Sabtu, 14 November 2015

Ibu yang “Besar”, Putra-Putri mu Mulai Lir-ilir


Ibu yang “Besar”, Putra-Putri mu Mulai Lir-ilir
Oleh: Ab. Mufid

           
Sumber. Dokumen Pribadi
             Mungkin terlalu lama saya turut merasakan cita-cita merdeka para pendahulu saya, pahlawan, aktivis, maupun tokoh agama dan masyarakat. Saking terlalu lamanya, sampai Indonesia sudah dikatakan Merdeka, yang kala itu dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta yang berlangsung penuh gegap gempita di depan rumah kediaman dari Bung Karno di Jalan Pegangsaan timur 56 Jakarta.
            Iya teks Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia telah di Proklamasikan. Hingga saat dewasa ini sudah terhitung 70 tahun merdeka. Waktu yang cukup senja jika saya boleh analogikan kepada umunya umur  seseorang.
            Namun, kenyataanya sangat jauh dari apa yang telah
dikumandangkan waktu itu. Memang benar, Bung Karno sendiri mengatakan bahwa kemerdekaan tak lain adalah suatu ‘jembatan emas’ yang akan kita sebrangi menuju ‘pulau surga’. Dimana pulau surga di sini bermakna menjadi Indonesia yang lebih baik & benar tentunya.
            Bagaimana mungkin, kita yang mempunyai ragam budaya, dengan gugusan pulau serta hamparan lautnya yang sangat luas dengan arakan rakyatnya yang cepat sekali beranak pinak kok menjadi Negara yang miskin. Miskin harta, miskin moral pula.
Tentu ada yang kurang benar disini. Ada yang Menclék!
            Siapa, atau apa, atau mengapa, atau bagaimana kok Menclék? Semata-mata tentu tidak hanya pemerintah yang selama ini kita tahu, selalu di rong-rong, dan jadi objek hujatan  pertama dalam perihal ini, akan tetapi semua elemen masyarakat harus ikut andil dalam masalah yang teramat pelik ini. Termasuk saya yang sekarang menyandang status  Mahasiswa yang katanya selalu di gadang-gadang dapat menjadi agent of change.
            Saya sendiri, terkadang tidak cukup berani untuk menghadapi masalah negeri yang teramat komplit, bagaikan bumbu dapur mbok Sri. Kita Tanya bumbu yang paling Pedes sampai bumbu yang paling manis semua tersedia. Sementara mahasiswa dengan berbagai cara, dan ‘tumpangannya’, Sibuk berkecamuk mengobrolkan masalah Negara ini. Yang umumnya memilih  meleburkan dirinya ke Ormas, Omek, Omik dan sebagainya. Bahkan ada pula di antara mereka, membentuk Ormas baru, dengan dalih dan harapan bisa mempunyai arah gerakan yang baru, ideologi baru yang katanya lebih progressif. Mereka bentuk komunitas, mereka bentuk paguyuban, mereka bentuk persekutuan, mereka bentuk konsolidasi atau apa pun saja itu, yang sampai sekarang ini belum ada luaran yang begitu berarti.
            Acap kali Mereka mencari isu-isu teraktual, yang lagi booming, yang lagi hangat menjadi santapan debat para pengamat maupun ahli Negara. Mereka tampung semua, mereka desuskan bersama sampai mulut mereka berbusa-busa. Namun setelah  mereka mencari bahan demi keakuratan data atau isu yang lagi di bincangkan dan diperdebatkan yang kemudian mendiskusikannya,  semuanya hanya menguap, ambyar.
            Malah ada di antara mereka yang ketika mendiskusikan atau memperdebatkan itu semua, hanya ingin tampil unjuk gigi memamerkan argumenya yang ia kira luar biasa, tak lain dengan harapan dari teman-teman diskusinya nantinya berucap “Wiiihh, , keren arek iki”. Iya mereka terkadang hanya butuh pengakuan dari mereka yang juga belum tentu dapat pengakuan yang harapan akhirnya agar mendapatkan  ‘Jabatan’ atau Gelar.
            Sekilas seperti dahsyat para mahasiswa ini, tak mau disebut ‘kupu-kupu’(Kuliah Pulang-Kuliah Pulang), apalagi ‘kutu-kutu’ (Kuliah Turu-Kuliah Turu), namun mereka lebih senang disebut ‘kura-kura’ (Kuliah Rapat_kuliah Rapat). Haduh, ruwet?!
            Mereka ingin disebut aktivis, namun mereka sendiri sudah men-distorsi-kan atau mungkin tidak tahu makna ‘aktivis’. Kalau pilihannya seperti tadi, yang hanya “kuliah rapat-kuliah rapat, namanya berarti bukan aktivis tapi organisatoris”. Kata pemateri beberapa hari lalu di sebuah seminar Bela Negara.
            Miris sekali, keadaan Ibu Pertiwi. Ia lagi dirundung masalah yang bertubi-tubi bak peluru serdadu yang menghujam  musuhnya, yang putra-putri ibu pertiwi juga tahu masalah ‘bunda’-nya, tapi permasalahan ibu hanya dijadikan nya menjadi sebuah ajang untuk mendongkrak namanya agar dikenal dan di akui oleh saudara-saudara lainnya. Hanya demi Jabatan, Gelar atau julukan seperti yang saya sebut diatas. Entah nantinya dijuluki Si Pintar, Si Kritis, Si NAsionalis, dan Si anu-anu lainnya
            Ah, sungguh miris nasibmu ‘ibu’.  Anak-anakmu kini banyak yang bertumbuh menjadi bajingan, yang nantinya akan menjadi bajingan ulung di Negara ini. Yang awalnya memakan dogma dan doktrin di sekitarnya dengan mentah.dan bukan tidak mungkin, nantinya juga akan menumbuhkan bajingan-bajingan baru.
Termasuk saya. Yang kadang hanyut dalam arus kapitalisme ke-kini-an ini. Aku sendiri sekarang sedang berusaha bersama teman-teman Omek, Omik atau Organisasi apapun itu yang selama ini terasa terkotak-kotak karena atribut, ideology, dan warna panji mereka yang berbeda-beda. Kami berusaha menyatukan diri, (“me-. . .Tunggal Ika”).
             Kami berusaha membentuk suatu ikatan, atau mungkin konsolidasi yang  mampu menciptakan gelombang  besar yang kemudian diharapkan mampu merobohkan tembok keserakahan, tembok penindasan, tembok imperialis, tembok kapitalis dan semua tembok-tembok yang mengukung kami (WNI).
            Namun aku berkeyakinan, pasti ada di antara mereka yang benar-benar memperjuangkan untuk ‘menyembuhkan’-mu ibu.
            Iya, Aku pun sekarang tak luput dari bagian ‘mereka’. Disisi lain aku sendiri juga belum tahu pasti, aku di bagian yang mana di antara mereka. Apa saya tak lain juga seorang Sofis. Hanya memberi skala prioritas tinggi terhadap retorika demi pengakuan dari  mereka yang belum ter akui juga. Atau saya di bagian yang benar-benar ingin memperjuangkan mu, ibu.
            Entahlah, aku tak sebegitu mempedulikan akan hal itu. Aku hanya ingin memerdekakan otak ku, tak mau mem-penjara-kan keberanianku, tak mau menghamba pada ke-tidak berani-an dan ketakutan ku yang tidak benar. Aku hanya berusaha sekuat kuatnya untuk benar-benar punya I’tikad yang baik, iya baik dan benar.
“. . .berusaha tidak memperpanjang baris perbudakan di Indonesia”, kurang lebih ucap Wiji Thukul dalam puisinya.
 Aku tak butuh pengakuan. Namun Kekuasaan.
            Kekuasaan disini artinya,  Jika menyitir kalimat dari Tan Malaka “Penguasa itu bukanlah orang yang sekedar memimpin dan memerintah orang lain, kekuasaan itu menunjukkan kemampuan seseorang untuk menerjemahkan keadaan dan menguasainya, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang belum mampu, hal itu bukanlah penguasa meskipun ia mempunyai jabatan. Ada perbedaan antara kekuasaan dan jabatan. Jabatan hanyalah sebuah gelar, sedangkan kekuasaan melampaui segalanya. Seorang penguasa harus mampu memayungi dan melindungi, termasuk melindungi dirinya sendiri. Penguasa bukanlah otoritas, namun ia mengetahui keadaan disekitarnya dan mampu mengendalikanya”.
            Memang, terkadang selalu ada korelasi antara jabatan dan kekuasaan, atau sederhananya jabatan itu mempengaruhi kekuasaan seseorang. Tapi, ada saat kedua nya tidak bisa berkorelasi secara sinkron.
            Dan jika kita rasional kan, disini jabatan itu bisa dikudeta, lain dengan kekuasaan tadi, tak ada yang mampu mengkudeta, kecuali Tuhan.
            Sabarlah ‘ibu’, putra-putrimu tidak semuanya tertidur. Sudah banyak yang mulai terbangun, lir-ilir.
Aku tahu engkau ibu yang sangat ‘besar’, namun aku tetap berkeyakinan sajak indah dari Tuhan.
“Jika ada sakit, pasti ada sembuh,  pasti ada obatnya. Dan Tuhan tidak akan memberikan ujian  diatas kemampuan umatnya”
            Selama ini aku sering mendustaimu ibu, selalu menyenangkan dan diam mendiamkan karena kemunafikan. Tak lain karena aku takut dijauhi teman-temanku.
Tapi, kan ku kayuh sekuatnya. Mulai saat ini aku akan berusaha jujur walau itu menyakitkan. Percikan revolusi mulai muncrat, berhamburan ter-patik-patik me mercik dari hati ini.
Aku tak sabar ingin mengutip kalimat dari Gie,
“Lebih baik diasingkan, daripada menyerah terhadap Kemunafikan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar