Jumat, 11 September 2015

Filosofi Alam???




Filsafat Alam???
Belakangan ini, sering otakku berkecamuk perihal filsafat. Sangat harus hati-hati dan paham memilah serta memilih dalam mempelajari filsafat ini. Aku mulai mengenal tentang filsafat Alam yang di cetuskan pertama kali oleh seorang filsuf yang hidup 500 tahun an sebelum masehi yang kubaca dari bukunya Muhammad Hatta, ada nama-nama filsuf yang sudah terkenal kala itu karena
pemikiran-pemikirannya. Dari Thales yang menyebutkan bahwa Alam ini terbentuk bukan “apa” tapi “menjadi” apa. Ia berpendapat bahwa semua yang ada itu mulanya adalah “apa”, dan “apa” itu ia duga dari satu anasir yaitu air. Semuanya dari satu, dari air dan kemudian banyak proses dan kejadian alam yang satu tadi menjadi banyak, bahkan teramat banyak. Dari air, ada yang menjadi manusia, hewan, tumbuhan dan tanah. Dan pada suatu saat, akan kembali dari yang teramat banyak itu tadi menjadai satu pada mulanya, yaitu air.
Tentu ini adalah pemikiran yang luar biasa pada masanya, dan akupun terusik akan pemikiran yang telah dikemukaka Thales ini, karena aku kemarin-kemarin sempat membaca Al-qur’an dan terjemahannya ada yang berbunyi kurang lebih seperti ini “ Dan kami jadikan semuanya yang terjadai ini dari air”. Itu sangat relevan apa yang diungkapkan Thales ketika itu, padahal si Thales belum mengenal akan kekuatan immaterial (Tuhan). Dari sinilah kemudian muncul, murid-murid dari Thales yang tidak hanya menerima pelajaran apa yang telah di ajarkan Thales tapi juga mengembangkannya. Dan dalam pengembangan itu tadi, tetap memakai  dasar yang telah di fasalkan Thales sebelumnya. Nama Anaximenes tetap sepakat bahwa semua itu satu, dari yang satu menjadai banyak, tapi yang satu itu  bukan air melainkan udara. Lalu ada nama Heraiklitos , ia menyebutkan bahwa yang satu mulanya itu bukan air, ataupun udara tapi api. Dan kemudian muncullah nama yang menyetujui ketiga anasir itu dan ditambahkannya satu lagi, yaitu tanah. Ia adalah Empedokles. Disini ia seolah alah ingin menyatukan paham filsafat yang dikemukakan para pendahulunya. Pandangan ini bisa saja terpengaruh oleh dirinya sendiri yang mencari kesejahteraan dan perdamaian. Jadi pendapat yang terkhir ini lumayan relevan dan mungkin masuk akal, ada 4 anasir api, udara, tanah, dan air yang menyususn terbentuknya segala apa yang terjadi dan menjadi. Tapi ada satu filsuf yang menagatakan bahwa semua ini awalnmya satu, dan satu itu tak dapat didefinisikan, ia teramat luas , tak mempunyai ruang, tak mempunyaoi luas, jadi tidak ada ruang ayang bisa membatasinya dan tidaka ada ukuran atau diameter ataupun anasir penyusunnya, dan kemudian ia menamai yang satu itu dengan sebutan “Apeiron”. Filsuf ini hidup sesudah Thales tapi sebelum Anaximenes, Heraiklitos, dan Empedokles hidup sekitar 610-547 th sebelum masehi namanya adalah Anaximandros.
Tapi, saya pernah mendengar dari seorang budayawan sekaligus satrawan dan pemikir yang kritis dan rasionalistis. Bahwa alam terbentuk itu karena “Nur Muhammad”??? jadi, terjadi seperti ledakan yang maha dahsyat kala itu yang timbul dari “Nur Muhammad”??? semasa kecil saya pernah mendengar kata-kata seperti ini, kurang lebihnya. Duuooorrr atau orang luar menyebutnya dengan kata Big bang , dan terbentuklah Alam, matahari, bulan bintang, langit, meteor dan seterusnya. Terkadang kita tidak hanya bisa menggunakan kekuatan intuisif kita , di suatu siklus kita tak jarang dituntut harus memakai gelombang Diskursif kita.           

By: Ab. Mufid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar