Tidak hanya Raga: Roh, Jiwa,
dan Nyawa pun Butuh Nutrisi dan Gizi yang Cukup
Kita manusia,
secara umum mempunyai 2 komponen unsur
penyusun yaitu jasmani atau yang Nampak dan rohani yang tak Nampak.
Jika
membahas tentang kebutuhan jasmani tubuh kita, kita perlu asupan makanan dan
gizi untuk menumbuh kembangkan jasmani kita agar proses metabolisme tubuh
berjalan, berkembang dengan baik. Salah satu caranya yaitu dengan mengkonsumsi
roti, telur madu , nasi, gorengan, donat dan sebagainya (Tak jarang kita nuruti
mulut kita ini hanya karena kebutuhan kuliner, bukan kebutuhan kesehatan). Asupan yang kita makan pun harus sesuai dengan
apa yang di harapkan, yang dibutuhkan tubuh kita, (yang bergizi) kemudian
dengan sendirinya, maka mekanisme tubuh kita yang luar biasa dengan faal nya
masing-masing secara otomatis makanan yang
kita masukkan ke dalam mulut kita tadi itu akan di proses dengan ‘applicable’ oleh alat pencernaan kita. Di
sortir, yang bagian lemak, masuk ke lemak. Yang bagian gizi masuk kebagian
gizi.
Yang bagian karbohidrat masuk kebagian karbohidrat dan seterusnya. Dan jika, di dalam makanan kita tadi misalkan
ada taburan racun, atau secuil plastik, atau rambut koki yang tercecer, tubuh
kita pun secara otomatis bisa memilah dan memilih untuk pemenuhan kebutuhan
jasmani kita. Ia akan menyaring dan memisahkan racun itu ke bagian racun.
MasyaAllah. Itu sedikit gambaran pemenuhan raga kita.
Lalu
bagimana pemenuhan kebutuhan rohani kita? Tentunya dengan ibadah, Alhamdulillah
saya sebagai orang islam saya memenuhi kebutuhan rohani saya dengan sholat,
zakat, puasa dan in sha allah haji. Juga
selalu mendawamkan diri untuk membaca alqur’an karim. Selain itu untuk kebutuhan rohani yang
bersifat dalam konteks cendekiawan saya memilih buku. Iya buku, karena apa?
Buku itu menurut saya lebih efektif dan bisa menggerakkan di bandingkan dengan
mendapatkannya dari mimbar, diskusi, radio, dan televisi. Bukanya yang selain
buku itu tidak bagus, bukan. Hanya saja saya lebih sepakat bahwa dengan membaca
teks dan buku, otak kita seperti alat
pencernaan kita yang luar biasa tadi. Dengan otomatis bekerja memenuhi
kebutuhan rohani kita dan menyuplainya ke semua saraf otak bahkan bisa
memunculkan saraf, atau sambungan baru di otak kita. Membuat kita seperti
tergertak untuk segera bergerak. Dan jika di dalam teks terselip “racun”, maka
otak kita secara selektif memisahkan racun itu. Itulah mungkin keistimewaan
buku di banding radio, tv, email ataupun sosmed. Buku sangat beragam jenisnya,
semua buku adalah baik tapi mungkin buku yang baik adalah buku yang bisa
benar-benar membawa perubahan terutama perubahan pada pembacanya. Teks dan buku
mengajak pembacanya merenug dan memikirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat
, paragraph demi paragraph dan buku demi buku, demikian kiranya. Mereka para
pembaca akan memikirkan kritis dan mencoba menghimpun makna dari apa yang di
bacanya, dari sini otak mulai di rangsang untuk bekerja dan anlitis kritis
mulai terjadi ketika pembaca akhirnya bisa menyimpulkan dari buku yang di
bacanya. Ada yang namanya AKG atau Angka Kecukupan Gizi ini di gunakan untuk
istilah jasmani, pemenuhan kebutuhan tubuh kita, nah mungkin seharusnya juga
ada AKG Buku, jadi menurut saya buku pun mempunyai bobot atau Gizi yang
terkandung dalam sebuah buku iu seharusnya sesuai dengan logika dan diksi yang
baik dan menarik.
Tentunya buku yang bergizi itu
bukanlah buku yang berdasarkan temanya, ataupun ketebalanya seperti saya
uraikan di awal. Buku yang bergizi adalah buku yang bisa menggertak kita untuk
segera bergerak atau berubah. Berubah menjadi baik, dari baik ke paling baik,
dan dari paling baik ke yang terbaik.
Namun,
terkadang kita lebih sering memamnjakan isi perut kita, lebih sering
menyibukkan diri mencari asupan raga kita, daripada jiwa kita. Mungkin jika
kita bisa sedikit saja untuk merendah diri dan me-ngerem hawa nafsu kita, kita akan mendengarkan betapa dahsyatnya
rintihan jiwa, nyawa dan roh kita ini? Jika boleh ku gambarkan dengan lukisan,
maka jiwa kita kurang lebih sama dengan lukisan atau potret anak Ethiopia yang
kelaparan dengan rambut dan muka kusut, karena tak ada sesuatu yang bisa untuk
dijadikan isi perut di layar TV/internet ataupun di koran-koran yang sering
kita lihat selama ini. Dan jika kita ambil kalkulator kita kalkulasikan asupan
raga dan jiwa kita maka akan terlihat jelas 2 hasil yang sangat berbeda. Terlihat
disparitas yang begitu besar. Atau kita mecoba konsultasi ke dokter ahli gizi ‘jiwa’
dan ‘raga’, pasti hasilnya tak jauh berbeda dengan kalkulator tadi. Kita terlalu
berlebihan memanjakan raga kita.
Di beberapa
kampus mungkin ada fakultas yang bernamakan Fakultas Keolahragaan, nah ini pun
sudah menjadi tabung penampung disparitas asupan jiwa dan raga. Bagaimana tidak?
Jika ada fakultas Ke-Olah-Raga-an, iya seharusnya, idealnya juga harus berdiri fakultas Ke-Olah-Jiwa-an dong.
Iya,
kalau ada bapak kan ada ibuk, ada siang karena juga ada malam. Karena di samping
itu, juga ada kata-kata yang sudah menulang sum-sum di benak kita. Dan tentu
kita semua sudah tidak asing lagi dengan kata-kata yang menyebutkan bahwa: “Di
dalam Tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Sepintas kata-kata itu benar
adanya, atau memang benar adanya untuk selamanya. Namun jika saya pikir dan
saya rasa-rasa. Kata-kata barusan telah menipu kita. Telah (kalau kata orang
jawa ‘njlontrongno’:Menjerumuskan) kita ke dalam lembah kerakusan ntuk menjadi
manusia-manusia dengan senyum kapitalis menapaki bumi ini dengan sepatu liberal
Hedonis. Seolah-olah jiwa adalah akibat dari apa yang di sebabkan oleh raga.
Jadi logika sederhananya, jiwa kita akan sakit kalau raga kita sakit. Tapi apakah
tidak ada di luar sana orang yang jika di lihat dari raga ia sakit namun secara
jiwa ia kuat. Atau sebaliknya, orang yang secara raga sehat namun secara jiwa
sakit. Orang yang awalnya raganya sakit tadi, dengan pikiran, dengan jiwa yang
bersyukur dan sabar (kuat) maka dengan seiring berjalannya waktu akan
mempengaruhi tubuhnya untuk berproses, untuk bermetabolisme secara maksimal,
sehingga lama-kelamaan tubuh atau raga nya akan menajdi sehat. Karena tadi:
yang di ‘dalam’ (jiwa) nya sehat, maka inShaAllah raga pun sehat. Dan orang
yang tipe ke dua tadi, dengan jiwa yang was-was dan ketir-ketir setiap harinya maka itu pun akan mempengaruhi tingkat
kerja organ tubuhnya, tentu dengan pikiran dan jiwa yang tidak tenang ia akan
mempengaruhi faal tubuh dan dalam jangka waktu yang relatif lama bisa saja menurunkan
fungsi organ tubuh, hingga ia jatuh sakit. Jadi kalimat : “Di dalam Raga yang
sehat terdapat jiwa yang kuat”, saya sepakat, namun saya lebih sepakat jika di ‘balik’.
Menjadi (. . .)
Oh,
ya. di atas tadi saya beri judul: ‘Tidak hanya Raga: Roh, Jiwa dan
Nyawa pun Butuh Nutrisi yang Cukup’. Ada kata ‘Roh, Jiwa, dan Nyawa’: itu semua
berbeda, kebetulan terkait tulisan ini tadi adalah lebih menitik beratkan
tentang asupan Jiwa dan Raga.
Lain
kali, jika Tuhan mengizinkan (lagi), mari kita bedah lebih lanjut apa itu,
Jiwa, roh, dan nyawa? Atau jangan-jangan itu semua hanya sinonim, satu arti. Ah, Yasudah lah?! Yang jelas adanya adalah
malaikat pencabut nyawa, bukan malaikat pencabut Roh/ Jiwa.
Salam!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar