Minggu, 25 Oktober 2015

Utang Luar Negeri (ULN)




Oleh: Ab. Mufid
Utang Luar Negeri (ULN)

            Idiuw. . . ngomongin yang satu ini nampaknya lagi ngomongin salah satu permasalahan yang pelik dinegeri ini. (emang ada berapa masalah dinegeri ini?). Dan sepereti menyibir saya, karena hidupku yang penuh dengan hutang. Dari hutang sabun cucian, dan odol pada teman kos saya, hutang rokok eceran diwarung tetangga sampai hutang celana dalam di 
toko depan gang kontrakan ku. Maklumlah anak perantauan, jauh kasih apalagi sayang, namun selalu dekat dengan belas sisih dan hutang. Saya tidak curhat kok, tenang.
Oke kita kembali ke topik.
             Hutang menjadi salah satu alasan pemerintah untuk modal mengawali pembangunan. Pertama kali yang saya tahu, bahwa  alasan pemerintah untuk mengawalai pembangunan. pertama pada akhir perang dunia ke dua lebih tepatnya ketika awal Bung Karno memimpin, Indonesia sudah punya hutang, itu tidak bisa dipungkiri, lagi-lagi dalih pembangunan dijadikan tameng sekaligus kambing hitamnya. Era Soekarno yang memimpin Indonesia raya merdeka sejak 1945-1966 atau sekitar 21 tahun lamanya, meninggalkan hutang yang tidak sedikit kepada pemerintahan  selanjutnya (Orde Baru). Menurut sumber Tempokini dan BI tercatat Bung Karno mewariskan hutang sebanyak US$6,3 Milyar.(kiro-kiro nek di Rupiah no piro iku rek?)
            Namun disamping itu juga nampak pengalokasian dana hutang yang sedikit jelas.(iya banyak yang gak jelas, mungkin) Terutama yang bisa kita nikmati hingga saat ini, ada tugu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Bundaran HI (Hotel Indonesia), Tugu Pancoran, bahkan masjid terbesar se Asia Tenggara, apalagi kalau bukan masjid yang di bangun atas arsitek Bapak Proklamator ini, Masjid Istiqlal di Mother City. Lalu jika kita napak tilas ke kota Palangkaraya, Kalimantan tengah, disana sampai saat ini masih terlihat bangunan-bangunan yang arahnya dijadikan gedung besar/megah yang tak terselesaikan. Kira-kira bangunan apa itu?
            Menurut buku yang sempet saya baca kemarin, pada tahun 1957-1959 di Kalimantan tengah ini wacananya akan dicanangkan sebagai Ibu Kota Indonesia oleh Bung Karno, namun karena suhu politik yang panas pada masa itu,  proyek pun terbengkalai sampai saat ini, hingga akhirnya dewasa ini ada wacana untuk memindahkan kembali ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya. Buku yang diberi pengantar oleh Guruh Soekarno Putra sendiri ini juga menerangkan ada beberapa Master Plan di Palangkaraya yang sebenarnya siap di garap. Tapi disini saya tidak akan membahas lebih lanjut perihal ibu yang diwacanakan di kota yang di lalui garis khatulistiwa itu, saya akan lebih ke ULN nya. (Utang Luar Negeri).
            Nampaknya hutang menjadi budaya yang turun temurun. Pada era Soeharto tak kalah Gendeng! Hutang kita seperti tangan yang disengat kala jengking kemudian terpukul palu dengan keras masih di injak gajah, abuh kabeh rakaru karuan (super bengkak). Dari yang hanya US$ 6 Milyar menjadi US$ 151 Milyar, iya kira-kira 25 kali lebih besar. Bapak Jendral ini memimpin dalam kurun waktu yang tidak sebentar, ia memimpin Indonesia selama 32 tahun. Waduh, umpomoSakki jek ngunu tak uncal ne neng Brantas,terus tak cekok’I apotas ben modyar. Iya cuman umpama kok .
              32 Tahun berjalan ,  banyak prestasi yang ditorehkannya. Hingga ia dijuluki bapak pembangunan. Ndak tahu pembangunan apa. Pembangunan struk Hutang mungkin, atau pembangunan rumahnya sendiri ndak tahu saya. Biarlah, ia sedang beristirahat di alam baka. (iyo nek istirahat, lha nek sakki di sikso ya gak ngerti aku) tapi, aku terus muji dateng Pengeran mugi-mugi A-Soe harto pikantok pangapuro  marang kang kuoso, walau sesekali terkekeh jika saya melihat ia disiksa. Owwhh. .  pancen asu!
            Haduh , tekan ndi mau? Kok tambah ngrasani wong seng wes mati. Oh iya, sampai bapak pembnguna tadi ya? Kemudian setelah ia dipaksa lengser oleh  arak-arakan para  demonstran pada peristiwa 98 ia digantika oleh teknorat Baharudin Jusuf Habibie. Hanya 17 bulan suami Ainun ini memimpin, namun hutang yang diwariskan oleh orba bisa dikuranginya menjadi US$ 148 Milyar walaupun juga ada pulau kita yang terlepas.  Mana lagi kalau bukan pulau  Timor Timur. Haduh, memang serba Paradoks, satu sisi baik pasti satu sisi ada buruknya. Seperti aku dan pembaca, aku buruk dan  pembaca yang budiman. Namun hutang kita pernah menyentuh angka 0, kalau ndak salah awal 2009 pada pemerintahan SBY. Walau akhirnya mantan Presiden lulusan UNPAD ini hutang lagi, dan juga meninggalkan warisan hutang kepada Presiden sekarang ini (Jokowi).
            Saya singkat saja, pada akhir April kemarin tercatat hutang Indonesia mencapai 2,845 Triliyun . bukan angka yang sedikit. Nampaknya benar-benar si hutan g ini punya peran yang sangat vital dalam Negara. Jika di tangguhkan ke seluruh warga Negara Indonesia, maka
“Setiap bayi yang lahir di Indonesia ini, menanggung hutang kurang lebih Rp. 17 juta”. Kata dosen.
Sekarang pertanyaanya? Kenapa harus hutang? Dan setuju ndak jika hutang?
” Kita hutang karena kas Negara kita kosong, disamping kekosongan kas itu kita dituntut untuk membangun, jadi jalan satu-satunya adalah hutang”. Pendapatku, menirukan beberapa statment yang kubaca dari internet. Tentu semua kebijakan bersifat paradoks seperti apa yang saya utarakan diatas. Termasuk kebijkan hutang ini,  banyak menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat.   Saya sendiri termasuk orang yang kontra dengan hutang, dan jika dikaitkan dengan pertanyaan yang pertama seharusnya, kita tidak usah hutang. Karena begini, saya punya analogi sederhana tentang hutang Negara ini.
             Kita ibaratkan , Negara Indonesia yang kaya raya alamnya ini adalah keluarga kita, nah jika kita ditinggal mati oleh kedua orang tua kita, disamping itu kita punya kewajiban harus membayar pajak rumah, kendaraan atau bayar uang SPP maupun kuliah sedangkan kas atau tabungan keluarga kita kosong. Nahh disamping itu, orang tua mati, meninggalkan warisan yang banyak.Warisan  Ini kalau kita analogikan ke Negara  adalah kekayaan alam, termasuk gugusan Pulau yang katanya sampai 17.508 buah pulau. Disini, jika anda menjadi si anak yang ditinggal mati akan bagaimana? Dan kira-kira dari belasan ribu pulau itu yang dihuni hanya sekitar seribu pulau atau bahkan kurang dari itu.
            Kira-kira logika sehatnya, mau hutang kepada orang lain atau mau menjual warisan orang tua, atau mungkin menggadaikan dulu warisan orang tua.
 Jangan cuman ngomong NKRI harga mati tapi tak tahu makna filosofinya. Think again?!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar