Minggu, 27 September 2015

BUDAYA



Oleh : Abd. Mufid
BUDAYA

            Kata Budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddayah merupakan bentuk jamak dari budi (akal/pikiran), dan banyak para antropolog yang memberikan definisi tentang budaya dan kalau saya boleh menarik benag merahnya,  budaya merupakan kumpulan ide-ide, perbuatan maupun kebiasaan seseorang ataupun masyarakat yang bertempat tinggal didaerah tertentu yang meliputi, tata cara berbusana, hidup, berkomunikasi, politik, cara makan, ‘membuat anak’ dan sebagainya yang terikat dalam kegiatan kehidupanj sehari-hari yang sangat kompleks dan itu semua memberikan identitas yang khas atau tipikal. Dan budaya juga harus berkembang seiring mengikuti guliran zaman
yang begitu kencang. Iya, Berkembang, bukan hilang.
            Di Indonesia sendiri budaya di bagi menjadi 2 macam, ada budaya  yang timbul karena paksa’an dan budaya yang tumbuh dengan cara  damai, contohnya budaya K-Pop dan India yang  sedang gandrung di negara kita kemudian budaya paksaan itu contohnya penjajahan Belanda yang katanya selam 3 setengah abad , menumbuhkan banyak budaya di Negara kita seperti sistem pemerintahan, UU, model bangunan, artefak-artefak sampai budaya korupsi dan pemerkosaan. Disini saya tidak menuliskan tentang kedua jenis budaya tersebut. Saya  lebih condong kearah budaya yang ada didaerah di Indonesia.
            Kemarin pada hari sabtu tepatnya tanggal 26 September 2015, aku bersama teman-teman kontrakan membahas bab tersebut, yang kebetulan pematerinya adalah Sdr. Lukman. Sebenarnya jadwal Diskon minggu kemarin pematerinya adalah Sdr. Fajar, nah berhubung kosong karena beliaunya pulang ke kampong halamanya di gantikan oleh Sdr. Lukman. Kala itu, Diskusi berjalan dengan hikmat walau hanya segelintir orang yang datang, hanya ada Lukman, Fadli, Riki dan saya sendiri.  Sangat beragam tanggapan maupun argument yang dilontarkan teman-teman mengenai definisi budaya terlebih unsur, peran dan eksistensi dalam meyokong kemajuan sebuah bangsa.  
“Budaya, merupakan unsur penting yang harus diperhatikan dalam kemajuan sebuah bangsa”. Celetuk Lukman  membuka Diskusi, sambil tersenyum dan melanjutkan “Kira-kira, teman-teman setuju dengan statement yang barusan saya ucapkan?” Teman-teman pun dengan wajah antusias menanggapi statement Mahasiswa jurusan Olahraga ini. “Iya, saya setuju dengan hal tersebut. Karena Indonesia juga terkenal akan keragaman budayanya, namun sayang kurang dapat perhatian yang intens”, tanggap Fadli. “Oh, iya saya sependapat akan hal tersebut”. Potongku dengan wajah agak kecewa, karena Lukman segera memotong kembali dengan  memberikan penjelasan yang lebih rinci. “Budaya adalah factor yang vital. . . (blab la bla, mnejelaskan dengan bertele-tele yang memakai rumus panjang kali lebar). Dan dari sini, Diskusi mulai hidup, mengalir, seru, bahkan memanas.
             Singkatnya, dari teman-teman  pendapatnya beragam, seperti pa yang saya sebut diatas, namun hampir keseluruhan intinya sama, sepakat bahwa Budaya itu penting dalam faktor pembangunan/kemajuan sebuah bangsa. Di samping itu, teman-teman juga mencoba menceritakan budaya yang ada didaerahnya masing-masing, Lukman menuturkan ada tari Topeng Bapang yang asli Malang, terus dari Bondowoso ada Singo Ulung yang diterangkan oleh Fadli dan Riki(Riki& Fadli adalah satu oriental). Semua Nampak bangga mengutarakan budaya yang ada didaerah masing-masing jua sesekali  Nampak mata yang berbinar dari pirso mereka karena mungkin saking bangganya. Aku salut akan hal tersebut. Kemudian tak ketinggalan, kalau tadi dari Malang ada Topeng Bapang dan Bondowoso ada Singo Ulung, aku yang asli utra daerah Bojonegoro mencoba memberikan sebuah uraian ringkas Budaya Masyarakat “Samin” yang ada di Kota Ledre ini.
“Masyarakat Samin adalah masyarakat dimana disana mereka  memegang erat prinsip monokulturalisme. Mereka menolak akan budaya selain mereka. Jangankan asing, bahasa Indonesia saja mereka tidak mau tahu, Nampak apatis”, ujarku sembari menghisap asap tembakau, kemudian melanjutkan. “Asal muasal masyarakat Samin terbentuk karena, kala penjajahan Belanda ada seseorang yang benar-benar tak mau menuruti permintaan penjajahan Belanda, tak mau membeli/menjual barang milik Belanda yang Imperialis ini apalagi kerja Rodi. Namanya adalah Eyang Samin. . .? Ah, aku lupa nama lengkapnya, tapi yang jelas prinsip dan pemberontakan Si Eyang Samin ini mampu mempengaruhi Wajah Pribumi sekitar bahkan mampu memobilisasi mereka, hingga terbentuklah Masyarakat Samin. Mungkin bagi mereka  Samin ini merupakan Ideologi mereka, budaya mereka yang mungkin sekarang ada sebutan khusus yaitu Saminisme. Memang, budaya Samin ini tidak hanya ada di Bojonegoro, di  kota lain juga ada, sebut saja Rembang. Disana juga ada Budaya Mblarah (meminjam istilah orang desa setempat) ini. Sampai sekarang pun, masayarakat Samin di Bojonegoro yang terletak di desa Margo Mulyo ini tetap eksis.  Jika ditempuh dari pusat kota, memakan waktu kira-kira 2-21/5 jam. Aku bangga sebagai Putra daerah yang tinggal di Kota Minyak ini. Namun, ‘istimewanya’ mereka ini tidak ber agama”.
            Aku mencoba memberi pandangan dari sudut yang berbeda. Masyarakat Samin merupakan potensi yang bisa dijadikan wisata budaya yang sangat luar biasa. Kalau kita ke Pulaun Lombok ada wisata budaya desa Sasak Sade, di Bojonegoro ada wisata budaya Desa Samin. Jika ini terwujudkan mungkin, statment yang mengatakan budaya itu penting untuk mendorong kemajuan sebuah bangsa, bisa saja benar. Karena apa? Dengan hal tersebut, akan memberikan daya tarik tersendiri untuk kota Bojonegoro, bisa mendatangkan wisatawan, baik domestic maupun mancanegara. Dan itu otomatis akan memberikan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di samping itu, khalayak bisa tahu menahu apa itu masyarakat samin, terutama anak-anak sebagai Tunas Bangsa serta para pemuda yang di gadang-gadang sebagai Agent of Change this Nation. Itu sedikit ulasanku tentang budaya Samin dan cara pelestariannya.
            Kembali ke teman-teman, mereka memberikan saran yang menurut saya luar biasa kualitas. Mereka berpendapat cara melestarikan budaya di zaman yang serba modern ini dengan cara, terus mempelajarinya, mengenalkannya , serta melestarikannya. Dan yang terpenting menanamkan rasa kepemilikan akan budaya tersebut. Ada yang ber angan-angan untuk mendirika sanggar budaya. Memang diantara kami ada salah satu yang tahu dan bisa mempraktikan budaya Topeng Bapang yang asli kota dingin ini, iya, ia adalah sdr. Lukman. Sedangkan aku memberikan saran untuk pelestarian budaya yang,  Kalau diatas tadi aku memberikan saran gagasan untuk budaya Samin yang ada di daerah Bojonegoro, kali ini aku memberikan saran dalam cakupan yang lebih luas , yaitu dalam konteks yang nasional.
            Pertama, saya. Ada hari-hari tertentu untuk mewajibkan diri saya sendiri memakai batik. Karena batik adalah bisa disebut salah satu budaya asli Indonesia. Terutama hari jum’at.
Kedua, seharusnya di sekolah SD, SMP, SMA atau sederajatnya ada ekstrakurikuler wajib, dimana ekstrakurikuler itu mengajarkan terkait budaya.
Dan yang ketiga, saya sebenarnya mengecam perguruan tinggi. Kenapa di perguruan tinggi tidak ada mata kuliah tentang budaya masing-masing? Memang ada beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sangat kental dengan budaya. Tapi itu tak bisa mengenai semua mahasiswa. Iya sih, memang agak ribet. Perihalnya yang menjadi mahasiswa di kampus-kampus itu berasal dari penjuru Nusantara, dan pasti tenaga pengajar dan semua Civitas Akademik kampus akan kebingungan memberikan materi budaya yang akan disampaikan.  Itu bisa di sebut hambatan serta PR bagi Civitas Akademik perguruan tinggi. Gimana caranya agar setiap mahasiswa yang multikultural  bisa mengenyam   mata kuliah budaya. Kira-kira seperti itu. Pengaruh Globalisasi ini sungguhlah luar biasa dahsyat, dan jika tak punya filter maka kita akan tenggelam, hanyut didalamnya, terkhusus dalam hal budaya. Akulturasi budaya itu perlu, namun jangan sampai kita kehilanagn identitas kita sebagai makhluk yang berbudaya Indonesia, seperti saya sebut di awal paragraf, berkembang bukan hilang.
            Tak terasa alokasi waktu yang ditetapkan di awal diskusi sudah selesai, segera Sdr. Lukman menutup DISKON 270 PROSEN (PROduktis SENang) ini.
Salam DISKON!

Malang, 27 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar