Oleh : Abd. Mufid
BUDAYA
Kata Budaya berasal dari bahasa
sansekerta yaitu buddayah merupakan bentuk jamak dari budi (akal/pikiran), dan
banyak para antropolog yang memberikan definisi tentang budaya dan kalau saya
boleh menarik benag merahnya, budaya
merupakan kumpulan ide-ide, perbuatan maupun kebiasaan seseorang ataupun
masyarakat yang bertempat tinggal didaerah tertentu yang meliputi, tata cara
berbusana, hidup, berkomunikasi, politik, cara makan, ‘membuat anak’ dan
sebagainya yang terikat dalam kegiatan kehidupanj sehari-hari yang sangat
kompleks dan itu semua memberikan identitas yang khas atau tipikal. Dan budaya
juga harus berkembang seiring mengikuti guliran zaman
yang begitu kencang. Iya, Berkembang, bukan hilang.
yang begitu kencang. Iya, Berkembang, bukan hilang.
Di Indonesia sendiri budaya di bagi
menjadi 2 macam, ada budaya yang timbul karena
paksa’an dan budaya yang tumbuh dengan cara
damai, contohnya budaya K-Pop dan India yang sedang gandrung di negara kita kemudian budaya
paksaan itu contohnya penjajahan Belanda yang katanya selam 3 setengah abad ,
menumbuhkan banyak budaya di Negara kita seperti sistem pemerintahan, UU, model
bangunan, artefak-artefak sampai budaya korupsi dan pemerkosaan. Disini saya
tidak menuliskan tentang kedua jenis budaya tersebut. Saya lebih condong kearah budaya yang ada didaerah
di Indonesia.
Kemarin
pada hari sabtu tepatnya tanggal 26 September 2015, aku bersama teman-teman
kontrakan membahas bab tersebut, yang kebetulan pematerinya adalah Sdr. Lukman.
Sebenarnya jadwal Diskon minggu kemarin pematerinya adalah Sdr. Fajar, nah
berhubung kosong karena beliaunya pulang ke kampong halamanya di gantikan oleh
Sdr. Lukman. Kala itu, Diskusi berjalan dengan hikmat walau hanya segelintir
orang yang datang, hanya ada Lukman, Fadli, Riki dan saya sendiri. Sangat beragam tanggapan maupun argument yang
dilontarkan teman-teman mengenai definisi budaya terlebih unsur, peran dan
eksistensi dalam meyokong kemajuan sebuah bangsa.
“Budaya,
merupakan unsur penting yang harus diperhatikan dalam kemajuan sebuah bangsa”.
Celetuk Lukman membuka Diskusi, sambil
tersenyum dan melanjutkan “Kira-kira, teman-teman setuju dengan statement yang barusan saya ucapkan?”
Teman-teman pun dengan wajah antusias menanggapi statement Mahasiswa jurusan Olahraga ini. “Iya, saya setuju dengan
hal tersebut. Karena Indonesia juga terkenal akan keragaman budayanya, namun
sayang kurang dapat perhatian yang intens”, tanggap Fadli. “Oh, iya saya sependapat
akan hal tersebut”. Potongku dengan wajah agak kecewa, karena Lukman segera
memotong kembali dengan memberikan penjelasan
yang lebih rinci. “Budaya adalah factor yang vital. . . (blab la bla,
mnejelaskan dengan bertele-tele yang memakai rumus panjang kali lebar). Dan
dari sini, Diskusi mulai hidup, mengalir, seru, bahkan memanas.
Singkatnya, dari teman-teman pendapatnya beragam, seperti pa yang saya
sebut diatas, namun hampir keseluruhan intinya sama, sepakat bahwa Budaya itu
penting dalam faktor pembangunan/kemajuan sebuah bangsa. Di samping itu,
teman-teman juga mencoba menceritakan budaya yang ada didaerahnya masing-masing,
Lukman menuturkan ada tari Topeng Bapang yang asli Malang, terus dari Bondowoso
ada Singo Ulung yang diterangkan oleh Fadli dan Riki(Riki& Fadli adalah
satu oriental). Semua Nampak bangga mengutarakan budaya yang ada didaerah
masing-masing jua sesekali Nampak mata
yang berbinar dari pirso mereka
karena mungkin saking bangganya. Aku salut akan hal tersebut. Kemudian tak
ketinggalan, kalau tadi dari Malang ada Topeng Bapang dan Bondowoso ada Singo
Ulung, aku yang asli utra daerah Bojonegoro mencoba memberikan sebuah uraian
ringkas Budaya Masyarakat “Samin” yang ada di Kota Ledre ini.
“Masyarakat
Samin adalah masyarakat dimana disana mereka memegang erat prinsip monokulturalisme. Mereka
menolak akan budaya selain mereka. Jangankan asing, bahasa Indonesia saja
mereka tidak mau tahu, Nampak apatis”, ujarku sembari menghisap asap tembakau,
kemudian melanjutkan. “Asal muasal masyarakat Samin terbentuk karena, kala
penjajahan Belanda ada seseorang yang benar-benar tak mau menuruti permintaan
penjajahan Belanda, tak mau membeli/menjual barang milik Belanda yang
Imperialis ini apalagi kerja Rodi. Namanya adalah Eyang Samin. . .? Ah, aku
lupa nama lengkapnya, tapi yang jelas prinsip dan pemberontakan Si Eyang Samin
ini mampu mempengaruhi Wajah Pribumi sekitar bahkan mampu memobilisasi mereka,
hingga terbentuklah Masyarakat Samin. Mungkin bagi mereka Samin ini merupakan Ideologi mereka, budaya
mereka yang mungkin sekarang ada sebutan khusus yaitu Saminisme. Memang, budaya
Samin ini tidak hanya ada di Bojonegoro, di
kota lain juga ada, sebut saja Rembang. Disana juga ada Budaya Mblarah (meminjam istilah orang desa
setempat) ini. Sampai sekarang pun, masayarakat Samin di Bojonegoro yang
terletak di desa Margo Mulyo ini tetap eksis.
Jika ditempuh dari pusat kota, memakan waktu kira-kira 2-21/5 jam. Aku bangga sebagai
Putra daerah yang tinggal di Kota Minyak ini. Namun, ‘istimewanya’ mereka ini
tidak ber agama”.
Aku mencoba memberi pandangan dari
sudut yang berbeda. Masyarakat Samin merupakan potensi yang bisa dijadikan
wisata budaya yang sangat luar biasa. Kalau kita ke Pulaun Lombok ada wisata
budaya desa Sasak Sade, di Bojonegoro ada wisata budaya Desa Samin. Jika ini
terwujudkan mungkin, statment yang mengatakan budaya itu penting untuk
mendorong kemajuan sebuah bangsa, bisa saja benar. Karena apa? Dengan hal
tersebut, akan memberikan daya tarik tersendiri untuk kota Bojonegoro, bisa
mendatangkan wisatawan, baik domestic maupun mancanegara. Dan itu otomatis akan
memberikan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di samping itu, khalayak
bisa tahu menahu apa itu masyarakat samin, terutama anak-anak sebagai Tunas
Bangsa serta para pemuda yang di gadang-gadang sebagai Agent of Change this Nation. Itu sedikit ulasanku tentang budaya Samin
dan cara pelestariannya.
Kembali ke teman-teman, mereka
memberikan saran yang menurut saya luar biasa kualitas. Mereka berpendapat cara
melestarikan budaya di zaman yang serba modern ini dengan cara, terus mempelajarinya,
mengenalkannya , serta melestarikannya. Dan yang terpenting menanamkan rasa
kepemilikan akan budaya tersebut. Ada yang ber angan-angan untuk mendirika
sanggar budaya. Memang diantara kami ada salah satu yang tahu dan bisa
mempraktikan budaya Topeng Bapang yang asli kota dingin ini, iya, ia adalah
sdr. Lukman. Sedangkan aku memberikan saran untuk pelestarian budaya yang, Kalau diatas tadi aku memberikan saran gagasan
untuk budaya Samin yang ada di daerah Bojonegoro, kali ini aku memberikan saran
dalam cakupan yang lebih luas , yaitu dalam konteks yang nasional.
Pertama, saya. Ada hari-hari
tertentu untuk mewajibkan diri saya sendiri memakai batik. Karena batik adalah
bisa disebut salah satu budaya asli Indonesia. Terutama hari jum’at.
Kedua,
seharusnya di sekolah SD, SMP, SMA atau sederajatnya ada ekstrakurikuler wajib,
dimana ekstrakurikuler itu mengajarkan terkait budaya.
Dan
yang ketiga, saya sebenarnya mengecam perguruan tinggi. Kenapa di perguruan
tinggi tidak ada mata kuliah tentang budaya masing-masing? Memang ada beberapa
UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sangat kental dengan budaya. Tapi itu tak
bisa mengenai semua mahasiswa. Iya sih, memang agak ribet. Perihalnya yang
menjadi mahasiswa di kampus-kampus itu berasal dari penjuru Nusantara, dan
pasti tenaga pengajar dan semua Civitas Akademik kampus akan kebingungan
memberikan materi budaya yang akan disampaikan.
Itu bisa di sebut hambatan serta PR bagi Civitas Akademik perguruan
tinggi. Gimana caranya agar setiap mahasiswa yang multikultural bisa mengenyam mata kuliah budaya. Kira-kira seperti itu. Pengaruh
Globalisasi ini sungguhlah luar biasa dahsyat, dan jika tak punya filter maka
kita akan tenggelam, hanyut didalamnya, terkhusus dalam hal budaya. Akulturasi
budaya itu perlu, namun jangan sampai kita kehilanagn identitas kita sebagai
makhluk yang berbudaya Indonesia, seperti saya sebut di awal paragraf,
berkembang bukan hilang.
Tak terasa alokasi waktu yang
ditetapkan di awal diskusi sudah selesai, segera Sdr. Lukman menutup DISKON 270
PROSEN (PROduktis SENang) ini.
Salam
DISKON!
Malang,
27 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar