Filsafat Alam???
Belakangan
ini, sering otakku berkecamuk perihal filsafat. Sangat harus hati-hati dan paham
memilah serta memilih dalam mempelajari filsafat ini. Aku mulai mengenal
tentang filsafat Alam yang di cetuskan pertama kali oleh seorang filsuf yang
hidup 500 tahun an sebelum masehi yang kubaca dari bukunya Muhammad Hatta, ada
nama-nama filsuf yang sudah terkenal kala itu karena
pemikiran-pemikirannya. Dari
Thales yang menyebutkan bahwa Alam ini terbentuk bukan “apa” tapi “menjadi”
apa. Ia berpendapat bahwa semua yang ada itu mulanya adalah “apa”, dan “apa”
itu ia duga dari satu anasir yaitu air. Semuanya dari satu, dari air dan
kemudian banyak proses dan kejadian alam yang satu tadi menjadi banyak, bahkan
teramat banyak. Dari air, ada yang menjadi manusia, hewan, tumbuhan dan tanah.
Dan pada suatu saat, akan kembali dari yang teramat banyak itu tadi menjadai satu
pada mulanya, yaitu air.
Tentu
ini adalah pemikiran yang luar biasa pada masanya, dan akupun terusik akan pemikiran
yang telah dikemukaka Thales ini, karena aku kemarin-kemarin sempat membaca
Al-qur’an dan terjemahannya ada yang berbunyi kurang lebih seperti ini “ Dan kami jadikan semuanya yang terjadai
ini dari air”. Itu sangat relevan apa yang diungkapkan Thales ketika itu,
padahal si Thales belum mengenal akan kekuatan immaterial (Tuhan). Dari sinilah
kemudian muncul, murid-murid dari Thales yang tidak hanya menerima pelajaran
apa yang telah di ajarkan Thales tapi juga mengembangkannya. Dan dalam
pengembangan itu tadi, tetap memakai dasar
yang telah di fasalkan Thales sebelumnya. Nama Anaximenes tetap sepakat bahwa
semua itu satu, dari yang satu menjadai banyak, tapi yang satu itu bukan air melainkan udara. Lalu ada nama
Heraiklitos , ia menyebutkan bahwa yang satu mulanya itu bukan air, ataupun
udara tapi api. Dan kemudian muncullah nama yang menyetujui ketiga anasir itu
dan ditambahkannya satu lagi, yaitu tanah. Ia adalah Empedokles. Disini ia
seolah alah ingin menyatukan paham filsafat yang dikemukakan para pendahulunya.
Pandangan ini bisa saja terpengaruh oleh dirinya sendiri yang mencari
kesejahteraan dan perdamaian. Jadi pendapat yang terkhir ini lumayan relevan
dan mungkin masuk akal, ada 4 anasir api, udara, tanah, dan air yang menyususn
terbentuknya segala apa yang terjadi dan menjadi. Tapi ada satu filsuf yang
menagatakan bahwa semua ini awalnmya satu, dan satu itu tak dapat
didefinisikan, ia teramat luas , tak mempunyai ruang, tak mempunyaoi luas, jadi
tidak ada ruang ayang bisa membatasinya dan tidaka ada ukuran atau diameter
ataupun anasir penyusunnya, dan kemudian ia menamai yang satu itu dengan
sebutan “Apeiron”. Filsuf ini hidup sesudah Thales tapi sebelum Anaximenes,
Heraiklitos, dan Empedokles hidup sekitar 610-547 th sebelum masehi namanya
adalah Anaximandros.
Tapi,
saya pernah mendengar dari seorang budayawan sekaligus satrawan dan pemikir
yang kritis dan rasionalistis. Bahwa alam terbentuk itu karena “Nur
Muhammad”??? jadi, terjadi seperti ledakan yang maha dahsyat kala itu yang
timbul dari “Nur Muhammad”??? semasa kecil saya pernah mendengar kata-kata
seperti ini, kurang lebihnya. Duuooorrr atau
orang luar menyebutnya dengan kata Big
bang , dan terbentuklah Alam, matahari, bulan bintang, langit, meteor dan
seterusnya. Terkadang kita tidak hanya bisa menggunakan kekuatan intuisif kita
, di suatu siklus kita tak jarang dituntut harus memakai gelombang Diskursif
kita.
By:
Ab. Mufid
Tidak ada komentar:
Posting Komentar