Teror Untuk
Rakyat
![]() | |
| sumber: www.jumpaonline.com |
Rakyat sekarang ini bukanlah sebuah pengertian,
untuk merangkum kawula berhadapan dengan Gusti. Rakyat sudah menjadi kiat. Ia
dipakai untuk membenarkan tindakan-tindakan keras. Bahkan juga diperalat
sebagai galah untuk lompatan melanggar hukum. Dan akhirnya rakyat juga dipakai
untuk menghantam rakyat lain.
Rakyat sudah menjadi senjata siapa yang
memegangnya, bahkan mengucapkannya saja, merasa mendadak menjadi kuat.
Tangannya kontan terkepal, siap untuk menghantam. Dan sekali tangan terkepal,
sulit untuk menguraikannya lagi.
Mesti dan harus dihantamkan, supaya tenaga
tersalur. Tidak bisa hanya menghantam udara, karena itu dapat kesleo dan sakit
rasanya. Harus ada sasaran untuk dimakan. Politik menyebutnya: lawan atau
kawan.
Pengertian rakyat sudah terkontaminasi. Ia menjadi
begitu Liar nan berbahaya. Artinya tidak sesuai lagi dengan apa yang ada di
dalam kamus. Ia penuh dengan interpretasi. Ia begitu lentur sehingga nyaris
tidak berarti. Karena ia bisa diartika apa saja, oleh setiap orang dalam
berbagai kesempatan.
Karena kericuhan pengertian tersebut, Pak Amat
tidak mau lagi di sebut Rakyat. Kalau seorang pemimpin berpidato di radio atau
televisi atau di podium pengerahan massa, Pak Amat sama sekali tak terwakili
oleh setiap kata Rakyat yang dilontarkannya hingga berbusa-busa sekalipun.
Bahkan kalau partainya sedang mengatasnamakan diri sebagai Rakyat, Amat
tersinggung.
“Diriku samasekali merasa tak terlibat, kalau ada
kata Rakyat dalam berita-berita media massa. Aku sudah berhenti jadi Rakyat”,
kata Amat. “Sehingga dimanapun kata Rakyat itu muncul, aku tidak tersangkut.
Itu adalah urusan pribadi kata-kata itu sendiri. Aku berada diluarnya. Karena
itu aku seorang pemimpin”.
Apa itu sebuah penghianatan, Amat?
“Sama sekali tidak!” bantah Amat keras. “Ini
adalah sebuah pemberontakan. Kata Rakyat sudah terkontaminasi karena dilacurkan
menjadi pembenaran kepada semua tujuan. Rakyat sekarang sudah menunjuk kepada
kepentingan, golongan, kelompok bahkan seringkali nafsu pribadi yang tak berhak
lagi mengerahkan aku. Pengabdianku kepada
Rakyat sudah berakhir, ketika para pemimpin mengumbar kata-kata itu
untuk senjata guna membela dirinya!”
Kalau kamu bukan Rakyat, lalu siapa kamu, Amat?
“Aku seorang pemimpin. Aku seorang rakyat yang
sekaligus jua pemimpin. Tugasku adalah menolak untuk di masukkan se enak udel’e dewe kedalam barisan yang
tujuannya adalah melakuakan pembenaran untuk sebuah sikap politik. Betapapun
benarnya sikap tersebut secar politis. Aku menjadi Rakyat bukan karena tujuanku,
tetapi Karena kesedianku untuk memimpin diriku. Walhasil aku menjadi pemimpin
yang Rakyat nya adalah diriku sendiri. Aku pemimpin tanpa Rakyat. Aku juga
Rakyat yang sekaligus pemimpin!”
Pernyataan Amat membuat marah pimpinan partai. Ia
dipanggil, kemudian di-adill-i.
“Pak Amat kamu telah melakukan desersi. Didalam
militer hukumannya berat. Kalau kamu melakukan itu di tengah pertempuran, kamu
harus di hukum mati!”
Pak Amat mengangguk. Ia berkata;
“Aku tidak bisa di hukum. Aku sudah bunuh diri.
Aku sudah bukan Rakyat yang berwujud lagi. Rakyat yang sudah diubah pengertian
abstrak untuk kepentingan perdebatan, menjadi barisan konkrit berupa pengerahan
massa yang menggelegak oleh energi kemarahan yang dapat di arahkan untuk
melakukan tindakan-tindakan fisik. Aku mental
(baca: terlempar) ketika di wujudkan menjadi senjata. Aku kembali menjadi
Rakyat dalam pengertian tidak kasat mata. Aku tidak terlibat lagi dengan
organisasi dan partai. Dan yang paling penting, aku memecatmu sebagai pemimpin,
karena sekarang akulah pemimpi diriku!”
Pemimpin itu marah, ia memberi instruksi agar Amat
di eksekusi. Bukan saja dikeluarkan, tetapi diberikan sanksi badan. Singkat
kata: di hajar agar kapok.
Sebuah mobil hard
top kemudian mengunjungi rumah Pak Amat pada suatu subuh. Lima atau enam
orang berpakaian gelap, serba hitam, turun mendobrak pintu rumah. Pak Amat di
seret dari tempat tidur tanpa membangunkannya terlebih dahulu. Anak istrinya
yang mencoba mempertahankan kepala keluarga yang mereka cintai itu, di sekap di
dalam kamar. Amat di tarik keluar. Di tendang kemobil lalu dilarikan kepantai
sunyi.
Di tengah deburan ombak yang menyeruak pada pagi
petang, Amat di hajar, di tendang, di maki-maki (tentu saja), di pukul, dan
akhirnya di ultimatum.
“kalau kau berani-berani lagi membelot sebgai
Rakyat, kamu akan di dera dua kali dari apa yang kau rasakan hari ini. Bukan hanya
kamu, tapi seluruh keluarga kamu juga akan ditarik kemari dan mengalami
gebrakan seperti apa yang sudah kamu rasakan, Amat. Kapok, tidak?”
Amat mengaduh. Seluruh tubuhnya ringsek.
“ayo janji!”
“janji apa?”
“janji: kamu akan kembali ke barisan dan menjadi
Rakyat sebagaimana kamu seharusnya Rakyat. Rakyat tidak boleh mengaku atau
merasa diri pemimpin. Rakyat adalah orang yang dipimpin dan terpimpin. Rakyat adalah
Rakyat. Kamu tak perlu ngomong, karena suara kamu sudah diucapkan oleh
pemimpin. Kamu tidak usah merasa, karena perasaan kamu sudah ditampung dan
diekspresikan berlipat ganda oleh pimpinan. Kamu tidak usah berpikir, karena
yang berpikir itu pemimpin. Kamu jadi Rakyat saja! Rakyat tidak boleh berpikir.
Rakyat hanya boleh bekerja, bersatu untuk mengahncurkan musuh dan lawan-lawan. Dan
kalau lawan itu anak istrimu, kamu harus tetap memukulnya sampai kalah telak,
Mengerti kau?”
Amat mengangguk, karena lehernya tak sangup
menggeleng.
“Hah, kamu paksa bagaimana juga untuk menggeleng,
yang terjadi hanyalah anggukan. Itulah hakikat dari Rakyat. Ngerti?”
Amat dipulangkan lagi kerumahnya setelah di
masukkan namanya dalam daftar black list,
Amat di vonis sudah cacat sebagai Rakyat. Amat adalah Rakyat yang bukan
lagi Rakyat. Ia Mantan.
“Pak Amat tak berhak lagi mendapatkan kenyamanan
sebagaimana Rakyat lainnya nanti, apabila kemenagan sudah tercapai dan
musuh-musuh kita telah kalah semua,” kata pemimpin partai.
Sekarang Amat sedang tergeletak di rumah.
Keluarganya menangis. Kepala keluarga itu tidak sanggup lai bekerja, karena
badannya cidera. Berpikirpun sudah susah, karena setiap kali menggerakkkan
pikiran, keluarganya segera memohon agar jangan dilanjutkan.
“Leih baik kamu berantakan, asal tetap hidup,
daripada menjadi pahlawan tetapi tinggal nama yang tulis di nisan”, keluh Istri
dan keluarga Amat.
Amat adalah sebuah potret, Amat adalah sebuah
profile. Amat adalah semacam Anekdot. Apakah itu potert anda juga? Apakah
profile anda? Atau Amat pun setali tiga uang, hanya bagian dari upaya memanipulasi
kata Rakyat untuk satu target tertentu, untk satu kepentigan golongan tertentu,
patai tertentu atau kelompok apapun tertentu?
Dan bagaimanapun Pak Amat adalah Rakyat; ia pergi
ke kamar mandi menggosok seluruh badan dengan sabun wangi, menyampo rambutnya,
tak lupa juga menggosok giginya. Dan ia kembali dengan handuk yang dililitkan
tubuhnya dan berjalan berpapasan dengan istrinya yang duduk di kursi dapur
dekat kamar mandi. Ia melirik istrinya, dengan senyum kecil di setiap sudut
bibirnya, tanpa suara apapun Amat terus berjalan, lantas masuk ke kamar. Ia hendak
ganti baju. Belum lagi Amat membuka pintu kamar, tanpa ia menoleh; Ia tahu, Si istrinya
sangat mengenali senyum dan lirikan itu, si istri ganti mandi dengan buru-buru
yang pasti tak lupa untuk membalurkan sabun wangi ke seluruh lekuk tubuhnya
yang masih lentik nan menarik, bak bunga gerbera. Tak lama kemudian menyusul
Pak Amat yang tengah duduk di ranjang. Ia sedang menantinya, yang ternyata
masih belum ganti baju juga rupanya, ia masih mengenakan handuk putihnya. Kemudian
si istri masuk tanpa sapa, tapa kata-kata, hanya terlihat senyum yang genit menggoda
dengan tangan kirinya yang membenarkan ujung handuk di bagian belahan dadanya
agar tak terjuantai ke lantai, sementara itu tangan kanannya dengan cepat mengunci
pintu dari dalam.
Ah, sial!
Ia lupa menggosok gigi. Ia keluar lagi, menyomot 2 permen sekaligus yang berada
dalam toples di meja makan, yang memang di sediakan untuk menghilangkan rasa
pedas sehabis makan. Ia mengupas, dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Setengah berlari, ia masuk ke kamar dan membuang bungkus permen se’enaknya, dan
menguncinya kembali dari dalam.
Dan setelah itu, tak tahu apa yang mereka lakukan.
Hanya sesekali terdengar dengus nafas yang saling berkejar-kejaran, cepat, dan suara desah dari atas ranjang yang berderit.
Kini, tak ada lagi yang menghalang-halanginya.
Amat telah menjadi Rakyat. Oh, Bukan! Atau Ia telah menjadi Pemimpin? Ah tidak
juga! Mungkin, Pak Amat telah menjadi Raja. Rupanya!
Saduran dari
“Teror Untuk Rakyat”- (Putu Wijaya)
Malang, 9 September 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar