Oleh: Ab. Mufid
Pemuda? Apa kabar pemuda Indonesia?
Semoga kita pemuda Indonesia tidak lagi ‘sakit’. Semoga sehat-sehat saja.
Apalagi menjadi pemuda yang kehilangan ‘kepemudaanya’, jangan sampai lah hal
itu terjadi. Siapa itu Pemuda? Pemuda adalah seseorang yang belum tua, tapi
sudah tidak lagi anak-anak. Hehe
menirukan pendapat adek ku yang duduk di kelas 6 SD ketika ditanya siapa itu
pemuda. Jika mengutip pasal 1 ayat 1 dari UU nomor 40 tahun 2009 tentang
kepemudaan yang berbunyi :
“Pemuda
adalah warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan
perkembangan yang berusia 16-30 tahun”
Dari pernyataan diatas, sudah sangat
jelas bahwa jika seseorang memasuki usia rentang 16-30 tahun otomatis akan
mendapatkan status Pemuda. Tapi, siapa dan seberapa penting sih pemuda itu? Kok sampai ada Acra Khusus Pemuda, Dinas Olahraga dan Kepemudaan bahkan
sampai Menteri Kepemudaan dan Olahraga itu ada yang anehnya, kebanyakan
kementerian dan dinas-dinas itu jajaran pemimpinya di isi oleh orang-orang yang
usianya sudah lebih dari 30 tahun. Kemudian juga sampai ada Sumpah Pemuda yang di
gaungkan sejak tanggal 28 Oktober 1928. Banget
pentingnya nampaknya si Pemuda ini.
Kembali kepertanyaan, siapa dan seberapa penting sih Pemuda?
Kembali kepertanyaan, siapa dan seberapa penting sih Pemuda?
Kalau saya sendiri mengartikan Pemuda
mungkin dengan arti yang sedikit berbeda, menurut saya Pemuda adalah sesorang
yang ketika ia mengalami di mana pada fase usia 15-(. . .) sekian tahun atau
masa Pubertas. Namun, tidak hanya secara biologis melainkan jua secara psikis
dan naiknya tingkat kepekaan serta kepeduliannya terhadap keadaan dan isu-isu
Negara yang selalu datang menghujam. Karena, banyak pemuda di negeri ini yang
secara Biologis ia menyandang status pemuda, namun kepekaan dan kepeduliannya
tetap saja tak ada siklus peningkatan. Malahan banyak orang yang secara usia ia
tidak pantas lagi menyandang status pemuda, sebut saja usinya sudah kepala 4,
5, bahkan sampai kepala 6, namun secara psikis dan kepekaannya bisa saya sebut merepresentasikan
Jiwa Pemuda. Jika kita mengingat kata-kata dari Bung Karno, beliau mengucapkan
seperti ini.
“Berikan
aku 1000 Orang Tua, Niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.
Berikan
aku 10 Pemuda, Niscaya akan ku guncangkan Dunia”
Kata-kata Presiden pertama yang lahir di Surabaya ini Sampai
hiperbola menurut saya. Gimana tidak? Masak 1000 orang tua hanya bisa mencabut
Semeru dari akarnya, sedangkan yang 10 Pemuda saja bisa mengguncangkan dunia. Tentu
ada makna filosofis di dalamnya.
Yang jelas, peran pemuda sangatlah
vital dalam Negara ‘kala itu’.
Dan negeri ini berdiri karena Pemuda.
Dan negeri ini berdiri karena Pemuda.
Sekarang kita intip pemuda di zaman
orde paling baru ini, iya di era Reformasi. Pertanyaan nya, Apakah pemuda zaman sekarang ini masih garang
seperti Pemuda terdahulu? Atau lebih garang daripada Pemuda yang terdahulu?
Atau sudah krisis, bahkan kegarangannya habis, atau yang saya khawatirkan mereka tak pernah kehilangan kegarangannya
sebagai pemuda, karena mereka tak pernah mempunyai Jiwa Kepemudaan. Iya ,
mungkin seperti saya sebut di atas, Pemuda saat ini telah kehilangan Kepemudaan
nya. Kalau pemuda dulu, sering-sering menulis, melawan dan diskusi namun untuk
pemuda masa ini hobi mereka adalah , Selfie, Ngrumpi, Rokok dan Ngopi.
Indonesia sedang Krisis Pemuda.
Saya
ngomong seperti ini tentu bukan tanpa ada alasan ataupun bukti. Terkait judul
tulisan ini tentang ‘Refleksi Sumpah Pemuda’ nampaknya sekarang hanya menjadi
sebuah ajang selebrasi. Terutama di kalangan Mahasiswa yang selalu di
dengung-dengungkan menjadi agent of
change. Hari sumpah pemuda, tak lebih menjadi ajang Selebrasi. Apalagi di
perparah dengan kemunculan-kemunculan ‘Selebritis berwajah Aktivis’. Mereka
menyuarakan suara Rakyat dan milih turun ke jalan raya dengan tangan kiri
mengepal ke atas sebagai bentuk perlawanan dan tangan kanannya memegang megaphone serta mulutnya ber orasi
sampai berbusa, bukan karena ingin Refleksi ataupun Kontribusi, melainkan ingin
bahkan butuh pengakuan dari teman-teman dan wartawan untuk di sebut ‘aktivis’.
Walaupun tulisan-tulisan di papan demo mereka, teatrikal mereka, gema suara
mereka mengatakan Refleksi, mengatakan Peduli, mengatakan Solidaritas,
mengatakan kepemudaan.
Tapi
,hakikatnya mau kontribusi atau sekedar eksistensi?
Tak lebih prioritas output dari gerakan mereka adalah agar bisa masuk Koran, Majalah, lebih-lebih masuk kanal TV kancah Nasional lalu terkenal.
Tak lebih prioritas output dari gerakan mereka adalah agar bisa masuk Koran, Majalah, lebih-lebih masuk kanal TV kancah Nasional lalu terkenal.
Belum lagi, geliat Pemuda yang
semakin memudar. Kalau Pemuda dulu jika orang jawa menyebutnya adalah Otot Kawat Balung Wesi, sekarang menjadi
Gigi kawat sukanya selfie.
Saya tekankan lagi, bukanya disini
saya benci Pemuda, karena saya sendiri tak lebih adalah seorang pemuda yang
tanpa saya sadari Kepemudaan saya juga semakin terdegradasi. Atau tidak jua, saya menilai Pemuda disini secara
Subjektif. Karena di luar sana, mungkin masih ada Pemuda-pemuda yang
benar-benar Pemuda, walupun hanya minoritas.
Tapi, bisa kita lihat sendiri
Pemuda-pemuda Indonesia mayoritas. Secara umum, memang keadaanya seperti itu. Kalau saya boleh memberi sebutan lagi, Pemuda Indonesia pada saat ini sedang meng-impotensi-kan
diri. Iya Impoten. Gak iso ngaceng! Tak
terangsang sama sekali dengan keadaan-keadaan yang sebenarnya bisa membuatnya
‘nafsu & bergairah’. Mungkin perlu adanya obat kuat anti loyo.
Hemmm, , , sejenak kita heningkan
cipta, untuk mengenang dan mendoakan para Pemuda pendahulu kita, seraya
merefleksi isi dari sumpah Pemuda.
“Kami
putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia
Kami putra dan Putri Indonesia, mengaku
bertumpah darah yang satu Tanah air
Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung
bahasa persatuan bahasa Indonesia”
3
butir di ataslah yang di ucapkan sebagai sumpah oleh para Pemuda Indonesia yang
sebelumnya di adakan kongres Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (P3I) yang
di usulkan oleh Mr. Prof. Moh. Yamin. S.H. Sebelum 3 butir ini menjadi konsensus
bersama, Moh. Yamin mengutarakan 5 hal yang dijadikannya latar belakang
terbentuknya Sumpah Pemuda yaitu:
1.
Sejarah
2.
Bahasa
3.
Hukum adat/Toleransi
4.
Pendidikan
5.
Kemauan
5
hal di ataslah yang melatabelakangi sumpah Pemuda yang akhirnya menjadi
cita-cita bersama yang tak lain adalah kemauan untuk Merdeka.
Tentu, 5 hal tersebut atau 3 butir
isi dari Sumpah Pemuda jika kita jelaskan secara komprehensif sangatlah
mendalam. Dan butuh 1 kardus rokok serta ribuan cangkir Kopi untuk menjadi
teman kita mengurai isi dari sumpah itu. Yang pasti, kelima hal tersebut
menngambarkan sifat ke-egaliter-an. Sama rata-sama rasa, Senasib seperjuangan.
Disini Saya cenderung ingin mengajak
para pemuda untuk sama-sama kita meng-aktualisasi-kan diri kita menjadi pemuda
yang benar-benar pemuda. Dengan cara apa? Yang jelas beberapa uraian saya di
atas saya kira cukup bisa men-stimulus
atau paling tidak memberi gambaran umumnya. Oh ya, hampir saya lupa, kemarin
lusa saya sempat buka web dari RRI (Radio Republik Indonesia), ada Sumpah
Pemuda jilid II. Adapun bunyi Sumpah Pemuda jilid II Sebagai berikut:
1.
Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji
dengan segenap jiwa dan raga, tetap setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan
Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
2.
Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji
dengan segenap jiwa dan raga, mewujudkan Indoneisa sebagai bangsa yang
bermartabat, Demokratis, Adil dan Sejahtera
3.
Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji
dengan segenap jiwa dan raga, membangun Indonesia dengan memuliakan lautnya dan
berdiri teguh didaratannya dengan pembangunan yang berwawasan cinta lingkungan.
Adanya
sumpah Pemuda jilid II ini bukan bermaksud mengkhianati atau tidak mengakui
terhadap sumpah pemuda yang pertama. Saya
tidak menanyakan atau mencari hal ini lebih mendalam, hanya saja saya
menilai sumpah pemuda jilid II ini adalah batasan, atau gambaran, maupun
cara/metode secara umum untuk kita
merefleksikan Sumpah Pemuda yang pertama. Untuk secara sinkron atau spesifiknya,
saya kembalikan kepada para pembaca yang budiman. Kerena bentuk Refleksi pun
sangat variatif.
Iyo rek, mosok 87 tahun dari 1928-2015 mung ngucap sumpah tok. Kapan
pembuktiane??
Jangan Diam, apalagi mendiamkan! Kerena yang demikian hanya semakin memperpanjang barisan perbudakan!
Jangan Diam, apalagi mendiamkan! Kerena yang demikian hanya semakin memperpanjang barisan perbudakan!
Salam Pemuda!
Luar biasa.
BalasHapusSemoga menjadi pemuda sejati
Mantap Gan! ;)
BalasHapus