Ibu yang “Besar”, Putra-Putri mu Mulai Lir-ilir
Oleh: Ab. Mufid
![]() |
| Sumber. Dokumen Pribadi |
Iya
teks Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia telah di Proklamasikan. Hingga
saat dewasa ini sudah terhitung 70 tahun merdeka. Waktu yang cukup senja jika
saya boleh analogikan kepada umunya umur seseorang.
Namun, kenyataanya sangat jauh dari
apa yang telah
dikumandangkan waktu itu. Memang benar, Bung Karno sendiri
mengatakan bahwa kemerdekaan tak lain adalah suatu ‘jembatan emas’ yang akan
kita sebrangi menuju ‘pulau surga’. Dimana pulau surga di sini bermakna menjadi
Indonesia yang lebih baik & benar tentunya.
Bagaimana mungkin, kita yang
mempunyai ragam budaya, dengan gugusan pulau serta hamparan lautnya yang sangat
luas dengan arakan rakyatnya yang cepat sekali beranak pinak kok menjadi Negara yang miskin. Miskin harta,
miskin moral pula.
Tentu
ada yang kurang benar disini. Ada yang Menclék!
Siapa,
atau apa, atau mengapa, atau bagaimana kok
Menclék? Semata-mata tentu tidak
hanya pemerintah yang selama ini kita tahu, selalu di rong-rong, dan jadi objek
hujatan pertama dalam perihal ini, akan
tetapi semua elemen masyarakat harus ikut andil dalam masalah yang teramat
pelik ini. Termasuk saya yang sekarang menyandang status Mahasiswa yang katanya selalu di gadang-gadang
dapat menjadi agent of change.
Saya sendiri, terkadang tidak cukup
berani untuk menghadapi masalah negeri yang teramat komplit, bagaikan bumbu
dapur mbok Sri. Kita Tanya bumbu yang
paling Pedes sampai bumbu yang paling
manis semua tersedia. Sementara mahasiswa dengan berbagai cara, dan
‘tumpangannya’, Sibuk berkecamuk mengobrolkan masalah Negara ini. Yang umumnya
memilih meleburkan dirinya ke Ormas,
Omek, Omik dan sebagainya. Bahkan ada pula di antara mereka, membentuk Ormas
baru, dengan dalih dan harapan bisa mempunyai arah gerakan yang baru, ideologi
baru yang katanya lebih progressif. Mereka bentuk komunitas, mereka bentuk
paguyuban, mereka bentuk persekutuan, mereka bentuk konsolidasi atau apa pun
saja itu, yang sampai sekarang ini belum ada luaran yang begitu berarti.
Acap kali Mereka mencari isu-isu
teraktual, yang lagi booming, yang
lagi hangat menjadi santapan debat para pengamat maupun ahli Negara. Mereka
tampung semua, mereka desuskan bersama sampai mulut mereka berbusa-busa. Namun
setelah mereka mencari bahan demi
keakuratan data atau isu yang lagi di bincangkan dan diperdebatkan yang
kemudian mendiskusikannya, semuanya hanya
menguap, ambyar.
Malah ada di antara mereka yang
ketika mendiskusikan atau memperdebatkan itu semua, hanya ingin tampil unjuk
gigi memamerkan argumenya yang ia kira luar biasa, tak lain dengan harapan dari
teman-teman diskusinya nantinya berucap “Wiiihh,
, keren arek iki”. Iya mereka terkadang hanya butuh pengakuan dari mereka
yang juga belum tentu dapat pengakuan yang harapan akhirnya agar mendapatkan ‘Jabatan’ atau Gelar.
Sekilas seperti dahsyat para
mahasiswa ini, tak mau disebut ‘kupu-kupu’(Kuliah
Pulang-Kuliah Pulang), apalagi ‘kutu-kutu’
(Kuliah Turu-Kuliah Turu), namun
mereka lebih senang disebut ‘kura-kura’
(Kuliah Rapat_kuliah Rapat). Haduh, ruwet?!
Mereka ingin disebut aktivis, namun
mereka sendiri sudah men-distorsi-kan atau mungkin tidak tahu makna ‘aktivis’.
Kalau pilihannya seperti tadi, yang hanya “kuliah rapat-kuliah rapat, namanya
berarti bukan aktivis tapi organisatoris”. Kata pemateri beberapa hari lalu di
sebuah seminar Bela Negara.
Miris
sekali, keadaan Ibu Pertiwi. Ia lagi dirundung masalah yang bertubi-tubi bak
peluru serdadu yang menghujam musuhnya,
yang putra-putri ibu pertiwi juga tahu masalah ‘bunda’-nya, tapi permasalahan
ibu hanya dijadikan nya menjadi sebuah ajang untuk mendongkrak namanya agar
dikenal dan di akui oleh saudara-saudara lainnya. Hanya demi Jabatan, Gelar
atau julukan seperti yang saya sebut diatas. Entah nantinya dijuluki Si Pintar,
Si Kritis, Si NAsionalis, dan Si anu-anu lainnya
Ah, sungguh miris nasibmu ‘ibu’. Anak-anakmu kini banyak yang bertumbuh
menjadi bajingan, yang nantinya akan menjadi bajingan ulung di Negara ini. Yang
awalnya memakan dogma dan doktrin di sekitarnya dengan mentah.dan bukan tidak mungkin, nantinya juga akan menumbuhkan
bajingan-bajingan baru.
Kami berusaha membentuk suatu ikatan, atau
mungkin konsolidasi yang mampu
menciptakan gelombang besar yang kemudian
diharapkan mampu merobohkan tembok keserakahan, tembok penindasan, tembok imperialis,
tembok kapitalis dan semua tembok-tembok yang mengukung kami (WNI).
Namun aku berkeyakinan, pasti ada di
antara mereka yang benar-benar memperjuangkan untuk ‘menyembuhkan’-mu ibu.
Iya, Aku pun sekarang tak luput dari
bagian ‘mereka’. Disisi lain aku sendiri juga belum tahu pasti, aku di bagian
yang mana di antara mereka. Apa saya tak lain juga seorang Sofis. Hanya memberi
skala prioritas tinggi terhadap retorika demi pengakuan dari mereka yang belum ter akui juga. Atau saya di
bagian yang benar-benar ingin memperjuangkan mu, ibu.
Entahlah, aku tak sebegitu
mempedulikan akan hal itu. Aku hanya ingin memerdekakan otak ku, tak mau
mem-penjara-kan keberanianku, tak mau menghamba pada ke-tidak berani-an dan
ketakutan ku yang tidak benar. Aku hanya berusaha sekuat kuatnya untuk
benar-benar punya I’tikad yang baik, iya baik dan benar.
“. .
.berusaha tidak memperpanjang baris perbudakan di Indonesia”, kurang lebih ucap
Wiji Thukul dalam puisinya.
Aku tak butuh pengakuan. Namun Kekuasaan.
Kekuasaan disini artinya, Jika menyitir kalimat dari Tan Malaka “Penguasa
itu bukanlah orang yang sekedar memimpin dan memerintah orang lain, kekuasaan
itu menunjukkan kemampuan seseorang untuk menerjemahkan keadaan dan
menguasainya, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang
belum mampu, hal itu bukanlah penguasa meskipun ia mempunyai jabatan. Ada
perbedaan antara kekuasaan dan jabatan. Jabatan hanyalah sebuah gelar,
sedangkan kekuasaan melampaui segalanya. Seorang penguasa harus mampu memayungi
dan melindungi, termasuk melindungi dirinya sendiri. Penguasa bukanlah
otoritas, namun ia mengetahui keadaan disekitarnya dan mampu mengendalikanya”.
Memang, terkadang selalu ada
korelasi antara jabatan dan kekuasaan, atau sederhananya jabatan itu
mempengaruhi kekuasaan seseorang. Tapi, ada saat kedua nya tidak bisa
berkorelasi secara sinkron.
Dan jika kita rasional kan, disini
jabatan itu bisa dikudeta, lain dengan kekuasaan tadi, tak ada yang mampu
mengkudeta, kecuali Tuhan.
Sabarlah ‘ibu’, putra-putrimu tidak
semuanya tertidur. Sudah banyak yang mulai terbangun, lir-ilir.
Aku
tahu engkau ibu yang sangat ‘besar’,
namun aku tetap berkeyakinan sajak indah dari Tuhan.
“Jika
ada sakit, pasti ada sembuh, pasti ada
obatnya. Dan Tuhan tidak akan memberikan ujian diatas kemampuan umatnya”
Selama ini aku sering mendustaimu
ibu, selalu menyenangkan dan diam mendiamkan karena kemunafikan. Tak lain
karena aku takut dijauhi teman-temanku.
Tapi,
kan ku kayuh sekuatnya. Mulai saat ini aku akan berusaha jujur walau itu
menyakitkan. Percikan revolusi mulai muncrat, berhamburan ter-patik-patik me mercik
dari hati ini.
Aku tak
sabar ingin mengutip kalimat dari Gie,
“Lebih
baik diasingkan, daripada menyerah terhadap Kemunafikan”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar