Malang, 21 September 2015
Sebelum Pagi
Kriiingggg, , , Kriiinngggg (disertai nada getar), Alarm HP ku berbunyi keras sekali, membangunkanku dari tidurku. Ku lihat jam menunjukkan pukul 05.00 WIB. Alhamdulillah, lagi-lagi tuhan memberikan nikmatnya yang luar biasa banyak dengan segala ke-maha-an NYA. Namun, mata ini terasa sangat berat walau ku paksa beberapa kali membelalakkannya. Sungguh Sontoloyo betul. Ku angkat punggungku dari kasur tipisku perlahan, sejenak menyandarkan pada dinding kamar kontrk’anku, sesekali mencoba melawan katup dimata ini. Tiba-tiba aku teringat, ada tugas kuliah yang belum kukerjakan, sontak aku bangkit dari kemalasanku segera menuju jeding, untuk kencing ambil wudlu lantas sholat shubuh.
Iya, memang ku akui tingkat kepatuhan
ibadahku masih pada level yang sangat
rendah. Terbukti, ketika bangun tidur tak langsung bergegas untuk wudlu dan sholat, walau akhirnya sholat, namun yang menggertak untuk sholat itu karena tanggungan tugas kuliah tadi. Iya, memang, nafsu ini memang bangsat! Setelah sholat shubuh kusempatkan meluangkan waktu untuk membaca Al-qur’an. Aku yakin, walaupun aku sendiri bangsat, tapi dengan mengawali kehidupan di hari-hari kita yang baru dengan kegiatan/amal baik, akan memberikan semangat, atau tepatnya sesuatu yang bisa men-stimulus agar kita menjalani hari ini dengan semangat dan penuh berkah. In sha Allah.
rendah. Terbukti, ketika bangun tidur tak langsung bergegas untuk wudlu dan sholat, walau akhirnya sholat, namun yang menggertak untuk sholat itu karena tanggungan tugas kuliah tadi. Iya, memang, nafsu ini memang bangsat! Setelah sholat shubuh kusempatkan meluangkan waktu untuk membaca Al-qur’an. Aku yakin, walaupun aku sendiri bangsat, tapi dengan mengawali kehidupan di hari-hari kita yang baru dengan kegiatan/amal baik, akan memberikan semangat, atau tepatnya sesuatu yang bisa men-stimulus agar kita menjalani hari ini dengan semangat dan penuh berkah. In sha Allah.
Memang, aku merasakan ada ketentraman
hati di sana. Setelah ngaji, nampaknya matahari masih malu menampakkan wajahnya
yang ku intip dari jendela kecil kamarku. Hanya Nampak semburat senja yang
menyebar diufuk timur dengan sedikit awan berarak menghiasi wajah langit jua
sarat hawa yang sangat dingin seperti ingin menghempaskan tubuhku ke kasur
lagi. Ah, aku mencoba melawan sihiran itu dengan sedikit kehangatan yang ku
dapat dari sebatang sigaret yang kusulut dan dilengkapi sruputan kopi sisa semalam. Maha suci Allah. Sungguh nikmat tiada
tara. Sembari ku putar musik mengiringi setia derap surya yang segera
menyingsingkan hangatnya.
Tak terasa secercah cahaya mulai masuk
dari jendela kecilku yang agak kotor karena jarang ku bersihkan, ku tengok
keluar memang benar, dengan perawakan yang gagah surya sudah berada di
tempatnya. Seperti mengucapkan selamat pagi kepadaku. Akupun menyambutnya
dengan senyuman kecil dan lagi-lagi rasa syukur yang terus meluncur tersungkur.
Masih ku hisap terus asap tembakau, dan tiba-tiba bibirku terasa panas, tak terasa
ternyata sigaretku terbakar hampir habis oleh bara api yang berjalan pelan
menghampiri gabus rokok ku. Ku buang putungku diasbak dekat meja laptopku yang
penuh dengan barang-barang berserakan. Ku palingkan mata ke jam, tak terasa
sudah pukul 06. 13 WIB. Segera ku buka lembaran tugas yang kemarin
diberikan dosen.
Dengan pelan-pelan ku mulai belai buku, kata
demi kata, kalimat demi kalimat, dan lembar demi lembar, dan akhirnya tidak ada
5 menit kututup lagi buku itu. Kampret!
Ternyata Jawabannya tidak ada dibuku, yang berjudul ‘Ekonomi Regional’ itu. Ku
putuskan kala itu tidak mencari jawabannya, ku pilih keluar kamar dan kusapa
teman-teman yang mugkin sudah bangun atau sesekali hanya sekedar berjalan ke
ruang tamu, lalu balik lagi ke kamar, iya hanya memastikan bahwa teman-temanku
masih utuh. Memang benar, aku hanya berjalan keruang tamu kemudian balik lagi
kekamar. Sungguh, aku tak tahu persis apa alasanku, melakukan hal yang
menurutku konyol itu.
Setelah kembali kekamar, ku coba tata
niatku untuk mengerjakan tugas kuliah yang disuruh menganalisis paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan si cungkring,
Jokowi. Aku juga tidak begitu tahu tentang tata cara menata niat yang benar
seperti apa, dan aku menganggap niatku sudah tertata dengan benar. Dengan duduk
bersila di depan laptopku, aku ingat kemarin lusa aku sempat mengunduh materi
seputar kebijkan paket ekomi ini. Segera jariku menari nari diatas kursor
berusaha menemukan dimana file materi itu tersimpan, tak lama kemudian ada file
yang berjudul “3 Paket Kebijakn Ekonomi Jokowi” dalam folder download, segera aku menekan enter pada
keyboard laptopku, dan ternyata benar, itu adalah materi yang ku cari kemarin
lusa.
Ku
pelototi dengan pelan-pelan kebijakan tersebut, ku coba sinkronkan dengan tugas
yang akan ku buat nantinya. ku baca berkali-kali, mungkin 5-6 kali ku baca,
namun tetep saja belum bisa aku menganalisinya.
Ku raih Smartphone di samping laptop yang
kebetulan juga baru 2 hari lalu kubeli
dikonter dekat kontrak’anku buatan cina ‘bol cino’, untuk mencari referensi
tambahan terkait tugas kuliah ini. Segera, ku ketik ‘analisis kebijakan ekonomi
jokowi jilid I’ di Google dan muncul beberapa artikel disana. Ku pilih satu
yang teratas dan membukanya. Alhamdulillah, muncullah sedikit analisis yang
berkaitan dengan yang kucari, dan penulisnya adalah bisa dikatakan pengamat
ekonomi yang bekerja di LP2M UI Depok. Tanpa
berpikir panjang, ku simpan halaman tersebut dalam folder HP ku.
Ku cari secarik kertas, dengan harapan,
sedikit demi sedikit aku bisa menggoreskan penaku diatasnya. Tanganku dengan
tangkas memainkan pena, tersusunlah kata demi kata hingga menjadi kalimat dan
paragraph. Seperti biasa selalu ku cantumkan Hari dan tanggal di atas kanan
agak pojok. Karena, aku punya harap, semua tulisanku ingin ku kenang dan agar
sedikit mudah mengenangnya aku memilih tanggal, lengkap beserta bulan dan
tahunnya di kertas tersebut tak terkecuali tulisan/tugas-tugas kuliah. Setelah
hampir satu jam berkutat dengan artikel dan deregulasi dari Bapak Presiden ini beberapa
paragraph yang agak berantakan telah nampak di atas kertasku. Akupun memilih
men-sudahinnya, ku anggap cukup lah analisisku. Toh, nanti belum tentu juga di nilai atau dibaca hingga tuntas oleh
dosen, buken karena dosennya malas atau apa, namun karena tulisanku yang
seperti huruf Steno. Seperti cekeremes.
Jadi dosen kesulitan melihat dan membaca
sulaman tulisanku hingga rampung. Yah, mungkin hanya Tuhan dan saya yang bisa
baca serta malaikat dan jin-jin tertentu yang
diizinkan bisa membacanya.
Alhamdulillah, tugas beres. Akupun
menutup lembaran tugasku, dan ku
selipkan di antara lembaran buku tulisku
yang lusuh kemudian nanti tinggal ku kumpulkan ke dosen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar