Selasa, 13 Oktober 2015

NENEK, SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU



NENEK, SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU

    Cukup lama, kira-kira seminggu atau dua minggu berlalu usiaku berkurang tanpa karya. Iya, aku tidak menggoreskan tintaku sama sekali dewasa ini, juga malas membaca. Padahal aku sangan ingin, bahkan butuh mendawamkan kegiatan baca tulis ini.  
    Ah, lagi-lagi penyakit hati datang. Masih teringat jelas, ketika itu aku ingin menulis ucapan selamat kepada Pancasila yang kala itu di peringati sebagai hari Kesaktiannya oleh warga Indonesia yang jatuh setiap  tanggal 1 Oktober, namun semua itu tak bisa
atau belum ku lakukan, karena aku harus pulang ke kampung halaman, yang sebelumnya  aku dapat telefon dari kakak ku di kampung halaman sana. “kring, , , kring, , ,kring” nada HP ku berbunyi di sertai suara getar yang membuatku sadar bahwa ada telefon masuk di HPku. Tak ku hiraukan, waktu itu aku sedang kuliah. Dan ternyata panggilan itu membuatku terhuyun akan tanda Tanya, panggilan dari kakak ku masuk sampai 3 kali, sembari aku mengatur Alarm HPku agar tidak berdering, cukup getaran saja. Tak biasa kakak ku  menelfon sampai diulangi 3 kali seperti ini. Aku hanya berharap kala itu agar dosen cepat memulangkan mahasiswa, dan benar tak lama sekitar 5 menit kemudian,  dosen mengakhiri perkuliahan pada hari kamis itu.    Lantas akupun keluar kelas, segera membuka HP bermaksud untuk menelpon balik kakak ku, setelah akau buka kunci pengaman HPku, langsung jariku mengetik nama “Mas”  (Nama  Kontak, kakak ku di HP butut ini), ternyata belum sampai akau menekan tombol telefon tiba-tiba ada panggilan masuk dengan nama “mas” di HPku. Sontak aku angkat.
“Iya, assalamualaikum” jawabku dengan air muka yang penuh tanda tanya.
“Wa’alaikum salam” jawab masku dengan santai.
“Enek opo mas?” lanjutku dengan perasaan yang tambah resah.
“Dok’e meninggal”. Jawab kakak ku dengan sedikit terbata-bata.
“Apa? Kenapa? Dimana? Sekarang? Hah? Sa’iki?”. Tak tahu kalimat berantakan itulah yang keluar dari mulut bejatku ini tatkala mendengar kabar bahwa nenek telah di panggil mengahadap Tuhan.
“Iya, tadi pagi sekitar jam 9 nenek tutup usia”, ucap kakak ku dengan nada sedikit menenangkan aku.
ku helaikan nafas panjang, sambil aku berjalan menuruni tangga  dari gedung lantai 3 perkuliahan tadi.
“Innalillahi. . .  bisikku dalam hati”, masih dengan telefon ku tempelkan di telingaku.
“Ini langsung dimakamkan, kamu pulang ndak?” lanjut kakak ku.
“Iya mas, aku pulang”, jawabku dengan perasaan yang mencoba perlahan tenang.
“Iya, nyantai saja, gak usah kesusu”,
“Iya”.
“Ya, sudah. Assalamualaikum”. Pungkas kakak ku.
“Wa,alaikum salam” jawabku, sambil perlahan menjauhkan HPku dari telinga, kemudian memasukkannya ke saku celana hitamku. Kala itu perasaanku kosong, hanya satu yang mengisi, bahwa aku harus cepat-cepat pulang.
    Aku pun sampai dilantai dasar Fakultas Ekonomi ini. Serba dilematis, disatu sisi aku harus pulang karena nenek meninggal, namun jika langsung pulang itu membutuhkan waktu kira-kira 6 jam perjalanan dan pasti prosesi pemakaman sudah rampumg, kala itu  jam menunjukkan pukul 11 an siang WIB. Disisi lain, sore hari nanti jam 15.45 WIB aku juga masih ada kuliah, akhirnya, aku duduk terpekur di bangku yang berjajar di pinggir kelas. Dengan helaian nafas yang sesekali mendesah berhembus teramat berat. Ku raba-raba saku bajuku untuk mengambil sebatang sigaret, dengan maksud mungkin nanti bisa sedikkt tenang. Akhirnya ku ambil satu rokok merk lokal Malang sini, kemudian menyulutnya. Ku hisap perlahan, dan ku hembuskan. Ah lumayan, dengan duduk terpekur sembari menghisap asap tembakau bisa membuatku berangsur tenang dengan sesekalai hati ini kupaksa berucap astagfirullohal adziimm. . .
“Jika aku langsung pulang, maka setelah aku tiba dirumah aku sudah ketinggalan dengan prosesi pemakaman dan jua aku kehilangan kuliahku, ah ini bukan bijaksana”. Ucapku dalam hati, dengan tangan kiriku yang mengusap dahi.
Gema adzan terdengar bergaung hampiri telingaku, ternyata itu adzan dhuhur yang dikumandangkan dari masjid kampus yang kebetulan letaknya tidak jauh dari Fakultas tempatku menempa ilmu ini. Perlahan ku berdiri, beraharap memenuhi panggilan terindah itu. Kuseret langkah menyusuri gedung-gedung kampus dengan sedikit gontai. Teramat ikhlas panggilan itu, begitu juga seharusnya aku mendengar kabar duka ini.
    Tak lama kemudian aku sampai dipelataran masjid, masih sempat bibir ini bergemih melantunkan doa masuk masjid. Ku duduk, dengan setengah ambruk karena mungkin gejala melankolis dan jua kala itu tas ranselku berisi buku-buku yang lumayan berat yang kutopang dipundakku.    
    Di tangan kananku masih memegang  mesra rokok yang mau habis ini, aku dapatkan satu hisapan terakhir sebelum kemudian aku membuangya di selokan tempat mengalir nya air bekas wudlu masjid di dekatku yang gemricik mengalir.
Kutarik tali sepatu, lalu membukanya. Langsung aku berdiri sigap untuk  segera berjalan ketempat wudlu. Tak seperti tadi yang berjalan seperti orang yang mabuk. Seperti ada magnet yang menarik kaki ini. Ku singsisngkan lengan dan celanaku, kemudian membasuhnya dengan air wudlu. Adem, seger. Saraf-saraf yang tadi seperti mbulet tak karuan rasanya sedikit demi sedikit mulai ter urai kembali sedia kala. Aku pun datang menuju orang-oarang yang sudah rapi duduk di sof-sof masjid sembari menunggu iqomah sang muadzin. Masih ada waktu, aku memilih shalat 2 rakaat kobliah duhur, setelah salam tak lama berselang muadzin iqomah orang-orang mulai bangkit dari I’tikafnya tak terkecuali diriku, segera beranjak  berdiri mengisi shof-shof di depan yang masih kosong. Hemm, , , di sini aku diperlihatkan dinamika hidup tentang  keihlasan, kepatuhan, dan ketenangan. Mereka begitu tulus dan istiqomah untuk melakukan ibadah wajib ini. Tak ada perbedaan yang esensial, Rektor, Dekan, Dosen, Mahasiswa, sampai Satpam dan tukang kebun disini sama derajatnya. Hanya kadar taqwa di hadapan Allah yang membedakannya.
    Seusai salam,  aku lipat kakiku lalu duduk bersila. Meminjam syair-syair suci Tuhan untuk kulantunkan. Kala itu ku rengkuh kan doa khusus untuk nenek ku yang sudah di alam sana. Jua  meminta petunjuk kapan sebenaranya aku harus  pulang, sekarang atau sekalian habis kuliah, atau bahkan besok baru pulang.
Nampaknya, secercah cahaya perlahan kurasakan mulai  menembus kegelapan mata ini. Aku harus tahu apa itu bijaksana, sampai mana aku bisa menerapkan dan merasakkannya. Aku pun memutuskan untuk pulang ke kampung  setelah kuliah nanti sore. In sha Allah ini pilihan yang telah dipilihkan oleh Maha pemilih. Jam pun berjalan cepat, tiba-tiba sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Dan adzan ashar berkumandang, aku pilih untuk shalat dulu. Kemudian bersama mahasiswa lain berhuyun-huyun keluar dari masjid kemudian menuju kelas masing-masing yang mungkin di antara mereka ada yang kuliah jam-jam dimana otak ini minta diistirahatkan.    Aku masuk kelas, ku menconba bersifat profesional dan seperti biasanya. Dan Alhmadulillah berhasil, aku mengikuti kuliah dengan seperti biasa, bisa mengkondisiskan tempat dan waktu. Aku aktif diskusi, bertanya kepada dosen dan mengeluarkan buku catatan kuliahku. Iya seperti biasanya. Seperti tidak terjadi apa-apa. Memang waktu itu dikellas ada diskusi. Walau tak bisa kupungkiri sesekali rasa duka menyeruak hati.  Teramat asyik dan sexy tema diskusi kala itu. Seingatku membahas tentang pengangguran dan teori permintaan serta penawaran kerja.  Diskusi berjalan 2 arah, mengalir,  kadang juga memanas. Ah, itu hal biasa. Semua teman-teman juga nampaknya tertarik dan larut akan diskusi mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Manusia ini.     Sampai tak terasa, cahaya matahari di jendela kelas mulai berubah warna agak kuning ke merah-merah an jua semakin redup. Ku lihat jam, ternyata sudah jam 17.25 WIB. Diskusi kelas ternyata  kebetulan  pas selesai juga. Alhamdulillah, , , aku pun langsung keparkiran bersama teman satu kontrakan sekaligus teman satu kelasku, kami pulang bareng. Sampailah kami di rumah kontrakan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus.
    Alhamdulillah, adzan berkumandang dari Musholla kecil samping kontrakanku. Ku letakkan tas dan sepatu , segera menuju kamar dan kutarik handuk yang sampirkan di depan pintu kamarku, kemudian meluncur ke kamar mandi. Kubasahi semua anggota tubuhku, kusiram dari ujung kepala sampai ujung kuku kaki ku. Setelah mandi, aku ke kamar untuk ganti pakaian. Latas sholat maghrib berjamaah bersama teman satu kamarku yang sudah siap dengan tangannya yang memegang sajadah.
 “Ayo sholat sodara, nanti langsung yasinan” ajaknya.
“Iya,. . “  jawabku dengan melanjutkan “ Oh iya ya, sekarang malam juma’at waktunya yasinan”.
 Tanpa menaggapi omonganku ia langsung membeber sajadahnya dan iqomah. Iya, di kontrakan ku Alhamdulillah setiap malam jum’at ada agenda yasinan.
    Kamipun sholat,   sampai seusai salam. Aku belum mengabari teman-teman kontrakanku bahwa nenek ku meninggal.
“Ayo yasinan,  ayo,  ayo , ayo” , ,  suara teman teman saling bersahutan.
Kamipun berkumpul diruang tamu, duduk bersila melingkar.

 “Rek, aku habis yasinan ini langsung pulang kampong ya”. Celetuk ku sebelum acara dimulai.
“Ndoh, tumben sodara, ada apa?”, tanya salah satu temanku.
“Nenek ku meninggal”.
“Innalillahi. . .“ suara teman-teman bersama terucap.
“Kapan iku mas?”
“Tadi  jam 9 pagi”. Jawabku dengan senyum, berharap teman-teman tetap santai.
“Ya sudah rek, kita khususkan yasinan kali ini pada nenek nya mas Mufid”. Lanjut salah satu temanku.
Yasinan kita  mulai, teman-teman Nampak semangat, dan bersungguh-sungguh  begitupun aku. Kira-kira 15 menit berlalu, yasinan telah usai. Aku pun segera pamit kepada teman-teman untuk berangkat pulang.
“Mas, sampeyan siapa yang ngantar ke terminal?” Tanya beberapa temenku.
“Nah, iku” jawabku dengan santai, dan melanjutkan “Sampeyan nganggur ta kin?”(namanya solikhin) tanyaku kepada salah satu temanku yang betanya tadi.
“Iya mas,” jawabnya. “Tak anterin ta mas?!”
“Oke,  tolong ya”, jawabku dengan senyum kecil sembari ku tanggalkan tas ranselku yang berisi beberapa potong baju dipundak.
Segera, pria asli semarang ini bersiap-siap, mengambil kunci motornya dan  menyambar helm yang tergantung berjejer ditembok pinggir ruang tamu agak belakang.    Motornya kebetulan sudah diparkir didepan kontarakn yang nampaknya juga memahami kalau saya mau pulang. Motorpun di pacu, jalan demi jalan kami lewati, macet, asap kendaraan, menghiasi perjalanan kami ke terminal yang sesekali diperindah dengan suara-suara klakson yang keluar dari mobil maupun motor. Tak ada percakapan yang berarti antara aku dan solikin yang tercipta ketika kami diatas motor. Sampailah kami didepan terminal Arjosari, setelah kira-kira setengah jam perjalanan. Lagi-lagi Tuhan tidak pernah tidur, biasanya aku harus menunggu bus dulu, kali ini bus telah nampak di depan gerbang keluar terminal. Aku langsung turun dari motor, melepas helm.
“kKn, makasih ya. Maaf lho ngrepotin”. Ucapku sambil bersalam pamitan dengannya.
“Sama-sama, nyantai mas”. Jawabnya.
“Ya sudah kin, aku berangkat sek yo, assalamualaikum”. Ucapku perlahan melepas jabat tangan sambil  tergopoh-gopoh menuju bus. 
“Oke mas, wa’alaikum salam. Salam buat keluraga mas”. Pungkasnya sambil melambaikan tangan. Aku hanya menjawab pesan salam pria jurusan manajemen ini dengan isyarat, Ku acungkan jempolku, sambil aku menaikai pintu masuk bus.
    Ku cari tempat duduk yang longgar, berharap bisa tidur sejenak. Kala itu jarum jam menunjukkan pukul 18.30 an. Ku temukan tempat duduk di deretan kanan dari pak sopir agak belakang. Waktu itu bus terlihat memang sangat longgar penumpangnya. Aku tak terlalu menghiraukan itu, aku keluarkan HP dari saku bajuku dan handset lalu kuputar lagu berharap bisa tersihir dengan alunan music hingga kemudian mataku terpejam , karena perjalanan dari Malang ke Kota Minyak ini memakan waktu kira-kira 5-6 jam an. Beberapa daftar lagu group band Padi telah terputar yang membuat mata ku perlahan terpejam, namun tak lama kemudian kondektur menghampiriku dan menayakan tempat yang kutuju. Dengan karcis ditangannya yang juga kulihat ada beberapa lembaran uang di tangannya, kusodorkan uang 50 ribu sembari berucap “Surabaya pak”.
“25 ribu mas”. Singkat jawab kondektur.
Karcispun ku terima, lalu kulipat kecil kemudian ku masukkan di tas. Jalan raya Nampak sepi, hanya terlihat beberapa mobil dan motor yang berlalu lalang dan terlihat hampir disepanjang jalan menuju Surabaya, berjejer bunga trotoar yang menjajakan dagangannya. Terlihat juga beberapa anak muda yang asyik ngopi. Aku berniat untuk merapatkan mata ini, namun ternyata tidak bisa. Berkali-kali ku pejamkan mata setelah pak kondektur menarik uang tadi, selalu rasanya mata ini ingin terbelalak. Seolah, ia ingin menemani kesendirianku.
    Di bangku sebrang sampingku ada seorang perempuan muda yang lagi asyik senyam-senyum dengan gadjet-nya, dan di bagian belakang seorang laki-laki separuh baya tertidur pulas. Akhirnya, aku putuskan untuk tidak tidur malam itu. Serasa aku dimabuk angin malam.
    Setelah kira-kira perjalanan 2 jam, papan petunjuk jalan raya ku baca, tertuliskan “Terminal Bungurasih” yang kuintip dari jendela bus yang agak lembab karena embun yang mulai turun. Sampailah saya di terminal Surabaya, sontak ku beranjak dari bangku kemudian menuju pintu keluar bagian belakang,  langsung kaki ini seperti menyeretku untuk segera mencari bus jurusan Bojonegoro. Sudah terliaht di tempat tunggu dekat lorong-lorong bus sesuai jurusannya masing-masing, para kondektur, kernet, saling menawarkan jurusan bus yang di embannya.
“Lumajang mas?” celetuk salah satu kondektur bus kepadaku.
“Ndak pak,” jawabku “Saya mau ke Bojonegoro”.
“Langsung, di lorong paling barat mas”, sahut bapak bertopi ini.
“Iya pak, terimakasih”. Jawabku dengan segera menuju lorong paling barat.
Amat riuh, diterminal kala itu. Tidak hanya seruan kondektur  dan kernet yang riuh rendah bergema, pedagang asonganpun selalu ikut andil dalam riuhnya terminal yang juga terkadang di iringi deru mesin-mesin.
    Ketika ku berjalan menuju lorong paling barat, aku perhatikan orang-orang ini. Sebenarnya mereka itu. . . ?Ah. Aku ndak tahu. Disebuah warung makan sebelah WC umum ku pelototi  seorang lelaki tua yang sedang makan nasi bungkus dengan lahapnya, seperti ia sudah seminggu tidak makan. Atau mungkin juga benar, ia memang belum makan seminngu yang lalu. Membuatku terus menerus mencoba membasahi bibir ini dengan ucapan syukur terimakasih kepada Tuhan yang Maha adidaya sekaligus rasa prihatin yang hanya kupendam.
    Memang benar, bus warna putih jingga telah standby dengan beberapa penumpang didalamnya. Aku pun langsung naik, dan kembali duduk ditempat yang kiranya sepi. Nampak para pedagang asongan juga naik, datang dan pergi menawarkan dagangannya. Aku tak tertarik untuk membeli, entah kenapa. Atau eman uang, atau bagaimana. Yang jelas  mood  ini lagi tidak bagus. Setelah bus penuh sesak penumpang, sopir memacu busnya. Perlahan bus yang saya naiki meningalkan terminal Surabaya. Tak jauh berbeda, kala itu kendaraan juga tidak padat.
    Bus tiba-tiba  berhenti di perempatan lampu merah, ternyata ada seorang penumpang yang naik sekaligus musisi jalanan masuk bersamaan. Bus kembali melaju, semakin kencang dan kemudian tanpa kusadari bus yang saya naiki berada dijalan tol. Deru mesin semakin keras, karena sopir menambah pacu busnya. Hening, gelap, dan kurasa jendela bus yang ku naiki mulai buram karena embun yang semakin tebal menyelimuti malam  itu. Tiba-tiba Terdengar sayu-sayu suara seruling khas sunda, ku cari darimana asal suara tersebut, ternyata musisi yang naik diperempatan jalan tadi mulai beraksi. Ada yang berbeda dari cara ia memainkan serulingnya, jika kebanyakan orang meniup serulingnya dengan tiupan dari mulut,  musisi yang satu ini meniupnya nya dengan hembusan udara yang ia hembuskan dari hidungnya. Sungguh unik, dan Nampak sebuah buku bersampul Bung Karno di tangan kanannya yang juga sedang memegang seruling yang ia lantunkan merdu. Ternyata musisi ini tidak hanya memainkan seruling, setelah main seruling ia memberi wejangan atau lebih tepatnya ceramah kepada seluruh penumpang dan orang yang mendengar suaranya. Sangat lantang suaranya, hingga deru mesin yang tadi riuh rendah kini tenggelam. Suaranya memekik merobek telinga siapa saja yang mendengarkannya. Sesekali  Ia mengucapkan ayat-ayat suci yang entah tak tahu pasti apa maknanya. Akupun mersa tergelitik dengan keunikannya ini, ku hentikan memutar music, kemudian memilih menu rekam di HPku bermaksud merekam nya.
    Ia ngomong panjang lebar, dan terlebih ia sering mengomongkan perihal Negara Indonesia ini. Ada rentetan kalimat yang benar-benar sampai saat ini menancap dipikiarnku.
“Para demonstran sudah tidak di anggap, suara mereka tak begitu berarti untuk sesuatu yang di demokannya, terpaksa Ibu Pertiwi sendiri yang berdemo, Ibu Pertiwi sendiri yang geram, ia memuntahkan laharnya, meluapakan air bahnya, ia merenggangkan tanahnya”. Pekik si musisi gondrong ini dengan matanya yang terpancar membara. Kata-kata itu membuatku terpekur lama untuk mencari maknanya. Bahkan sampai saat ini.
    Namun yang jelas, jika dirasa-rasa ada benarnya kalimat musisi tersebut.  Indonesia semakin lama semakin banyak terjadi disekuilibrium, terutama dalam kekayaan hayatinya. Pemikiran seperti itu sering terpintas dan lama berlalu.
Setelah musisi itu mengakhiri ceramahnya, ia mengeluarkan sebuah kantong plastik yang sudah kumuh, membukanya klemudian menyodorkannya disetiap penumpang dari depan hingga belakang. Kembali riuh rendah suara mesin berderu menemani perjalananku. Di malam jum’at itupun, bintang malas untuk keluar karena mungkin tebal selimut embun menyekapnya. Sesekali ku tengok para penumpang, ada yang tidur, ada yang sedang bertelfon dengan pacarnya mungkin, dan ada juga yang harap cemas untuk segera bus ini parkir di terminal berikutnya, termasuk saya.
    Perjalanan malam itu terasa nikmat, walau aku sendiri tak begitu menikmati perjalanan itu karena perasaan yg gulana tadi, namun malam yang semakin dingin seperti meremuk redamkan rasa gundahku. Hingga tak terasa, ternyata bus yang kunaiki hampir tiba di terminal Rajekwesi, Kota Ledre. Aku bersiap di depan pintu keluar bagian depan dekat kernet.
“Pak, saya turun di pasar mojodeso”. Ucapku sembari menaggalkan tas ranselku di pundak. Kebetulan jika dari arah Malang ke Bojonegoro, desa tempatku lahir terletak sebelum terminal Bojonegoro.
“Pasar mojo, pasar mojo?!!”. Teriak kernet sambil membukakan pintu bus yang perlahan menepi. Bus terhenti tepat di depan pasar mojo, dan akupun turun seraya berucap kepada kernet, “Matur suwun pak”.
“Sami-sami mas”. Sahut kernet sambil meutup pintu bus nya kembali.
Aku menyebrang jalan, kemudian aku duduk di mushola dekat pasar yang cuma buka  jam 6 sampai jam 10 an malam ini. Kemudian ku keluarkan HP dan ku telfon Bapak yang sebelum berangkat dari Malang tadi sempat mengirim pesan melalui sms persis sama yang dipesankan kakak ku “santai, gak sah kesusu”.
    Kala itu sudah jam setengah 12 malam WIB. Jarak rumahku dari tempatku turun dari bus tadi, masih lumayan jauh, sekitar 300 meter an. Jadi aku menelfon Bapak, bermaksud minta dijemput.
“Iya assalamualaikum, nyampe mana fid?” jawab bapak ku di telfon.
“Ini saya sudah di pasar mojo bapak”. Jawabku pelan.
Bapak ku setengah berteriak berkata “Ndi, pandi? Mufid tolong parani ndi, bocahe nek pasar mojo”.
Tak terdengar jawaban dari nama yang disebut bapakku tadi, (Pandi) atau saya memanggilnya dengan sebutan yang mungkin agak sopan, yaitu dengan sebutan Om Pandi. Iiya , beliau adalah adik dari Ibu saya. Jadi ku perindah namanya dengan embel-embel  ‘om/lek’ didepan namanya.
“Wes fid, Lek Pandi perjalanan mrunu”. Terang bapakku.
“Iya pak, nggeh mpun, assalamualaikum”.
“Wa’alaikumsalam”. Pungkas bapakku.
Tak lama kemudian terdengar suara motor yang semakin lama, suaranya semakin mendekat, dan ternyata benar, om Pandi datang menjemputku.
“Ayo bos, naik”. Celetuk beliau sambil tersenyum menghiburku.
“Oke boss”, sahutku dengan segera naik ke motor.
    Om pandi menggengam gas motor kemudian memacunya.
“Jam berapa dari sana (malang)?” Tanya pria  berambut kriwol ini.
“Hemmm, ,  jam berapa tadi om, kok aku agak lupa? Sekitar habis maghrib, ya kurang lebih jam setengah tujuh”. Jawabku dengan mendekatkan kepala agak kedepan.
“Oh, lha gak macet?”
“Alhamdulillah, ndak om”.
Akhirnya saya sampai didepan rumah, didepan rumah terlihat Ibu, Bapak dan beberapa sanak familiku. Aku turun menyusuri jalan kecil depan rumah menghampiri mereka.
“Assalamualaikum” ucapku sembari meraih tangan ibu dan menciumnya.
“Wa’alaikum salam”. Jawab ibu bersama sanak sodara. Kemudian ku salami Bapak dan semua keluarga.  Ku tengok ke belakang, om Pandi ternyata langsung turun juga menuju ke kerumunan orang di depan rumahku yang asyik menyiapkan acara karnaval dalam rangka hari ulang tahun Kabupaten Bojonegoro yang kebetulan dilaksanakan besok.  Langit malam  yang hitam pekat  itu nampaknya sengaja mewakili perasaan ku dan semua keluarga akan kabung duka.
“A’an (adikku) dimana buk?. Tanyaku, mengibur diri sendiri.
“Tidur wesan fid”, jawab Ibuk ku setengah tersedu, seakan beliau tahu pertanyaan ku ini hanya untuk mengibur diriku sendiri. Memang tak bisa dipungkiri, kedua mata ibuk  mbhendol, berkatup menandakan orang yang habis nangis lama.
“Sabar ya buk, semua bakal pulang”. Gumamku dalam hati sambil aku duduk disebelah emak ku dan melepas tali  sepatuku. Kemudian aku masuk kedaalm rumah. Hawa rumah ini benar-benar berbeda, berkabung. Jua beberapa lampu rumah yang telah dipadamkan karena sudah larut dan tikar yang dibeber diruang tamu yang diatasnya masih ada sisa makanan yang diwadahi piring putih bermotif jago, yang mungkin tadi sore digunakan oleh para peta’ziah mengaji, membuatnya semakin kental akan duka.
    Namun, setelah aku memasuki ruang tamu ada satu kamar yang dibuka lebar pintunya dengan dibias lampu kuning, itulah kamar nenek dulu sebelum  dipanggil   Tuhan. Aku hanya sepintas lewat kemudian masuk ke kamarku, ku lepaskan tas di pundakku. Kemudian menuju ke kamar mandi untuk bersih diri. Dingin air yang kusiramkan keseluruh tubuh seperti memelukku erat, sekalian ku ambil air wudlu, kemusian ganti pakain dan sholat Isya’.
    Ku pinjam beberapa kata-kata ataupun kalimat Tuhan dalam pintaku, terutama ku pinjam ayat Tuhan yang maksudnya memintakan ampun kepada almarhumah nenekku. Dalam sujudku ini, baru aku sedikit mulai merasa dan menerima bahwa nenekku telah tiada. Ada beberapa patah kata yang meluncur mencoba mengikat ikhlas, di akhir do’aku yang setengah tersedu malam itu,
“Selamat jalan nenek, selamat menempuh hidup baru”.

Oleh : Ab. Mufid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar