![]() |
| Dok.Pribadi |
TENTANG
SAYA
Pada hari rabu Legi, malam menjelang
fajar, pagi hari mulai menyongsong telah lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan
Bapak Suyuti dan Ibu Suratmi di salah satu desa terpencil yang berada di
kecamatan Kapas kabupaten Bojonegoro. Iya bayi itu tak lain adalah saya
sendiri.
Bapak ibu saya memberikan nama kepada
saya cukup singkat, jelas dan penuh makna (In Sha Allah ). Yaitu Abdul Mufid, merupakan nama yang
saya emban dari lahir hingga dewasa ini. Jika saya bertanya kepada Ibu dan Bapak
mengapa muncul nama itu ketika aku lahir? Tak lain karena mereka taruh harap
yang besar dari arti nama saya itu. Abdul berasal dari bahasa arab yang berarti
hamba atau dalam jawa biasa disebut kawulo
dan Mufid yang berarti berfaedah atau bermanfaat. Kurang lebih itulah arti nama
saya, diharapkan bisa menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk keluarga, sesama,
nusa dan agama. Amin.
Kiranya itulah secuil atau secerca
harapan yang diselipkan dalam tubuh mungilku saat itu, yang suatu saat
benar-benar terbit dan bersinar. Juga mengingat omongan dari orang jawa ‘asmo kinaryo pengarep minongko jopo’
(nama adalah doa dari apa yang diharapkan). Saya adalah anak kedua dari tiga
bersaudara. Kakak saya adalah laki-laki berusia 27 tahun, sedangkan adik saya
sekarang baru duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Iya adik saya lahir 12
tahun silam, yang kebetulan juga laki-laki.
Oh ya hampir saya lupa, saya sendiri
lahir pada tanggal 17 Mei 1995, di sebuah desa yang bernama desa Klampok,
Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. Semasa kecil, saya adalah anak kecil
pada umumnya, kampung halaman yang dekat dengan alam (sawah) membuat saya akrab
dengan kehidupan pertanian dan alam. Saya sering menghabiskan masa kecil saya
bermain di sawah, mencari belut, ikan, dan sesekali berenang di segarnya air
kali pedesaan yang gemercik mengalir, kemudian sore hari pulang. Dan setelahnya,
saya mandi kemudian maghrib di surau
dekat rumah, seusai jamaah saya di ajari ibu saya mengaji dan acap kali ibu menanamkan
pada diri ini tentang segalanya. Terutama tentang kebaikan, agama, keadilan dan
humaniora/kemanusiaan.“Nek enek koncone seng lagi susah, di
bantu, nek koncone ga nduwe di wenehi”. Begitulah penuturan ibu kepadaku
yang sehari-hari menjadi penjual sayur keliling kampung.
Iya, Begitulah hari-hari ketika masa kecilku, kuhabiskan.
Iya, Begitulah hari-hari ketika masa kecilku, kuhabiskan.
Kemudian,
di samping itu bapak dengan segala ketegasannya yang notabene pekerja kasar,
berprofesi sebagai Tukang Batu mendidikku tumbuh kembang yang berkepribadian serta karakter yang kadang agak kaku dan anti
kompromi. Masih teringat, walau agak samar. Ketika itu aku pulang bermain
terlalu malam, ketika aku injakkan kakiku di depan pintu rumah, Nampak sosok
laki-laki separuh baya yang sedang memasang raut muka geram dengan seutas tali
di tangan kanannya, iya itu adalah Bapak saya yang siap untuk mengikat saya. Saya di ikat.
Memang saya yang mbangkang, tempo hari Bapak sering mengingatkan agar tidak
pulang terlalu malam. Ingatan saya mengatakan kala itu saya berusia sekitr 4
tahun an, dan jam malam anak seumuran itu adalah maghrib 18.00 WIB.
Bapak paling tidak suka, jika adzan
maghrib berkumandang saya masih diluar rumah dengan keadaan tubuh yang sangat
kotor karena lumpur sawah yang menempel pada tubuhku terkena tempias
lumpur kala aku bermain bola dengan telanjang dada. Memang Terkadang jika saya asyik
main bola, memancing ikan atau sekedar bermain kelereng bersama teman-teman
sampai lupa waktu.
Awal usia 5 tahun saya mulai mencicipi dunia pendidikan yang formal. Tepatnya pada tahun 2000 saya masuk di TK Al-Huda Mojodeso. Saya menempuh TK dalam waktu 1 tahun. Bukan dalih karena saya pintar atau lebih unggul dari teman-teman sebayaku. Namun karena tubuh atau fisik saya yang kala itu memang bisa di bilang ‘bocah Gede’.
Awal usia 5 tahun saya mulai mencicipi dunia pendidikan yang formal. Tepatnya pada tahun 2000 saya masuk di TK Al-Huda Mojodeso. Saya menempuh TK dalam waktu 1 tahun. Bukan dalih karena saya pintar atau lebih unggul dari teman-teman sebayaku. Namun karena tubuh atau fisik saya yang kala itu memang bisa di bilang ‘bocah Gede’.
“Usia
5 tahun kamu sudah terlampau besar, nampak seperti anak SD, jadi kamu siap
untuk lanjut langsung ketingkat SD”. Jawab ibuk saya ketika saya Tanya kenapa
saya TK Cuma satu tahun? Tak mengerti pasti, apakah ada pembicaraan lain antara
ibuk dan guru saya. Enyahlah. Yang jelas ada rasa bangga tersendiri.
Suatu hari, ketika masih dalam hari
libur kenaikan kelas, saya di beri tawaran sama ibuk saya.
“Mau
lanjut di SD atau MI?”.
“SD
buk, SD lebih maju. MI kurang maju”. Jawabku singkat. Entah apa yang terlintas dalam pikiranku saat itu sampai bisa-bisanya mengatakan MI kurang maju.
Akhirnya
akupun, didaftarkan ibuk di SDN Mojodeso II. Di sekolah saya mengenakan seragam merah hati ini, saya harus mulai menyesuaikan diri dengan mata pelajaran yang belum pernah saya dapatkan di bangku TK sebelumnya. Dari kelas satu-dua saya adalah
murid yang tergolong pasif. Bahkan ketika saya duduk di kelas satu saya pernah
mendapatkan nilai 0 untuk mata pelajaran matematika, masih lagi aku di ejek
teman-teman untuk menggoreng nilai 0 yang seperti telur ayam ini. Bahkan sampai detik ini saya tak pernah
menceritakannya kepada Bapak maupun Ibu yang selalu bisa mengerti dan ‘ngemong’. Biar waktu saja yang
menceritakan semuanya. Tak tahu jelas apa alasanku memendam nilai 0 itu,
padahal biasanya anak kecil seumuran itu umumnya selalu menceritakan keluh
kesah pada orang tuanya. Mungkin agak sedikit lain dengan saya. Di usia yang
semakin dewasa ini saya mulai bisa sedikit menjelaskan apa alasan saya kala itu tak
mau menceritakannya kepada ibu. Jadi waktu itu seperti ada semacam harga diri
dan menjaga perasaan ibu agar tak kecewa. Yang jelas mungkin waktu itu saya
terlalu takut di marahi ibu gara-gara nilai ‘telur’.
Kelas satu, kelas dua telah
terlalui dan saya duduk di kelas tiga. Di kelas tiga inilah saya mengenal sosok
ibu guru yang membuat saya semakin semangat menjalani tugas sekolah kala itu.
Beliau adalah ibu Noor Azizah atau karib di sapa Bu Nor. Kepribadian beliau selama
ini memang dikenal sebagai guru yang sangat sabar. Di jam istirahat atau jam
luar sekolah saya sering menjadi tangan kanan beliau. Maksudnya ketika Bu Nor
sedang ada perlu sesuatu atau butuh bantuan beliau hampir selalu mencari saya
untuk di minta bantuan. Semacam murid kesayangan. Walau terkadang sekedar di
suruh untuk membawakan tas beliau ke kantor, menghapuskan papan ketika dikelas,
ataupun sekedar beli nasi bungkus di
warung dekat sekolah untuk sarapan beliau. Nampaknya bukan apa-apa. Namun dari situlah banyak
pelajaran tersirat yang saya kantongi. Hingga pada bulan ketiga pertama saya
duduk di kelas 3 sekolah dasar, saya dapat tawaran dari beliau, tawaran untuk
berjualan. Kebetulan disamping mengajar, ibu berkacamata ini pada malam harinya
membuat es lilin, makanan ringan, jajanan dan semacamnya untuk dititipkan di kopsis
(Koperasi Siswa). Iya mungkin bisa menambah pendapatan, atau mungkin ada motif
lain? Saya tidak pernah tahu jawabannya hingga saat ini. Soalnya suami beliau yang notabene
orang kantoran (PNS) dan hanya punya tanggungan dua anak, yang sulung juga hampir
lulus sarjana saat itu.
“Masak
penghasilannya sebagai PNS gak cukup sih? Masih mau repot-repot bikin jajanan
untuk di jual?”. Gumamku kala itu dalam hati.
Saya di suruh membawa es
lilin/jajanan dari rumah Bu Nor ke sekolahan (Kopsis). Kebetulan rumah saya
satu arah dengan beliau. Tanpa pikir panjang saya pun terima tawaran itu.
Besoknya, setelah hari tawaran itu, setiap pagi sembari saya berangkat
kesekolah dengan sepeda butut yang saya naiki, saya mampir dulu kerumah beliau
untuk ‘nyangking’ jajanan yang
kemudian saya tanggalkan di setir sepedaku yang tanpa rem itu. Pulangnya, juga
menjadi tanggungan saya untuk membawa wadah bekas jajanan tadi. Hal seperti ini saya jalani sampai
saya mau lulus kelas enam. Awalnya memang saya malu/sungkan. Dimana tidak? Di waktu itu teman-teman sebayaku dengan
segala pelayanan dari orang tua mereka, antar jemput, kiriman makanan terkadang, atau sekedar duduk berjajar menunggu anaknya pulang di depan kelas yang sesekali mengintip dari jendela kelas yang tanpa kaca itu. Sarat akan pelayanan lah pokoknya. Nah, Sedangkan saya masih
mengayuh sepeda yang kadang kala rantainya lepas dari gir karena dimakan usia.
Namun ketidak biasaan itu akhirnya menjadi kebiasaan yang luar biasa.
Akhirnya pada tahun 2007 saya di
vonis lulus dari bangku sekolah dasar dan melanjutkan ke MTs (Madrasah Tsanawiyah)
setingkat SMP. Tepatnya di MTsN 1 Bojonegoro yang terletak ditengah kota,
lumayan jauh jarak nya dari permukimanku. Setiap hari bisa saya tempuh dalam
waktu kurang lebih 45 menit menggunakan sepeda angin afkiran dari sang kakak
yang baru 2 tahun an lulus dari SMA ber merk Polygon. Di sekolah menengah
pertama ini saya dihadapkan dengan segala kemodern-an. Maklum anak desa masuk
kota. Perkakas Komputer, internet, hanphone menjadi sesuatu yan asing bagi saya
yang notabene anak penggembala. Kala itu yang lagi booming adalah Handphone.
Bisa saya pastikan setiap anak yang sekolah di MTs memegang/mempunyai HP.
Sedangkan saya harus menahan diri selama 2 tahun untuk mempunyai telefon
genggam ini, itupun juga punya bapak yang kadang saya pinjam.
Awal masuk kelas 7, saya tertarik
untuk ikut organisasi. Dan yang saya ikuti adalah PMR, Futsal , Pramuka serta juga sempat mendaftarkan diri sebagai anggota Osis walau ditolak. Saya
mulai senang mencari pengalaman-pengalaman baru juga mulai kenal dengan yang
namanya perpustakaan, maklum dulu di SD tidak pernah saya tahu bentuk perpus
sebelumnya. Hanya mengenal sebutan namanya. Dan pada saat MTs ini, Pelajaran yang paling saya sukai
adalah kewarganegaraan, agama ,pengetahuan alam lebih-lebih ilmu sosial.
Setelah tiga tahun saya ber adaptasi
dengan masyarakat perkotaan, tepatnya tahun 2010 an saya lulus dari MTs N 1 Bojonegoro
lalu memilih melanjutkan ke SMK. Alasan saya mengapa tidak memilih SMA kala
itu? Karena saya ber anggapan setelah saya lulus dari SMK saya mau bekerja. Sudah bukan rahasia umum lagi, di SMK terkenal dengan didikan yang siap bekerja. Sungguh rencana
Tuhan maha Indah. Akhirnya Saya diterima SMK PGRI 2 Bojonegoro dan mengambil
jurusan Administrasi Perkantoran tak lain kala itu karena ingin menjadi pegawai
kantor. Tak jauh berbeda semasa MTs, di sekolah di mana ku kenakan seragam
abu-abu putih ini saya menggabungkan diri di beberapa organisasi salah satunya
adalah OSIS. Di jurusan perkantoran,
setiap hari saya di gembleng dan harus berkutat dengan surat menyurat, buku
agenda masuk keluar, maupun kearsipan. Dari surat-surat ini pula saya mengenal
istilah “Super Semar (Surat Perintah
Sebelas Maret) yang dibuat Soekarno untuk dilimpahkan kepada Soeharto yang
sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya”. Ucap salah satu guruku.
Pernyataan Pak Is ini sontak menumbuhkan
rasa penasaran yang amat luar biasa mencuat. Diwaktu senggang atau libur saya
sempatkan ke warnet untuk mencari lebih jauh apa itu Super Semar. Ketika saya
ketik kata Super Semar di kolom Google kemudian saya tekan tombol enter, banyak bermunculan
nama-nama pahlawan Indonesia. Seperti Bung Karno, Bung Hatta, Soedirman dan
masih banyak lagi. Hal ini semakin mambuatku lebih penasaran untuk menggali
lebih dalam lagi, lebih jauh lagi. Hingga dalam
penggalian, mau tidak mau juga memaksa saya untuk mengenali Founding fathers Indonesia. Saya mulai
sangat haus literasi-literasi, terutama Nasionalisme. Saya mencoba mengenali
lebih dekat siapa itu Bung Karno, Hatta, Syahrir, Soeharto, Tan Malaka dan
sebagainnya. Di samping itu, dalam penggalian saya juga mengenal sosok penyanyi
Maestro, siapa lagi kalau bukan Iwan Fals. Lirik dan syair-syairnya yang pedas,
mengkritik pemerintah, dengan lantang menyuarakan suara rakyat juga tak luput
menjadi daftar referensiku dalam memupuk halang nasionalisme yang mulai ter
patik-patik memercik.
Belum lagi ketika saya menjalani
praktek magang di kantor Bakorwil Perencanaan Pemerintahan Bojonegoro, kondisi
maupun lingkungan kantor yang katanya bekerja untuk Rakyat ini, sungguh!? Saya
melihat, menyaksikan ketidak sesuaian di sana-sini dalam kantor. Dimana NKKK
(Nepotisme, Kolusi, Koncoisme, bahkan Korupsi) sudah mendarah daging,
malah-malah sudah me-nulang sum-sum dalam raga instansi. Maaf, bukannya saya
menjelek-jelek kan atau sok idealis, nasionalis atau apapun itu. Namun keadaan seperti itulah yang membuat
saya geram tak karuan, marah tak tentu arah.
Hingga pada akhirnya saat saya kelas
XII, saya intens mengikuti pembinaan dari guru BK terkait siswa yang ingin
melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Saya ingat betul, ketika saya di tanya oleh
guru saya secara personal. Karena bingung, teman-teman sudah menentukan jurusan
yang akan di ambilnya kelak, sedangkan saya gak jelas.
“Kamu
pengen kuliah dimana nak?”. Tanya guru membuka keran pembicaraan.
“Saya
pengen kuliah di ITB”. Jawabku singkat. Bukan apa-apa, melainkan alasanku
pengen kuliah di Kota Kembang ini karena Presiden pertama Indonesia kuliah
disana. Iya tanpa tidak langsung saya ter kagum-kagum dengan Bung Karno.
“Oh.
. . bagus itu nak, terus kamu pengen ambil jurusan apa?”. Lanjut beliau.
“Nah,
itu buk yang saya bingung”. Sahutku.
“Gimana?
Apakah kamu ndak pengen nerusin
Administrasi Perkantoranmu?”. Ucap guruku, mencoba memberi opsi. Namun kemudian
dengan tegas aku menjawab,
“Tidak
bu, ilmu perkantoran monoton”. Sembari melanjutkan “saya pengen ambil jurusan
yang. . .”
“Yang
apa nak?” Potong bu guru dengan raut muka ceria, karena nampaknya aku mulai
dapat pencerahan terkait jurusan.
“Aku
pengen ambil jurusan yang bisa memerangi para pemerintah buk”. Jawabku pelan.
Seketika
itu pula raut muka ibu guru Nampak datar, hanya diam kemudian beranjak
meninggalkan ku pergi menuju kantor
menemui beberapa guru yang ku intip dari jendela kaca ruang guru.
Saya menjawab seperti di atas,
bukanlah tanpa alasan. Pikir ku kala itu semua jenis pemerintahan adalah lumpur
yang sangat kotor dan harus dibersihkan agar yang lain juga tidak ter kotori.
Dan masya Allah. Tuhan memberikan apa yang saya butuhkan, bukan yang
kuinginkan, walau teramat sering yang kubutuhkan itu tak selalu aku inginkan.
Tuhan menempatkan saya sekarang untuk duduk di bangku perkuliahan, mengenyam
dunia pendidikan di perguruan tinggi yang ku tempuh di salah satu perguruan
tinggi negeri di Indonesia. Iya, UM (Universitas Negeri Malang) adalah tempatku
menempa ilmu. Kebetulan saya masuk di jurusan Ekonomi Pembangunan. (ndak tahu,
jurusan ini nantinya bisa memerangi pemerintah apa tidak, seperti apa yang saya
cita-citakan semasa SMK dulu). Untuk saat ini saya sedang menempuh semester 5.
Di kampus, saya juga aktif di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yaitu KSR (Korps
Sukarela) unit Univ. Negeri Malang serta ikut organisasi di luar kampus yang
terwadahi dalam BPK OI (Badan Pengurus Kota Orang Indonesia) Bojonegoro yang
bergerak dibidang sosial ber-moto-kan SOPAN (Seni, Olahraga, Pendidikan,
Akhlak/Agama, Niaga). Saya suka organisasi apapu itu, yang jelas dengan catatan
benar-benar bergerak di bidang sosial, humaniora, dan lingkungan. Pokoknya
bermanfaat untuk semua. Selain itu, pada saat libur kuliah atau hari minggu
saya nuruti hobi saya. Hobi saya tak terlalu jelas, namun yang hingga saat ini
lumayan sering saya turuti adalah hobi pergi ke pasar buku bekas, kadang
Togamas, kadang pula Dian ilmu dan Gramed. Semacam Bibliomaniac, suka melihat lihat buku, terlebih mengumpulkan dan
mengoleksinya kendati tak maniak membaca. Jika saya pulang kampung ketika libur
semester an, saya mencoba meng-abdikan diri
untuk mengajar di TPA An-Nashr desa saya.
Itulah sekilas tentang saya, jika
mungkin para pembaca yang budiman ingin mengenal saya lebih dekat lagi, bisa
ber silaturrohmi lewat akun saya. Fb.
Abdul Mufid WA: 085230880403
Web: abdulmufidtok.blogspot.com. Sekali lagi saya sampaikan terimakasih
dan maaf yang sebesar-besarnya, atau jika tidak keberatan mohon kesediaannya memberikan kritik pada tulisan
autobiografi ini.
Salam!
Salam!
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang
bisa bermanfaat untuk semua dan manusia lainnya, serta bisa memanusiakan manusia”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar