Sabtu, 11 Juni 2016

Tidak hanya Raga: Roh, Jiwa, dan Nyawa pun Butuh Nutrisi dan Gizi yang Cukup




Kita manusia, secara umum  mempunyai 2 komponen unsur penyusun yaitu jasmani atau yang Nampak dan rohani yang tak Nampak.
Jika membahas tentang kebutuhan jasmani tubuh kita, kita perlu asupan makanan dan gizi untuk menumbuh kembangkan jasmani kita agar proses metabolisme tubuh berjalan, berkembang dengan baik. Salah satu caranya yaitu dengan mengkonsumsi roti, telur madu , nasi, gorengan, donat dan sebagainya (Tak jarang kita nuruti mulut kita ini hanya karena kebutuhan kuliner, bukan kebutuhan kesehatan).  Asupan yang kita makan pun harus sesuai dengan apa yang di harapkan, yang dibutuhkan tubuh kita, (yang bergizi) kemudian dengan sendirinya, maka mekanisme tubuh kita yang luar biasa dengan faal nya masing-masing  secara otomatis makanan yang kita masukkan ke dalam mulut kita tadi itu akan di proses dengan ‘applicable’ oleh alat pencernaan kita. Di sortir, yang bagian lemak, masuk ke lemak. Yang bagian gizi masuk kebagian gizi.
Yang bagian karbohidrat masuk kebagian karbohidrat dan seterusnya.  Dan jika, di dalam makanan kita tadi misalkan ada taburan racun, atau secuil plastik, atau rambut koki yang tercecer, tubuh kita pun secara otomatis bisa memilah dan memilih untuk pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Ia akan menyaring dan memisahkan racun itu ke bagian racun. MasyaAllah. Itu sedikit gambaran pemenuhan raga kita.
Lalu bagimana pemenuhan kebutuhan rohani kita? Tentunya dengan ibadah, Alhamdulillah saya sebagai orang islam saya memenuhi kebutuhan rohani saya dengan sholat, zakat, puasa dan in sha allah haji.  Juga selalu mendawamkan diri untuk membaca alqur’an karim.  Selain itu untuk kebutuhan rohani yang bersifat dalam konteks cendekiawan saya memilih buku. Iya buku, karena apa? Buku itu menurut saya lebih efektif dan bisa menggerakkan di bandingkan dengan mendapatkannya dari mimbar, diskusi, radio, dan televisi. Bukanya yang selain buku itu tidak bagus, bukan. Hanya saja saya lebih sepakat bahwa dengan membaca teks dan buku, otak kita seperti  alat pencernaan kita yang luar biasa tadi. Dengan otomatis bekerja memenuhi kebutuhan rohani kita dan menyuplainya ke semua saraf otak bahkan bisa memunculkan saraf, atau sambungan baru di otak kita. Membuat kita seperti tergertak untuk segera bergerak. Dan jika di dalam teks terselip “racun”, maka otak kita secara selektif memisahkan racun itu. Itulah mungkin keistimewaan buku di banding radio, tv, email ataupun sosmed. Buku sangat beragam jenisnya, semua buku adalah baik tapi mungkin buku yang baik adalah buku yang bisa benar-benar membawa perubahan terutama perubahan pada pembacanya. Teks dan buku mengajak pembacanya merenug dan memikirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat , paragraph demi paragraph dan buku demi buku, demikian kiranya. Mereka para pembaca akan memikirkan kritis dan mencoba menghimpun makna dari apa yang di bacanya, dari sini otak mulai di rangsang untuk bekerja dan anlitis kritis mulai terjadi ketika pembaca akhirnya bisa menyimpulkan dari buku yang di bacanya. Ada yang namanya AKG atau Angka Kecukupan Gizi ini di gunakan untuk istilah jasmani, pemenuhan kebutuhan tubuh kita, nah mungkin seharusnya juga ada AKG Buku, jadi menurut saya buku pun mempunyai bobot atau Gizi yang terkandung dalam sebuah buku iu seharusnya sesuai dengan logika dan diksi yang baik dan menarik.
            Tentunya buku yang bergizi itu bukanlah buku yang berdasarkan temanya, ataupun ketebalanya seperti saya uraikan di awal. Buku yang bergizi adalah buku yang bisa menggertak kita untuk segera bergerak atau berubah. Berubah menjadi baik, dari baik ke paling baik, dan dari paling baik ke yang terbaik.
Namun, terkadang kita lebih sering memamnjakan isi perut kita, lebih sering menyibukkan diri mencari asupan raga kita, daripada jiwa kita. Mungkin jika kita bisa sedikit saja untuk merendah diri dan me-ngerem hawa nafsu kita, kita akan mendengarkan betapa dahsyatnya rintihan jiwa, nyawa dan roh kita ini? Jika boleh ku gambarkan dengan lukisan, maka jiwa kita kurang lebih sama dengan lukisan atau potret anak Ethiopia yang kelaparan dengan rambut dan muka kusut, karena tak ada sesuatu yang bisa untuk dijadikan isi perut di layar TV/internet ataupun di koran-koran yang sering kita lihat selama ini. Dan jika kita ambil kalkulator kita kalkulasikan asupan raga dan jiwa kita maka akan terlihat jelas 2 hasil yang sangat berbeda. Terlihat disparitas yang begitu besar. Atau kita mecoba konsultasi ke dokter ahli gizi ‘jiwa’ dan ‘raga’, pasti hasilnya tak jauh berbeda dengan kalkulator tadi. Kita terlalu berlebihan memanjakan raga kita.
Di beberapa kampus mungkin ada fakultas yang bernamakan Fakultas Keolahragaan, nah ini pun sudah menjadi tabung penampung disparitas asupan jiwa dan raga. Bagaimana tidak? Jika ada fakultas Ke-Olah-Raga-an, iya seharusnya, idealnya juga  harus berdiri  fakultas Ke-Olah-Jiwa-an dong.
Iya, kalau ada bapak kan ada ibuk, ada siang karena juga ada malam. Karena di samping itu, juga ada kata-kata yang sudah menulang sum-sum di benak kita. Dan tentu kita semua sudah tidak asing lagi dengan kata-kata yang menyebutkan bahwa: “Di dalam Tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Sepintas kata-kata itu benar adanya, atau memang benar adanya untuk selamanya. Namun jika saya pikir dan saya rasa-rasa. Kata-kata barusan telah menipu kita. Telah (kalau kata orang jawa ‘njlontrongno’:Menjerumuskan)  kita ke dalam lembah kerakusan ntuk menjadi manusia-manusia dengan senyum kapitalis menapaki bumi ini dengan sepatu liberal Hedonis. Seolah-olah jiwa adalah akibat dari apa yang di sebabkan oleh raga. Jadi logika sederhananya, jiwa kita akan sakit kalau raga kita sakit. Tapi apakah tidak ada di luar sana orang yang jika di lihat dari raga ia sakit namun secara jiwa ia kuat. Atau sebaliknya, orang yang secara raga sehat namun secara jiwa sakit. Orang yang awalnya raganya sakit tadi, dengan pikiran, dengan jiwa yang bersyukur dan sabar (kuat) maka dengan seiring berjalannya waktu akan mempengaruhi tubuhnya untuk berproses, untuk bermetabolisme secara maksimal, sehingga lama-kelamaan tubuh atau raga nya akan menajdi sehat. Karena tadi: yang di ‘dalam’ (jiwa) nya sehat, maka inShaAllah raga pun sehat. Dan orang yang tipe ke dua tadi, dengan jiwa yang was-was dan ketir-ketir setiap harinya maka itu pun akan mempengaruhi tingkat kerja organ tubuhnya, tentu dengan pikiran dan jiwa yang tidak tenang ia akan mempengaruhi faal tubuh dan dalam jangka waktu yang relatif lama bisa saja menurunkan fungsi organ tubuh, hingga ia jatuh sakit. Jadi kalimat : “Di dalam Raga yang sehat terdapat jiwa yang kuat”, saya sepakat, namun saya lebih sepakat jika di ‘balik’. Menjadi (. . .)
Oh, ya. di atas tadi saya beri judul: ‘Tidak hanya Raga: Roh, Jiwa dan Nyawa pun Butuh Nutrisi yang Cukup’. Ada kata ‘Roh, Jiwa, dan Nyawa’: itu semua berbeda, kebetulan terkait tulisan ini tadi adalah lebih menitik beratkan tentang asupan Jiwa dan Raga.
Lain kali, jika Tuhan mengizinkan (lagi), mari kita bedah lebih lanjut apa itu, Jiwa, roh, dan nyawa? Atau jangan-jangan itu semua hanya sinonim, satu arti.  Ah, Yasudah lah?! Yang jelas adanya adalah malaikat pencabut nyawa, bukan malaikat pencabut Roh/ Jiwa.
Salam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar