Jumat, 14 Agustus 2015

KIDUNG RINDU



KIDUNG RINDU
Bulan  yang  tak  jua  purnama  mengintip  di  balik  awan berarak,,,
Dingin yang menusuk ngilu tidak mampu menghardikku,,,
Mata  ini berkatup,  terkantuk  tapi  masih  turut  bersama  awan  berarak,,,
Melayang  mengikuti  pilu  yang mengigau menuju  ke  pelukan
perempuanku
Dalam  diam  kubayangkan  wajah  yang  menawan
kesadaranku

Kusulam  satu-persatu  kenangan  akan  masa-masa
Bersamanya di dalam angan dan mimpiku,,,
Mulai dari coban rondo sampai ke bojonegoro
hingga ke lumajang di puncak mahameru
Mulai dari Malang di sudut paling kelam
hingga bersembunyi di teluk ijo Banyuwangi
Mulai dari bercinta dengan leluasa di Jogjakarta
hingga memadu asmara dalam sudut berarak senja
Jalanan raya bagai karpet merah menuju pelaminan suci
Aku merasa bagai  dua  rusa  muda  berkejar-kejaran  di  padang
Yang gersang nan panjang,,,
Merayakan  kejayaan  musim  anomali  yang  seakan  takkan
pernah sirna
Mengidungkan Kidung Agung dalam diam yang suci
Merayakan kebesaran cinta dalam hening yang sempurna
Kupuji dia dengan segala puisi
Kupuja dia dengan segenap cinta

Walau kata dalam bahasa selalu dusta dalam merangkai
cinta
Dan  hanya  sepi  yang  mampu  menghargai  cinta  dengan
sempurna
Jika  kaubertemu  dia,  Lumajang,  sampaikan
rinduku padanya
Jika kaubertemu dia, hai orang Bojonegoro, serukan cintaku
Padanya,,,
Jika  kaubertemu  dia,  hai  orang  Malang,  tembangkan
penantianku padanya,,,
Hanya padanya aku menaruh rindu
Hanya padanya asmaraku bergelora
Hanya wajahnya selalu menghantu
Hanya namanya bergema di tempurungku
Matanya  bagai  sepasang  purnama  dengan  jentera
Bianglala,,,
di  sana  aku  melihat  surga  yang  melingkungi  segenap
hadirku,,,
Yang  kusuka  adalah “beda”nya  bak  oasis di sahara, , ,
membuatku  terpekur  mendaras  sungkur  penuh  rasa
syukur.,,,
Teduh mata itu adalah  pendedah  suci  tempat  aku
mempersembahkan diri,,,
Inilah tubuhku
Inilah darahku
Di mana ada penyerahan diri yang total dan paripurna
Di sanalah cinta dirayakan dengan gegap-gempita
Bibirnya bagaikan cawan berisi anggur penuh
Hendak kuteguk anggur itu hingga mabuk
Hai para makhluk,,,
semua manusia bisa suka pada siapa saja,,,
tapi cinta itu pilihan yang memancar dari hati yang jernih,,,
dan hanya anggur yang menetes dari bibirnya itu sajalah,,,
yang akan kutenggak hingga ajal tiba,,,
Wahai tambatan hati, pendedah gelisah risau sanubari,,,
Perempuan yang menjadi idamanku,,,
Akulah lelaki yang menawarkan cinta padamu,,,
bukan dari hasil merengek dan mengiba,,,
bukan hasil dari mengemis dan meminta,,,
melainkan dari hasil segenap kejayaanku, kebangkitan matisuri rasaku,,,
Ah, aku telah dimabuk asmaramu,,,
kini terapung dalam samudera melankolia,,,
ohh, , , Emak, di mana sekarang engkau emak?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar