjitannya, dan kali ini ia
sedikit merunduk mendekatkan hidungnya ke rambut si Uci. Ia ingin merasakan wanginya
lebih dekat lagi. Dan tiba-tiba kedua tangan
si Uci mengangkat tangan si Asno kemudian melepaskannya.
“Ah, Sial!”. Maki Asno dalam hati.
___
Ia benar-benar di kucilkan, dan juga cara
berjalannya yang mirip zombie itu, membuat teman-temannya semakin menjaga
jarak, membentang jarak kian jauh.
Namun, seperti yang di katakan Oscar Wilde: “Siapa yang sering di ejek, ia yang
mengetahui segala sesuatu dan nilainya”.
Dan terutama hal yang seperti ini, yang menjadi
perhatian khusus bagi Ugi.
___
Salah,
ternyata Si Uci perlahan meletakkan tangan Asno di dadanya. Dan si Asno, senyum
seketika. Senyum yang sangat menjijikkan sebetulnya. Tak mau kehilangan
sedetikpun waktu yang terus mengejar mereka, Si Asno dengan lembut
mengusap-ngusapnya, berputar-putar, ia merasakan ada yang mengganjal di telapak
tanganya. Semacam kain tebal, atau mungkin lebih tepatnya semacam spon tipis,
yang halus. Ada sesutau yang semakin mengencang, membesar. Kali ini si Uci, di
paksa berbicara dengan kata-kata. Ia mengelurakan suara desahan yang pelan,
nyaris tak terdengar, seperti berbisik. Si Asno pun menyadari, ada yang tumbuh,
membesar, pelan-pelan menggeliat dan terasa mengeras di bagian selangkangannya
dan merasakan seperti ada bulu yang ditarik dari akarnya, di sana. Ia tak menghiraukan,
ia membuka satu kancing baju si Uci
paling atas, kemudian satu lagi, dan satu lagi. Dan kali ini ia melihat suatu
yang menyembul, di elus-elusnya lagi, semakin padat dan mengencang di balik
spon warna hitam yang di hias dengan jahitan motif bunga di tengah-tengahnya
pada tiap-tiap bukitnya. Seperti bunga yang sedang mekar di puncak bukit. Si
Asno ingin menggapainya, ia ingin mengambil kemudian menciumi bunga di bukit
itu, atau kalau perlu menjilatinya hingga wanginya habis. Ia masukkan jemarinya
di balik spon hitam pelan-pelan, ia meremas-remas nya. Sontak tangan si Uci mencengkram kuat pada
lengan si Asno. Si Uci merasa terbang,
ia melayang. Sesekali merapatkan paha satu dengan paha lainnya. Seperti orang
yang kebelet kencing. Ia menahan sesuatu yang tak bisa di bendungnya lagi
merembes sedikit demi sedikit keluar dari pangkal diantara paha. Ah, Becek!
___
Di luar sana angin semakin riuh bergemuruh, kilat
menyambar-nyambar. Nampaknya sebentar lagi hujan. Dan angin datang lagi masuk
kelorong-lorong kelas menyapu debu-debu dan sobekan kertas yang terkapar itu.
Tak hanya ke lorong kali ini, ia memasuki kelas di mana si Asno dan si Uci
sedang intens berkata-kata. Hingga membuat rok setinggi lutut yang dikenakan si
Uci sedikit tersingkap. Dan Lagi, dari luar sana angin yang lebih kencang masuk
dengan hembusan, oh bukan, mungkin lebih tepatnya tiupan. Iya tiupan yang lebih
kencang lagi, dan rok si Uci kini tersibak. Pahanya yang putih, lembut dengan
bulu-bulu lentik yang agak lebat benar-benar nampak dengan jelas, dan itu mengundang tangan si Asno agar datang kesana.
Oh . . .tidak! barangkali cicak didinding pun yang belum makan dua hari rela
mati kelaparan untuk bermalas-malasan tak mencari makan demi melihat paha
semulus itu. Atau barangkali, kambing pun jika tahu, ia akan berhenti mengunyah
rumput. Ia akan menjadi karnivora. Bukan untuk mengunyah paha perempuan itu
dengan giginya, namun ia akan menggunakan lidahnya yang kasar dan panjang itu
untuk menjilati paha si jelita itu sampai ia merasa lidahnya kelu dan kehabisan
air liurnya.
Namun,
semua kalah cepat. Kali ini adalah jatah si Asno. Dengan cepat, ia mengarahkan
tanganya di atas paha yang kenyal itu. Ia membelah paha yang terkatup rapat itu
dengan jemarinya. Untuk kesekian kali, jemarinya mengelus-elus daging muda yang
membuatnya makin beringas itu.
Tapi, ia adalah seorang aktivis di sebuah
organisasi kampus, ia terbiasa mengerahkan teman-temannya untuk melakukan tugas
demi tercapainya visi organisasi. Begitupun sekarang, otaknya dengan cepat me-manage tugas kepada kedua tangannya.
Setelah paha si Uci terbuka, ia menarik tangan
kirinya ke tempat sebelumnya, sedangkan tangan kananya terus mengelus elus,
merambat hingga ke pangkal di antara kedua paha. Dan memasukkan jemarinya satu
persatu ke dalam kain tipis, dan ia menemukan bulu-bulu yang agak tajam yang
tumbuh jarang-jarang. Nampaknya belum lama di cukur.
___
Memang mereka berdua ini pernah mendapatkan mata
kuliah tentang kesehatan. Bahwa yang baik adalah mencukur bulu-bulu itu
maksimal 40 hari, sudah harus di cukur. Kalau tidak, itu nanti malah menjadi
sarang bakteri. Termasuk bulu di sekitar daerah sana itu. Si Uci, mungkin rajin
mencukur bulu j*mbutnya, serajin ia mencukur bulu ketiaknya. Tidak dengan si Asno
yang membiarkan bulu-bulunya gondrong, tebal, tumbuh disana sini. Itu terlihat
dari kumis dan jenggotnya yang begitu rimbun. Mungkin saja yang di sana, persis
seperti ular sowo yang berambut gondrong yang sewaktu-waktu menyemburkan bisa-nya.
Jari-jarinya merasakan ada lipatan daging kecil yang sedikit menyembul lembut,
yang sekaligus becek.
___
Mereka mengenang juga semua perkakas yang ada di
dalam kelas di senja yang mulai kelam itu. Hingga Akhirnya, , , mereka teringat
satu barang yang membuatnya seperti tak ingin hidup lagi.
___
Ia
memainkan jarinya-jarinya dengan lincah,
berjalan memutar-mutar di pinggir-pinggir lipatan daging itu. Dan jari
tengahnya menemukan lubang kecil di tengah lipatan itu, dan ia pun memasukkan
nya. Ah, Terasa semakin becek, dan
lama-lama terasa licin dan juga sedikit lengket. Si Uci nggak kuat. Ia nggak kuat
menahannya lagi. Nafasnya semakin besar, dan begitu berat, dan antara sebentar
ketika jari si Asno semakin masuk kedalam, ia meronta dan mendesah. Ahhh. . .
ia mendongak, setengah memejamkan matanya dan menatap ke langit-langit kelas.
Kini tak hanya memek, paha, dan dada. Wajahnya yang nampak seperti artis korea
itu tepat di bawah mukanya, hanya berjarak satu jengkal. Melihat itu, si Asno
dengan cepat lebih menundukkan kepalanya, ia memasukkan lidahnya, melumat-lumat dan menggigit
bibir bagian bawah si Uci dengan lembut, menariknya, melepaskan, dan
menggigitnya kembali. Dan lidahnya menjulur-julur, terus membasahi bibir,
melumatnya hingga habis. Dan kemudian merambat ke leher dan kembali lagi ke
bibir yang telah basah, merona seperti mawar atau gerbera. Tangan kirinya
semakin keras meremas. Jari tengahnya semakin masuk kedalam, semakin dalam.
Kini ia benar-benar me-manage ke dua
tangan serta bibir dan lidahnya. Namun, Ia merasa masih ada yang kurang. Untuk kedua kalinya ia
menjinjitkan kaki setinggi-tingginya. Dan menyodok-nyodok kan yang mengganjal
di antara selakangan tadi dengan cepat ke bagian tubuh atau apapun saja bagian
dari tubuh si Uci, sekenanya. Si Uci, semakin menggeram ketika merasakan ada yang mengganjal dan menyodok-nyodok kan
sesuatu yang keras, seperti pisang, timun atau semacam . . . dari belakang
tepat di punggung bagian atas sebelah
kanan.
___
Sodokan itu seperti tepukan atau sentuhan
seseorang yang sedang memanggilnya. Hanya saja, ini agak keras, dan tentu
membuat birahi, semakin menggairahkan. Dan akhirnya ia membuka mata dan menoleh
ke belakang menjawab panggilan itu, yang sebelumnya dengan mesra melepaskan
gigitan bibirnya dengan si Asno. Di sana ia melihat sesuatu yang menggelembung
di balik celana jeans si Asno. Ia melirik sebentar mata si Asno, sebelum
akhirnya dengan susah payah membuka kancing celana dan resleting, karena
posisinya. Tanpa di minta, Asno sejenak mencabut jarinya dari lubang kecil yang
becek itu. Dan menggeser posisi tubuhnya
ke samping kanan si Uci. Dan sesekali dengan mata yang tajam dan cepat
bergerak, serta sedikit gugup ke sana kemari melihat situasi, karena ia juga
sadar, sebentar lagi para petugas kebersihan dan penjaga kampus akan datang. Si Uci semakin jelas melihat sesuatu yang
keras, lurus menjulang ke atas di balik celana dalam biru itu. Dan sedikit
terlihat bercak-bercak air yang tembus dari dalamnya. Si Asno juga sudah
sedikit basah rupanya. Ia menyingkap bajunya ke atas, setinggi dada dan
menjepit ujungnya dengan dagu. Dengan posisi seperti itu, ia melirik ke arah
jam tangan yang di kenakan di tangan kirinya yang sedang memegang lembut kepala
si Uci, dan sesekali ia menelan ludahnya, tak sabaran. Karena jika dibiarkan
bisa menetes, ngiler. Si Uci mengerti maksudnya. Segera tangannya memegang tiap
pangkal-pangkal celana biru itu yang nampak serabut-serabut hitam yang mencuat
berantakan, sedangkan lidahnya menjulur-julur, menicummi di bagian yang
terlihat menonjol itu. Uh, , , Burung itu membesar, semakin besar, terus menggeliat,
meronta ingin keluar. Melihat ini, si Uci tersenyum sebentar, dan kembali
lidahnya bekerja. Kini nafas mereka
saling berpacu, berkejaran. Gantian si Asno,
yang serasa terbang. Ia mendesah. Dan tak sabar. Akhirnya menuntun tangan si
Uci untuk lekas membuka celananya. Oh, , ,! Di balik celana itu si Uci melihat
bulu yang begitu lebat, hitam, agak keriting dan berantakan. Bahkan sebagian
rontok menempel di kepala si burung dan celana dalam biru itu. Mungkin sudah satu
semester belum di cukur. Dan sesuatu yang begitu keras, hitam, dengan akar-akar
kecil hijau (pembuluh darah) hampir sebesar timun yang biasanya ia beli di
warung lalapan, menodong tepat ke mulutnya, di wajahnya.
Bentuknya Persis rudal tentara, yang kokang siap
melumpuhkan targetnya. Siap menembak kapan saja. Mungkin ini miniaturnya.
Ia sedikit merasa kaku, takut dan sekaligus senang
karena baru kali pertama ini ia melihat:
Rudal di dunia nyata. Dengan pelan ia memegangnya, kemudian menggenggamnya
dengan sebelah tangan, ternyata tanganya yang lebih sering di buat memainkan
pulpen itu tak sanggup menggengggam penuh si Rudal, terlalu kecil tangannya
untuk ukuran Rudal sebesar itu. Lalu dengan cepat tangan satunya membantu
menggenggam miniatur rudal hitam itu. Ketika sudah begitu, ia bingung harus
ngapain. Ia hanya menggenggamnya, karena ia takut dan mungkin juga bingung
harus mengapakannya. Iya, mengaguminya. Mungkin
ini kalipertama ia berhadapan dengan hal seperti ini.
Sedangkan si Asno sudah benar-benar tak tahan. Ia
merasakan ada sesuatu yang hendak keluar dari si Ular, dari Rudalnya, ia tak
sabar, sudah tak kuat lagi, ia seperti ingin meledak. Ia kembali
menyodok-nyodok-an burungnya. Namun belum sampai ia menyodokkannya, ,
,Cruuutttt?!!!.
Ia basah, si Ular tak tahan lagi, ia memuntahkan
bisa nya. Si Uci yang dari tadi hanya diam menggenggam mengagumi, tak sempat
untuk menghindar atau menangkis serangan itu. Dan kini wajah jelita Si Uci,
penuh dengan bisa di sana sini. Ia memejamkan mata erat-erat dan perlahan melepaskan
genggamannya pada rudal yang tiba-tiba mengecil menyusut itu lalu membuka tas
dan mengambil tisu, dan segera membersihkan muka-nya. Satu tisu tak cukup. Bisa
yang di semburkan si ular benar-benar banyak, hingga sebagian masuk ke mata dan
hidungnya. Untung tadi ia hanya tersenyum ketika melihat si ular gondrong, dan
tentu mulutnya masih tertutup. Kalau saja tadi ia tertawa, tentu tak luput dari
semburan bisa si ular. Ia mengambil tisu lagi. dan membersihkannya lagi. Sedangkan
dengan sigap pula, si Asno memasang celananya, dan lantas menjatuhkan diri di
bangku sebelah si Uci.
___
“AKu ke Toilet dulu ya”. Ucap si Uci sembari memasang
kancing bajunya, kemudian ia berjalan meninggalkan kelas dan membawa tasnya. Si
Asno hanya mengangguk, dan melayangkan pandang ke punggung Uci yang semakin
jauh dan akhirnya menghilang menuruni tangga dengan nafas seperti orang yang
habis maraton. Ia lemas, begitu juga si Ular. Tak lama setelah itu, terdengar
suara derap sepatu mendekat ke arahnya. “Ah itu, si Uci sudah balik akhirnya”.
Pikirnya dengan tubuh yang tak berdaya, seperti kaus yang di geletakkan di kursi.
Langkah itu semakin dekat, semakin dekat. Ah, Sial. Ternyata itu pak Tarki,
petugas keamanan kampus yang hendak mengunci pintu kelas. Ia tergeragap, membenarkan
posisi duduknya, agar tak di curigai ia segera mengeluarkan Andorid, yang ia
taruh di saku belakang celana jeansya. “Lhoh? Belum pulang mas?”. Tanya pak
Tarki “Iya pak, tadi ada urusan sebentar, kerja kelompok”. Ia segera bangun dan
dengan segala tenaga yang tersisa memaksa tubuhnya untuk segera berjalan dan
segera meninggalkan kelas, sembari berucap “Mari pak”. Baru tiga langkah
berjalan, ia melihat pulpen si Uci yang jatuh, ia memungutnya kembali dan
memasukkannya dalam saku. “iya”.
Pungkas pak Tarki, yang segera mengunci pintu.
___
Namun
bagimana pun, ia adalah warga negara yang ber-akte, ber-KTP. Ia mempunyai hak
untuk belajar dimanapun, dan boleh-boleh saja bertingkah dalam kelas semaunya.
Bukan semaunya. Soalnya, tindakan seperti itu kadang dilakukannya tanpa sadar. Hidupnya
telah di payungi hukum terkuat di negeri ini: Pancasila dan UUD 45 tentu tak
akan membiarkan nya tersisihkan. Dan ia Tahu Pancasila itu hanya ada satu. Dia
juga hafal 4 pilar negara, terlepas
tidak menyetujui konsep yang di gagas mendiang Suami dari mantan Presiden ke 5
itu.
___
Si Asno dan Uci adalah teman satu jurusan Ugi,
namun beda ruangan. Asno dan Uci memang sudah lama menjalin asmara. Katanya
sih, sejak mereka duduk di bangku SMA. “Bukan, sejak SMP”. Sambar seorang
teman, suatu hari membenarkan. Ini yang sering di awasi oleh Ugi, yang selalu
memilih pulang sendirian, dengan berjalan kaki.
___
Si Asno, ingin menyusul ke toilet. Belum lagi ia menuruni tangga, karena toilet terletak di lantai 2, ada chat masuk di hp-nya. Dengan terus berjalan ia membuka nya. Dan ternyata itu dari si Uci “Aku udah, di parkiran. Tak tunggu sini ya!”. ternyata si Uci sudah tahu kalau pak Tarki akan segera datang untuk mengunci tiap-tiap ruang kelas, makanya ia urungkan untuk kembali ke kelas. “Oke sayang”. Balas si Asno dengan segara berjalan terseyok-seyok menuju parkiran.
Ketika ia sampai di lantai dua, Ia memergoki si
Uci senyam-senyum sendiri di parkiran. Dengan wajah yang basah, mungkin tadi ia
membanjur mukanya dengan air. Dan akhirnya, menghampirinya dan segera
mengajaknya pulang lalu mengantarkannya ke kost. si Asno tak pernah
sebelumnya melihat si Uci begitu senang. Senyum yang tidak pernah di
lihat sebelumnya. Di tengah perjalanan, mereka tak banyak bicara. Kecuali,
senyum yang terus tersungging di antara bibir mereka yang masih sedikit basah.
“Untung
ya?”. celetuk si Asno di atas motor.
“Untung kenapa?” Sahut Si Uci. Suaranya terdengar
parau.
“Iya, untung tadi pak Tarki datang setelah semua .
. .” ia tak melanjutkannya, mungkin karena malu atau takut di dengar oleh
orang-orang yang berlalu lalang. Ia hanya melirik Uci lewat kaca spion. Dan si
Uci mengerti maksud, si Asno. Ia hanya tersipu menundukkan kepala, tersenyum,
dan tersenyum lagi. Dan sesekali menggigit-gigit bibirnya sendiri.
Mereka berdua kembali mengingat-ingat kejadian di
kelas barusan yang seperti membawa mereka ke kerajaan langit itu. Mengenang,
bagaimana ketika dada yang semakin mengencang, gigitan yang menggemaskan,
lubang yang becek, juga sesuatu yang tiba-tiba begitu keras dan tentu tak lupa
mereka mengenang semburan dahsyat itu.
___
Iya, memang sudah tidak ada orang kala itu, hanya
mereka berdua. Hanya ada kursi, meja dosen, proyektor, tirai penutup jendela
dan lantai serta atap-atap plafon yang berjajar rapi. Namun, , , Anjing! Iblis!
Mereka lupa, satu barang yang menjadi momok, monster yang sangat menakutkan
bagi mereka.
____
Seketika itu, mereka berdua seperti di sambar
petir. Mata mereka terbelalak lebar, seperti ingin keluar dari kelopaknya. Jantung
serasa mau putus. Dan nafas seperti tersumbat di tenggorokan. Mampus! Seperti benar-benar
tak mau hidup lagi. Segala kenikmatan beberapa menit lalu itu, Lenyap! Musnah!
___
Kini mereka telah melakukan haknya, dan mereka
berhak untuk menerima kewajibannya. Si Ugi sudah tiada di kursi itu lagi,
rupanya. Kursi depan kelas nampak kosong semua. Kemana dia? Ah entahlah, tak
seorangpun juga yang ingin tahu keberadaannya.
Malang, 10-11 September 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar