Rabu, 21 Oktober 2015

Mimpi yang Bias

oleh : Ab. Mufid
MIMPI YANG BIAS

            Memang sudah tidak sebentar  diriku menanti-nanti adanya Cak Nun dan rombongan musik nyentrik-nya, siapa lagi kalau bukan  Kiai Kanjeng untuk  ‘konser’ di Malang, dengan harapan aku bisa mengikutinya bersama jama’ah Maiyah (sebutan orang yang ikut ‘konser’) lainnya. Ketika itu, salah satu temanku meng upload jadwal show Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Malang yang akan digelar pada tanggal 11 Oktober 2015 di salah satu masjid di Malang. Warta itu
membuatku sangat riang.
            Singkatnya aku dan kedua temanku yaitu Roni dan Fajar bagaimanapun caranya harus datang ikut Maiyahan. Ternyata kamipun dengan segala ketidakmampuan kita, mendapat pinjaman kemampuan dari yang punya kemampuan hakiki yang jua Maha Mampu dan Me-mampu-kan semua yang tak mampu dan yang tak  punya kemampuan, apalagi me-mampukan untuk turut serta hadir dalam acara yang di gelar oleh BKKBN itu, pun inklusif yang tak punya kemampuan tadi. ampuan kkita mendapat pinjaman kemampuan dari yang Maha Mampu untuk turut serta hadir dalam acara
            Tiba-tiba halaman masjid malam itu berubah menjadi lautan manusia, laki-laki dan perempuan menjadi satu  duduk berjubel jubel tanpa sekat pembatas, iya  seperti sebutan acara ini Maiyah-an (kebersamaan). Tidak ada laki-laki/perempuan.
“Semua sama dan bersama dalam kebersamaan”. Kata Figur yang mempunyai nama asli Emha Ainun Nadjib ini disela-sela menyampaikan pencerahan kepada jama’ah.
            Acara besar ini juga dihadiri, pejabat setempat, dari Kepala BKKBN, wakil walkot, sampai anggota DPR RI.  Kamipun hikmat menikamati acara yang menyejukkan hati dan pikiran ini. Saya merasa sangat merdeka di sini. Iya merdeka yang sesungguhnya. Sampai kami tak terasa atau saling terasanya, hingga saya merasakan manis tanpa harus mengingat/memakan gula, ternyata acara sudah berlangsung selama kurang lebih 7 jam an, waktu menunjukkan pukul setengah 2 dini hari waktu setempat. Sampai akhirnya acara ditutup dengan bersalam-salaman dan menyanyikan bersama lagu-lagu daerah, islami, nasional ,jazz dan lagu ke inggris-ingris an bahkan sampai lagu ‘Imagine’ nya John Lennon yang melegenda jua tak luput menjadi daftar lagu yang Cak Nun nyanyikan yang di iringi gamelan khas Kiai Kanjeng. Di akhir nyanyian dan hangatnya saling bersalam-salaman, Cak Nun memberi petuah kepada seluruh jamaah yang hadir di malam yang cerah itu.
 “Sebelum anda masuk rumah, sebelum anda semua masuk kamar dan tidur, bacalah ayat-ayat suci Allah minimal 9 kali”, Pungkas beliau di akhir acara dengan tegas, sembari melanjutkan “Insha Allah anda akan mimpi yang indah dan berkah”. Kali ini dengan sedikit  lirih tersenyum.
            Pesan dari pria kelahiran Jombang ini benar-benar saya amalkan, dan benar. Terlepas, kebetulan atau tidak dengan  yang  dicuapkan Cak Nun tadi, Saya malamnya bermimpi yang menurut saya mimpi saya itu indah sekaligus bias. Indahnya, karena saya bisa mimpi bertemu dengan figur yang lumayan saya ‘acungkan’. Nah, bias nya apa? Silahkan disimak, semoga pembaca yang yogya tidak ikut bias dengan apa yang akan sampaikan terkait ke-bias-an mimpi saya.
             Saya bermimpi bertemu bahkan ngomong-ngomong bareng Cak Nun secara personal, tepatnya, bahwa setelah acara Maiyah-an itu Cak Nun menginap di kamar kontrakan ku. Iya beliau tidur di dalam kamar ukuran 3x2 meter berkasurkan busa tipis ini. Aku masih ingat benar, aku bergumul dengan beliau, bertanya-tanya dan  sedikit aku seperti menginterogasi, sesekali kami menghisap nikmat asap tembakau, di malam yang mulai/semakin dingin itu beliau mengenakan baju hitam dan sarung warna kecoklat-coklatan yang juga ku tahu kala itu beliau lekas mandi (bersih diri)
“Pak, cak. . . cak nun?”. Celetukku setengah terbata-bata  dalam mimpiku, yang dalam mimpi itu sendiri aku tak percaya bisa mimpi seperti itu dengan aku yang duduk setengah jongkok di depan kamarku melihat beliau yang beranjak berbaring di atas busa tipis di kamarku.
“Oh ya Cak Nun, kenapa kok harus memilih musik yang seperti itu?”. Lanjutku sambil perlahan duduk bersila menenangkan diriku dan mencoba memikirkan kenapa aku bertanya dengan pertanyaan yang seperti itu.
“Hemmm. . .”. Jawab beliau dalam mimpiku, dan nampak  senyum tipis tersungging di bibirnya yang sedang mencium mesra sigaret. "Jadi gini mas sebenarnya.  Aku itu tak tahu dan tak bisa musik. Awalnya, ketika aku di Ponpes (Pondok Pesantren) aku sempat dipanggil Mbah Kiai Kolil Bangkalan, aku diberi wasiat/pesan untuk melakukan ini (membuat group musik dengan tujuan dakwah sekaligus menghibur masyarakat) Tapi, seharusnya ini tak boleh diceritakan”.  
Pertanyaan spontanku di ataslah yang tiba-tiba meluncur dari bibir ini menghujam Cak Nun sehingga beliau menjawab seperti dia atas dan terciptalah dialog seperti diatas.
             Tak tahu persis apa, atau kenapa sampai aku di mimpi kok bisa bertanya seperti itu? Kenapa tidak Tanya sesuatu yang lebih ke vak yang seharusnya. Tentang islam lah atau tentang budaya, karena Cak Nun yang notabene adalah seorang Budayawan. Sampai sekarang aku masih linglung akan hal tersebut.
Tambah bingung, ketika Cak Nun menjawab pertanyaaku, beliau awalnya menjawab pertanyaanku dengan pelan, enak, nyantae, namun di akhir jawaban beliau mengimbuhkan,  ” . . . seharusnya ini tak boleh diceritakan”.(Ya'opo maksud te?)
            Kemudian juga muncul pertanyaan lagi. 
Pertanyaanya: Mengapa aku bertanya lagi setelah pertanyaan pertamaku yang penuh tanda tanya telah di jawab dengan jawaban yang juga sarat akan pertanyaan?
“Owhh. . .”Jawabku mendengar jawaban beliau akan pertanyaanku tadi sembari aku ngowoh dan sesekali mengangguk-ngangguk kan tempurungku seperti keledai yang di combor.
“Saya insha Allah sedikit-sedikit membaca tulisan-tulisan njenengan Cak Nun, dari buku yang berjudul Tuhanpun Berpuasa, Markesot Bertutur Lagi dan Arus Bawah. Lanjutku pertanyaanku kepada mbah Emha yang tetap dengan air muka yang dingin.
“Hemmmmm. . . “ Gumam beliau, kali ini setengah membaringkan tubuhnya.
“Bagus banget Cak, bukunya. Dan maknanya dalam (saya sok banget ya, dalam dialog di mimpi ini seolah-olah saya tahu maknanya, padahal Blasss) atau saya yang mungkin nggak paham. Terutama di Buku yang berjudul Arus Bawah. Waahhh itu kalau pembaca dalam keadaaan tidak punya mood yang bagus atau tidak konsen penuh ia tidak akan paham apa yang di baca, termasuk saya. Puitika banget  Cak bahasanya”. Lanjutku dengan jari telunjukku menunjuk buku karangan beliau yang kebetulan berderet gagah di atas rak kamar, serta menyiapkan pertanyaan lagi . . .
Ku lihat beliau lagi-lagi hanya bergumam dengan senyuman khasnya. Iya Nampaknya gumam seperti menjadi jawaban bahkan mantra para Dewa.

“Tettt. . . teetttt. . .teetttt. . . “ Tiba-tiba  bel kontrakan berbunyi sangat keras, ku kira ada wartawan atau fans dari Cak Nun yang ingin bertemu.
            Ternyata salah. Salah kaprah.
             Bunyi  keras itu berbunyi, karena ulah dari temanya temanku yang menekan tombol bel dipinggir pintu kontrakan ku hingga membangunkanku dari mimpi seng gak jelas iki. Mimpi ini seperti, saat kita lagi asyik nonton drama di TV kemudian diwaktu kita bener-bener mantengi ceritanya, tiba-tiba jeda iklan/atau muncul tulisan 'Tunggu Episode selanjutnya' dilayar kaca bawah agak kanan. Ah, Jancuk!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar