Jumat, 14 Agustus 2015

Belum Ada Judul



Beberapa hari yang lalu, kembali kakiku menginjakkan, menapak di bumi Malang tempat dimana aku sekarang menempa ilmu di salah satu kampus di malang (UM). Tepat tanggal 1 Agustus 2015 aku berangkat dari Bojonegoro tempat dimana aku dilahirkan dan yang telah mengajariku banyak tentang semua arti kehidupan. Berangkat dari rumah sekitar pukul 9 pagi, waktu itu aku diantar oleh Om Tohir, teman sekaligus kolega dalam kegiatan literasi. Iya, ia bisa kusebut sebagai salah satu sastrawan Bojonegoro yang telah banyak menmbuahkan karya sastrawinya, walaupun yang lain belum mau mengakui atau belum tahu karya-karyanya. Waktu itu hari sabtu, berangkat dengan sepeda motor melaju pelan dan pasti untuk menuju satu tujuan dengan selamat dan aman. Sebelum kami, sampai diterminal Rajekwesi, di atas motor yang melaju ku menawarkan kepada Om Tohir untuk sebentar mampir di Nusantara atau Toga Mas (Tempat Penjualan Buku-buku).
           

“Om, sibuk nggak? Tanyaku,         


“endak” jawabnya dengan sedikit agak cuek. “Kenapa?
 Memang dia sulit di tebak kadang ia sering cerewet dan sangat reaktif tak jarang juga ia tampakkan sifatnya yang agak cuek.        

“Umpama kita mampir Togamas dulu gimana om?, lanjutku, “Ya siapa tahu nemu buku yang bagus, ada buku-buku terbaru dan barangkali om juga mau nyari buku”

“Oke, ndak papa” tiba-tiba ia tampak antusias, seperti orang yang kelaparan yang diajak ke warung untuk segera makan. Ia pernah berkata bahwa ia, jika pergi kemana-mana harus bawa buku, kalau ndak bawa mungkin ia akan mati. Hah? Iya, ibaratnya buku sudah menjadi bagian dari jantung yang memompa darah  keseluruh tubuhnya yang akan memberi kehidupan. Terlihat beberapa potong buku yang di bawa waktu itu di dalam tas yang sudah kumuh dan sangat jelek, yang diletakkanya dibawah tempat ia duduk di motor maticnya yang berada diantara setir dan jog tempatnya duduk.
“Lha, kamu mau nyari buku apa?” , lanjut pertanyaanya , dengan wajahnya yang terlihat Nampak bersemangat yang ku intip dari kaca sepion kecil yang agak kotor karena debu jalanan.

“Hemm, buku apa ya om yang bagus?”, jawabku dengan segera memalingkan penglihatanku dari kaca spion. “Kalau bukunya Cak Nun gimana ya om?”         

“Cak Nun, iya terserah kamu buku apa? Tapi Cak Nun bukunya juga bagus hampir ndak ada bosennya kalau kita membacanya”. Jawabnya dengan sedikit tangan kirinya yang mulai beretorika. “Ada salah satu buku cak Nun yang bagus, menarik, dan pengemasanya ringan, sangat Representatif serta Refleksi dan Komprehensif”.       

“Apa om judulnya?” tanyaku dengan perasaan yang penasaran dan sembari mendekatkan kepalaku di samping kepalanya, yang kala itu aku di boncengkan oleh nya.

“Kemarin saya pernah baca yang judulnya Arus Bawah” . jawabnya dengan santai. “Dan itu merupakan buku Representasi dari masa Orde Baru yang diwejawantahkan dalam kisah pewayangan”.

“Oh, yang sampulnya warna ijo, dan gambar semar itu ya om”? lanjutku,yang memang selintas aku pernah melihat buku itu.

“Nahh, iya betul. Di samping itu , Arus Bawah merupakan  satu-satunya essai yang ditelurkan Cak Nun yang di sajikan menyerupai novel, dan itu menarik”. Sambungnya.

“Wah, aku harus punya buku itu secepatnya”. Kataku dalam hati sembari berdo’a semoga buku Arus Bawah ada di sana.
Dan tak terasa setelah panjang lebar  bertanya jawab, kami telah sampai di depan toko Toga Mas. Segera ku tanggalkan Tas dan Helmku di atas sepeda motor dan kami segera berhuyun masuk ke dalam toko. Aku langsung mencermati tiap judul buku yang berjejer gagah di rak-rak dan meja. Dan pandanganku akhirnya berbinar, berhenti disatu titik ketika aku menemukan judul Arus Bawah yang ditulis Oleh budayawan nyentrik tersebut. Langsung ku ambil dan ku bolak balik, seperti aku menemukan makanan yang ingin segera kulahap. Antara sebentar kulayangkan pandang ke Om Tohir yang juga asyik membelai buku satu persatu.
            sayang, Berhubung waktu yang terbatas karena aku harus segera berangkat ke malang. Aku segera memanggil Om Tohir dan ku ajak ke Kasir lantas membayarnya. Kitapun langsung pergi ke terminal Rajekwesi. Tak ada omongan yang banyak tatkala kita melakukan perjalanan  ke Terminal. Sekitar 15 menitan sampailah kami didepan pintu keluar terminal dan Nampak Bus yang telah  ngetime di iringi oleh kondektur dan kernetnya yang tergopoh-gopoh menggiring penumpang untuk segera masuk dalm bus. Akupun lantas turun dari motor, lalu bersalaman dengan Om tohir dan segera  naik bus lalu duduk di bangku samping agak belakang. Nampak kulihat dari jendela bus yang gelap buram Om Tohir memacu motornya untuk pulang. (Melakukan aktifitasnya)
Bus pun melaju. Bledasss

Tidak ada komentar:

Posting Komentar