NENEK, SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU
Cukup
lama, kira-kira seminggu atau dua minggu berlalu usiaku berkurang tanpa karya.
Iya, aku tidak menggoreskan tintaku sama sekali dewasa ini, juga malas membaca.
Padahal aku sangan ingin, bahkan butuh mendawamkan kegiatan baca tulis ini.
Ah,
lagi-lagi penyakit hati datang. Masih teringat jelas, ketika itu aku ingin
menulis ucapan selamat kepada Pancasila yang kala itu di peringati sebagai hari
Kesaktiannya oleh warga Indonesia yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober, namun semua itu tak bisa
atau belum ku lakukan, karena aku harus pulang ke kampung halaman, yang sebelumnya aku dapat telefon dari kakak ku di kampung halaman sana. “kring, , , kring, , ,kring” nada HP ku berbunyi di sertai suara getar yang membuatku sadar bahwa ada telefon masuk di HPku. Tak ku hiraukan, waktu itu aku sedang kuliah. Dan ternyata panggilan itu membuatku terhuyun akan tanda Tanya, panggilan dari kakak ku masuk sampai 3 kali, sembari aku mengatur Alarm HPku agar tidak berdering, cukup getaran saja. Tak biasa kakak ku menelfon sampai diulangi 3 kali seperti ini. Aku hanya berharap kala itu agar dosen cepat memulangkan mahasiswa, dan benar tak lama sekitar 5 menit kemudian, dosen mengakhiri perkuliahan pada hari kamis itu. Lantas akupun keluar kelas, segera membuka HP bermaksud untuk menelpon balik kakak ku, setelah akau buka kunci pengaman HPku, langsung jariku mengetik nama “Mas” (Nama Kontak, kakak ku di HP butut ini), ternyata belum sampai akau menekan tombol telefon tiba-tiba ada panggilan masuk dengan nama “mas” di HPku. Sontak aku angkat.
atau belum ku lakukan, karena aku harus pulang ke kampung halaman, yang sebelumnya aku dapat telefon dari kakak ku di kampung halaman sana. “kring, , , kring, , ,kring” nada HP ku berbunyi di sertai suara getar yang membuatku sadar bahwa ada telefon masuk di HPku. Tak ku hiraukan, waktu itu aku sedang kuliah. Dan ternyata panggilan itu membuatku terhuyun akan tanda Tanya, panggilan dari kakak ku masuk sampai 3 kali, sembari aku mengatur Alarm HPku agar tidak berdering, cukup getaran saja. Tak biasa kakak ku menelfon sampai diulangi 3 kali seperti ini. Aku hanya berharap kala itu agar dosen cepat memulangkan mahasiswa, dan benar tak lama sekitar 5 menit kemudian, dosen mengakhiri perkuliahan pada hari kamis itu. Lantas akupun keluar kelas, segera membuka HP bermaksud untuk menelpon balik kakak ku, setelah akau buka kunci pengaman HPku, langsung jariku mengetik nama “Mas” (Nama Kontak, kakak ku di HP butut ini), ternyata belum sampai akau menekan tombol telefon tiba-tiba ada panggilan masuk dengan nama “mas” di HPku. Sontak aku angkat.
“Iya, assalamualaikum” jawabku dengan air
muka yang penuh tanda tanya.
“Wa’alaikum salam” jawab masku dengan
santai.
“Enek opo mas?” lanjutku dengan perasaan
yang tambah resah.
“Dok’e meninggal”. Jawab kakak ku dengan
sedikit terbata-bata.
“Apa? Kenapa? Dimana? Sekarang? Hah? Sa’iki?”.
Tak tahu kalimat berantakan itulah yang keluar dari mulut bejatku ini tatkala
mendengar kabar bahwa nenek telah di panggil mengahadap Tuhan.
“Iya, tadi pagi sekitar jam 9 nenek tutup
usia”, ucap kakak ku dengan nada sedikit menenangkan aku.
ku helaikan nafas panjang, sambil aku
berjalan menuruni tangga dari gedung
lantai 3 perkuliahan tadi.
“Innalillahi. . . bisikku dalam hati”, masih dengan telefon ku
tempelkan di telingaku.
“Ini langsung dimakamkan, kamu pulang
ndak?” lanjut kakak ku.
“Iya mas, aku pulang”, jawabku dengan
perasaan yang mencoba perlahan tenang.
“Iya, nyantai saja, gak usah kesusu”,
“Iya”.
“Ya, sudah. Assalamualaikum”. Pungkas
kakak ku.
“Wa,alaikum salam” jawabku, sambil
perlahan menjauhkan HPku dari telinga, kemudian memasukkannya ke saku celana
hitamku. Kala itu perasaanku kosong, hanya satu yang mengisi, bahwa aku harus
cepat-cepat pulang.
Aku
pun sampai dilantai dasar Fakultas Ekonomi ini. Serba dilematis, disatu sisi
aku harus pulang karena nenek meninggal, namun jika langsung pulang itu
membutuhkan waktu kira-kira 6 jam perjalanan dan pasti prosesi pemakaman sudah
rampumg, kala itu jam menunjukkan pukul
11 an siang WIB. Disisi lain, sore hari nanti jam 15.45 WIB aku juga masih ada
kuliah, akhirnya, aku duduk terpekur di bangku yang berjajar di pinggir kelas.
Dengan helaian nafas yang sesekali mendesah berhembus teramat berat. Ku
raba-raba saku bajuku untuk mengambil sebatang sigaret, dengan maksud mungkin
nanti bisa sedikkt tenang. Akhirnya ku ambil satu rokok merk lokal Malang sini,
kemudian menyulutnya. Ku hisap perlahan, dan ku hembuskan. Ah lumayan, dengan
duduk terpekur sembari menghisap asap tembakau bisa membuatku berangsur tenang
dengan sesekalai hati ini kupaksa berucap astagfirullohal adziimm. . .
“Jika aku langsung pulang, maka setelah
aku tiba dirumah aku sudah ketinggalan dengan prosesi pemakaman dan jua aku
kehilangan kuliahku, ah ini bukan bijaksana”. Ucapku dalam hati, dengan tangan
kiriku yang mengusap dahi.
Gema adzan terdengar bergaung hampiri
telingaku, ternyata itu adzan dhuhur yang dikumandangkan dari masjid kampus
yang kebetulan letaknya tidak jauh dari Fakultas tempatku menempa ilmu ini.
Perlahan ku berdiri, beraharap memenuhi panggilan terindah itu. Kuseret langkah
menyusuri gedung-gedung kampus dengan sedikit gontai. Teramat ikhlas panggilan
itu, begitu juga seharusnya aku mendengar kabar duka ini.
Tak
lama kemudian aku sampai dipelataran masjid, masih sempat bibir ini bergemih
melantunkan doa masuk masjid. Ku duduk, dengan setengah ambruk karena mungkin
gejala melankolis dan jua kala itu tas ranselku berisi buku-buku yang lumayan
berat yang kutopang dipundakku.
Di
tangan kananku masih memegang mesra
rokok yang mau habis ini, aku dapatkan satu hisapan terakhir sebelum kemudian
aku membuangya di selokan tempat mengalir nya air bekas wudlu masjid di dekatku
yang gemricik mengalir.
Kutarik tali sepatu, lalu membukanya.
Langsung aku berdiri sigap untuk segera
berjalan ketempat wudlu. Tak seperti tadi yang berjalan seperti orang yang
mabuk. Seperti ada magnet yang menarik kaki ini. Ku singsisngkan lengan dan
celanaku, kemudian membasuhnya dengan air wudlu. Adem, seger. Saraf-saraf yang tadi seperti mbulet tak karuan rasanya sedikit demi sedikit mulai ter urai
kembali sedia kala. Aku pun datang menuju orang-oarang yang sudah rapi duduk di
sof-sof masjid sembari menunggu iqomah sang muadzin. Masih ada waktu, aku
memilih shalat 2 rakaat kobliah duhur,
setelah salam tak lama berselang muadzin iqomah orang-orang mulai bangkit dari I’tikafnya tak terkecuali diriku, segera
beranjak berdiri mengisi shof-shof di
depan yang masih kosong. Hemm, , , di sini aku diperlihatkan dinamika hidup
tentang keihlasan, kepatuhan, dan
ketenangan. Mereka begitu tulus dan istiqomah untuk melakukan ibadah wajib ini.
Tak ada perbedaan yang esensial, Rektor, Dekan, Dosen, Mahasiswa, sampai Satpam
dan tukang kebun disini sama derajatnya. Hanya kadar taqwa di hadapan Allah
yang membedakannya.
Seusai
salam, aku lipat kakiku lalu duduk
bersila. Meminjam syair-syair suci Tuhan untuk kulantunkan. Kala itu ku rengkuh
kan doa khusus untuk nenek ku yang sudah di alam sana. Jua meminta petunjuk kapan sebenaranya aku harus pulang, sekarang atau sekalian habis kuliah,
atau bahkan besok baru pulang.
Nampaknya, secercah cahaya perlahan
kurasakan mulai menembus kegelapan mata
ini. Aku harus tahu apa itu bijaksana, sampai mana aku bisa menerapkan dan
merasakkannya. Aku pun memutuskan untuk pulang ke kampung setelah kuliah nanti sore. In sha Allah ini
pilihan yang telah dipilihkan oleh Maha pemilih. Jam pun berjalan cepat, tiba-tiba
sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Dan adzan ashar berkumandang, aku pilih
untuk shalat dulu. Kemudian bersama mahasiswa lain berhuyun-huyun keluar dari
masjid kemudian menuju kelas masing-masing yang mungkin di antara mereka ada yang
kuliah jam-jam dimana otak ini minta diistirahatkan. Aku masuk kelas, ku menconba bersifat profesional dan seperti
biasanya. Dan Alhmadulillah berhasil, aku mengikuti kuliah dengan seperti
biasa, bisa mengkondisiskan tempat dan waktu. Aku aktif diskusi, bertanya
kepada dosen dan mengeluarkan buku catatan kuliahku. Iya seperti biasanya.
Seperti tidak terjadi apa-apa. Memang waktu itu dikellas ada diskusi. Walau tak
bisa kupungkiri sesekali rasa duka menyeruak hati. Teramat asyik dan sexy tema diskusi kala itu. Seingatku membahas tentang pengangguran
dan teori permintaan serta penawaran kerja.
Diskusi berjalan 2 arah, mengalir, kadang juga memanas. Ah, itu hal biasa. Semua
teman-teman juga nampaknya tertarik dan larut akan diskusi mata kuliah Ekonomi
Sumberdaya Manusia ini. Sampai tak
terasa, cahaya matahari di jendela kelas mulai berubah warna agak kuning ke
merah-merah an jua semakin redup. Ku lihat jam, ternyata sudah jam 17.25 WIB. Diskusi
kelas ternyata kebetulan pas selesai juga. Alhamdulillah, , , aku pun
langsung keparkiran bersama teman satu kontrakan sekaligus teman satu kelasku,
kami pulang bareng. Sampailah kami di rumah kontrakan yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari kampus.
Alhamdulillah,
adzan berkumandang dari Musholla kecil samping kontrakanku. Ku letakkan tas dan
sepatu , segera menuju kamar dan kutarik handuk yang sampirkan di depan pintu
kamarku, kemudian meluncur ke kamar mandi. Kubasahi semua anggota tubuhku,
kusiram dari ujung kepala sampai ujung kuku kaki ku. Setelah mandi, aku ke
kamar untuk ganti pakaian. Latas sholat maghrib berjamaah bersama teman satu
kamarku yang sudah siap dengan tangannya yang memegang sajadah.
“Ayo
sholat sodara, nanti langsung yasinan” ajaknya.
“Iya,. . “ jawabku dengan melanjutkan “ Oh iya ya,
sekarang malam juma’at waktunya yasinan”.
Tanpa menaggapi omonganku ia langsung membeber
sajadahnya dan iqomah. Iya, di kontrakan ku Alhamdulillah setiap malam jum’at
ada agenda yasinan.
Kamipun
sholat, sampai seusai salam. Aku belum
mengabari teman-teman kontrakanku bahwa nenek ku meninggal.
“Ayo yasinan, ayo,
ayo , ayo” , , suara teman teman
saling bersahutan.
Kamipun berkumpul diruang tamu, duduk
bersila melingkar.
“Rek,
aku habis yasinan ini langsung pulang kampong ya”. Celetuk ku sebelum acara
dimulai.
“Ndoh, tumben sodara, ada apa?”, tanya
salah satu temanku.
“Nenek ku meninggal”.
“Innalillahi. . .“ suara teman-teman
bersama terucap.
“Kapan iku mas?”
“Tadi
jam 9 pagi”. Jawabku dengan senyum, berharap teman-teman tetap santai.
“Ya sudah rek, kita khususkan yasinan
kali ini pada nenek nya mas Mufid”. Lanjut salah satu temanku.
Yasinan kita mulai, teman-teman Nampak semangat, dan
bersungguh-sungguh begitupun aku.
Kira-kira 15 menit berlalu, yasinan telah usai. Aku pun segera pamit kepada
teman-teman untuk berangkat pulang.
“Mas, sampeyan siapa yang ngantar ke
terminal?” Tanya beberapa temenku.
“Nah, iku” jawabku dengan santai, dan
melanjutkan “Sampeyan nganggur ta kin?”(namanya solikhin) tanyaku kepada salah
satu temanku yang betanya tadi.
“Iya mas,” jawabnya. “Tak anterin ta mas?!”
“Oke, tolong ya”, jawabku dengan senyum kecil
sembari ku tanggalkan tas ranselku yang berisi beberapa potong baju dipundak.
Segera, pria asli semarang ini
bersiap-siap, mengambil kunci motornya dan
menyambar helm yang tergantung berjejer ditembok pinggir ruang tamu agak
belakang. Motornya kebetulan sudah
diparkir didepan kontarakn yang nampaknya juga memahami kalau saya mau pulang.
Motorpun di pacu, jalan demi jalan kami lewati, macet, asap kendaraan,
menghiasi perjalanan kami ke terminal yang sesekali diperindah dengan
suara-suara klakson yang keluar dari mobil maupun motor. Tak ada percakapan yang
berarti antara aku dan solikin yang tercipta ketika kami diatas motor. Sampailah
kami didepan terminal Arjosari, setelah kira-kira setengah jam perjalanan.
Lagi-lagi Tuhan tidak pernah tidur, biasanya aku harus menunggu bus dulu, kali
ini bus telah nampak di depan gerbang keluar terminal. Aku langsung turun dari
motor, melepas helm.
“kKn, makasih ya. Maaf lho ngrepotin”.
Ucapku sambil bersalam pamitan dengannya.
“Sama-sama, nyantai mas”. Jawabnya.
“Ya sudah kin, aku berangkat sek yo,
assalamualaikum”. Ucapku perlahan melepas jabat tangan sambil tergopoh-gopoh menuju bus.
“Oke mas, wa’alaikum salam. Salam buat
keluraga mas”. Pungkasnya sambil melambaikan tangan. Aku hanya menjawab pesan
salam pria jurusan manajemen ini dengan isyarat, Ku acungkan jempolku, sambil
aku menaikai pintu masuk bus.
Ku
cari tempat duduk yang longgar, berharap bisa tidur sejenak. Kala itu jarum jam
menunjukkan pukul 18.30 an. Ku temukan tempat duduk di deretan kanan dari pak
sopir agak belakang. Waktu itu bus terlihat memang sangat longgar penumpangnya.
Aku tak terlalu menghiraukan itu, aku keluarkan HP dari saku bajuku dan handset
lalu kuputar lagu berharap bisa tersihir dengan alunan music hingga kemudian
mataku terpejam , karena perjalanan dari Malang ke Kota Minyak ini memakan
waktu kira-kira 5-6 jam an. Beberapa daftar lagu group band Padi telah terputar
yang membuat mata ku perlahan terpejam, namun tak lama kemudian kondektur menghampiriku
dan menayakan tempat yang kutuju. Dengan karcis ditangannya yang juga kulihat
ada beberapa lembaran uang di tangannya, kusodorkan uang 50 ribu sembari
berucap “Surabaya pak”.
“25 ribu mas”. Singkat jawab kondektur.
Karcispun ku terima, lalu kulipat kecil
kemudian ku masukkan di tas. Jalan raya Nampak sepi, hanya terlihat beberapa
mobil dan motor yang berlalu lalang dan terlihat hampir disepanjang jalan
menuju Surabaya, berjejer bunga trotoar yang menjajakan dagangannya. Terlihat
juga beberapa anak muda yang asyik ngopi. Aku berniat untuk merapatkan mata
ini, namun ternyata tidak bisa. Berkali-kali ku pejamkan mata setelah pak
kondektur menarik uang tadi, selalu rasanya mata ini ingin terbelalak. Seolah,
ia ingin menemani kesendirianku.
Di
bangku sebrang sampingku ada seorang perempuan muda yang lagi asyik
senyam-senyum dengan gadjet-nya, dan
di bagian belakang seorang laki-laki separuh baya tertidur pulas. Akhirnya, aku
putuskan untuk tidak tidur malam itu. Serasa aku dimabuk angin malam.
Setelah
kira-kira perjalanan 2 jam, papan petunjuk jalan raya ku baca, tertuliskan “Terminal
Bungurasih” yang kuintip dari jendela bus yang agak lembab karena embun yang
mulai turun. Sampailah saya di terminal Surabaya, sontak ku beranjak dari
bangku kemudian menuju pintu keluar bagian belakang, langsung kaki ini seperti menyeretku untuk
segera mencari bus jurusan Bojonegoro. Sudah terliaht di tempat tunggu dekat
lorong-lorong bus sesuai jurusannya masing-masing, para kondektur, kernet,
saling menawarkan jurusan bus yang di embannya.
“Lumajang mas?” celetuk salah satu
kondektur bus kepadaku.
“Ndak pak,” jawabku “Saya mau ke Bojonegoro”.
“Langsung, di lorong paling barat mas”,
sahut bapak bertopi ini.
“Iya pak, terimakasih”. Jawabku dengan
segera menuju lorong paling barat.
Amat riuh, diterminal kala itu. Tidak
hanya seruan kondektur dan kernet yang
riuh rendah bergema, pedagang asonganpun selalu ikut andil dalam riuhnya
terminal yang juga terkadang di iringi deru mesin-mesin.
Ketika
ku berjalan menuju lorong paling barat, aku perhatikan orang-orang ini. Sebenarnya
mereka itu. . . ?Ah. Aku ndak tahu. Disebuah warung makan sebelah WC umum ku pelototi seorang lelaki tua yang sedang makan nasi
bungkus dengan lahapnya, seperti ia sudah seminggu tidak makan. Atau mungkin
juga benar, ia memang belum makan seminngu yang lalu. Membuatku terus menerus
mencoba membasahi bibir ini dengan ucapan syukur terimakasih kepada Tuhan yang
Maha adidaya sekaligus rasa prihatin yang hanya kupendam.
Memang
benar, bus warna putih jingga telah standby
dengan beberapa penumpang didalamnya. Aku pun langsung naik, dan kembali duduk ditempat
yang kiranya sepi. Nampak para pedagang asongan juga naik, datang dan pergi
menawarkan dagangannya. Aku tak tertarik untuk membeli, entah kenapa. Atau eman
uang, atau bagaimana. Yang jelas mood ini lagi tidak bagus. Setelah bus penuh sesak
penumpang, sopir memacu busnya. Perlahan bus yang saya naiki meningalkan
terminal Surabaya. Tak jauh berbeda, kala itu kendaraan juga tidak padat.
Bus
tiba-tiba berhenti di perempatan lampu
merah, ternyata ada seorang penumpang yang naik sekaligus musisi jalanan masuk
bersamaan. Bus kembali melaju, semakin kencang dan kemudian tanpa kusadari bus
yang saya naiki berada dijalan tol. Deru mesin semakin keras, karena sopir
menambah pacu busnya. Hening, gelap, dan kurasa jendela bus yang ku naiki mulai
buram karena embun yang semakin tebal menyelimuti malam itu. Tiba-tiba Terdengar sayu-sayu suara
seruling khas sunda, ku cari darimana asal suara tersebut, ternyata musisi yang
naik diperempatan jalan tadi mulai beraksi. Ada yang berbeda dari cara ia
memainkan serulingnya, jika kebanyakan orang meniup serulingnya dengan tiupan
dari mulut, musisi yang satu ini
meniupnya nya dengan hembusan udara yang ia hembuskan dari hidungnya. Sungguh
unik, dan Nampak sebuah buku bersampul Bung Karno di tangan kanannya yang juga
sedang memegang seruling yang ia lantunkan merdu. Ternyata musisi ini tidak
hanya memainkan seruling, setelah main seruling ia memberi wejangan atau lebih
tepatnya ceramah kepada seluruh penumpang dan orang yang mendengar suaranya.
Sangat lantang suaranya, hingga deru mesin yang tadi riuh rendah kini
tenggelam. Suaranya memekik merobek telinga siapa saja yang mendengarkannya. Sesekali
Ia mengucapkan ayat-ayat suci yang entah
tak tahu pasti apa maknanya. Akupun mersa tergelitik dengan keunikannya ini, ku
hentikan memutar music, kemudian memilih menu rekam di HPku bermaksud merekam
nya.
Ia
ngomong panjang lebar, dan terlebih ia sering mengomongkan perihal Negara
Indonesia ini. Ada rentetan kalimat yang benar-benar sampai saat ini menancap
dipikiarnku.
“Para demonstran sudah tidak di anggap,
suara mereka tak begitu berarti untuk sesuatu yang di demokannya, terpaksa Ibu
Pertiwi sendiri yang berdemo, Ibu Pertiwi sendiri yang geram, ia memuntahkan
laharnya, meluapakan air bahnya, ia merenggangkan tanahnya”. Pekik si musisi
gondrong ini dengan matanya yang terpancar membara. Kata-kata itu membuatku
terpekur lama untuk mencari maknanya. Bahkan sampai saat ini.
Namun
yang jelas, jika dirasa-rasa ada benarnya kalimat musisi tersebut. Indonesia semakin lama semakin banyak terjadi
disekuilibrium, terutama dalam kekayaan hayatinya. Pemikiran seperti itu sering
terpintas dan lama berlalu.
Setelah musisi itu mengakhiri ceramahnya,
ia mengeluarkan sebuah kantong plastik yang sudah kumuh, membukanya klemudian
menyodorkannya disetiap penumpang dari depan hingga belakang. Kembali riuh
rendah suara mesin berderu menemani perjalananku. Di malam jum’at itupun,
bintang malas untuk keluar karena mungkin tebal selimut embun menyekapnya.
Sesekali ku tengok para penumpang, ada yang tidur, ada yang sedang bertelfon
dengan pacarnya mungkin, dan ada juga yang harap cemas untuk segera bus ini
parkir di terminal berikutnya, termasuk saya.
Perjalanan
malam itu terasa nikmat, walau aku sendiri tak begitu menikmati perjalanan itu
karena perasaan yg gulana tadi, namun malam yang semakin dingin seperti meremuk
redamkan rasa gundahku. Hingga tak terasa, ternyata bus yang kunaiki hampir
tiba di terminal Rajekwesi, Kota Ledre. Aku bersiap di depan pintu keluar
bagian depan dekat kernet.
“Pak, saya turun di pasar mojodeso”.
Ucapku sembari menaggalkan tas ranselku di pundak. Kebetulan jika dari arah Malang
ke Bojonegoro, desa tempatku lahir terletak sebelum terminal Bojonegoro.
“Pasar mojo, pasar mojo?!!”. Teriak
kernet sambil membukakan pintu bus yang perlahan menepi. Bus terhenti tepat di
depan pasar mojo, dan akupun turun seraya berucap kepada kernet, “Matur suwun
pak”.
“Sami-sami mas”. Sahut kernet sambil
meutup pintu bus nya kembali.
Aku menyebrang jalan, kemudian aku duduk
di mushola dekat pasar yang cuma buka
jam 6 sampai jam 10 an malam ini. Kemudian ku keluarkan HP dan ku telfon
Bapak yang sebelum berangkat dari Malang tadi sempat mengirim pesan melalui sms
persis sama yang dipesankan kakak ku “santai, gak sah kesusu”.
Kala
itu sudah jam setengah 12 malam WIB. Jarak rumahku dari tempatku turun dari bus
tadi, masih lumayan jauh, sekitar 300 meter an. Jadi aku menelfon Bapak,
bermaksud minta dijemput.
“Iya assalamualaikum, nyampe mana fid?”
jawab bapak ku di telfon.
“Ini saya sudah di pasar mojo bapak”.
Jawabku pelan.
Bapak ku setengah berteriak berkata “Ndi,
pandi? Mufid tolong parani ndi, bocahe nek pasar mojo”.
Tak terdengar jawaban dari nama yang
disebut bapakku tadi, (Pandi) atau saya memanggilnya dengan sebutan yang mungkin
agak sopan, yaitu dengan sebutan Om Pandi. Iiya , beliau adalah adik dari Ibu
saya. Jadi ku perindah namanya dengan embel-embel ‘om/lek’ didepan namanya.
“Wes fid, Lek Pandi perjalanan mrunu”.
Terang bapakku.
“Iya pak, nggeh mpun, assalamualaikum”.
“Wa’alaikumsalam”. Pungkas bapakku.
Tak lama kemudian terdengar suara motor
yang semakin lama, suaranya semakin mendekat, dan ternyata benar, om Pandi
datang menjemputku.
“Ayo bos, naik”. Celetuk beliau sambil
tersenyum menghiburku.
“Oke boss”, sahutku dengan segera naik ke
motor.
Om
pandi menggengam gas motor kemudian memacunya.
“Jam berapa dari sana (malang)?” Tanya
pria berambut kriwol ini.
“Hemmm, ,
jam berapa tadi om, kok aku agak lupa? Sekitar habis maghrib, ya kurang
lebih jam setengah tujuh”. Jawabku dengan mendekatkan kepala agak kedepan.
“Oh, lha gak macet?”
“Alhamdulillah, ndak om”.
Akhirnya saya sampai didepan rumah, didepan
rumah terlihat Ibu, Bapak dan beberapa sanak familiku. Aku turun menyusuri
jalan kecil depan rumah menghampiri mereka.
“Assalamualaikum” ucapku sembari meraih tangan
ibu dan menciumnya.
“Wa’alaikum salam”. Jawab ibu bersama
sanak sodara. Kemudian ku salami Bapak dan semua keluarga. Ku tengok ke belakang, om Pandi ternyata
langsung turun juga menuju ke kerumunan orang di depan rumahku yang asyik menyiapkan
acara karnaval dalam rangka hari ulang tahun Kabupaten Bojonegoro yang
kebetulan dilaksanakan besok. Langit malam
yang hitam pekat itu nampaknya sengaja mewakili perasaan ku
dan semua keluarga akan kabung duka.
“A’an (adikku) dimana buk?. Tanyaku,
mengibur diri sendiri.
“Tidur wesan fid”, jawab Ibuk ku setengah
tersedu, seakan beliau tahu pertanyaan ku ini hanya untuk mengibur diriku
sendiri. Memang tak bisa dipungkiri, kedua mata ibuk mbhendol,
berkatup menandakan orang yang habis nangis lama.
“Sabar ya buk, semua bakal pulang”.
Gumamku dalam hati sambil aku duduk disebelah emak ku dan melepas tali sepatuku. Kemudian aku masuk kedaalm rumah.
Hawa rumah ini benar-benar berbeda, berkabung. Jua beberapa lampu rumah yang telah
dipadamkan karena sudah larut dan tikar yang dibeber diruang tamu yang diatasnya
masih ada sisa makanan yang diwadahi piring putih bermotif jago, yang mungkin
tadi sore digunakan oleh para peta’ziah mengaji, membuatnya semakin kental akan
duka.
Namun,
setelah aku memasuki ruang tamu ada satu kamar yang dibuka lebar pintunya
dengan dibias lampu kuning, itulah kamar nenek dulu sebelum dipanggil
Tuhan. Aku hanya sepintas lewat kemudian masuk ke kamarku, ku lepaskan
tas di pundakku. Kemudian menuju ke kamar mandi untuk bersih diri. Dingin air
yang kusiramkan keseluruh tubuh seperti memelukku erat, sekalian ku ambil air
wudlu, kemusian ganti pakain dan sholat Isya’.
Ku
pinjam beberapa kata-kata ataupun kalimat Tuhan dalam pintaku, terutama ku
pinjam ayat Tuhan yang maksudnya memintakan ampun kepada almarhumah nenekku.
Dalam sujudku ini, baru aku sedikit mulai merasa dan menerima bahwa nenekku
telah tiada. Ada beberapa patah kata yang meluncur mencoba mengikat ikhlas, di akhir
do’aku yang setengah tersedu malam itu,
“Selamat jalan nenek, selamat menempuh
hidup baru”.
Oleh : Ab. Mufid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar