MIMPI
YANG BIAS
Memang
sudah tidak sebentar diriku menanti-nanti
adanya Cak Nun dan rombongan musik nyentrik-nya,
siapa lagi kalau bukan Kiai Kanjeng
untuk ‘konser’ di Malang, dengan harapan
aku bisa mengikutinya bersama jama’ah Maiyah (sebutan orang yang ikut ‘konser’)
lainnya. Ketika itu, salah satu temanku meng upload jadwal show Cak Nun
dan Kiai Kanjeng di Malang yang akan digelar pada tanggal 11 Oktober 2015 di
salah satu masjid di Malang. Warta itu
membuatku sangat riang.
Singkatnya
aku dan kedua temanku yaitu Roni dan Fajar bagaimanapun caranya harus datang
ikut Maiyahan. Ternyata kamipun dengan segala ketidakmampuan kita, mendapat
pinjaman kemampuan dari yang punya kemampuan hakiki yang jua Maha Mampu dan
Me-mampu-kan semua yang tak mampu dan yang tak
punya kemampuan, apalagi me-mampukan untuk turut serta hadir dalam acara
yang di gelar oleh BKKBN itu, pun inklusif yang tak punya kemampuan tadi.
Tiba-tiba
halaman masjid malam itu berubah menjadi lautan manusia, laki-laki dan perempuan
menjadi satu duduk berjubel jubel tanpa
sekat pembatas, iya seperti sebutan
acara ini Maiyah-an (kebersamaan). Tidak ada laki-laki/perempuan.
“Semua sama dan bersama dalam kebersamaan”.
Kata Figur yang mempunyai nama asli Emha Ainun Nadjib ini disela-sela
menyampaikan pencerahan kepada jama’ah.
Acara
besar ini juga dihadiri, pejabat setempat, dari Kepala BKKBN, wakil walkot, sampai
anggota DPR RI. Kamipun hikmat
menikamati acara yang menyejukkan hati dan pikiran ini. Saya merasa sangat
merdeka di sini. Iya merdeka yang sesungguhnya. Sampai kami tak terasa atau
saling terasanya, hingga saya merasakan manis tanpa harus mengingat/memakan
gula, ternyata acara sudah berlangsung selama kurang lebih 7 jam an, waktu
menunjukkan pukul setengah 2 dini hari waktu setempat. Sampai akhirnya acara
ditutup dengan bersalam-salaman dan menyanyikan bersama lagu-lagu daerah,
islami, nasional ,jazz dan lagu ke inggris-ingris an bahkan sampai lagu ‘Imagine’ nya John Lennon yang melegenda
jua tak luput menjadi daftar lagu yang Cak Nun nyanyikan yang di iringi gamelan
khas Kiai Kanjeng. Di akhir nyanyian dan hangatnya saling bersalam-salaman, Cak
Nun memberi petuah kepada seluruh jamaah yang hadir di malam yang cerah itu.
“Sebelum anda masuk rumah, sebelum anda semua
masuk kamar dan tidur, bacalah ayat-ayat suci Allah minimal 9 kali”, Pungkas
beliau di akhir acara dengan tegas, sembari melanjutkan “Insha Allah anda akan
mimpi yang indah dan berkah”. Kali ini dengan sedikit lirih tersenyum.
Pesan
dari pria kelahiran Jombang ini benar-benar saya amalkan, dan benar. Terlepas,
kebetulan atau tidak dengan yang dicuapkan Cak Nun tadi, Saya malamnya
bermimpi yang menurut saya mimpi saya itu indah sekaligus bias. Indahnya,
karena saya bisa mimpi bertemu dengan figur yang lumayan saya ‘acungkan’. Nah,
bias nya apa? Silahkan disimak, semoga pembaca yang yogya tidak ikut bias
dengan apa yang akan sampaikan terkait ke-bias-an mimpi saya.
Saya bermimpi bertemu bahkan ngomong-ngomong
bareng Cak Nun secara personal, tepatnya, bahwa setelah acara Maiyah-an itu Cak
Nun menginap di kamar kontrakan ku. Iya beliau tidur di dalam kamar ukuran 3x2 meter
berkasurkan busa tipis ini. Aku masih ingat benar, aku bergumul dengan beliau,
bertanya-tanya dan sedikit aku seperti
menginterogasi, sesekali kami menghisap nikmat asap tembakau, di malam yang mulai/semakin
dingin itu beliau mengenakan baju hitam dan sarung warna kecoklat-coklatan yang
juga ku tahu kala itu beliau lekas mandi (bersih diri)
“Pak, cak. . . cak nun?”. Celetukku
setengah terbata-bata dalam mimpiku,
yang dalam mimpi itu sendiri aku tak percaya bisa mimpi seperti itu dengan aku
yang duduk setengah jongkok di depan kamarku melihat beliau yang beranjak
berbaring di atas busa tipis di kamarku.
“Oh ya Cak Nun, kenapa kok harus memilih
musik yang seperti itu?”. Lanjutku sambil perlahan duduk bersila menenangkan
diriku dan mencoba memikirkan kenapa aku bertanya dengan pertanyaan yang
seperti itu.
“Hemmm. . .”. Jawab beliau dalam mimpiku,
dan nampak senyum tipis tersungging di
bibirnya yang sedang mencium mesra sigaret. "Jadi gini mas sebenarnya. Aku itu tak tahu dan tak bisa musik. Awalnya, ketika
aku di Ponpes (Pondok Pesantren) aku sempat dipanggil Mbah Kiai Kolil
Bangkalan, aku diberi wasiat/pesan untuk melakukan ini (membuat group musik
dengan tujuan dakwah sekaligus menghibur masyarakat) Tapi, seharusnya ini tak
boleh diceritakan”.
Pertanyaan spontanku di ataslah yang
tiba-tiba meluncur dari bibir ini menghujam Cak Nun sehingga beliau menjawab seperti
dia atas dan terciptalah dialog seperti diatas.
Tak tahu persis apa, atau kenapa sampai aku di
mimpi kok bisa bertanya seperti itu? Kenapa tidak Tanya sesuatu yang lebih ke
vak yang seharusnya. Tentang islam lah atau tentang budaya, karena Cak Nun yang
notabene adalah seorang Budayawan. Sampai sekarang aku masih linglung akan hal
tersebut.
Tambah bingung, ketika Cak Nun menjawab
pertanyaaku, beliau awalnya menjawab pertanyaanku dengan pelan, enak, nyantae, namun
di akhir jawaban beliau mengimbuhkan, ”
. . . seharusnya ini tak boleh diceritakan”.(Ya'opo maksud te?)
Kemudian
juga muncul pertanyaan lagi.
Pertanyaanya: Mengapa aku bertanya lagi setelah pertanyaan pertamaku yang penuh tanda tanya telah di jawab dengan jawaban yang juga sarat akan pertanyaan?
Pertanyaanya: Mengapa aku bertanya lagi setelah pertanyaan pertamaku yang penuh tanda tanya telah di jawab dengan jawaban yang juga sarat akan pertanyaan?
“Owhh. . .”Jawabku mendengar jawaban beliau
akan pertanyaanku tadi sembari aku ngowoh
dan sesekali mengangguk-ngangguk kan tempurungku seperti keledai yang di combor.
“Saya insha Allah sedikit-sedikit membaca
tulisan-tulisan njenengan Cak Nun, dari buku yang berjudul Tuhanpun Berpuasa,
Markesot Bertutur Lagi dan Arus Bawah. Lanjutku pertanyaanku kepada mbah Emha yang tetap dengan air muka
yang dingin.
“Hemmmmm. . . “ Gumam beliau, kali ini setengah
membaringkan tubuhnya.
“Bagus banget Cak, bukunya. Dan maknanya dalam
(saya sok banget ya, dalam dialog di mimpi ini seolah-olah saya tahu maknanya,
padahal Blasss) atau saya yang mungkin
nggak paham. Terutama di Buku yang
berjudul Arus Bawah. Waahhh itu kalau pembaca dalam keadaaan tidak punya mood yang bagus atau tidak konsen penuh
ia tidak akan paham apa yang di baca, termasuk saya. Puitika banget Cak bahasanya”. Lanjutku dengan jari
telunjukku menunjuk buku karangan beliau yang kebetulan berderet gagah di atas
rak kamar, serta menyiapkan pertanyaan lagi . . .
Ku lihat beliau lagi-lagi hanya bergumam
dengan senyuman khasnya. Iya Nampaknya gumam seperti menjadi jawaban bahkan
mantra para Dewa.
“Tettt. . . teetttt. . .teetttt. . . “ Tiba-tiba bel kontrakan berbunyi sangat keras, ku kira
ada wartawan atau fans dari Cak Nun yang ingin bertemu.
Ternyata
salah. Salah kaprah.
Bunyi
keras itu berbunyi, karena ulah dari temanya temanku yang menekan tombol
bel dipinggir pintu kontrakan ku hingga membangunkanku dari mimpi seng gak
jelas iki. Mimpi ini seperti, saat kita lagi asyik nonton drama di TV kemudian
diwaktu kita bener-bener mantengi ceritanya, tiba-tiba jeda iklan/atau muncul
tulisan 'Tunggu Episode selanjutnya' dilayar kaca bawah agak kanan. Ah, Jancuk!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar